Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 52


__ADS_3

Tangan Roxy mengusap punggung Ayla. Janda itu tak merespon apapun, tetap diam dalam kekakuan menyelesaikan tugasnya.


Roxy semakin memberanikan diri memeluk pinggang Ayla, menahannya agar semakin dekat. Sementara tangannya yang lain menahan tengkuk wanita itu. Ayla masih tak merespon apapun, bahkan saat bibir Roxy menyentuh bibirnya, Ayla hanya terdiam, bahkan mata itu memilih menutup dan bibir itu bergerak menyambut sesapan kecil dari pria bule di hadapan nya.


Bukan lagi berfantasi, Roxy benar-benar mencicipi lagi bibir Ayla. Hanya, kali ini, ia mendapat sambutan dari wanita berjilbab senada dengan seragam pelayan nya.


Gayung bersambut, kedua lidah saling bertemu dan membelai. Roxy semakin menahan punggung dan tengkuk Ayla lebih dekat. Memberi Ayla kehangatan yang sempat terabaikan.


Kedua tangan Ayla yang masih memegang dasi Roxy yang telah selesai ia pasangkan. Secara perlahan tangannya sedikit bergeser di dada bidang Roxy. Janda Alfa itu telah berada di atas awang. Merasai aroma kopi di setiap rongga mulutnya yang membuaikan. Hingga Ayla terlupa jika ia sudah melakukan hal yang di larang agamanya.


Ayla membuka mata, wajah Roxy begitu dekat meski bibir mereka sudah berjarak. Senyum bahagia terbit di wajah Roxy. Ia hanya tak menyangka akan mendapatkan balasan dari Ayla. Dan itu sungguh sangat manis baginya.


Ayla tersadar, ia telah salah mengikuti dorongan di dalam diri nya yang terus berkobar tanpa bisa ia redam. Dalam hati Ayla meruntuki, reflek, tangan mendorong pelan tubuh Roxy. Namun, pria itu tak rela saat merasakan ritme nafas cepat mereka yang bersahutan.


Roxy menahan agar tubuh mungil itu tetap barada dalam dekapannya. Namun, sikap tegas Ayla yang terus mencoba meloloskan diri itu membuat Roxy tak ingin memaksanya.


Ayla mundur dua langkah kebelakang. Mengangkat tangannya agar Roxy tak mendekat. Raut kecewa tampak jelas di wajah pria bule itu.


"Ayla..."


"Ini tidak benar. Kita sudah melewati batas."


"Batas yang bagaimana, Ayla?"


Ayla bergeming, mencoba berperang dengan perasaan nya sendiri. Akal sehatnya tak boleh hilang. Imannya tak boleh pudar. Itu yang kini ia tancapkan kuat di dalam hatinya. Ia tak boleh goyah.


"Awalnya, aku ragu, aku memang ragu dengan semua sikap dan penolakan mu. Tapi setelah kau membalas ciuman. Aku tau kau juga memiliki perasaan yang sama dengan ku, Ay." Roxy mendekat dan dengan berani menarik masuk Ayla dalam kehangatan tubuhnya.


"Jangan lakukan ini, tuan Roxy." Mohon Ayla bahunya berguncang, mencoba membendung air matanya agar tak jatuh. Mencoba mendorong tubuh Roxy agar menjauh.


"Aku mencintaimu, Ay. Aku tau kau juga."


Ayla menggeleng meski hatinya berkata iya. Roxy merasa cukup geram dengan Ayla yang terus mengingkari perasaan nya sendiri. Roxy membingkai wajah Ayla menyergapnya lagi dengan kehangatan cintanya. Berharap kali ini Ayla akan membalas lagi ciuman nya.


Namun, wanita itu kaku. Sedikitpun tak menyambutnya. Hanya air mata yang meluncur bebas di pipinya dan membasahi sela-sela jari Roxy.

__ADS_1


"Ayla..." Bisik Roxy saat wanita dalam dekapannya mencoba meloloskan diri lagi darinya.


"Nafasmu memburu, kamu juga merasakan hal yang sama. Kamu juga berhasrat denganku. Kenapa? Kenapa kau terus menghindar? Kenapa, Ayla?" Roxy terus memburu Ayla dengan runtutan pertanyaan nya.


"Ini nafsu, tuan Roxy."


"Aku memang hanya bereaksi padamu, Ay. Terserah bagaimana kamu menyebut nya." Roxy mengeratkan pelukannya meski tubuh lemah itu terus mencoba lepas.


