Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 80


__ADS_3

"Apa? Kamu udah menikah?"


Baik Rocky maupun Vina menatap tanya pada Raize. Mereka bahkan tak tau menahu tentang itu jika kakek Yaris sama sekali tidak mengungkapkan nya.


"Apa kalian tidak ada yang tau?" Tanya kakek Yaris memandang Vina dan Rocky bergantian.


Kedua cucunya itu menggeleng secara bersamaan. Lalu kakek Yaris berganti memandang Raize meminta penjelasan yang masuk akal.


Raize sudah berkeringat dingin. Bahkan cairan itu sampai meluncur bebas dari balik punggung dan pelipisnya. Segera, Raize menyekanya dengan sapu tangan. Pandangan mata yang menghakimi dan menyelidik ia dapatkan.


Secara tiba-tiba tenggorokan nya serasa kering. Dengan susah payah, Raize menelan ludah nya.


Raize meraih gelas di depannya. Dengan cepat menenggak nya sampai tandas. Lalu menyapu lagi pandangan nya pada orang-orang di sekitar.


Raize mencoba mencairkan suasana dengan tertawa kecil.


"Yaahh, aku memang udah menikah."


"Benarkah? Dengan siapa? Kenapa kami bahkan tidak di beritahu. Apa kamu sama sekali tidak menganggap ku?" Rocky memprotes bernada jengkel.


"Sabar dong... Waktu itu kan, kamu lagi bulan madu sama kakak ipar. Aku jelas nggak mau ganggu proses kalian membuat bayi.


"Oohh ya?"


Kakek Yaris mengernyit,


"Dalam hal ini hanya kakek yang tau sebagai orang yang aku tuakan."


"Bagaimana dengan ayah dan ibu? Kamu nggak memberi tahu mereka?" Timpal Vina bertanya.


"Uummm... Aku... Memang belum memberi tahu mereka, kau tau kan? Mereka sangat jauh. Aku juga baru menikah saja belum mengadakan pesta. Karena aku berencana untuk membuat pesta yang besar dan megah. Tentu aja yang jauh lebih megah dari Rocky." Ungkap Raize lancar dalam tipuannya. Seorang pemain memang harus pandai membuat alasan bukan?


Rocky yang masih jengkel tak bisa menerima alasan Raize. Mennggeleng dan berdecak."kamu sangat keterlaluan sebagai saudara."


"Maaf, brow. Aku berencana mengenalkannya padamu. Nanti." Raize sangat menyakinkan walau dalam hati ia berkata, 'huuh, makan tuh nanti. Sampai tua juga kagak bakal aku kenalkan. Hahaha.'


"Tapi, bisa gitu ya, namanya sama."


"Bisa dong? Nama Kayla itu kan pasaran. Beda dengan namaku." Raize tersenyum menyeringai nakal.


"Lalu kenapa nggak kamu bawa skalian istrimu kemari?" Kali ini Ayla ikut bertanya. Karena merasa sangat heran Raize justru datang bersama dengan Vina.


"Ooohh itu? Dia sedang sakit."


"Sakit?" Kakek Yaris terlihat cukup khawatir." Sakit apa? Kalau sakit kenapa kamu malah ada di sini? Bukannya merawat dan menemani istrimu?" Kakek Yaris memprotes.


"Menggelikan sekali kamu justru berpesta kemari." Sinis kakek Yaris kesal dengan kelakukan Raize.


"Dia cuma sakit perut, kek. Bukan hal yang perlu di khawatirnya. Lagi pula dia bilang tidak mengapa jika aku pergi. Dia juga menitip salam untuk kakek." Terang Raize di buat manis.


"Sudahlah, kamu kembali saja sana! Kasihan jika dia hanya sendiri di rumah." Titah sang kakek pada Raize yang tentu saja Raize menolaknya.

__ADS_1


"Eeeiiiihhh, aku sudah sampai sini masak di usir?"


"Pulang! Temani istrimu!"


"Ayolah kek, kita jarang-jarang kumpul seperti ini."


"Saat istrimu sakit? Sungguh terlalu kamu anak muda? Jika tidak ada Uwais, tongkat ini sudah melayang di kepalamu!" Kakek Yaris geram menunjuk-nunjuk wajah Raize dengan ujung tongkatnya.


"Aku akan membawa keluarga kecilku keluar kek. Silahkan buat kakek nyaman." Sela Rocky dengan cepat mengambil Uwais dan menggandeng Ayla."ayo sayang. Aku tidak mau mata kalian ternodai oleh sikap arogan kakek."


"Sifat itu juga menurun pada mu." Bisik Ayla mengikuti langkah sang suami keluar dari ruangan itu.


