
Sudah satu bulan lamanya Kayla berada di kampung halaman. Tidak pernah sekalipun ia menghubungi Raize seperti yang bapak minta. Kayla benar-benar memutuskan semua komunikasi dengan Raize.
Pak Rahman juga melarang Kayla untuk kembali ke kota. Kayla dalam masa pantauan bapaknya. Pak Rahman tak mau membiarkan Kayla keluar dari rumah kecuali untuk bekerja ataupun ke warung. Meski merasa terkekang, Kayla tak membantah. Mengikuti semua yang bapaknya mau. Saat ini Kayla pun sudah bekerja di salah satu klinik di desa sebelah.
Sementara itu, Raize beberapa kali meminta nomor milik Kayla pada Rocky dan Ayla. Namun, tidak satupun memberi.
"Aku akan ke kampung Kayla."
"Jangan mempersulit dirimu sendiri. Kenapa tidak lepaskan saja Kayla dan kembali merasakan hidup bebas bersama wanita manapun yang kamu mau." Oceh Rocky saat Raize mengutarakan maksudnya. Ia pernah datang ke kampung Ayla. Jadi tak akan sulit untuk mengingat lagi di mana rumah gadisnya itu.
"Aku mau Kayla, Rocky."
"Lalu? Kalau udah mendapatkannya, kamu mau apa? Menyelingkuhi nya?"
"Kenapa kamu jadi sinis begini padaku?"
"Kenapa kamu jadi baper?"
Raize terdiam mencoba mengusir kekesalan di dadanya. Benar, mereka sering terlibat perdebatan tak berfaedah. Lalu saling pukul, dan berakhir dengan hukuman dari kakek Yaris. Raize terkekeh kecil, Rocky pun jadi ikut-ikutan terkekeh.
"Aku akan ke kampung Kayla. Tidak masalah jika kamu tak mau membantu. Aku tetap kesana meski kau mentang."
"Terserah padamu, tapi, jangan datang kerumahnya. Temui Kayla di tempat yang tak terlihat oleh bapak dan emak." Ujar Rocky memberi saran,"dan satu lagi, yang perlu kamu ingat, keluarga Kayla tidak akan menyambut baik diri mu. Pertama, karena kejadian itu, kedua, kamu bukan muslim, tidak akan pernah bisa masuk kedalam keluarga itu."
"Dulu, mereka menyambut baik kami saat datang ke sana."
"Itu karena datang sebagai tamu dan keluarga besan. Mereka tidak mempermasalahkan asal itu bukan tentang pernikahan." Jelas Rocky, "kamu mengerti maksudku, kan?"
Raize terdiam.
"Aku dan Ayla melalui banyak hal untuk bisa bersama. Mungkin jika bukan karena rasa di sini." Rocky menunjuk dada nya, "dan rasa di sini." Lalu memunjuk juniornya."aku tak akan berjuang sejauh itu. Sekarang giliran mu, tapi, jauh dari itu, atasi dulu masalah mu." Sambung Rocky menunjuk junior Raize.
__ADS_1
Raize tersenyum kecut. "Kenapa nasip kita begini? Kamu tidak bisa jika tidak dengan Ayla. Dan aku, karena junior ku terlalu liar dan kini coba ku redam agar berada di sarang yang benar."
Akhirnya mereka tertawa, menertawai diri sendiri yang saling bertolak belakang. Namun harus mengatasi masalah junior mereka dengan wanita dari keluarga yang sama.
###
Beberapa hari ini Kayla mendapat shift siang dan pulang pukul 10 malam. Gadis cantik itu menunggu ojek online yang dia pesan di depan klinik. Kebetulan malam itu pak Rahman tak bisa menjemput karena ban motor pecah. Di tambah malam itu hujan cukup deras. Awalnya, Kayla menunggu di dalam klinik. Namun saat melihat penjual wedang ronde di depan klinik itu, Kayla pun memutuskan untuk membeli. Sembari berlari menggunakan tas Selempangnya sebagai payung kepala.
