Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 51


__ADS_3

Dalam kegamangannya, Roxy di hadapkan pada dua pilihan hidup yang sulit. Cintanya pada Ayla dan keyakinan yang menyertainya sejak lahir hingga seumur ini.


"Tuan Roxy?"


Roxy melihat ke arah wanita yang menyebut namanya. Lalu tersenyum melihat wajah yang selama ini mengganggunya.


"Kopi anda."


"Sudah ku katakan padamu, untuk memanggil ku Roxy saja, atau Dady. Kenapa kamu sangat bandel?"


Ayla tersenyum kecil.


"Ayla, menikahlah denganku."


Ayla terdiam sejenak, ia tau lamaran itu tak main-main.


"Aku..."


"Katakan syarat yang kamu ajukan agar lamaran ini di terima."


"Maaf tuan Roxy..."


"Daddy!"


Ayla tersenyum kecil mendengar Roxy selalu membetulkan cara dirinya memanggil.


"Maaf Daddy... Aku tak bisa menerima nya."


"Kenapa? Karena Tuhan kita berbeda?"


Ayla mengangguk samar. "Maaf..."


Hening sesaat, lalu Ayla pamit untuk keluar dari ruangan Roxy.

__ADS_1


"Aku akan pergi besok lusa. Mungkin untuk waktu yang lama."


Langkah Ayla tertahan sejenak. "Hati-hati lah. Aku doakan yang terbaik untuk mu."


"Ikutlah bersamaku, Ayla."


"Aku bukan siapa-siapa, Daddy." Ucap Ayla lalu melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan Roxy.


"Kamu... Yang menggoyahkan hatiku... Sedahsyat ini... Bagaimana bisa berubah menjadi bukan siapa-siapa?"gumam Roxy.


Keesokan harinya, Roxy bekerja seperti biasa, bertemu dengan beberapa klien nya untuk menyelesaikan urusan di sini sebelum ia pergi. Tentu saja selama ia pergi, Roxy mempercayakan urusan di Indonesia pada Veloz.


.


.


.


Roxy menghela nafasnya, setelah hampir dua jam lamanya menghabiskan waktu di ruang kerjanya. Lalu, ia berjalan keluar dari sana. Mengingat besok dia harus pergi untuk urusan bisnis ke Rusia, dalam waktu yang cukup lama. Andai Ayla mau, ia ingin membawa serta. Tapi, wanita itu terlalu kuat memegang apa yang dia yakini.


Sekali, dua kali, Roxy mengetuk pintu kamar itu. Namun tak ada sahutan ataupun pintu itu terbuka. Dengan segenap keberaniannya, Roxy mendorong pintu itu hingga terbuka.


Roxy memandang ke setiap sudut kamar. Hanya ada Uwais yang terlelap di sana. Kemana Ayla kenapa tak menampakkan diri?


Roxy berjalan mendekati ranjang. Melihat wajah lelap Uwais yang polos dan menggemaskan, Roxy mengulas senyum. Itu yang akan sangat dia rindui.


Roxy mengecup pelan kening Uwais. "Besok Daddy harus pergi, ada masalah yang harus Daddy selesaikan di sana. Tempat yang cukup jauh dan mungkin kita tak akan bertemu dalam waktu yang lama. Jangan lupakaan Daddy."


Ceklek.


Suara pintu kamar mandi di buka. Roxy melempar pandangan ke sana. Di ambang pintu kamar mandi, tampak Ayla yang terkejut mematung di sana. Dengan mengenakan piyama lengan panjang, dan rambut hitam yang terurai kedepan. Sungguh indah.


Ayla tersentak melihat Roxy ada di kamarnya selarut ini. Dengan cepat, Ayla menutup kembali pintu kamar mandi. Lalu bersandar pada benda itu. Mengatur detak jantungnya yang berdebar hebat. Seluruh syaraf nya seperti tak berfungsi sebagaimana mestinya. Hingga tubuhnya menjadi sangat lemas.

