Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 103


__ADS_3

Kayla masuk perlahan ke dalam ruang baca dengan perasaan tak karuan. Jantungnya berdetak sangat kencang meski ia terus berusaha tenang. Di belakangnya, Raize berjalan mengikuti tanpa menutup pintu dengan sempurna. Hingga memberi segaris celah.


Kakek Yaris menatap sepasang kekasih itu, lalu duduk di sofa tanpa punggungan.


"Duduk." Titahnya menunjuk sofa di sisi kirinya.


Dengan patuh Raize dan Kayla duduk bersisihan. Tangan Raize menggenggam jemari Kayla untuk menguatkan bersama.


"Kakek tidak akan meminta penjelasan dari kalian. Kakek cukup tau kenapa kalian sampai berbohong pada kakek." Ucap kakek Yaris membuka suara. Kayla dan Raize sesikitpun tak mengeluarkan suara. Mereka hanya diam, dan Kayla menunduk dengan sesalnya.


"Sejak awal, jika kakek tidak membuat lelucon itu, kalian pasti tak akan berpura-pura menikah. Benar, semua itu berawal dari kakek." Ucap kakek Yaris melihat ke atas dengan ingatannya. Mata tua itu berkaca.


Kayla mengangkat kepalanya dan menatap sang kakek sendu. Mata Kayla ikut berair dan menggeleng samar.


"Enggak kek, jika saja aku lebih berusaha lagi. Seharusnya semua ini bisa di hindari. Maaf bukan maksud Kayla menipu kakek."


"Iya, kalian memang sudah menipu kakek. Kakek sangat kecewa." Ungkap kakek Yaris mengusap kedua mata yang berair dengan jempol dan telunjuknya. "Kakek benar-benar tak habis pikir... Kalian sungguh totalitas dalam menipu kakek."


Bahu Kayla berguncang, gadis itu hanya bisa menangis dalam sesalnya. "Maaf, kek." Tangis Kayla lirih.


Gadis itu langsung turun dari duduknya dan bersujut di kaki kakek Yaris. Tangan Kayla menyentuh tangan kakek Yaris yang berada di paha. "Maaf kek. Maaf..."


Melihat Kayla sampai bersimpuh di hadapan kakek Yaris. Raize merasa sangat sesak. Dialah yang menempatkan Kayla di posisi ini, namun sedikitpun Kayla tak tenyalahkannya. Hanya kata maaf yang terus Kayla gaungkan. Hal yang justru membebani Raize.


Raize ikut bersimpuh di hadapan kakek Yaris. Pria tua itu tersenyum kecut. Ia sangat mengenal perangai cucu nya.


"Kenapa kau berlutut? Apa kesombonganmu sudah runtuh, nak?"


"Aku melakukan ini untuk nya. Kenapa dia harus bersimpuh sementara kesalahan itu terletak padaku, dan berawal dari mu, kek?"

__ADS_1


"Bangunlah, Kayla."


"Apa kakek memaafkan Kami?"


"Kami? Bukan kamu?" Tanya kakek Yaris sinis menatap Raize."Kenapa kau juga meminta maaf untuk bajingan tengik ini?" Geram kakek Yaris memukul Raize dengan tongkatnya.


Kayla mencoba menahan pukulan yang kakek Yaris layangkan pada Raize dengan melintangkan kedua tanganya. Kayla tau, kakek Yaris tak akan memukulnya. Hingga ia menjadikan tubuhnya tameng untuk melindungi Raize.


"Biarkan aku memukul bocah tengik itu! Menyingkirlah, Kayla!" Sentak kakek Yaris geram."Beraninya kau bersembunyi di balik tubuh wanita?"


Kakek masih terus berusaha memukul Raize. Dan Kayla pun tak menyerah, dan itu semakin membuat kakek Yaris geram.


"Kenapa kau begitu melindunginya? Apa kamu bodoh? Apa dia sudah berbuat sesuatu padamu saat kalian tidur satu kamar? Haahh?? Apa kau mencintai pria seperti ini haahh?" Tanya kakek Yaris yang sangat geram dengan nada yang tinggi.


BRAK!


