
"Kayla."
"Mas Avan." Kayla terperangah melihat Avan yang tiba-tiba mendekat dan menyapanya di taman.
Avan memandang pria asing yang bersama dengan Kayla. Kayla hanya menunduk tanpa memperkenalkan. Dengan sendirinya, pria itu mendekat dan memperkenalkan diri sendiri.
"Zain." Ucap pria itu,"Saya kenalan dari teman emak."
"Oohh, saya Avan." Avan menyambut jabatan tangan itu.
"Apa kamu kekasih Kayla?" Tanya pria itu menebak.
Avan menatap Kayla yang perlahan mengangkat wajahnya. Tatapan mata yang seperti meminta pertolongan darinya, membuat Avan mengangguk samar. Lalu menjawab, "iya."
"Oohh, pantas saja." Gumam Zain."Dia tidak pernah fokus setiap kali kuajak bicara. Ternyata dia memikirkanmu. Apa orang tua Kayla tidak tau? Mereka terasa seperti mencoba menjodohkan kami."
Avan menjawab dengan anggukan samar."Begitulah."
Lalu kedua pria itu terlibat obrolan sesama lelaki. Hingga akhirnya Zain meninggalkan Kayla pada Avan. Avan duduk di sisi Kayla dan mengangsurkan seplastik es teh berpipet merah pada Kayla. Gadis itu menerima tanpa menyedotnya.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya pria dengan rambut sedikit gondrong itu.
"Terima kasih, mas."
"Nggak usah sungkan."
Kayla menggeleng, "mas sudah banyak membantu ku."
"Sepertinya, hubunganmu dengan pria bule itu tak berjalan dengan baik. Apa keluarga mu sudah tau?"
Kayla mengangguk, "mereka marah dan tidak merestui kami."
Avan menarik nafas dalam, "apa rencanamu selanjutnya?"
Kayla menggeleng, lalu bahunya sedikit berguncang.
"La, jika aku boleh kasih saran, aku sangat yakin hatimu sedang tidak baik-baik saja dan gamang. Di saat seperti ini harusnya, kamu mengingat Alloh. Sampaikan apa yang ada di hatimu pada yang Maha mengetahui itu. Memgadulah pada-Nya. Insha Alloh kau akan dapat petunjuk."
Kayla menangis sesenggukan, memang selama ini ia sudah cukup jauh dari Tuhannya. Avan mengusap lengan Kayla untuk menyalurkan energi positif.
"Sudah semakin petang, La. Sebentar lagi magrib,"
Kayla memandang Avan dengan mata yang masih berair, tanpa suara.
"Di sana ada masjid, sholat yuk."
###
__ADS_1
Setelah melaksanakan tiga rokaat nya, Kayla merasa tenang. Semua sedihnya, ia tumpahkan dalam doa nya.
Di serambi masjid, Avan yang menunggu melempar senyum. Pria berambut gondrong itu memang menunggu Kayla selesai dengan pengaduan nya pada sang pencipta.
"Udah plong?"
Kayla mengangguk dengan mata yang mulai berair lagi. "Makasih, mas. Karena sudah membawa Kayla ke sini." Ucap Kayla lirih.
"Apaan sih, ini udah jadi kewajiban kita. Ummm, makan dulu ya, sebelum aku antar kamu balik."
Kayla mengangguk.
Setelah makan malam bersama di sebuah warung tenda, Avan mengantar Kayla pulang. Selama itu, avan tak mengatakan dan tak menanyakan apapun.
"Loh, kok jadi balik sama Avan?" Tanya emak yang terlihat heran.
"Tadi nggak sengaja ketemu di jalan. Zain juga kebetulan ada acara sama temannya, jadi, saya yang antar, Mak." Jelas Avan.
"Oohh begitu." Gumam emak.
"Saya pulang dulu, Mak." Pamit Avan ramah.
"Oo iya. Hati-hati dan terima kasih." Ucap emak tulus, binar senang terpancar di mata emak.
Avan hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu pandangan matanya berganti menatap Kayla."Jangan lupa sholat, La. Dia sebaik-baiknya tempat mengadu." Ucap Avan menunjuk ke atas langit.
Kayla bungkam dan mengangguk samar.
Kayla mengikuti langkah sang emak, tanpa memberi tanggapan apapun. Kayla membenarkan apa yang Avan bilang, saat ini, ia hanya harus mengadu pada sang pencipta. Berserah pada sang pemilik kehidupan.
Beberapa hari kemudian, rumah pak Rahman tanpak ramai. Ayla, Uwais dan Rocky datang. Saat ini perut Ayla sudah tampak sangat membuncit. Karena Ayla sangat ingin melahirkan di kampung halaman nya, Rocky pun memboyong keluarga kecilnya ke rumah pak Rahman.
Malam itu, Rocky tidak tidur di rumah pak Rahman. Rocky ijin dengan sangat halus untuk menginap di hotel tempat Raize menginap. Tentu saja tanpa sepengetahuan mertuanya. Saat ini, sepupunya itu sangat butuh pencerahan. Sehingga, Rocky memutuskan untuk menemani Raize.
"Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, kasus mu lebih sulit dari pada aku. Mereka sudah terlanjur kecewa untuk sekedar menerima, apa lagi untuk memberi restu." Ucap Rocky saat mereka minum bersama di balkon kamar Raize.
Saat Raize minum miras, Rocky hanya menenggak sebotol mineral.
