Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 78


__ADS_3

"JANGAN!!"


Seketika, semua mata tertuju pada Raize. Pria yang terpekik tanpa sadar itu, terdiam kikuk karena sudah kelepasan. Lalu tertawa canggung.


"Hahahah...." Raize memutar otaknya yang tiba-tiba terasa sangat buntu dan gelap. Karena tatapan mata tanya dan aneh masih tertuju padanya.


"Ummmm... Itu, iya... Jangan sampai dia tidak datang... Hahaha... Adikmu itu, pasti sangat cantik seperti kamu, Ayla... Hahaha..." Raize meracau semakin tidak jelas. Keringat di wajahnya meluncur bebas tanpa hambatan segera ia seka.


"Sialan, bocah itu." Gumam Raize dalam hati.


Setelah berbincang sebentar, ia pamit dengan alasan ada janji dengan salah satu teman sejawatnya. Raize berjalan cepat menuju lift namun lucu nya lift itu tiba-tiba rusak.


"Sialan! Bagaimana bisa lift khusus ini rusak!" Umpat Raize makin tegang melihat jam tangannya.


Raize berlarian di tangga darurat Roxcid. Tangannya menggenggam ponsel yang menempel di telinganya. Saat ini, Raize mencoba menghubungi Kayla. Gadis cantik yang menikah bohongan dengan dirinya. Sialnya, gadis itu juga adik dari istri Rocky.


Jika sampai mereka bertemu di rumah Rocky, sudah pasti semua kebohongan akan terkuak. Untuk itu, Raize harus mencegah Kayla untuk datang.


"Sial! Kenapa nomor bocah itu tidak aktif!" Umpat Raize mencoba menghubungi nomor rumahnya.


Sang kepala pelayan yang menjawab.


("Selamat sore.")


"Ferguso! Apa itu kau?"


("Iya, tuan raize.") Menjawab dengan sangat yakin karena sang kepala pelayan sangat hapal dengan suara Raize.


"Bagus! Apa Kayla ada di sana?"


("Nona Kayla baru saja pergi, tuan. Tadi dia bilang mau ke rumah kakaknya.")


"Apa? Sial!" Raize mengumpat dan mematikan sambungan telponnya.


"Pikir! Pikir Raize!"


Raize terus berlari sembari berpikir langkah selanjutnya. Begitu sampai depan lobi, Raize mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Keringatnya bercucuran sampai membasahi kemejanya. Di ujung lobi, Raize melihat Ayla dan Vina yang berjalan keluar.


Raize tercengang, bagaimana bisa mereka sampai lebih dulu di lobi padahal dia yang keluar lebih dulu dari ruangan Rocky. Raize menepuk jidatnya,


"Sial! Kan ada lift karyawan! Kenapa aku sampai tidak terpikirkan ke sana? Malah capek-capek turun dari tangga darurat. Sial! Gara-gara panik mikirin bocah itu." Raize mengumpat dan meruntuki kebodohanya sendiri.


Raize melihat lagi hpnya, menekan nomor Kayla sekali lagi. Entah kenapa ia merasa janggal melihat profil di nomor Kayla. Nafas Raize masih tersengal, dengan langkah lemas ia melangkah ke resepsionis.


"Hay!" Sapanya mengedipkan sebelah alisnya dan melempar senyum yang sangat manis dan tampan. Dua wanita resepsionis dibuat tersipu karenanya.


"Aku... Butuh.... Telpon... Bisakah aku pinjam telponnya?" Tanya Raize di tengah nafas nya yang putus-putus. Namun, senyum menggoda Raize tak tertinggal hingga semakin membuat wanita resepsionis itu makin bersemu merah.


"Tentu saja."


Sembari menekan nomor Kayla, Raize tersenyum menggoda dan melirik kecil pada dua wanita resepsionis itu.


"Tersambung..." Gumam Raize geram. "Dia memblokir ku? Bocah tengik!"

__ADS_1


("Halo?")


"Haah! Kenapa kau memblokir ku?"


("Oohh, dokter seeks!")


"Apa?"


("UMM.. kenapa kau meneleponku? Dengan nomor, apa ini?")


"Apa? Kau memblokir ku bodoh!"


("Aahh, sudahlah, aku tutup saja telponnya.")


"Jangan! Tunggu!"


Hening, Raize tau Kayla masih tersambung.


"Jangan datang ke rumah kakak ipar."


("Kakak ipar? Siapa kakak ipar?")


"Rocky! Ayla! Jangan datang ke rumah mereka!"


("Kenapa main larang saja? Aku sudah bosan mendengar suara desssahan dari kamarmu.")


"Hahaha, harusnya kau terbiasa."


("Sudahlah, aku tutup saja. Mbak Ayla sudah datang.")


("Kenapa kau meralangku? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing?")


