
"Dan..."
Veloz sengaja tak melanjutkan kalimatnya, menunggu Roxy yang sedang menurunkan Uwais dari atas Lambo. Lalu memberi bocah itu sebuah tongkat.
"Lihat papa." Roxy melempar tongkat itu, dan Lambo berlari ke arah tongkat terlempar. Lalu kembali dengan mulut menggigit tongkat yang Roxy lempar.
"Sekarang, giliran mu yang melempar." Ucap Roxy menyerahkan tongkat itu pada Uwais."bisa?"
Uwais mengangguk dan tersenyum lebar. Uwais pun mengulangi apa yang Roxy lakukan tadi. Sementara Roxy berjalan ajak menjauh, namun masih bisa memantau dan dalam jangkauan pandang Uwais.
"Kami sudah memberi peluang bagi suami nona Ay...."
Roxy menatap sinis dan tajam pada Veloz. Tentu saja, sang asisten tau maksud nya.
"Maksud saya, ehem, calon mantan suami nona Ayla."
"Mantan! Tidak pakai calon! Ingat itu."
Veloz menggosok tengkuknya dan tersenyum kikuk.
"Kenaikan jabatan Alfa sudah sampai tahap test tertulis."
"Bagus! Buat dia merasa sudah setengah terbang. Lalu kita cabut sayap nya." Timpal Roxy tersenyum licik.
****
"Unda..."
Uwais memeluk tubuh Ayla yang baru saja pulang dari bekerja. Di belakangnya Roxy berdiri dan tersenyum pada ibu dan anak yang sedang melepas rindu karena seharian tak bertemu.
"Unda, lihat baju baruku, ganteng nggak?" Tanya Uwais melepas pelukan dan menunjukkan dirinya yang sangat tampan dengan pakaian Roxy sewaktu kecil. Masih tampak sangat bagus karena terawat.
Ayla tersenyum haru, melihat anaknya sebahagia itu. Pertama kalinya, Uwais memakai baju bagus dan mahal. Membuat Ayla teringat dengan perjuangan nya semasa masih bersama Alfa. Uwais bahkan belum tentu setahun sekali bisa beli baju.
"Ganteng..." Puji Ayla menahan air mata haru di pelupuk mata.
"Unda, ayo! Ayo! Is punya kamar sendiri. Ada mobil besar di kamar is."
Uwais menarik tangan Ayla agar mengikutinya menuju kamar yang dia dan Roxy sudah atur bersama. Uwais sangat ingin memamerkan kamar barunya.
__ADS_1
Ayla yang memang berencana untuk segera pindah kini di landa kebingungan. Roxy memberi terlalu banyak. Itu tidak baik, akan membuat Ayla semakin sulit membujuk Uwais pergi dari rumah besar itu.
Di dalam kamar yang di dominasi cat warna cerah dan ceria itu, Uwais berlarian, bersemangat menunjukan semua pada ibunya. Mulai dari meja, lemari,tempat tidur berbentuk mobil tayo dan mainan di dalam kotak yang besar.
Malam itu, Ayla dan Uwais tidur di kamar baru bocah tiga tahunan yang sangat bahagia itu. Ayla memang sengaja membiarkan Uwais yang udah terlanjur senang itu menikmati sebentar fasilitas dari Roxy. Esok, Ayla sudah ijin pada bosnya untuk libur karena akan pindah ke tempat kos yang baru.
Uwais belum tidur, dia berceloteh dengan riang, menceritakan semua kegiatannya bersama Roxy selama bundanya bekerja. Termasuk saat mereka bermain dengan Lambo. Wajah Ayla sedikit berubah, Lambo adalah anjing jenis Samoyed. Dan tentu saja semua anjing najis air liurnya. Ayla menyimak dengan seksama penuturan Uwais. Sampai Uwais bercerita ia menaiki punggung Lambo juga saat anjing itu menjilat wajah dengan lidah yang besar itu. Uwais yang masih belum mengerti sudah pasti tertawa girang karena geli.
Ayla mendessaah pelan. Lalu tersenyum pada anak lelakinya.
