
BRAK!
Pak Rahman menggebrak meja. Pria tua itu mendelik tajam dengan urat-urat di kepalanya yang menonjol. Wajah pak Rahman sudah sangat memerah oleh amarahnya.
"SIAPA YANG MEMBERI IJIN KALIAN UNTUK BERTEMU DAN DATANG KEMARI?!" Sentak pak Rahman keras.
Kayla dan Raize terdiam, kedua nya sama-sama kaget. Bahkan Kayla sampai terlonjak oleh gebrakan di meja.
Mata pak Rahman memelototi wajah Kayla lalu berpindah pada Raize. Kayla menunduk, dan Raize tetap menatap pak Rahman. Tangan Raize yang sedikit berkeringat mengepal di atas lututnya. Mencoba memberi kekuatan pada dirinya sendiri. Dengan sangat susah payah Raize menelan ludah. Lalu menarik nafas panjang dan mulai membuka suara.
"Maafkan saya pak, saya sangat tau, saya bersalah dalam hal ini."
Pak Rahman tersenyum meski dirinya masih merasa marah. "Baiklah, bapak maafkan. Karena Alloh saja maha pemaaf, bapak akan berusaha berlapang dada memaafkan kamu."
Raize tersenyum penuh syukur,"kami saling mencintai. Tolong restui hubungan kami, saya akan menjadi suami yang baik bagi Kayla..."
Ucapan Raize terpotong oleh tawa pak Rahman.
"Suami yang baik katamu? Aku memang sudah berusaha memaafkan mu. Tapi kamu sudah menyesatkan anakku selama ini. Tidak pernah aku mengajarkan anakku untuk tidur dalam satu kamar dengan pria yang bukan muhrimnya. Dan kamu...!" Pak Rahman menekan kata kamu dan menunjuk Raize dengan sedikit amarahnya.
"Saya tau saya salah. Biarkan saya memperbaikinya pak." Ucap Raize.
"Dengan apa kamu akan memperbaikinya?"
Kayla hanya bungkam, saat ini ayah nya sedang berusaha menahan amarahnya. Kayla hanya bisa menunduk dalam, dia sudah pasrah. Membujuk ayahnya sudah tak mungkin lagi.
"Biarkan kami menikah, pak."
"Hahaha, kamu mau memperbaiki dengan menikahi anakku? Setelah menikah, lalu apa? Kau tinggalkan? Atau kau hianati?" Tanya pak Rahman makin keras dan mendelik pada pria di samping anaknya. Lalu pak Rahman menatap Kayla.
"Masuk ke kamar, La!"
Kayla mengangkat wajahnya, menatap sang ayah dengan mata berair. Tatapan yang memohon.
"MASUK!"
Kayla berdiri lalu perlahan melangkah menuju kamarnya. Sementara Raize menatap Kayla sendu dan berharap, hingga pintu kamar Kayla menutup.
"Wanita yang kamu tatap itu anakku."
__ADS_1
Raize memutus pandangannya dari pintu kamar Kayla. Menunduk sesaat lalu kembali menatap ayah dari wanita yang ia cintai.
"Saya mencintai nya pak, apa yang harus saya lakukan untuk membuat bapak percaya?" Tatapan Raize begitu mengiba.
"Jangan bicara cinta pada ku, anak muda." Tukas pak Rahman."Aku sangat kecewa padamu. Jika kamu memang cinta, harusnya menjaga. Bukan merusaknya."
"Saya tidak merusaknya, pak. Saya bersumpah atas nama Tuhan. Demi nama baik kedua orang tua saya, saya tidak pernah bermaksud merusak Kayla." Ucap Raize meyakinkan,"kami memang tidur di kamar yang sama, tapi kami tidak berzina. Saya bersumpah, demi nama leluhur saya."
"Tidak perlu, aku percaya anak ku bisa menjaga kehormatan nya. Aku hanya tidak percaya padamu. Kamu sudah menipu kami, menipu anak ku, juga menipu keluargamu sendiri."
"Saya tau, saya salah dalam hal ini. Ijinkan kami bersama, pak." Mohon Raize.
Pak Rahman tertawa kecil. "Apa yang kamu bawa hingga berani meminta ijin padaku, nak?"
"Apa yang bapak mau? Akan coba saya berikan." Ucap Raize yakin, merasa mendapat harapan dari calon mertua.
"Aku tidak akan menikahkan anaku dengan pria yang tidak seiman."
Bagai di sambar petir yang mengkilat, Raize yang begitu memohon merasa sangat lemas dan kehilangan jiwanya.
"Aku tidak akan menikahkan anaku dengan pria yang tidak memiliki akhlak yang baik."
"Sekarang, pulanglah dan pikirkan baik-baik. Apakah kamu memiliki semua itu. Jangan pernah menawarkan harta dan cinta, karena itu tidak berguna." Tutup pak Rahman mengusir Raize secara halus."Aku memang sudah mencoba memaafkan mu, tapi bukan berarti merestui."