Roxy memeluk dengan pengharapan nya, sedangkan Ayla menangis dengan ketidakberdayaan dirinya. Tak berdaya dengan tubuh dan hatinya yang lemah.


Detik berlalu, dan berganti menjadi menit. Menit yang terus merangkak naik. Roxy melepas pelukannya. Mengusap pipi Ayla yang basah.


Wajah wanita cantik berjilbab itu sangat sembab karena terlalu banyak mengeluarkan airmata.


"Menikahlah dengan ku Ayla."


Tubuh Ayla berguncang hebat. Kenapa rasa cinta itu tumbuh di tengah perbedaan mereka. Yang jelas-jelas menusuk dengan dalam?


"Kita memiliki perasaan yang sama, kenapa terus menahannya karena perbedaan?" Roxy memegang bahu Ayla menatap lekat padanya.


"Kamu mencintaiku, kan, Ayla? Aku tidak sedang jatuh cinta sendiri kan?" Tatap Roxy penuh harap. Mata nya terasa panas menahan genangan disana.


"Ya, ya, Aku mencintaimu...." Lirih Ayla di tengah nyeri ulu hatinya. Wajah lega dan bahagia terlihat jelas di wajah Roxy kala mendengar pengakuan Ayla. "Tapi, aku juga mencintai Tuhan ku, tuan Roxy."


"Apa yang di larang, akan aku coba tak lakukan, termasuk hubungan kita." lanjut Ayla.


Seketika pedar bahagia itu sirna dari wajah Roxy. Ia seperti diangkat, lalu di hempaskan oleh wanita yang di cintai nya itu.


Ayla meraih tangan Roxy, menyatukan keduanya dan saling bertaut lalu menangkup dengan kedua tangan Ayla sendiri.


"Kau lihat?" Ayla membuka tangkupan tangannya hingga menengadah di kedua sisi tangan Roxy yang bertaut itu.


"Begini cara kita berdoa. Begini cara kita meminta..." Suara Ayla makin terdengar serak.


Mata Roxy terasa panas. Tanpa permisi bulir bening itu akhirnya meluncur dari pelupuk mata.

__ADS_1


"Tak bisakah kita bersama meski berbeda?"


Ayla menggeleng pelan."Ini hal yang paling mendasar.... Jika hal yang menjadi dasar kehidupan saja sudah berbeda, maka akan berbeda semua hingga ke ujungnya, meski menjulang di tempat yang sama."


"Aku memang mencintai mu, tapi aku juga mencintai Tuhan ku. Jangan tanyakan lebih besar yang mana.." suara Ayla makin parau oleh nyeri yang terus menghimpit dadanya."Dia yang mempertemukan kita..."


"Dia juga yang memisahkan kita...." Roxy menyambung kalimat Ayla dengan hati yang sudah porak poranda.


"Jika berjodoh, Dia juga yang akan menyatukan kita lagi..."


Seutas senyum iklas Ayla terbit. Mengusap lembut wajah pria tampan yang basah itu.


"Tak perduli seberapa jauh kita melangkah dan terpisah... Tak perduli seberapa besar perbedaan kita... Jika berjodoh...."


"Kau percaya?"potong Roxy lirih.


Ayla mengangguk... "Hati-hati di jalan, tuan Roxy."


"Aku mencintai mu, Ayla. Sangat."


Seusai drama yang penuh emosional dan panjang itu, Roxy meninggalkan negara ini selama beberapa Minggu lamanya. Sedangkan Ayla. Ia harus menata ulang hatinya. Dan memilih pindah kembali ke kampung halamannya. Janda cantik itu berpamitan pada semua orang, termasuk kakek Yaris.


"Kakek akan sangat merindukanmu, Uwais." Kakek Yaris memeluk Uwais dengan sedih.


"Aku juga kek."


Kakek Yaris menatap Ayla sebentar setelah melepas pelukannya pada uwais, "apa kamu sungguh akan pergi?"


"Bukan pergi kek, kami hanya pulang."


Kakek Yaris tersenyum kecut.


"Ini rumahmu, kamu mau pulang kemana lagi?"


Ayla mengeleng, "ada rumah yang telah lama kami tinggalkan."

__ADS_1


"Aku menunggu mu, Ayla. Dia pasti menjemput kalian." Ucap kakek Yaris sangat yakin.


Ayla menarik nafasnya dalam-dalam, dan tersenyum dengan keikhlasan hatinya."terima kasih untuk semua kebaikan kakek dan semua."


__ADS_2