
Kayla memutar otaknya, ia harus mencari alasan yang tepat agar Ayla tak memaksa untuk datang ke kosan yang jelas tak ada. Karena ia tinggal di rumah Raize selama ini.
"La?" Ayla menyenggol lengan Kayla yang masih berpikir. "Ayok."
"Iya mbak." Sahut Kayla berdiri dari duduknya mengikuti langkah Ayla.
"Mbak!"
"Kenapa, La?" Tanya Ayla menoleh sembari menggandeng Uwais.
"Mbak pulang dulu aja deh, ini temanku nunggu di kampus, kata nya ada dosen pembimbing yang butuh barang ku."
"Barang nya nggak kamu bawa, kan?" Tanya Ayla melihat Kayla yang tak membawa tas."kita skalian ke kosan mu saja, skalian ambil barang, kalau kamu mau ke kampus dulu, kami biar tunggu kamu di kos."
"Enggak, mbak. Aku mau ambil ke supliyer dulu." Kilah Kayla sedikit gugup, karena takut jika kebohongannya akan terbongkar.
"Ya udah, sekalian aja mbak antar."
Dalam perjalanan ke tempat yang Kayla sebutkan, gadis muda itu terus di Landa gelisah. Pasalnya, tak ada yang memesan barang padanya saat ini. Itu hanyalah alasan Kayla saja. Kayla bingung, haruskah ia jujur pada kakak nya?
'sebaiknya, aku jujur pada Mbak Ayla. Mungkin dia bisa memiliki jalan keluar. Tapi, itu berarti aku sudah mengingkari janjiku pada Raize. Bagaimana ini? Aku sudah memberinya kesempatan..' gumam Kayla semakin bingung.
Tepat saat mereka sampai di ruko tempat yang Kayla tunjuk, gawai Ayla berdering.
"Assalamualaikum, dad, ada apa?"
("Wa'alaikum salam, Baby? Kamu di mana?")
"Akan Ayla udah ijin tadi ketemu Kayla."
("Jam berapa balik?")
"Kenapa?"
("Kakek datang ke rumah, katanya kangen sama Uwais. Tapi, pas di rumah kalian nggak ada.")
"Begitu, apa kakek masih di sana?"
("Heemmm...")
"Ya udah, kami pulang kalau begitu."
__ADS_1
Mendengar percakapan telpon kakaknya, Kayla sedikit lega. Walau sebenarnya dia sangat cemas jika nanti kakaknya atau Uwais justru menuturkan tentang dirinya.
"La, mbak anter sampai kampus nya, ada kakek di rumah nungguin."
"Nggak usah mbak, sampai sini aja."tolak Kayla dengan halus. Walau hatinya sangat lega dan senang. Setidaknya ia tak perlu keluar uang karena belum membeli apapun."Nanti balik nya gampang, ada ojol." Sambungnya lagi sembari turun dari mobil Ayla.
"Beneran?"
"Iya mbak." Ujar Kayla yakin."udah, sana pergi, kasihan kakek nunggu."
Kayla lalu berganti menatap Uwais. "Dadah, ponakaan Bulik yang ganteng."
Uwais hanya melambai dengan lemas.
"Maaf ya, La."
"Udah buruan!" Ucap Kayla tersenyum lebar."Makasih ya mbak, buat uang jajannya."
Ayla membalas senyuman adiknya."ya udah, mbak pergi ya. Nanti mbak telpon."
"Iyah."
Sore harinya, Raize cemberut melihat Kayla sudah berada di rumah.
"Kenapa sih?"
"Kan sudah kubilang aku bakal jemput."
"Kami pisah tadi siang, mau ngapain aku kelayapan di luar sendiri. Ntar malah ketemu cowok cakep, terus aku tergoda..."
"Jangan macam-macam! Kamu harus ingat, kita..."
