Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 106


__ADS_3

"Kalau kamu sungguh menyesal dan meminta maaf dari bapak, jangan pernah temui pria itu lagi."


Wajah Kayla terlihat sangat terkejut, namun, Kayla mengangguk.


"Bapak akan percaya padamu, percaya jika kamu benar-benar menjaga kesucian kamu, La. Jangan buat bapak kecewa. Masuklah ke kamar." Ucap pak Rahman memutuskan. Ia mencoba meredam amarahanya,mencoba berdamai dengan kekecewaan pada perilaku anaknya.


Kayla menunduk dalam, dengan masih sesenggukan berjalan ke kamarnya. Sementara Ayla dan Rocky sudah duduk diatas sofa. Rocky masih tampak cemas memandang Ayla. Pria itu juga terus mengusap perut Ayla yang mulai membuncit.


"Maafkan bapak, ay." Ucap pak Rahman karena sudah memukul anak sulungnya.


Ayla menggeleng, "jangan di bahas lagi, kami nggak apa-apa. Hanya, Ayla minta sama bapak, jangan terlalu keras pada Kayla. Dia memang bersalah, laki-laki itu juga bersalah, kita juga turut andil dalam kesalahan itu. Kenapa? Karena kita tidak memantau Kayla. Terlebih, diriku pak. Aku merasakan hal janggal tapi, tidak menelusuri nya dengan baik. Mungkin jika aku menyadari lebih awal, bapak nggak akan semurka ini. Bapak tidak salah dalam mendidik kami. Bapak sudah menjaga kami sampai sebesar ini. Ayla yakin, Kayla juga menjaga dirinya dengan baik, dia tidak akan melampaui batas. Hanya sedikit mendekati. Maafkan Kayla, pak." Cetus Ayla, ia bersedih untuk orang tua dan adiknya.


"Padahal kamu dulu tidak begitu." Ucap pak Rohman.


"Saya meminta maaf untuk kelancangan saya tadi pak, juga meminta maaf untuk saudara saya." Rocky menimpali. Ia juga merasa bersalah selain menyesalkan perilaku Raize.


"Tidak, bapak yang minta maaf karena sudah menyakiti Ayla, walau bapak tak bermaksud begitu. Bapak juga berterima kasih karena bapak jadi tersadar, apa yang bapak lakukan salah." Sesal pak Rahman memijit pelipisnya.


"Bapak pusing, bapak mau istirahat sebentar." Pamit pak Rahman sembari berdiri.


"Istirahat dan makan dulu, ay. Ibuk sudah buat sarapan tadi." Ucap Bu Rohman ikut berdiri. "Ajak suamimu juga, dari tadi dia tak makan, kupikir nggak suka sama masakan ibuk. Ternyata nungguin kamu. Andai saja, suami Kayla kelak seperti Rocky." Sambungnya bergumam sembari menuntun suaminya ke kamar.


Ayla tersenyum penuh arti, menatap lekat suaminya. "Iya, buk."


"Ayo ke dokter, aku khawatir dia kenapa-kenapa." Ajak Rocky.


Ayla menggeleng, "jadi kamu hanya mengkhawatirkan anak ini? Aku tidak?" Tanya Ayla menggoda menyentuh tangan Rocky yang mengusap perutnya.


"Kamu terlihat baik-baik saja, tapi, dia, aku tak bisa melihatnya."


"Kamu mau melihat nya?" Kejar Ayla menggoda.


"Boleh?" Rocky balik bertanya.


Ayla hanya menjawab dengan senyuman, tau-tau kedua bibir itu sudah bertaut.


Beberapa menit kemudian,


"Sarapanku pagi ini enak sekali." Ucap Ayla setelah pangutannya terlepas.

__ADS_1


Rocky membalas dengan senyum,"aku juga, lebih enak dari makanan apapun."


Ayla tertawa kecil, "ayo sarapan sungguhan, perutku sudah sangat lapar." Ajak Ayla berdiri dan menarik tangan Rocky, pria itu pun langsung beranjak agar Ayla tak mengeluarkan tenaga lebih.


Keduanya duduk di meja makan setelah mengambilkan sepiring nasi beserta lauknya untuk Rocky, Ayla mengmbil jatah makannya untuk dirinya sendiri. Seusai sarapan bersama, ayla meminta ijin untuk ke kamar Kayla.


"Daddy, aku ke kamar Kayla dulu ya?"


"Okey, biar aku yang cuci piring."sahut Rocky memberesi piring kotor di atas meja.


Ayla tersenyum kecil, saat berada di istana megah itu, sekalipun Rocky tak pernah mencuci piring. Namun di sini justru dengan suka rela menawarkan diri melakukannya.


