Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 49


__ADS_3

Tanpa njawab tatapan dan pertanyaan pria itu. Alfa langsung menerobos masuk dengan sedikit menyenggol bahu Bri. Mata Alfa melebar sempurna, melihat Agya tanpa malu terbaring di atas tempat tidur tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya.


Agya pun sama terkejutnya, dia langsung menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Ma-mas Alfa...."


Alfa meradang, wajahnya merah padam dan matanya serasa panas. Dengan mata kepalanya sendiri, Alfa melihat Agya yang jelas sedang berselingkuh dengan pria lain. Dada Alfa naik turun karena emosi yang udah di ubun-ubun.


Alfa Tertawa kecil.


"A-gi-ya!"


"Mas, aku bisa jelasin."


"Cepat pakai pakianmu!"


"Mas!"


"Hey, kenapa sembarangan masuk?" Protes Bri mencengangkan bahu Alfa.


Alfa mengepalkan tangan emosinya sudah terkumpul di sana. Tanpa aba-aba, Alfa langsung melayangkan pukulan ke arah wajah Bri. Dengan sangat membantu buta Alfa yang di liputi kemarahan itu memukuli Bri, berikut dengan umpatan-umpatan yang terlontar dari mulutnya. Agya histeris di atas ranjang.


***


Alfa duduk di sebuah bangku panjang. Menatap kosong kedepan. Sedangkan Agya menangis sesenggukan di sampingnya. Bu Ignis yang baru saja mendengar kabar langsung datang berlari mendekati anaknya. Memeluk Alfa yang tampak tak memiliki semangat hidup itu.


"Apa yang udah terjadi nak?" Tanya ibu Ignis dengan lelehan di pipinya.


Agya semakin keras menangis. Bahunya terus berguncang hebat. Rasa sesal kini bersemayam di dadanya. Ia tak tau harus bagaimana? Memang ini salah nya yang tergiur oleh uang yang Bri tawar kan. Hanya dengan bermodal tubuh saja, ia bisa beli apa yang di inginkan.


Agya tak menyangka, jika perbuatannya akan ketahuan, berakibat dengan kemarahan Alfa dan berujung dengan tuduhan penganiayaan atas Bri.


Bu Ignis menatap sengit Agya, "ini semua salah mu! Kamu penyebab semua ini! Kenapa kau hancurkan hidup anakku? Punya dendam apa kau sama Alfa haahh?"


Bu Ignis yang sangat marah dan sudah berlinang air mata itu, memukul tubuh Agya yang menangis di samping Alfa.


Alfa menarik nafas dalam. Lalu menahan tubuh ibunya dari memukul lemah Agya.


"Sudah Bu, cukup Alfa saja yang di penjara karena nya." Lirih Alfa lemah.


"Mas!"


"Mari, ikut kami." Dua orang polisi mendekat hendak mencekal Alfa. Namun pria itu mengangkat tangannya.


"Sebentar pak."


Dua petugas itu pun memberi Alfa waktu.


Alfa menatap Agya dengan segudang kecewa. "Sejak kapan kamu berhubungan dengan pria itu gy? Jawab dengan jujur. Mas nggak mau hubungan ini makin hancur karena kecurangan mu."


Bahu Agya makin kuat berguncang.


"Empat bulan yang lalu, mas."


Alfa tertawa kecil, menyadari seberapa bodoh nya dia. Tak tau jika dia sudah di curangi selama itu.


"Itu artinya, sebelum aku bercerai dengan Ayla." Gumam Alfa penuh sesal. Kini ia ragu, anak siapa dalam kandungan Agya.


Alfa berdiri tepat di depan Agya. "Agya aku jatuhkan talak atas kamu."


Wajah Agya pias, ia menoleh seketika pada Alfa.


"Mas!" Pekiknya,"Mas, aku sedang hamil mas."


"Aku jatuhkan talak dua atas kamu, Agya. Kamu haram untuk aku sentuh. Kamu bebas jika ingin berhubungan dengan pria manapun. Biar mas jalani hukuman yang tidak adil ini. Mas yang di hianati, tapi mas yang masuk bui." Tutup Alfa mengikuti dua petugas polisi yang memborgol tangannya.

__ADS_1


Alfa menoleh manatap ibunya. Rasa bersalah dan sesal meliputi hati dan pikiran Alfa.


"Maafkan Alfa buk...."


Bu Ignis hanya bisa menangis memandang anaknya yang menjadi tumpuan hidup.


"Sungguh malang nasip mu nak." Tangis Bu ignis.


****


Selama beberapa hari, Agya hanya terdiam di dalam rumah. Ia pusing, perutnya sudah membesar. Alfa di penjara, sedangkan Bri. Sudah beberapa kali Agya menghubungi namun, pria itu Sama sekali tak menggubris nya.


"Aaarrrggg! Bagaimana ini? Aku tak mungkin melahirkan anak ini tanpa di dampingi suami! Kenapa jadi serumit ini sih?" Gumam Agya melempar hp ke sofa.


"Mas Alfa sedang di penjara, dan aku juga sudah di talak. Siapa sekarang yang harus aku kejar?" Gumam Agya gusar.


Agya mengambil hpnya lagi, sekali lagi mencoba menghubungi Bri. Namun, pria itu masih saja mengabaikannya. Kini bahkan ia di blokir.


"Sialan!" Umpat Agya melempar lagi hp ke sofa. Lalu menggigiti kuku jempolnya. Berpikir mencari solusi.


"Aku nggak bisa diam kek gini." Gumam Agya lagi. Lalu dia keluar setelah mengambil hape dan jaketnya.