"Sayang, bunda, tidak melarang is buat dekat dengan hewan manapun, termasuk Lambo. Tapi, bunda melarang is terlalu dekat sampai Lambo bisa menjilat dan mencium is."
"Kenapa? Lambo tidak jahat, walau besar tapi..."
"Lambo itu hewan is, hewan hanya mengikuti nalurinya.. Naluri hewan itu akan menyerang siapapun yang melukai ataupun masuk ke wilayahnya. Seperti kita kemarin. Lambo hampir menyerang kita, karena kita masuk rumahnya. Benarkan?"
"Heeemmm...." Uwais manggut-manggut, entah mengerti atau tidak. Ayla hanya mencoba menjelaskan.
"Dan air liur Lambo mungkin ada bakteri di sana, dan kita di larang untuk terkena. Karena itu, di bagian mana saja Lambo menjilati dan menciummu?"
"Kenapa unda?"
"Aku kan udah mandi tadi sama papa." Bocah polos itu masih meminta penjelasan.
"Om Roxy nggak tau, berapa kali kamu harus mencucinya." Jelas Ayla dengan senyum lembutnya.
Setelah mensucikan lagi Uwais, Ayla juga mengganti baju Uwais dengan baju miliknya sendiri. Baju Uwais pemberian Roxy sengaja Ayla basahi agar Uwais mau melepasnya.
"Lain kali, jangan terlalu dekat pada Lambo atau anjing ya, kalau sampai terkena air liurnya, kamu jadi harus membersihkan diri seperti tadi. Capek kan?"
Uwais yang polos itu mengangguk.
"Sakit tidak?"
Uwais mengangguk lagi. Ayla memang menggosok tubuh Uwais sedikit lebih keras, hanya agar Uwais selalu mengingat untuk tidak terkena liur anjing.
"Aku nggak akan main lagi masa Lambo." Celetuk bocah itu sedikit sedih.
Ayla tersenyum kecil.
__ADS_1
"Ya udah, ayo tidur."
Keesokan paginya,
Setelah sarapan dan memberi Uwais pengertian bahwa rumah besar itu bukan rumah mereka dan hanya menginap sementara. Akhirnya, Ayla pamit pada Roxy.
"Terima kasih untuk semuanya, tuan Roxy. Kebaikanmu pada kami akan selalu kuingat."
"Berterima kasihlah dengan tetap tinggal di sini Ayla. Uwais juga sudah sangat senang tinggal di sini. Dia bahkan sudah sangat akrab dengan Lambo." Balas Roxy yang tersenyum bangga dan sangat percaya diri.
Ayla menatap sendu Roxy
"Terima kasih untuk itu."
"Yeesss..." Dalam hati Roxy bersorak gembira.
"Terima kasih karena sudah memperlakukan kami dengan sangat baik. Terutama Uwais. Aku tak tau bagaimana membalasnya."
"Kamu tau, aku yakin kamu tau, hanya tidak mau mengakuinya."
Ayla menunduk dalam, memang, bagaimana ia sampai tidak tau maksud Roxy. Pria itu sudah sangat lantang dengan pernyataan cintanya. Bahkan dengan sangat frontal menyatakan mendekati dirinya yang masih istri Alfa.
Ayla menatap Roxy dalam.
"Aku sangat berterima kasih. Tolong jangan beri kami lebih banyak lagi. Aku tak mau terlalu banyak menerima kebaikanmu. Terlebih aku tak bisa memberikan apa yang kamu inginkan."
"Kenapa?"
"Kita punya banyak perbedaan...."
"Kita bisa menentang perbedaan itu bersama."
Ayla tersenyum getir seraya menggeleng pelan.
"Aku sudah mendapatkan tempat tinggal. Terima kasih karena sudah menampung kami."
Roxy pias. Rontok sudah semua yang ia usahakan agar Ayla tetap tinggal. Terlebih, Uwais sudah bisa menerima untuk melepas semua pemberian Roxy.
Roxy terus membujuk, dan Ayla tetap pada pendiriannya untuk pergi. Apa yang bisa Roxy lakukan untuk menahannya?
__ADS_1