"Hei! Tunggu! Saudara macam apa kalian ini?" Pekik Raize memprotes sikap Rocky yang sengaja ingin melihat dirinya di pukuli Sang kakek.


"Vina!"


"Siap kek."


Vina mencekal tangan kakaknya.


"Kau! Gadis busuk! Sudah sekolah keluar negri agar tidak ikut bertingkah bar-bar,, kenapa malah seperti ini. Lepas!" Raize mengumpat.


Vina tertawa cukup keras. Sedangkan kakek Yaris menjewer telinga Raize. Dan berteriak tepat di sana.


"Pulang! Urus istrimu! Bukan malah berpesta di sini!" sentak Sang kakek.


"Ya! Iya! Aku pulang! Cukup!"


Vina tertawa puas dan melepaskan tangan sang kakak.


"Yahh, tumbuh diantara kalian, membuatku sadar bahwa kuat itu sangat di perlukan." Vina terkekeh meski kepalanya sedikit sakit oleh jitakan dari Raize.


"Kau mau pulang? Bagaimana denganku?"


"Bukankah kau mau menginap di sini?"


"Aah, benar juga." Sahut Vina beranjak mengikuti sang kakek.


"Kau! Awas saja kalau kau tidak pulang." ancam kakek Yaris.


"Ooh iya, Raize? Bukankah di rumahmu ada khasanah? Dan istrimu itu kenapa aku belum melihatnya."


Kakek menoleh, menatap raise dengan pandangan meyelidik."Siapa lagi khasanah?"


"Ooohh, dia itu..." Vina bermaksud menjelaskan namun, Raize sudah membungkam mulut Vina dan tersenyum kikuk pada sang kakek. Kesal sekali rasanya pria itu dengan adiknya yang memiliki mulut tak bisa di kontrol.


"Kek, duluan saja, kami masih ada yang mau di bicarakan." Ucap Raize bergegas menarik paksa Vina.


Kakek yaris menatap kedua cucunya itu dengan pandangan yang entah apa.


Kakek Yaris mengambil.gawainya. Lalu menghubungi sekertaris nya.

__ADS_1


"Cari tau tentang cucuku Raize. Apapun." Titah kakek Yaris pada seseorang di seberang sana.


Setelah memutus sambungan telpon, kakek Yaris melanjutkan langkah kaki nya ke halaman belakang dimana pesta barbeque menunggu.


Sementara itu,


"Apaan sih?" Protes Vina melepaskan diri dari kakaknya.


"Kau! Kau sengaja kan?"


"Apa maksudmu?" Vina balik bertanya padahal memang dia sengaja mengatakan semua yang membuatnya curiga. Di luar dugaan, reaksi dari kakek dan Raize membuatnya semakin yakin ada sesuatu dalam lingkaran kakak ipar, Raize dan juga wanita bernama Kayla yang mungkin sama dengan Khasanah.


"Aku tau kamu sengaja membuat kakek curiga, kau tau jika aku..." Raize tidak menyelesaikan ucapannya.


"Apa?" Vina tersenyum menang, Raize mendengus kesal.


"Sekarang, jujur padaku. Siapa? Wanita bernama khasanah? Juga Kayla, yang katanya istrimu. Apa mereka orang yang sama?"


"Huuh, baiklah." Dengus Raize pasrah,"Tapi janji kau tidak akan membocorkannya."


"Baiklah."


"Wanita di rumah itu..."


"Di rumah? Khasanah maksudmu?"


"Iya, dia adalah Kayla adik kakak ipar."


"Apa?"


"Dan dia adalah istriku."


"Lalu kenapa kau sepanik itu? Kalau dia adik kakak ipar berarti dia muslim."


"Iya benar."


"Lalu?"


Raize menghela nafas panjangnya. Lalu mulai bercerita pada Vina. Tentang pernikahan palsunya dengan Kayla. Demi harta warisan sang kakek.


"Kau gila!"


"Ini semua karena kakek."


"Apa uangmu tidak cukup? Harta warisan kakek tidak seberapa di banding dengan yang kamu miliki sekarang."


"Ini tidak hanya tentang harta warisan. Kau tau?"


"Aahh, benar, wanita! Kalau begitu berhentilah bermain wanita!" Ujar Vina lantang. Ia sangat kesal dengan kakaknya yang satu ini. Ingin rasanya dia menjambak rambut Raize, namun pria itu terlalu tinggi.


"Heeii, jangan bereaksi belebihan. Lagi pula hanya untuk enam bulan. Rahasia kan ini, huumm?"

__ADS_1


Vina menatap sinis Raize.


"Apa kamu pikir bisa membodohi kakek?"


__ADS_2