Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 95


__ADS_3

"Apa aku terlihat begitu gampang dimatamu sampai kau samakan aku dengan wanita jalaaang yang selalu menemanimu tidur?" Tanya Kayla dengan mata berkaca. Suaranya yang bergetar membuat Raize seketika membeku dan bungkam.


"Bukan! Bukan itu maksudnya, kamu sudah salah paham." Raize mencoba menjelaskan, tatapan matanya tak lepas dari manik mata Kayla.


"Kau memperlakukan aku seperti mereka."


"Tidak." Raize menggeleng,


Tangan Kayla bergerak menyentuh bibirnya. "Sama! Seperti yang kau lakukan pada wanita tadi pagi."


"Tidak! Kamu salah, aku menyalurkan yang ada di sini..." Raize menunjuk dadanya,"agar sampai di sini." Lalu berpindah menunjuk dada Kayla. Tepat di hatinya.


"Itu sama saja. Kau baru saja mengambil ciuman pertamaku."


Ciuman pertama, entah mengapa walau terasa begitu menyesakkan, namun membuat Raize lega dan senang. Karena dialah Orang pertama yang mencicipi bibir gadis di depannya itu.


"Dan aku harus merelakan pada pria sepertimu." Sinis Kayla.


Jleb! Bagai di tusuk sembilu, dada Raize begitu sakit. Kayla terus mengucapkan kalimat-kalimat menyakitkan untuknya. Semua tentang dirinya yang seorang Casanova. Sesungguhnya, jika itu bukan terucap dari bibir Kayla, Raize tak akan merasa sesakit ini.


"Karena itu, mari kita akhir saja. Ini sudah hampir dua bulan. Sebentar lagi aku wisuda. Kamu juga udah mendapatkan warisan dari kakek, kan?" Ujar Kayla lagi kali ini tanpa memandang Raize. Kayla menatap lurus kedepan, melihat jalanan yang tampak lengang.


"Beri aku waktu, Kay."


"Waktu untuk apa?"


"Aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku juga, bisa merubah semua tabiat yang kamu keluhkan. Beri aku waktu satu bulan. Dan biarkan aku membuktikan padamu aku bisa berubah." Pinta Raize memohon.


Kayla terdiam. Ia sudah merasakan getaran di dadanya. Ia tak ingin terjerat oleh pesona Raize lebih jauh. Ia sungguh lelah bersandiwara. Lelah merasa terluka ataupun sakit bila melihat Raize bersama wanita lain.


"Bijakkah jika aku memberinya kesempatan untuk berubah? Bagaimana jika justru aku yang semakin dalam jatuh? Rasa sakit mencintai pria yang telah berbagi peluh dengan wanita lain? Apa itu tidak menutup kemungkinan dia bisa kambuh? Bagaimana jika dia bermain di belakangku? Seorang pemain, lebih pandai menyimpan rahasia." Pikir Kayla.


"Kay?"


Kayla menoleh pada Raize, pria itu sudah menggenggam jemarinya.


"Maukah kamu memberiku kesempatan untuk berubah?"


Melihat mata Raize yang terlihat bersungguh-sungguh dan memohon itu. Kayla pun mengangguk setuju.


"Tapi aku punya beberapa syarat."


"Baiklah."


"Aku ingin kamu memblokir semua wanita yang pernah berkencan dengan mu. Memastikan jika mereka tak akan mengusikmu."


"Baiklah."

__ADS_1


"Aku juga ingin memiliki akses ke ponselmu."


Raize terdiam, sesuatu yang agak sulit untuk di setujui. Ia seorang dokter, ada beberapa hal yang tak bisa dia biarkan untuk orang awam tau, seperti data dan riwayat medis pasien yang mungkin ada di ponselnya.


"Baiklah," Raize dengan berat hati menyetujui,"tapi, ada beberapa yang tak bisa kamu akses, itu adalah tentang rahasia kedokteran."


"Baiklah." Angguk Kayla."Jika aku menemukan hal yang membuatku kecewa kita tidak perlu melanjutkan lagi." Ujar Kayla tegas.


"Setuju. Hanya itu?"


Kayla sedikit berpikir dalam diamnya. "Aku pikirkan nanti lagi."


Raize tersenyum senang, ia lalu mengstater mobilnya dan mulai melaju.


"Kita mau ke mana?" Tanya Kayla karena mereka melewatkan tikungan ke arah rumah dan ke kediaman kakek Yaris.


"Hari ini kita kencan saja."


"Kencan?"