"Kami ada kumpul keluarga di sana! Jadi kau jangan datang kesana!"


("Apa?")


"Kakek Yaris juga akan datang."


("Apa?")


"Bocah tengik! Korek kuping mu! Kau terus mengulang kata yang sama."


("Baiklah, aku mengerti. Bay!")


Sambungan terputus.


"Apa? Dia main putus begitu saja? Tidak ada wanita yang memutuskan telpon dari ku lebih dulu! Beraninya, bocah tengik itu..." Geram Raize bergumam pada ganggang telpon."aahh, iya, dia itu bocah tengik bukan wanita... Tentu saja dia memutus lebih dulu."


Sementara itu, di kopi Manis kafe. Kayla langsung bersembunyi di balik bangku agar tak bertemu dengan Ayla yang kini sudah masuk ke dalam kafe.


"Hiiihh, dokter gila sekks itu membuatku susah saja. Kalau bukan demi nilai makul ku mana Sudi." Gumam Kayla mencoba mengintip dari tempatnya bersembunyi.


Di ujung sana terlihat Ayla sedang celingukan mencari sang adik. Lalu terlihat Ayla menyentuh layar gawainya. Kayla bisa menduga kakaknya itu pasti sedang menghubungi dirinya. Gegas Kayla membuat hape nya dalam mode getar.

__ADS_1


"Aku tak bisa terus sembunyi di sini. Harus kabur! Tapi kemana?" Bisik Kayla pada dirinya sendiri.


"Kamu.... Kayla, kan?"


Kayla tersentak, menoleh pada suara pria di sisi yang lain. Mulutnya yang membulat segera ia tutup dan cepat menarik lengan pria itu sampai terduduk di bawah meja seperti dirinya.


"Mas Avan! Kok di sini?"


"Ini kan kafe ku."


"Apa? Kafe kopi Manis ini punya mu? Kupikir mas buka stan di pinggir jalan aja." Kayla berbisik.


Avan tersenyum, lalu pandangannya melihat Ayla yang jauh di sana.


"Kenapa sembunyi di sini? Bukankah itu Ayla?"


"Aaa... Iya, kami sedang main petak umpet." Bisik Kayla asal.


Avan menatap Kayla aneh.


"Mas Avan bisa bantu nggak?"


"Bantu apa?"


"Aku nggak boleh ketahuan sama mbak Ayla." Bisik Kayla lagi dengan gestur tubuh yang sekali-kali melihat ke arah Ayla."Mas bisa samperin mbak Ayla nggak, buat ngalihin perhatiannya. Pliiss!"


Kayla menangkupkan tanganya menjadi satu di depan wajahnya memohon. Avan terlihat ragu tapi mengangguk juga. Senyum Cayla mengembang sempurna.


"Makasih, mas."


Avan pun berdiri, berjalan mendekati Ayla. Setelah memastikan aman, Kayla bergegas bangkit dan melipir keluar dari pintu belakang. Kayla mengambil ponselnya, melihat beberapa panggilan tak terjawab Ayla. Gegas Kayla mengirim pesan jika dia masih di rumah teman. Dan tidak jadi pergi ke rumah sang kakak.


"Baiklah, sekarang aman." Kayla berbicara pada dirinya sendiri. Lalu berinisiatif untuk kembali ke rumah Raize.


Sesampainya Kayla di kediaman Raize, ia melihat wanita bule berpakaian seksi baru saja turun dari mobil yang Raize tumpangi.


"Astaghfirullah.... Harus ekstra sabar memang sama dokter sekks ini. Masih sore sudah bawa pulang wanita lain lagi." Cayla bergumam geram. "Apa dia sama sekali tidak takut penyakit?" Kayla menggeleng tak habis pikir.


"Kau! Kenapa kemari?" Tanya Raize memandang Kayla yang berdiri di depan pintu. Kayla menggeleng pelan dan berdecak.


"Apa dia bisa bahasa?"


"Tidak!"


"Aahh, sayang sekali. Padahal aku mau memberitahu nya jika kamu suka gonta-ganti wanita yang bahkan lebih seksey darinya." Kayla mencibir dan tangan mengibar di udara yang ia tujukan pada Vina.


"Aku sudah tau, dia memang begitu."


Mata Kayla dan Raize melebar secara bersamaan. Raize bahkan sampai menoleh pada adik yang berdiri di sampingnya dengan pandangan tak percaya.


"Kau bilang dia tak bisa bahasa!" Geram Kayla mendelik pada Raize. Tak hanya mulutnya yang berbicara, kaki nya ikut serta menginjak suami bohongannya.


"Bocah tengik."

__ADS_1


"Apa dia pacarmu?"


"BUKAN!" Serentak Raize dan Kayla menjawab.


__ADS_2