Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
Bab 108


__ADS_3

"Bapak?"


"Siapa yang mengantar mu pulang?"


"Aku pesan taksi Online, pak. Hujan cukup deras pak, jadi Kayla pesan taksi online. Ini juga di kasih pinjam payung." Jawab Kayla sekenanya, bagaimana pun bapak tak boleh tau jika yang mengantarnya pulang adalah Raize.


"Kenapa tidak sampai depan rumah? Malah berhenti di depan rumah tetangga?" Kejar pak Rahman memicingkan sebelah mata.


"Ummm, itu, titiknya hanya sampai sana. Lagi pula, supirnya ada urusan mendadak. Saudaranya minta di antar ke rumah sakit." Ungkap Kayla mencari alasan.


Pak Rahman terlihat masih sedikit curiga, namun, otot muka nya perlahan mengendor."Ya sudah, sana masuk kamar. Udah makan belum? Makan dulu, baru tidur."


"Udah pak, tadi Kayla beli wedang ronde selagi nunggu taksi online nya." Ucap Kayla pelan menyerahkan bungkusan plastik yang dia bawa pada sang bapak.


"Ya sudah, sana ganti. Nanti kita minum sama-sama. Kebetulan, emakmu juga belum tidur." Tukas pak Rahman menerima bungkusan plastik dari Kayla.


Ayah Kayla itu berjalan ke ruang tengah, sedangkan Kayla masuk ke kamarnya. Setelah Kayla membersihkan diri dan ganti baju, Kayla berjalan ke ruang tengah. Di sana, bapak dan emak sedang duduk bersantai sambil nonton tivi. Di depan mereka duduk lesehan, dua mangkuk ronde sudah tampak berkurang setengah. Sedang satu lagi di sisi kiri mereka, wedang ronde masih terbungkus plastik diatas mangkuk.


"Duduk dulu di sini, La." Ucap pak Rahman menunjuk ke ruang kosong depan mangkuk jatah Kayla.


Kayla duduk dengan patuh. Lalu mulai membuka plastik wedang ronde nya.


"Jadi, bapak sama emak tadi ketemu sama teman lama di warung." Ujar Bu Rohman mulai membuka suara. Kayla diam menyimak, namun ia seperti sudah tau arah pembicaraan mereka nanti nya.


Setelah Kayla menuang wedang ronde nya, Kayla menyendok bola ronde dan memasukkan ke dalam mulut.


"Kamu ingat nggak sama teman emak yang dulu tinggal di kampung sebelah? Siapa itu pak namanya?" Bu Rohman mengingat-ingat.


"Retno."


"Iya, Retno. Jadi, tadi si retno ini datang ke warung sama anaknya yang baru pulang dari Turki. Ganteng loh La. Belum ada calon lagi." Ujar Bu Rohman lagi, tampak sangat bersemangat.


Kayla masih terdiam tanpa menanggapi. Ia hanya terus menyuap wedang ronde kemulutnya.


"Nah, lusa katanya mereka mau kemari. Kamu ambil libur ya, temani emak bikin-bikin jajanan buat mereka kalau datang nanti. Skalian kamu bisa kenalan, siapa tau jodoh. Iya kan pak?"


Kayla masih membisu, ini sudah yang kedua kalinya sang emak mencoba menjodohkan dirinya dengan anak teman emak. Sebenarnya, Kayla merasa risih, tapi hanya untuk membuat emaknya senang Kayla menurut saja. Walau nantinya, iya terus mencoba membuat orang yang di jodohkan mundur. Karena ia masih belum siap untuk menikah, terlebih ia masih menyimpan rasa pada Raize.


"La?"


"Iya, Mak."


"Jangan mikir yang aneh-aneh. Kami lakukan ini juga demi kamu. Biar kamu nggak ngulangin lagi yang kemarin. Nggak berhubungan lagi dengan laki-laki itu." Tukas pak Rahman.

__ADS_1


Keesokan harinya, Kayla berangkat ke klinik. Melakukan absensi dan beberapa breafing kecil dengan petugas pergantian shift.


"Kayla."


"Iya, mbak."


"Hari ini, ada dokter tamu dari kota. Tolong persiapkan untuk bagian arsip ya. Sama pasien yang kemarin di kirim dari sana. Di bangsal Melati nomer 306." Titah senior Kayla panjang lebar.


"Iya mbak." Ucap Kayla menyanggupi.


"Dan untuk yang lainnya, tolong di bantu juga agar dokter tamu kita bisa betah di sini. Jangan keganjenan, karena dokter yang satu ini agak ke bule-bule an gitu wajahnya." Ungkap sang senior memperingatkan dengan nada yang sedikit centil.


"Eehh, dokter muda ya, mbak?" Tanya salah satu rekan kerja Kayla satu shift nya.


"Iya benar. Masih muda, makanya jangan keganjenan."