"Iya. Aku punya satu tempat yang bagus untuk di kunjungi." Jawab Raize dengan senyum percaya diri.


"Kemana?" Tanya Kayla penasaran.


"Lihat saja nanti."


Raize membawa Kayla ke sebuah pasar sore. Tempat di sepanjang jalan menuju sebuah alun-alun kota yang di penuhi oleh pedagang dadakan. Mereka menjajakan beragam makanan di sisi kiri dan kanan jalan. Sangat tertata rapi dan memanjakan mata.


"Karena ini kencan pertama kita, juga pertama kalinya aku membawa seseorang kemari."


"Tentu saja, kamu kan selalu membawa mereka ke kamar hotel." Sinis kayla melangkah lebih dulu.


Walau Kayla berkata sesinis itu padanya, Raize tetap tersenyum. Ia tau, butuh perjuangan untuk meluluhkan wanita yang sudah terlalu sering ia perdengarkan permainan ranjangnya.


Meluluhkan Kayla menjadi sebuah tantangan besar baginya. Walau Raize sangat tau, binar mata Kayla memancarkan kasih padanya. Tapi, Raize juga sangat tau, jika Kayla banyak menahan dan menarik diri dari menjatuhkan hati padanya. Karena tabiatnya yang bermain wanita.


Raize harus berusaha keras untuk lepas dari hal yang paling dia sukai demi Kayla.


Kayla melihat-lihat beberapa STAN makanan di kanan dan kiri jalan yang ia tapaki.


"Kamu mau makan sesuatu?"


"Aku ingin coba sate Suki." Jawab Kayla sembari mendekati penjual sate Suki.


"Dua!" Pesan Raize di belakang Kayla yang sudah berdiri didepan STAN.


Begitu pesanan datang, Kayla dan Raize menyantap sate Suki. STAN itu menyediakan dua bangku untuk pembeli menikmati sate Suki nya.

__ADS_1


"Uuummm, ini enak. Pedasnya pas." Ujar Kayla begitu mengigit sate Suki.


Raize ikut menikmati sate Suki yang dia pesan. Ini juga pertama kalinya Raize makan di pinggir jalan. Disamping penjual sate Suki, terdapat STAN minuman dawet Banjar. Dengan luwes Raize memesan es dawet dua porsi.


"Mau kan es dawet?"


"Iih, udah pesan, baru nawarin. Kalau aku nggak mau gimana?" Ketus Kayla menggigit lagi sate sukinya.


"Kamu nggak mau?"


"Mau."


Raize tersenyum, "kupikir nggak mau."


"Udah di pesan kan mubazir. Kalau mau batal juga kasihan sama penjualnya."


"Kalau kamu nggak mau, aku bisa makan semuanya." Cetus Raize.


"Rakus!"


Raize hanya tersenyum geli. Sikap ketus dan sinis Kayla padanya, Raize sangat suka.


Setelah menyantap sate Suki dan es dawet. Kedua anak manusia itu terus berwisata kuliner hingga malam menjelang. Sebuah kencan sederhana yang belum pernah Raize lakukan. Ia senang karena melakukannya dengan Kayla.


"Ini sudah malam sekali, akan kemana kita?" Tanya Kayla saat mobil yang Raize kendarai melewati persimpangan ke kediaman Raize.


"Tempat lain yang ingin aku kunjungi."


Mobil Raize memasuki sebuah gedung mencakar langit. Lalu menaiki lift sampai ke atas gedung. Raize menggandeng tangan Kayla.


"Ini tempat yang sangat kamu ingin kunjungi?"


"Heemm, atap gedung adalah tempat favorit aku dan juga Rocky. Di sini kami merasa menjadi yang paling tinggi berdiri. Diatas para manusia yang lain." Terang Raize, "juga, di sini kami bisa mendinginkan kepala."


"Iya, anginnya cukup kencang di sini."


"Apa kamu takut?" Tanya Raize begitu mereka sampai di sisi gedung yang hanya berpagar tembok setinggi satu setengah meter.


"Iya, aku takut kau akan melemparkanku dari sini."


Raize tertawa renyah. "Apa aku terlihat begitu kriminal di matamu?"


"Kamu juga seorang pemain." Celetuk Kayla.


"Lalu? Apa itu berarti aku akan melemparkanmu dari sini?"


"Mungkin saja."

__ADS_1


Raize terdiam sejenak, memandang wajah cantik Kayla yang terasa begitu kaku.


"Kayla, apa serendah itu aku di matamu?"


__ADS_2