Saat sedang menerima pesanannya, Kayla di kagetkan oleh sosok yang ia rindui selama ini. Pria itu berdiri dengan membawa payung di belakangnya. Memayungi tubuh Kayla yang sedikit basah.
Kayla mencoba menguasai perasaanya yang tak karuan. Ia sudah berjanji untuk tidak menemui Raize. Oleh karena itu, Kayla mencoba menghindar.
"Kay!" Panggil Raize menarik lengan Kayla yang berlari menjauh.
"Lepas!"
"Aku bakal lepasin kamu, kalau kamu berhenti melarikan diri dari ku." Tukas Raize.
"Apa mau?"
Kayla bungkam. Munafik jika ia mengaku perasaanya sudah pudar. Dia memang masih mencintai Raize. Tapi, ia juga sudah berjanji pada bapaknya untuk tidak menemui dan berhubungan Raize lagi.
"Maaf mbak Kayla." Seorang tukang ojek online tiba-tiba bersuara, memecah kebekuan diantara Kayla dan Raize.
"Maaf, aku harus pulang." Ucap Kayla berusaha menarik tangan nya. Raize masih bersikukuh mengenggam tangan Kayla."Lepas, raiz."
"Mas, maaf cancel aja. Dia balik sama aku." Ucap Raize pada si tukang ojek setelah ia merogoh kantong dan memberi tukang ojek itu uang merah."istriku sedang ngambek, jadi nggak mau pulang bareng suaminya."
"Raiz!"
Raize mengeluarkan buku nikah palsu. "Kami sudah menikah." Ucap Raize menunjukkan buku nikah itu pada kang ojek.
__ADS_1
"Oo ya sudah, makasih ya mister." Ucap kang ojek lalu menarik tuas gas motornya. Menyisakan Kayla yang dongkol dengan Raize. Akhirnya, mau tak mau Kayla masuk kedalam mobil Raize.
Raize mendekat dan menarik seat belt lalu memasang dengan benar. Setelah itu, ia mulai melakukan mobilnya.
"Bapak dan emak tak merestui."
"Aku tau, karena itu, ayo kita berjuang bersama untuk mendapatkan restu." Sahut Raize.
"Mereka tidak mau menantu non muslim. Aku juga begitu, apa kamu sanggup?"
Raize terdiam, dalam hal ini, raize lebih kuat dari pada Rocky. Ia memijat pelipisnya, ia tak bisa melepas Tuhannya, juga tak mau melepas Kayla.
"Kita jalani dulu, Kayla. Yang terpenting adalah restu dari bapak dan emak." Ucap Raize, mengambil jalan tengah. "Saat ini aku sangat memerlukan maaf dari mereka."
"Mereka nggak akan merestui."
"Jadi, kamu tak mau berjuang bersama ku?"
"Bapak sudah melarangku untuk menemui mu, raiz. Jika bapak tau kamu mengantarku, bapak pasti sangat marah."
Raize terdiam sesaat, "aku nggak akan menurunkanmu di depan rumah. Saat ini aku hanya ingin tau hatimu, apakah itu masih milikku?" Ucap Raize menatap manik mata Kayla, "jika masih, aku akan memperjuangkan nya."
"Jika tidak?" Tanya Kayla dengan mata berkaca.
"Aku akan mengejarmu."
Hingga mobil Raize berhenti beberapa meter dari rumah Kayla. Kayla tak juga memberi jawaban. Gadis cantik itu mendorong pintu di sampingnya dan hendak keluar. Raize menahan lengan Kayla. Lalu mengulurkan payung.
"Hati-hati, sampai bertemu lagi besok."
Kayla menatap Raize sesaat, lalu mengambil payung itu dan berjalan ke arah rumah nya. Sementara Raize tak sedikitpun beranjak dari sana.
__ADS_1
Kayla membuka pintu rumah, ia terkejut mendapat bapaknya berdiri di ambang pintu sebelah dalam.
"Dengan siapa kamu pulang?"