"Raiz, jika kalian berjodoh, pasti bersatu. Percayalah itu. Kamu pasti lebih tau apa yang mendasari orang tua Kayla tak merestui."
Raize tak menjawab, ia hanya menenggak lagi mirasnya.
"Kita kesampingkan masalah kebohongan kalian berdua dulu. Karena itu nomor sekian dari sederet masalah kalian berdua." Ucap Rocky lagi, "ada dua hal yang menjadi masalah utama. Yang pertama, keyakinan. Aku tau pasti seberapa kuat kamu berpegang pada keyakinan mu. Walau kepribadian mu melenceng cukup jauh, kamu tak akan mudah melepaskannya. Yang kedua, atasi tabiat bermain wanita mu. Suatu saat itu akan menjadi bumerang bagimu."
Raize tersenyum kecut. Memang sebuah pilihan yang sulit saat di hadapkan pada Tuhan nya dan kekasih hatinya.
"Cobalah berkelana, dan temukan jawabannya di sana. Aku yakin, hati mu akan menuntun untuk memilih. Antara Tuhan mu atau kekasihmu."
__ADS_1
Raize mengangguk samar, ia juga ingat dulu Rocky pun melakukan hal yang sama. Menjauh dari Ayla dan membiarkan takdir yang menemukan jalan menuju jodohnya.
"Aku ingin bertemu Kayla, sebelum aku pergi." Raize memutuskan, "bisakah kamu membantuku? Aku sudah melakukan hal buruk padanya, setidaknya, jika ingin melepaskan, dan menjauh untuk mencari, aku harus bertemu dengan nya terlebih dahulu."
"Baiklah, akan aku usahakan." Ucap Rocky setelah sesaat terdiam.
****
Kayla menatap pria yang kini duduk di hadapannya. Rasa sesak kembali menyeruak dan menghimpit dadanya.
"Aku hanya ingin menjelaskan padamu. Semua yang kamu lihat waktu itu hanyalah salah paham." Ucap Raize lirih.
Kayla sudah tak ingin mendengar lagi, ia merasa kecewa juga sakit hati. Kayla berdiri, berniat untuk pergi meski ia rindu sekali pada Raize.
"Kay, plis." Raize menahan tangan Kayla."Aku tak tau kenapa dia bisa berada di sana. Dia tiba-tiba datang dan memeluk ku. Aku juga sudah melepaskan diri nya."
Seketika, Kayla menatap Raize.
"Aku tidak membawanya, aku tidak bercinta dengan nya. Aku bersumpah, Kay." Ucap Raize penuh permohonan. "Tolong dengarkan aku. Aku akan pergi ke Belgia, untuk waktu yang aku tak tau sampai kapan."
Kayla tersenyum kecut, tubuhnya terasa sangat lemas mendengarnya. "Jadi kamu akan pergi?"
"Iya. Aku mencintaimu, Kay. Aku ingin memperjuangkan mu."
"Kamu selalu mengatakan itu, berjuang, berjuang. Nyatanya? Apa kamu sudah benar-benar berjuang? huuumm?" Mata Kayla terus berair memandang pria yang sudah berulang kali menyakiti dan memberinya janji."Apa yang sudah kamu lakukan? Apa? Kamu bahkan tak bisa meluluhkan hati bapak dan emak. Kamu bilang cinta? Benarkah kamu mencintaiku?"
"Aku mencintai mu, juga mencintai Tuhan ku."
"Benar, sebab itu kita tak bisa bersama."
"Jika berjodoh, kita pasti bertemu kembali, Kay."
Kayla mengangguk di iringi tetesan air matanya. "Benar, dan jika tidak, jangankan sudah tinggal satu atap dan bertemu setiap hari pun tetap akan pergi juga."
Baik Kayla maupun Raize,bsaling terdiam dalam pikiran dan perasaan masing-masing. Keduanya sama-sama kalut,
"Aku menemuimu karena ingin kamu tau jika aku sudah berubah. Aku tidak bermain dengan wanita. Dan apa yang kamu lihat itu hanyalah salah paham. Aku mencintai mu, Kay."
"Berhenti mengucapkan kata cinta, Raiz!" Kayla menutup kedua telinga ditengah deraian air matanya. "Aku tak mau dengar lagi."
"Aku akan pergi untuk mencari Tuhan ku. Jika berjodoh kita pasti akan bertemu."
"Pergilah, pergilah yang jauh, aku tidak menginginkanmu! Aku membencimu!" Pekik Kayla terus menutup telinganya dan menggeleng.
Di kejauhan, Ayla yang memantau bersama Rocky tak tahan lagi. Ayla berjalan mendekati adiknya, lengan Ayla tertahan. Wanita itu menoleh menatap Rocky protes.
"Biarkan dulu." Pinta Rocky. Dengan perasaan kesal Ayla menurut juga. Menatap adiknya dengan iba. Rocky melihat Arloji yang melingkar di lengannya. Lalu beralih menatap Raize.
__ADS_1
"Aku pamit." Ucap Raize lirih pelahan melepaskan genggaman.
Dengan langkah berat Raize meninggalkan Kayla yang menangis sesenggukan. Beberapa langkah sebelum ia benar-benar keluar, Raize menatap Kayla lagi. Gadis itu masih berdiri di tempatnya, dengan telapak tangan yang menutupi wajah. Hati Raize terasa sangat sakit bagai diremas dan di hempas. Lalu memantapkan diri melangkah lagi.