Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 101


__ADS_3

"Selamat Kayla."


"Kayla, nanti kita makan-makan lagi di kafe manis."


Kayla melambaikan tangannya setelah perpisahan dengan beberpa teman-teman. "Baiklah, hati di jalan."


Setelah berpisah dengan kembali ke bangku keluarga.


"Emak, bapak, mbak, maaf ya. Kita bisa kembali sekarang." Ucap Kayla dengan nada ceria.


"Ayo, ayo. Lagi pula sudah ada yang menunggu di rumah." Celetuk Ayla.


Kemudian mereka kembali ke kediaman Rocky. Begitu turun dari mobil, Kayla tak lupa menanyakan siapa yang menunggu karena memang tak ada anggota keluarga yang lain.


"Kakek?" Wajah Kayla berubah menjadi tegang, tentu saja, siapa lagi yang Ayla sebut kakek jika bukan kakek Yaris.


"Iya, kakek Yaris sudah menunggu di dalam."


"Bu-bukankah kakek itu di luar negri sekarang?" Tanya Kayla semakin gugup.


"Iya benar. Dan sekarang sudah pulang."jawab Ayla, "ayo masuk."


Ayla, Rocky, emak dan juga bapak sudah melangkah lebih dulu memasuki pintu utama. Sedangkan Kayla mematung di halaman. Pikirannya mulai kacau, entah akan melakukan apa. Akhirnya ia memilih mengambil hp nya, dan menghubungi Raize.


"Ha-halo..."


("Aku di belakangmu.")


Dengan cepat Kayla menoleh. Mendapati Raize yang berjalan ke arahnya. Terlihat ada beberapa memar di wajah Raize, tersenyum melihat banyaknya kekhawatiran di wajah Kayla.


"Kenapa dengan wajahmu? Apa kakek..." Kayla tak melanjutkan kalimatnya, terlihat jelas kekhawatiran di sorot matanya gadis cantik itu.


Raize tersenyum seraya berkata, "tidak apa, ayo kita hadapi bersama."


"Ka-kek sudah tau?"


Raize mengangguk. Wajah Kayla makin pias dan tegang. Untuk menenangkan gadisnya, Raize mengenggam tangan Kayla.


"Ayo masuk."


"Emak, bapak, bagaimana jika..."


"Kita masuk saja dulu." Ajak Raize menarik tangan Kayla. Bertepatan dengan suara panggilan dari emaknya.


"Kayla!"panggil sang emak.

__ADS_1


"I-iya." Sahut Kayla mengikuti Raize.


Kayla sudah pasrah, entah apa yang mungkin terjadi nanti. Sudah pasti tergambar dalam benaknya kemarahan sang ayah dan ibu.


Di dalam rumah itu, Kayla yang berdiri bersisihan dengan Raize melihat kakek Yaris sudah duduk dengan wajah yang menatapnya tajam. Kayla menunduk, sementara Raize menggenggam tangan Kayla semakin erat.


Emak dan bapak juga sudah duduk di sana, keduanya masih terlihat sangat biasa. Sepertinya emak dan bapak belum mengetahui lebih lanjut.


"Ayla, bawa Uwais kebelakang. Temani dia main sebentar." Titah kakek Yaris pada Ayla.


Ayla menoleh pada Kayla dan juga pada Rocky, lalu melihat kedua orang tuanya. "Baik, kek."


Ayla membawa Uwais ke halaman belakang. "Ayo is, ikut bunda."


Setelah memastikan Ayla dan Uwais pergi. Kakek Yaris kembali menatap tajam pada Kayla dan Raize lalu berucap,"Kenapa kalian tidak duduk?"


Mendengar ucapan sang kakek, Raize duduk dan tetap menggandeng kayla. Menuntun gadis itu untuk duduk bersama.


Sementara Emak dan bapak tampak tak mengerti. Melihat Raize dan Kayla yang duduk bersebelahan, membuat merka berpikir sedikit jauh.


"Ada apa ini, besan?" Tanya pak Rohman pada kakek Yaris.


"Tidak ada, hanya, mungkin beberapa waktu kedepan, saya akan meminjam putri bungsu bapak dan ibu Rohman."


"Yaa, hanya berbicara empat mata dengan mereka." Tutur kakek Yaris melirik tajam pada pasangan yang semakin mengeratkan genggaman tangan.


"Kayla? Ada apa ini?" Tanya pak Rahman yang merasa tak mendapat jawaban yang memuaskan dari kakek Yaris, memilih bertanya pada putrinya.