"Cie... Assyyiikk dapat pitamin. Biasanya dokter tamu udah setengah tuwiirr..." Seloroh teman Kayla yang lain.


Kayla tak memberi respon apapun. Ia hanya berwajah datar. Pikiran Kayla justru melayang pada Raize. Ciri-ciri yang seniornya sebutkan itu condong ke arah Raize, apa lagi semalam Raize mengucapkan "sampai bertemu besok." Mungkinkah dokter tamu itu bernama Raize?


Kayla mengangkat tangannya untuk bertanya.


"Iya Kay, kamu mau tanya apa?"


Seniornya mengangkat sebelah alisnya.


"Dokter tamu itu, siapa namanya?"


"Namanya Dokter Raize Pearce."


Kayla tersenyum kecut.


Beberapa jam kemudian, setelah Kayla menyelesaikan semua tugasnya. Gadis itu membuka beberapa data untuk di input di ruang nurse.


Kayla sangat fokus dengan kerjaannya kali ini, karena input data bisa berakibat fatal jika sampai salah. Karena, ini menyangkut pasien. Hingga, Kayla tak sadar pintu ruangan itu di buka dari luar. Suara ketukan sepatu pantofel terdengar mendekat. Lalu berhenti tepat di meja nurse.


Kayla sedikit mengangkat wajahnya ke atas untuk melihat siapa orang yang tiba-tiba berdiri di hadapannya. Betapa terkejutnya gadis itu, melihat Raize bertopang dagu di meja. Menatap padanya dengan senyuman khas milik pria itu.


"Hay, kita bertemu lagi."


"A-apa yang kamu lakukan di sini?" Gagap Kayla masih terkejut,


"Memandang mu."

__ADS_1


"Raiz..."


"Baiklah, ada seorang nert yang bilang jika data yang aku butuhkan ada di ruangan ini." Raize menjelaskan."Ternyata di sini bukan hanya data, tapi orang yang sangat aku butuhkan juga ada."


Wajah Kayla menghangat, gadis itu mencoba menenangkan gejolak di dadanya. Lalu mencoba mengatur nafasnya.


"Ini, data yang dokter butuhkan." Ucap Kayla setelah mencari data yang sempat ia siapkan di laci meja. Gadis itu menyodorkan beberapa lembar data pada Raize.


"Oke, terima kasih, nert." Ucap Raize, lalu mengecek data yang ada di tangannya. "Tolong temani aku keliling."


"Aku sedang sibuk, dok."


"Kata suster Layla, kamu yang akan menjadi pendampingku selama di sini."


Kayla tersenyum kecut. "Aku tau, tapi, aku sedikit sibuk sekarang. Bagaimana jika lain kali?"


"Tidak masalah, aku bisa menunggu." Ucap Raize dan bertopang dagu lagi menatap Kayla.


Kayla menghembuskan nafas untuk melonggarkan ruang di dada yang semakin menyempit. Raize tidak akan berhenti mengganggu nya sebelum ia mengikuti kemauan dokter itu. "Baiklah, ayo."


Selama seharian ini, Kayla terus bersama Raize. Pria itu juga tak henti-hentinya, mencari celah agar bisa terus bersama Kayla. Hingga waktu pulang tiba, Raize masih terus mengusiknya.


"Raiz, plis, aku nggak mau bapak tau. Dia nggak mau kita berhubungan lagi." Mohon Kayla saat Raize bermaksud mengantar Kayla pulang.


"Aku tau, karena itu, biarkan aku menemuinya dan menunjukan padanya bahwa aku serius." Ucap Raize. "Aku sudah membawa beberapa sogokan. Setidaknya, aku bisa menunjukan keseriusan ku dengan datang menemui mereka."


"Aku nggak yakin, Raiz."


"Kenapa? Kamu masih nggak yakin dengan ku? Aku benar-benar serius. Jika mau, aku bisa melamarmu sekarang." Ucap Raize menegaskan.


"Bapak dan emak nggak akan merestui..."


"Kamu mencintaiku, kan?" Potong Raize."Katakan kamu mencintaiku, maka aku akan perjuangkan."


Kayla mengeleng dengan bahu yang sedikit berguncang.


"Kamu mencintai ku, kan?"


Kayla terus menggeleng,


"Katakan Kayla."


Kayla menggeleng menahan tangisnya. Merasa geram dengan sikap Kayla. Raize memeluk tubuh adik Ayla itu. Lalu menciumnya dalam-dalam. Kayla sempat memberontak dalam kesia-siaan karena sudah pasti tubuh Raize lebih bertenaga dari nya. Hingga Kayla pasrah, dan perlahan membalas ciuman Raize. Gadis itu pun tak bisa menahan diri dari rasa di dalam dadanya, dari rindu yang sudah lama terpendam.

__ADS_1


"Aku tau kamu mencintai ku juga." Ucap Raize lirih setelah melepas pangutannya."Ayo temui orang tuamu. Kita luluhkan mereka bersama."


__ADS_2