Memang biasanya, Ayla yang melakukan pekerjaan itu saat berkunjung ke rumah pak Rahman. Tentu, itu ia lakukan sebagai bakti kepada ibunya. Dan sebagai seorang suami yang sangat menyayangi istrinya, Rocky mengganti tugas itu, apalagi Ayla sedang hamil. Tak akan Rocky biarkan Ayla melakukan pekerjaan berat.


"Terima kasih, Dad." Ucap Ayla beranjak dari duduknya, lalu melangkah ke kamar Kayla.


Tepat di depan kamar Kayla, Ayla mengetuj pintu yang masih tertutup rapat itu.


"La, ini embak."


"Masuk mbak." Terdengar suara serak Kayla dari dalam kamar.


Ayla mendorong pintu hingga terbuka setengah lalu masuk dan menutup pintu itu lagi. Ia tersenyum melihat adiknya yang duduk di atas tempat tidur. Wajah Kayla terlihat sangat sembab dan mengusap pipi dengan punggung tangannya.


Kayla mengangguk,


"Kayla, mbak udah dengar dari Raize."


Kayla menatap Ayla dalam kebisuan, namun dapat Ayla lihat Kayla sangat menanti kabar yang di bawa kakaknya.


"Dia juga sama sepertimu, sebenarnya, embak tak habis pikir dengan kalian. Tapi, yang terpenting sekarang, kalian sudah sadar dan mau memperbaikinya." Ucap Ayla meraih tangan Kayla dan menggenggam nya. "Sekarang, mbak tanya sama kamu, kamu harus jujur pada embak."


Kayla mengangguk.


"Apa kamu mencintai Raize?"


Tenggorokan Kayla terasa tercekat, cinta, mungkin ini yang membuat mereka tersiksa. Kayla mengangguk samar.


"Kamu tau orang seperti apa Raize itu?"

__ADS_1


Kayla mengangguk lagi.


"Dan kamu masih mencintainya?"


Bahu Kayla berguncang pelan. Ayla merasa kasihan pada Adiknya, ia memeluk Kayla untuk memberi gadis itu kekuatan.


"Kamu tau? Dulu, perjalanan embak juga cukup berat. Emak sangat nentang hubungan embak dan Daddy Rocky. Walau saat itu Daddy sudah menjadi mualaf. Kamu harus tau Kayla, meski nantinya, jika Raize bersedia menjadi mualaf juga demi kamu, restu bapak tak akan mudah. Apalagi, Raize seorang Casanova." Kata Ayla lalu melepas pelukannya.


"Embak yakin, kamu belum terlalu jauh jatuh cinta. Embak meminta kamu mempertimbangkan sekali lagi perasaanmu, bukan karena mbak menentang. Tapi, kamu tau kan seorang casanova. Tidak bisa setia. Dia bisa saja bermain di belakangmu, mungkin tidak selama satu atau dua tahun, setelah kalian bersama. Tapi, sepuluh tahun kemudian apa bisa menjamin?" Ucap Ayla mencoba membuka mata Kayla. "Bapak dan emak belum tau tentang tabiat Raize yang satu ini. Kamu pasti tau reaksi mereka jika sampai tau."


Kayla hanya sesengukan dan menangis pilu.


Setelah berbicara dari hati ke hati dan panjang lebar dengan Kayla. Ayla pun keluar dari kamar adiknya. Lalu ia mencari Rocky, dan baru menemukannya di halaman rumah. Suaminya itu sedang berbicara melalui telpon. Rocky terlihat sedikit emosi dan terkejut saat tanpa sengaja melihat Ayla mendekat.


"Aku tutup dulu, kita bicara lagi nanti." Tutup Rocky mengakhiri sambungan telpon.


"Apa itu Raize?" Tebak Ayla begitu sudah berada di hadapan Rocky. Suaminya itu terlihat sedikit terkejut dengan tebakan Ayla yang tepat.


"Benar."


"Apa katanya?"


"Dia mau ke sini."


"Terus?"


"Aku larang, bapak masih sangat marah sekarang. Sangat gegabah jika Raize memaksa kemari."


"Kenapa dia mau kemari? Untuk membujuk bapak?"


"Mungkin."


"Kamu ingat dengan perjuangan mu dulu, kan?"


Rocky tersenyum tipis dan mengangguk,"kasus Raize ini berbeda. Mereka lebih berat. Terlebih..."


"Jangan sampai bapak tau, itu tidak baik buat Kayla."


"Aku tau." Angguk Rocky memeluk bahu Ayla agar lebih dekat ke dadanya."Semoga mereka bisa melalui ini, aku lihat, perubahan Raize cukup bagus."

__ADS_1


"Kalau jodoh,pasti bertemu. Seperti kita." Tatapan Ayla begitu lembut pada suaminya.


"Yaaah, kamu benar... Kalau jodoh pasti bertemu..."


__ADS_2