Dengan langkah gontai Raize keluar dari rumah Pak Rahman. Barang-barang yang dia bawa tadi, pak Rahman kembalikan. Tak ada satupun yang orang tua Kayla itu ambil, meski Raize memohon.
Raize kembali ke hotel tempatnya menginap sementara, setelah cukup lama termangu di pinggir jalan. Raize terus memikirkan syarat yang pak Rahman berikan, hal yang sama sekali Raize tak punya. Bagaimana bisa ia memiliki akhlak yang baik jika dia saja hobi menyambangi sarang wanita? Bagaimana bisa ia seiman dengan Kayla jika Tuhan mereka saja berbeda?
Sampai di lobi, Raize yang masih merasa lemas dan sesak itu terkejut melihat wanita yang dulu pernah bercinta dengannya duduk di sofa tunggu. Wanita itu langsung berdiri dan memeluk Raize.
"Sayang, kenapa kamu nggak bilang jika kamu di sini?" Ucap sang wanita manja.
"Kamu, apa-apaan sih?" Tukas Raize mendorong tubuh si wanita. Wanita itu terlihat sangat terkejut.
"Sayang, kenapa kamu mendorong ku? Apa kamu sudah memiliki teman kencan yang lain?" Tanya wanita itu manja, memeluk lengan Raize."Kenapa kita tidak coba threesome saja? Aku tidak keberatan."
"Apa kau gila?" Sentak Raize mencoba melepaskan pelukan wanita itu, "Jangan menggangguku malam ini."
Wanita itu tersenyum, "jadi malam ini tidak boleh? Bagaimana kalau besok?" Tanya nya bergelayut memeluk leher Raize. Menatap Raize dengan manja.
__ADS_1
Raize menjadi kesal, saat dirinya sedang dilanda kegalauan seperti ini justru datang wanita yang menyusahkan.
"Ooh, gadis manis, apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya wanita itu melihat kebelakang Raize. "Apa kamu bersama nya?" Kali ini dia bertanya pada Raize.
Seketika Raize menoleh ke belakang, betapa terkejutnya ia melihat Kayla berdiri di ambang pintu masuk hotel. Dengan cepat Raize melepas pelukan si wanita. Ia tak ingin Kayla salah paham.
"Kayla..."
Kayla tersenyum kecut,
"Aku tau, harusnya aku tau, seorang Casanova tak mungkin bisa bertobat." Ucap Kayla lirih sembari menggeleng. Air mata gadis itu meluncur bebas di pipi.
Raize merasa sangat frustasi, dan menjambak rambutnya sendiri. "Kay, ini nggak seperti yang kamu lihat." ucap Raize mencoba menjelaskan.
Kayla mengangkat tangannya. "Cukup! Aku sudah tau."
Usai mengucapkan itu semua, Kayla berlari keluar.
"Kayla!"
Raize hendak berlari mengejar, namun lengannya tertahan oleh si wanita. Raize menoleh dengan tatapan tajam dan penuh amarah. Seketika, wanita itu melepaskan tangan Raize. Ia tak pernah melihat wajah marah Raize yang seperti itu.
"Kayla!"
Beberapa saat yang lalu di tempat yang berbeda.
Kayla masih berada di dalam kamarnya. Duduk memeluk lututnya, mendengar samar suara bapaknya yang sedang berbicara dengan Raize. Sakit? Tentu saja, ia juga mencintai Raize, namun bapaknya sudah terlanjur kecewa dan tak merestui hubungannya dengan Raize. Hingga suara pak Rahman yang mengusir Raize terdengar. Gegas, Kayla berjalan mendekati jendela. Melihat dari sana Raize yang terlihat sedih dan lemas. Kayla kembali menitikkan air mata. Ia sadar perbedaan antara dirinya dan Raize sangatlah besar. Akan tetapi, cintanya pada Raize juga tak kalah besar.
Selama di kamar, Kayla hanya menangis. Lalu terlintas di benak gadis itu untuk melihat dan memberi kekuatan untuk Raize. Ia sangat tau, saat ini itulah yang Raize butuhkan. Dukungan darinya. Kayla melompati jendela dengan hati-hati. Lalu ia mengendap di sisi rumah dan segera berlari menyusul Raize. Namun, ia tak tau kemana harus pergi. Akhirnya, Kayla meminta salah satu temannya di klinik, untuk mengecek di mana Raize menginap. Setelah mendapatkan alamat hotel, Kayla bergegas kesana dengan ojek online.
Begitu sampai di depan lobi, dada Kayla bergemuruh dengan sangat kencang. Melihat Raize sedang berpelukan dengan seorang wanita yang pernah menginap di rumah Raize.
###
Kayla terus berlari sembari menghapus air matanya, hingga di jalan raya saat akan keluar dari pelataran hotel. Sebuah mobil hampir saja menabraknya. Kayla yang sudah berderai air mata itu jatuh terduduk diatas aspal.
"Kamu nggak papa?" Tanya pria yang baru saja keluar dari mobil.
Kayla mendongak, "mas Avan?"
__ADS_1