Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 68


__ADS_3

"Alfa!" Panggil Bu Ignis di depan pintu lapas. Menyambut hari pertama anak sulung nya menghirup udara bebas.


"Ibuk." Dengan setengah berlari Alfa menghampiri sang ibu. Sembari membenahi tas gendongnya, Alfa menyentuh kaki Bu Ignis.


"Maafin Alfa, buk."


"Sudah! Ayo berdiri." Kata Bu Ignis haru. Mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan.


Tentu saja haru, bagaimana tidak? Akhirnya anak sulungnya itu bebas juga setelah beberapa bulan menjalani masa tahanan atas tuduhan penganiayaan.


"Ayo kita pulang nak." Ajak Bu Ignis mengusap lagi pipinya yang basah oleh air mata haru. Lalu menepuk punggung Alfa yang mencium tangannya takzim.


Alfa tertegun, keterkejutan tak bisa lepas dari wajahnya begitu melihat sepetak bangunan tua di pinggir kuburan. Itu bukan rumahnya.


"Buk...."


Rasa bersalah seketika merasuki relung hati Alfa. Bagaimana tidak? Mantan suami Ayla itu masih sangat ingat bahwa dirinyalah yang sudah menggadaikan sertifikasi tanah peninggalan almarhum ayahnya demi membuatkan pesta pernikahan yang megah untuk Agya, istrinya.


Sekarang hanya tinggal sesal yang tersisa. Alfa tergugu, tangisnya tak dapat lagi ia bendung. Bahu kokoh itu berguncang pelan, perlahan pipinya basah oleh air mata yang sempat tertahan sejak ia menginjakkan kaki keluar dari lapas.


Bu Ignis menepuk bahu anak sulungnya, mengerti apa yang saat ini Alfa rasakan. "Sudah, sudah nak. Jangan di pikirkan lagi. Yang lalu biarlah berlalu, ayo masuk."


Mata Alfa yang lembab menyusuri setiap sudut ruang empat kali tiga meter yang terdapat gorden di sisi sebelah dalam. Rumah petak itu hanya terdiri satu ruang tamu dan satu kamar mandi kecil bersebelahan dengan dapur. Dan satu kamar tidur.


Hati Alfa terasa teriris melihat rumah sekecil itu.


"Berapa sebulan, buk?" Tanya Alfa dengan suara parau, lubuk hatinya semakin terluka dan terus merasakan perih melihat buah dari perbuatannya.


"Tujuh ratus ribu. Belum sama listrik." Jawab Bu Ignis menuntun anaknya untuk duduk lesehan di atas kasur lantai yang sengaja dibentangkan di ruang tamu.


"Murah kan, FA. Mungkin karena Deket kuburan jadi di kasih murah." Ucap Bu Ignis berjalan masuk menyibak gorden lalu kembali lagi dengan segelas air putih untuk Alfa.


"Minum dulu, ibuk nggak ada teh, jadi seadanya ya?"


Lagi-lagi, hal itu membuat Alfa menitikkan air mata. Cepat ia mengusapnya dengan punggung tangan sebelum sang ibu menyadarinya.


"Maafin Alfa buk."


"Sudah, kenapa minta maaf terus. Sekarang yang terpenting kamu sudah bertobat. Perbaiki diri dari pada terus menyesal." Ucap Bu Ignis menepuk punggung anaknya yang terus berguncang itu.

__ADS_1


"Feri mana buk?"


"Adikmu kerja."


"Kerja?" Alfa terperangah mendengar adiknya yang kini duduk di bangku SMA itu bekerja."Feri nggak sekolah buk?"


"Sekolah, pulang jam dua siang, terus kerja jaga stand makanan di pinggir jalan. Ikut orang."


Hati Alfa kembali merasa nyeri, adiknya kini bahkan ikut mengais rejeki untuk menyambung hidup selama ia berada di penjara.


"Kamu makin kurus Alfa. Makan dulu ya. Seadanya, sebentar lagi ibuk harus ke londri jalan depan sana. Kamu ambil sendiri. Istirahat, baru rencanakan akan apa besok."


"Ibuk sekarang kerja?"


"Iya to le, kalau nggak kerja dari mana ibuk bisa bayar biaya sewa rumah dan bayar listrik. Feri sudah cukup membantu untuk biaya sekolahnya. Jadi, ibuk lebih ringan."