Kayla bungkam, ia kehilangan kata-kata nya saat sudah berada di depan ayah dan ibu nya. Terlihat jelas wajahnya yang tegang dan keringat yang mengucur dari pelipis nya. Raize hanya bisa menguatkan gadisnya dengan genggaman.


"Kami... Menjalin hubungan. Mohon restui kami." Ucap Raize akhirnya.


"Apa?" Emak dan bapak sama-sama terkejut. Bapak menatap anaknya yang menunduk dalam. Menelisik lebih jauh wajah anaknya yang sulit untuk dia lihat. "Kayla."


"Nak, apa yang sebenarnya terjadi?" Kali ini emak ikut ambil suara.


"Kami menjalin hubungan, saya berniat untuk menikahinya nanti jika Kayla sudah lulus kuliah. Kami memang menyimpan hubungan ini karena saya masih saudara sepupu dengan kakak ipar Kayla. Karena itu..." Raize mencoba menjelaskan.


"Sebelumnya, bapak mau bertanya pada Kayla. Kamu tidak perlu menjawab." Ucap bapak halus para Raize, lalu ia beralih menatap anaknya."Kayla, katakan."


"Apa yang dia ucapkan benar, pak." Jawab Kayla jujur.


"Seberapa jauh kalian sudah berhubungan? Sudah berapa lama? Kamu tidak meninggalkan solat, kan?"


Wajah Kayla di penuhi rasa bersalah dan penyesalan. Menatap kedua orang tuanya dengan mata berair. Merasa sudah membuat mereka kecewa.

__ADS_1


"Kamu tidak meninggalkan solat, kan nak?"


Kayla menggeleng dengan bahu berguncang, "enggak, pak."


Tampak kelegaan di wajah bapak nya, "bagus kalau begitu. Sudah berapa lama kalian berhubungan?"


Kayla bungkam. Melihat Kayla sebgitu gugup dan gelisah, Raize tak tega. Ialah yang akhirnya membuka suara.


"Kami udah saling mengenal sebelum Ayla dan Rocky menikah. Dan menjalin hubungan yang lebih serius satu bulan terakhir."


"Jadi, seharusnya, perasaan kalian belum terlalu dalam. Sebelumnya, bapak meminta maaf, kami orang tua Kayla belum begitu mengetahui tentang pribadi nak..."


"Raiz, Raize." Ucap Raize yang mengerti jika kedua orang tua Kayla belum mengenalnya.


"Iya, nak Raize. Kamu bilang menjalin hubungan yang lebih serius. Kamu pasti tau, jika Kayla seorang muslim.."


"Iya, saya tau."


"Dan kita memiliki keyakinan yang berbeda."


"Benar,"


Maka dari itu, bapak sangat berharap kalian mempertimbangkan lagi kelanjutan hubungan kalian. Apalagi untuk di bawa ke jenjang pernikahan." Tutur pak Rahman halus.


"Kayla, emak tidak setuju." Timpal emak bernada ketus. "Jadi, sebaiknya kalian akhiri saja hubungan kalian. Mumpung belum jauh."


"Mak!" Tegur pak Rohman dengan nada lembut namun tegas.


Emak melengos, dulu memang dialah yang paling keras menentang hubungan Rocky dan Ayla. Kini, emak pun masih bersikap sama.


"Kalau begitu, boleh saya bawa Kayla dan Raize ke ruang baca? Ada hal yang ingin saya bicarakan dengan kedua anak muda ini." Kakek Yaris meminta ijin.


"Kenapa tidak di sini saja?" Tanya pak Rohman.


"Ada beberapa hal yang harus kami bicarakan. Jika boleh. Jika tidak pun tidak apa." Ujar kakek Yaris tetap bernada ramah.


"Kayla? Apa lagi yang kamu sembunyikan dari kami?" Tanya emak dengan nada menuduh.


Kayla hanya bisa bungkam dan meremas tangannya sendiri. Gadis itu semakin menunduk dalam. Tubuh Kayla bergetar oleh tangisnya.


"Raize, antarkan Kayla ke kamarnya. Seperti, dia butuh menenangkan diri." Titah kakek Yaris.


"Baik." Raize berdiri masih dengan tangan Kayla dalam genggaman.


"Tidak perlu, kalian bahkan belum bisa disebut pasangan. Tidak perlu mengantar Kayla ke kamarnya. Dia putri kami. Lagi pula banyak yang ingin kami bicarakan pada nya." Emak langsung berdiri, "ayo, La."

__ADS_1


__ADS_2