"Makanya, aku balik cepat." Potong Kayla, "lagian, kamu curang, kamu bisa bebas bersama wanita tapi aku terus kamu batasi."
"Kay, aku nggak membatasi kamu sebelumnya. Bukankah kita udah bersepakat."
"Udah ah, malas debat. Ada hal penting yang mau aku katakan. Emak sama bapak mau datang skitar Minggu depan. Mereka mau menghadiri acara wisuda ku. Dan ku butuh tempat tinggal, selama itu aku juga nggak bisa tinggal di sini." Terang Kayla panjang lebar.
"Benar juga, kalau begitu, aku akan ungsikan kakek keluar negri."
"Besok aku mau cari kosan."
__ADS_1
"Nggak usah, sekarang aja. Ayok." Ajak Raize menarik tangan kayla.
Selama beberapa jam Raize dan Kayla berputar-putar mencari rumah untuk Kayla huni sementara. Raize terus menawarkan sebuah rumah mewah pada Kayla. Seperti saat ini, kedua anak manusia itu berdiri di depan sebuah rumah mewah berlantai satu. Kayla hanya memandang rumah itu lalu berganti menatap Raize.
"Bagaimana kalau yang ini?"
"Biar aku saja yang cari. Kamu terus kasih aku rumah sebagus ini. Emak sama bapak bisa curiga." Tukas Kayla."bagaimana orang sepertiku tinggal ditempat seperti ini. Kita harus memilih rumah yang lebih kecil lagi dengan biaya sewa yang murah."
"Jadi, yang seperti apa?"
Kayla menghela nafasnya, "kita balik aja. Besok lagi cari."
Keesokan hari nya, Kayla di temani oleh Raize mencari rumah untuk Kayla tinggali. Tentu saja setelah Raize kembali dari rumah sakit.
"Aku udah Nemu rumah yang minimalis dan murah. Tidak berada di dekat pemukinan warga. Jadi, tidak perlu khawatir jika nanti bertemu warga dan emak bapak nggak akan tau sudah berapa lama aku tinggal di sini." Kayla menjelaskan.
Setelah itu, mobil yang Raize kendarai berhenti didepan sebuah rumah yang memang di sisi kiri dan kanannya adalah sawah. Sedangkan di depannya ada kebun salah satu warga. Jarak rumah terdekat saja 50meter lebih. Kayla sengaja mengambil rumah di pinggiran kota.
"Di sini?" Tanya Raize Mandang rumah menyeluruh.
"Heemm..." Angguk Kayla merasa puas telah menemukan rumah yang pas.
Tak lama pemilik keluar dari rumah yang akan Kayla sewa. Setelah berbasa basi dan sepakat masalah harga, akhirnya Raize membayar untuk satu tahun penuh.
Setelah membersihkan rumah itu bersama, Raize dan Kayla yang kelelahan berbaring di lantai keramik rumah itu tanpa alas apapun. Raize tersenyum geli, tak pernah sekalipun dalam hidupnya membersihkan rumah, apalagi tidur di lantai seperti sekarang.
"Ternyata, tidur dilantai enak juga." Celetuknya merasai dinginnya keramik di bawah pungungnya.
"Yaahh, lebih enak lagi kalau pas siang hari yang pas, setelah bekerja keras." Sahut Kayla.
"Ini udah malam kita nginap di sini saja." Usul Raize sudah sangat enggan untuk beranjak.
"Baiklah, tapi hanya ada satu kasur single di kamar." Kayla menyetujui.
"Nggak apa, ada karpet. Biar aku tidur di karpet."
Kayla terkekeh, "seorang tuan muda tidur di karpet."
Raize ikut terkekeh. Ia lalu mendekat ke arah Kayla yang masih berbaring terlentang. Pria itu merangkak di atas tubuh Kayla.
"Aku mencintai mu kay, tidur di karpet pun aku rela." Ungkap Raize sebelum melummat bibir penuh Kayla.
__ADS_1