Alfa mengepalkan tangannya. Merasa sangat tak berguna. Marah pada dirinya sendiri yang begitu bodoh. Mengikuti godaan hatinya yang mencintai Agya padahal ia udah memiliki istri yang sangat baik seperti Ayla. Sesal kini tak ada guna, lebih baik sekarang dia memikirkan untuk mencari kerja.


"Ibuk pergi dulu ya, FA."


"Iya buk."


"Iya buk."


Setelah sang ibu pergi bekerja, Alfa terdiam sesaat. Ia merenung dengan semua yang menimpa dirinya selama ini. Sekarang ia sudah menghirup udara kebebasan, namun ia tak begitu yakin karena ia seorang residivis. Pastilah tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan dengan status yang menempel pada dirinya kini.


Alfa beranjak dari duduknya, berjalan ke dapur. Menyibak gorden, di atas kompor sebuah wajan yang ditutup langsung terlihat oleh matanya. Lalu tak jauh dari sana, sebuah mejikom yang sudah usang terlihat menghiasi dapur.


Alfa mencoba membuka tutup wajan. Oseng tempe yang di bumbui cabai hijau dan terlihat coklat oleh kecap. Aromanya menguar menggoda hidung Alfa yang langsung menembus perutnya yang mulai berdemo.


Alfa mengambil piring di rak, lalu membuka mejikom dan mengisi piringnya dengan dua entong nasi. Menyiram lauk oseng tempe diatas nya. Lalu membawanya ke ruang tamu.


Alfa makan dengan penuh rasa syukur. Masakan sang ibu yang selalu ia rindui selama berada di rutan. Tanpa terasa air mata kembali lolos. Sesekali ia mengusap pipi nya dengan punggung tangan sembari menyuap.


Sungguh, nikmat Tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan.


.


.

__ADS_1


.


Sudah hampir satu bulan lamanya Alfa hanya luntang luntung mencari pekerjaan. Lagi-lagi, statusnya yang mantan napi menjadi pertimbangan yang sangat berat untuk diterima bekerja, meski sangat jelas terpampang plat membuka lowongan. Namun dirinya selalu di tolak.


Alfa mengusap keningnya yang di banjiri keringat siang itu. Rasanya, ia sangat ingin menyerah. Tapi, bayangan sang ibu yang sedang bekerja di londri membuat tekat Alfa terkumpul lagi. Tak akan ia biarkan sang ibu lebih lama menderita bekerja. Ia harus dapat pekerjaan apapun itu.


Saat dia tengah berdiri di pinggir jalan terdengar suara nyaring dari sisi kanannya.


"Copet!"


Alfa menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria berlari kencang ke arah dirinya berdiri, di belakang pria itu seorang kakek-kakek terlihat mengejar dengan tergopoh-gopoh.


Alfa melintangkan kakinya hingga si copet tersungkur jatuh. Lalu dengan cepat Alfa menindih tubuh itu. Orang-orang mulai berdatangan membantu.


"Terima kasih anak muda." Kata sang kakek berwajah bule itu begitu Alfa menyerahkan tas hitam yang dia rebut dari si pencopet. Sedangkan pencopet itu digiring warga ke kantor polisi terdekat. Tentu saja, setelah menerima bogem mentah dari beberapa orang yang geram.


"Sama-sama." Walau kakek-kakek itu berwajah bule tapi sangat lancar berbahasa.


"Sebagai tanda terima kasih...."


Alfa menatap lembarang uang yang kakek itu sodorkan. Dia dilema, di satu sisi ia butuh uang, di sisi lain dia hanya sedikit membantu. Rasanya tidak etis jika menerima imbalan.


Kakek Yaris mengamati pemuda di depannya. Ia merasa pernah melihat Alfa, tapi ingatan nya sedang tidak bagus siang itu. Melihat Alfa yang terbengong tanpa menerima imbalan darinya, kakek Yaris sedikit tertarik.


"Apa kamu sedang mencari pekerjaan?" Tebak Kakek Yaris bertanya.


"Iya, mister. Kok bisa tau?"


"Oohh,, apa kamu bisa menyetir?"


"Bisa. Tapi saya belum punya SIM."


"Hmmm... Baiklah, kalau kamu sedang mencari pekerjaan, dan tidak mau menerima imbalan ini. Biar kulihat resummu."


Alfa tak berharap banyak, walau ada secercah harapan muncul.


________


wah, kira-kira gimana ya kalau Alfa beneran jadi supirnya kakek Yaris dan bertemu dengan Ayla?

__ADS_1


__ADS_2