Agya membawa motornya tak tentu arah, ia hanya mendatangi tempat-tempat yang dia dan Bri pernah kunjungi. Agya menghentikan laju motornya saat melihat sosok yang dia cari sedang mengobrol dengan beberapa temannya.


Agya berjalan mendekat setelah memarkir motornya.


"Bri!"


Brio melihat ke arah wanita hamil itu. Ia tampak terkejut, namun cepat menguasai diri.


"Kita bicara Bri,"


"Silahkan." Ucap Bri santai tanpa mau beranjak dari duduknya.


Bri tampak enggan, namun berdiri juga. Lalu melangkah sedikit menjauh dari teman-teman nya. Agya mengikuti.


"Ada apa?"


"Hubungan kita..."


"Kenapa dengan hubungan kita? Kamu mau nuntut lebih? Ingat, Agya! Kita sudah sepakat, kamu jual aku beli. Kamu butuh uangku, aku butuh tubuhmu." Tegas Bri.


Merasa tak memiliki celah, Agya hanya bisa mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.


"Kalau begitu, tolong, cabut tuntutan mu pada suamiku."


Bri justru tertawa. "Dia menganiaya aku, Agya."


"Tapi itu kan karena kita..."


"Aku tegaskan sekali lagi!" Potong Bri,"kue jual, gue beli! Ngerti?"


Tampak sangat jelas, Bri yang menahan emosinya. Sementara Agya makin kalut, menahan rasa sesak di dadanya. Tapi ia butuh seorang ayah untuk anaknya.


"Bayi ini... Anakmu, Bri."


"Hahahaha....." Bri tergelak. "Kamu punya suami Agya!"


"Tapi kita ..."


"Cukup!" Sentak Bri, matanya melotot sempurna hingga Agya gemetar karena takut."aku tidak perduli dengan bayi itu. Aku sudah membayar dengan harga yang pantas. Jangan menganggu ku lagi, atau aku sebar foto-foto telanjang mu!" Tutup Bri meninggalkan Agya yang mematung dengan lemas.


Agya merosot hingga terduduk di lantai kafe. Dunia nya serasa runtuh.


****

__ADS_1


Siang ini, Roxy membuat acara bakar-bakaran di belakang rumah. Kakek Yaris, bahkan Raize juga ada. Uwais pun ada diantara mereka. Sementara Ayla entah ada di mana. Mungkin sedang membersihkan ruangan Roxy.


"Ini ham terbaik aku pilihkan untukmu." Ucap Roxy sembari meletakkan daging ham yang sudah di bumbui ke atas panggang. Pria tampan itu tersenyum pada Uwais.


"Ham?"


"Hamster, Daddy?"


"Bukan. Ini hanya daging. Bukan hamster." Balas Roxy tertawa lebar.


"Supri!"


Supri yang sedang membantu membawa beberapa piring dan daging ayam dari dapur segera meletakkannya di atas meja yang kosong.


"Iya tuan." Sahut supri mendekat.


"Piring."


Supri mengambil piring lalu menyodorkannya pada sang majikan. Tanpa mengambilnya Roxy meletakkan daging yang sudah matang.


"Makanlah."


Supri terdiam sejenak.


"Maaf tuan, saya tidak makan ini." Ucap Supri pelan.


Roxy menatap penuh tanya padanya."kamu tidak suka? Kalau begitu, pangganglah sendiri yang kamu suka." Ucap Roxy ringan mengambil piring berisi daging itu lalu memakannya sendiri.


"Terima kasih, saya permisi tuan." Pamit Supri.


Roxy hanya mengangguk pelan tak terlalu mengambil pusing.


"Uwais. Coba ini." Roxy mengambil satu potong daging yang dia panggang tadi lalu menyuapkannya pada Uwais.


Bocah itu membuka mulutnya lebar-lebar. Tubuh Uwais sudah terangkat dan berpindah dalam pelukan Ayla yang terengah.


Daging di tangan Roxy mengambang di udara. Pria bule itu melihat Ayla, ada yang berbeda. Wajah ayla yang memeluk erat anaknya itu mengganggu pikirannya. Roxy meninggikan tubuhnya 185cm itu. Menatap penuh Ayla.


Ayla sedikit melonggarkan pelukannya. Uwais masih dalam gendongannya.


"Sayang, apa kamu sudah memakan sesuatu?" Tanya Ayla lembut.


"Aku makan apel unda."


"Yang lainnnya?"


Uwais menggeleng, Ayla menghembuskan nafas leganya.


"Ada apa? Apa Uwais memiliki alergi?" Tanya Roxy yang bingung dengan sikap Ayla.


Ayla tersenyum kecut, lalu menggeleng pelan.


"Uwais, ikut bunda ya?"


"Kemana unda?"


"Kami ke depan, terima kasih karena sudah begitu baik pada Uwais." Pamit Ayla,menatap Roxy dan keluarganya bergantian.


Kakek Yaris tersenyum maklum dan mengangguk. Begitupun dengan Raize tanpa sepatah kata pun keluar. Mereka cukup mengerti. Namun berbeda dengan Roxy. Pria itu menahan lengan Ayla karena merasa Ayla begitu membatasi. Roxy merasa, Ayla seolah tak ingin ia terlalu dekat dengan Uwais.


"Kenapa?"


"Maaf tuan Roxy, makanan kita sedikit berbeda." Ucap Ayla yang seketika membuat cengkraman tangan Roxy melemah.


Ayla tersenyum dan mengangguk pamit sebelum melangkah kakinya menjauh.

__ADS_1


__ADS_2