
Di mansion utama kediaman Roxy.
Kakek Yaris tampak sangat bersemangat, berjalan mondar mandir di ruang utama. Menunggu kedatangan calon cucunya tiba dari berlibur di pulau B. Awalnya dia sangat ingin menyusul, tapi Roxy melarang karena ingin quality time bersama Ayla dan Uwais. Akhirnya sang kakek memilih dengan sabar menunggu.
"Oohh, kakek!" Seru Uwais begitu masuk dan melihat Kakek Yaris sudah berdiri menyambutnya.
"Cucuku....." Kakek Yaris merentangkan tangannya berseru tak kalah keras dan antusias hingga membuat Ayla yang berdiri di belakang Uwais terlihat sangat terkejut.
Menyadari itu, Kakek Yaris berdehem,
"Ehem!" lalu merubah sebutannya,
"Uwais!" Sebut kakek dengan berkarisma.
Walau bagaimanapun, Ayla dan Roxy belum menikah, bagaimana bisa Kakek Yaris begitu bersemangat menyebut Uwais cucunya?
Benar, bocah polos berusia tiga tahun itu sudah menghipnotis dan membuat Roxy serta kakek Yaris menjatuhkan cinta padanya.
Uwais berlarian mendekati sang kakek, memeluk pria tua berkaki tiga itu.
"Kakek!" Tanpa merasa canggung, Uwais bergelayut minta gendong pada pria yang bahkan untuk berjalan saja butuh tongkat penyangga. Namun, lucunya, kakek Yaris mampu menggendong bocah berbobot 12kg itu.
"Uwais! Jangan begitu, kakek Yaris sudah tua, jangan membebaninya." Ayla mempercepat langkah kakinya dan mencoba menurunkan Uwais dari punggung kakek Yaris.
"Uwais! Turun!" Perintah Ayla mutlak. Dengan cemberut, Uwais terpaksa turun dari gendongan kakek Yaris.
"Sini!"
Patuh, bocah yang cemberut menggemaskan itu melangkah pelan ke arah ibunya. Namun, kakek Yaris yang kepalang kangen itu menarik tangan Uwais dan memangku nya. Tentu, itu membuat Ayla dan Uwais terkejut bersamaan.
"Kakek kangen, boy." Seloroh kakek Yaris menggemasi wajah bocah yang tergelak geli.
__ADS_1
Ayla membiarkan begitu saja, mungkin memang benar kakek Yaris merasa kangen. Mungkin saja pria tua itu butuh hiburan. Dan hiburan itu dia dapat dari Uwais.
Roxy duduk melepas lelahnya selama perjalanan.
"Bagaimana perkembangan di sana, Roxy?" Tanya kakek setelah puas menggemasi Uwais. Duduk sembari memangku bocah menggemaskan itu.
Ayla berbisik pelan memanggil Uwais. Ia merasa tak berkepentingan untuk berada di sana.
"Kemari!" Bisik Ayla bernada perintah dengan melambaikan tangan.
Uwais mendongak melihat Kakek Yaris yang tersenyum padanya.
"Maaf, biar Uwais istirahat dulu." Kata Ayla yang mengerti tatapan Uwais.
"Aduuhh, padahal kakek masih kangen sama kamu. Kakek pingin dengar ceritamu."
Uwais mulai berceloteh karena ia memang tidak mau pergi dengan ibunya. Ayla tampak sangat kesal.
"Uwais!"
"Dia sedang bersemangat, biarkan saja. Nanti biar kakek yang mengajaknya istirahat. Kamu pergilah dari pada bersuara seperti itu. Istirahat sana." Kakek Yaris membela, lagi-lagi menggemasi Uwais yang berceloteh riang menceritakan keseruannya bermain dengan Roxy kemarin.
Ayla hanya bisa menghela nafasnya. Lalu pamit ke belakang.
Di dalam kamar nya, Ayla hanya duduk terdiam. Mengingat lagi tentang siapa dirinya, juga tentang pernyataan cinta Roxy padanya.
Ayla menutup wajahnya. Ia sangat sadar, pernikahan bukan hanya tentang dua orang saja. Tapi juga dua keluarga. Terlebih keyakinan keduanya berbeda. Meski Ayla memiliki rasa yang cukup untuk alasan menikah, tapi tak cukup untuknya mau melepas keyakinan. Kedua orang tua Ayla sudah pasti menentang, walau ia bukan dari keluarga yang religius.
Kakek Yaris sudah sangat baik, memperlakukan Uwais sebagai cucunya. Itu sudah terlihat dari sikap dan binar matanya. Tanpa ada maksud apapun.
Begitupun dengan Roxy, yang semakin kesini, semakin menunjukan welas asih nya pada Uwais. Meski ia bukan anaknya. Dan itu yang membuat Ayla terus berpikir. Hal yang membuat Ayla lemah, adalah Uwais. Semua yang berkaitan dengan Uwais bisa membuat Ayla bahagia dengan senyuman. Sekaligus, di liputi amarah jika ada yang melukai anaknya. Hal yang sangat wajar bukan, bagi seorang ibu.
__ADS_1
"Ehem."
Ayla yang gamang itu perlahan mendongak ke arah pintu. Roxy berdiri dan bersandar di sana.
"Sepertinya, Uwais kelelahan. Dia tidur."
Ayla hanya menatap pada pria bule itu, tanpa berpindah dari tempatnya duduk di atas ranjang.
"Kake ingin menginap, dia ingin tidur dengan calon cicitnya. Bolehkah?"
Ayla tersenyum, entah harus bahagia atau apa, ada begitu banyak orang yang menyayangi anaknya.
"Kalau boleh, akan kusampaikan padanya."sambung Roxy dari ambang pintu.
"Terserah kalian saja."
"Kamu ibunya, kenapa jadi terserah kami?"
Ayla bergeming.
"Apa kamu sudah setuju untuk menikah dengan ku?" Tanya Roxy berjalan memasuki kamar Ayla.
Ayla menatap Roxy yang semakin mendekat. "Kenapa mengungkitnya?"
Roxy berjongkok di depan Ayla menyentuh kedua tangan wanita di hadapannya. Lalu mencium kedua tangan itu. Lekas, Ayla menariknya.
"Sudah kukatakan padamu, kita berbeda."
"Jika berbeda memangnya kenapa?"
"Tuan Roxy, tolong mengertilah."
__ADS_1
"Aku hanya butuh satu jawaban, Ayla. Apa kamu mencintaiku? Hingga detik ini kamu bahkan tidak menjawabnya."