Suara pintu ruang baca di buka dengan kasar. Kakek Yaris, Kayla juga Raize mengalihkan pandangan ke arah pintu masuk. Di sana berdiri pak Rahman dan Rocky tepat di belakang ayah dari Kayla itu.


"Ka-y-la... A-pa i-tu be-nar?" Tanya pak Rahman dengan nada marah yang tertahan."Apa benar kau sudah tidur satu atap dengan nya?"


"Ba-bapak..." Tubuh Kayla terasa sangat lemas dan tak berdaya. Gadis itu terduduk di lantai. Air matanya membanjir di pipi. Hal yang sangat ingin ia tutupi dari sang ayah justru terkuak begitu cepat. Kayla sangat sadar sudah membuat bapaknya kecewa.


"Jawab, Kayla!"


Pak Rahman yang sudah sangat marah berjalan mendekat. Kayla mengeleng samar. Air matanya sudah semakin membanjiri pipinya.


Pak Rahman menarik kerah leher Raize lalu melayangkan pukulan di wajah sepupu Rocky itu.


"Kurang ajar! Apa kau sudah merusak anakku, hahh?"

__ADS_1


Raize tak melawan, ia memang merasa pantas mendapatkannya. Dua pukulan dari ayah Kayla ia terima. Hingga sudut bibir Raize terluka.


Saat pak Rahman hendak melayangkan pukulan lagi, Kayla bergegas menghalau dan berdiri didepan tubuh Raize. Hingga dirinyalah yang mendapatkan pukulan itu.


"Kayla!" Pekik Raize, merasa begitu tak berguna karena terus mendapat pembelaan dari wanita yang ia cintai. "Apa yang kau lakukan? Kenapa terus melindungiku? Apa aku terlihat begitu lemah sampai butuh perlindunganmu? Haah?"


Kayla hanya tersedu dengan tangisnya. Raize memeluk Kayla. Raize membiarkan dirinya terus di pukuli agar kakek tak lagi marah dan melupakan segala. Ia menerima semua agar sang kakek merestui hubungannya dengan Kayla.


Sebenarnya, kakek Yaris sudah sangat malu dan marah dengan Raize. Kakek tua itu terduduk di kursi dengan memejamkan matanya. Rasa berdenyut kuat menyerang kepalanya secara tiba-tiba. Mungkin darah tingginya kumat lagi.


Pak Rahman menarik tangan Kayla. Hingga terlepas dari pelukan Raize. Jelas saja ia marah melihat putri yang ia jaga sedari kecil di peluk oleh pria yang bukan muhrimnya. Sekali lagi, pak Rahman memukul Raize.


"Bapak..." Tangis Kayla, dadanya semakin terasa sesak.


"Diam!" Hardik sang bapak. "Malam ini juga, kita pulang!"


Tangis Kayla semakin terdengar pilu. Tubuh Kayla terus berguncang.


"Pak, saya mohon jangan terlalu keras pada nya. Saya yang bersalah. Saya yang memaksanya..." Pinta Raize memohon.


Pak Rahman tersenyum sinis."Siapa kamu? Beraninya.... Apa kamu suaminya? Huumm?"


"Saya, saya mencintainya, pak."


"Lantas, kamu berhak memeluknya? Huumm?"


Pak Rahman menarik tangan Kayla keluar dari ruangan itu. Tak perduli sepilu apa tangis Kayla. Pak Rahman melirik Rocky yang masih terdiam di tempatnya, saat pak Rahman melewati menantunya. Rocky tak menyangka masalah sepupunya akan serumit ini. Dan kini, ayah mertuanya sangat marah.


"Saya akan bertanggung jawab... Saya bersedia menerima hukuman seperti apapun. Tolong, jangan sakiti dia." Mohon Raize. Pak Rahman tak bergeming, tetap berjalan keluar.

__ADS_1


Rocky menatap Raize yang menatap nya dengan pandangan memohon. Rocky henya menghela nafasnya sebelum ikut keluar menyusul ayah mertua.


"Kau lihat? Konsekuensinya, Raize?" Tanya kakek Yaris dari tempat nya duduk."Meski kamu bersedia menerima semua hukuman, Kayla tetap menerima jatahnya."


__ADS_2