__ADS_1


"Apa yang dia lakukan di sini? Dia melihatku? Astaghfirullah, aku bahkan tidak memakai jilbabku." Ayla menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Tenangkan dirimu Ayla. Tenangkan dirimu." Gumam Ayla pada dirinya sendiri sembari menyentuh dadanya yang tak karuan.


Tok tok tok


Suara pintu di belakang punggungnya di ketuk dari luar. Ayla menajamkan telinga tanpa membuka pintu itu.


"Maaf, aku kemari hanya untuk berpamitan dengan Uwais. Besok aku pergi dan tak yakin masih bisa bertemu lagi dengannya atau tidak." Suara Roxy dari balik pintu.


Ayla memilih diam tanpa bergerak sedikitpun. Jantungnya masih tak beraturan karena.


"Besok pagi, tolong siapkan keperluanku. Jangan terlalu lama mengurung diri di dalam sana. Aku pergi."


Setelah Roxy pamit Ayla merasa sedikit lega. Setelah beberapa menit Ayla masih bertahan di dalam kamar mandi. Akhirnya ia membuka pintu itu. Roxy tak ada di sana. Ayla berjalan hingga ke tepian ranjang kamar. Menatap Uwais yang terlihat menggemaskan dengan posisi tidurnya.


"Maafkan bunda, nak." Lirih Ayla."Kenapa bunda jadi selemah ini? Goyah, tentu saja. saat ini bunda sangat goyah sayang."


Pagi itu, saat Roxy hendak bertolak ke negara asalnya untuk urusan bisnis. Tentu saja, selama beberapa hari ini pikirannya terus terganggu dengan semua sikap Ayla, dan diperkuat dengan ucapan Supri.


Sebelumnya, Roxy tak terlalu memikirkan hal semacam ini. Dalam otaknya hanya tentang berbisnis. Dan mengobati masalah ereksi yang sedikit menggangunya. Setelah bertemu Ayla, ia seperti menemukan obatnya. Tapi, lagi-lagi harus berbenturan dengan hal yang dia dan wanita itu yakini.


Pagi itu serasa cukup hening, Ayla dengan telaten memasang dasi Roxy. Rasa yang bergejolak di dalam diri pria itu bangkit kala mengingat malam sebelumnya. Sesungguhnya, ia ragu, mungkinkan Ayla menyimpan rasa juga terhadapnya. Janda cantik itu selalu terkesan datar, walau kadang rona merah dapat Roxy lihat di wajah ayu Ayla.


"Aku harus memastikan nya, sebelum aku pergi, agar aku lebih yakin dengan perasaannya terhadap ku. Aku yakin kami masih bisa melalui ini bersama. Pasti ada jalan keluarnya meski kami memiliki perbedaan yang begitu mendasar." Batin Roxy tanpa melepas tatapannya dari wajah ayu Ayla.


Tangan Roxy mengusap punggung Ayla. Janda itu tak merespon apapun, tetap diam dalam kekakuan menyelesaikan tugasnya.


Roxy semakin memberanikan diri memeluk pinggang Ayla, menahannya agar semakin dekat. Sementara tangannya yang lain menahan tengkuk wanita itu. Ayla masih tak merespon apapun, bahkan saat bibir Roxy menyentuh bibirnya, Ayla hanya terdiam, bahkan mata itu memilih menutup dan bibir itu bergerak menyambut sesapan kecil dari pria bule di hadapan nya.


Bukan lagi berfantasi, Roxy benar-benar mencicipi lagi bibir Ayla. Hanya, kali ini, ia mendapat sambutan dari wanita berjilbab senada dengan seragam pelayan nya.


Gayung bersambut, kedua lidah saling bertemu dan membelai. Roxy semakin menahan punggung dan tengkuk Ayla lebih dekat. Memberi Ayla kehangatan yang sempat terabaikan.

__ADS_1


Kedua tangan Ayla yang masih memegang dasi Roxy yang telah selesai ia pasangkan. Secara perlahan tangannya sedikit bergeser di dada bidang Roxy. Janda Alfa itu telah berada di atas awang. Merasai aroma kopi di setiap rongga mulutnya yang membuaikan. Hingga Ayla terlupa jika ia sudah melakukan hal yang di larang agamanya.


__ADS_2