Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 89


__ADS_3

"Aku menunggu sangat lama, tampan." Suara wanita terdengar manja berbisik di telinga Raize.


Raize menoleh saat itu juga, langsung mendapat sambaran ciuman panas dari wanita itu. Mata Raize menggantung dan belum menutup sempurna. Merasai ciuman nakal dari wanita yang tadi menghubunginya. Jauh di belakang wanita itu, Raize justru melihat wajah Kayla. Wajah sedih dan kecewa, sangat menusuk hati nya secara tiba-tiba.


Tangan Raize mendorong tubuh wanita itu sampai jatuh.


"Aaauuuu..." Pekik wanita berpakaian merah dan seksi itu. Tubuhnya jatuh terduduk.


Raize menatap wanita itu, lalu pandangannya berpindah ke arah ia melihat Kayla. Raize mengusap wajah, mencoba bernafas teratur. Lalu melihat ke arah di mana tadi ia melihat Kayla. Kosong, tak ada siapapun di sana. Sepertinya, Raize sedang berhalusinasi. Bagaimana tidak, saat ini saja Kayla sedang berada dirumah Kakek Yaris. Tak mungkin tiba-tiba gadis itu muncul di sana.


"Tampan, ada apa dengan mu? Kenapa tiba-tiba mendorongku?" Tanya wanita itu memprotes. Menyadarkan Raize dari lamunan.


"Apa yang kamu lakukan di sini?"


"Apa? Aku sudah menunggu mu lebih dari lima jam. Dan kamu tidak muncul, telpon juga pesanku kamu abaikan. Malah main PS di sini. Apa yang kamu lakukan?" Omel sang wanita duduk manja di pangkuan Raize.


"Aahh, maaf, aku sedang tidak mood hari ini. Pulanglah." Ucap Raize yang tiba-tiba saja tidak bergairah dan terus merasa terganggu oleh bayangan Kayla.


"Apa? Kamu menyuruhku pulang? Tengah malam begini?" Sang wanita seksi tak rela jika Raize mengusirnya."Ayolah, kenapa kamu jadi tega begitu, aku sudah sampai di sini..." Rengek wanita itu manja.


Raize menggeser tubuh sang wanita, hingga menyingkir dari pangkuannya. Raize berdiri, dan memilih menyudahi permainan nya. "Aku capek, mau istirahat."


Wanita itu tersenyum nakal. "Baiklah, ayo, aku bisa memijitmu." Ucapnya merangkul tangan Raize.


Entah kenapa, Raize merasa risih dengan hal itu, ia langsung menarik tangannya. Lalu memandangi tak suka.


"Tidak. Aku ingin istirahat. Malam ini, jika kamu tak pulang, tidurlah di ruang tamu." Ucap Raize tegas. "Ferguso!" Raize memanggil kepala pelayan di rumahnya.


Pria berusia 50tahunan itu datang mendekat. Lalu menunduk setengah badan.


"Tolong antarkan wanita ini ke kamar tamu. Malam ini aku tak ingin ada yang mengganggu tidurku." Titah Raize tegas, sebelum beranjak menaiki tangga ke kamarnya.


Mendengar perintah dari Raize, wanita itu memanyunkan mulutnya. Ia mengikuti langkah Ferguso dengan menghentak-hentakkan kakinya.


Di kamar, Raize memandangi layar gawainya. Tak ada pesan dari Kayla. Ia juga menekan nomor Kayla. Hendak mengetik pesan, jempol nya sudah bergerak menekan tombol.


"Kamu sedang apa?"


Kalimat itu yang berhasil Raize ketik. Lalu ia hapus, ketik lagi.


"Apa kamu sudah tidur?"


Hapus, Raize merasa bimbang. Akhirnya pesan itu ia hapus. Raize tak mengerti dengan perasaan nya sendiri. Selama beberapa malam tidur satu kamar dengan Kayla, ia merasa kosong tak mendapati Kayla di ranjangnya.

__ADS_1


"Tak mungkin aku merindukan nya, kan?" Gumam Raize.


Pria tampan itu menekan profil Kayla. Wajah manis adik Ayla itu tersenyum cukup lebar. Terlihat sekali gadis itu sedang bahagia. Raize ikut tersenyum melihat foto itu, tanpa ia sadari mendekatkan gawainya ke wajah, perlahan bibirnya tertarik maju hingga menyentuh layar ponsel nya yang hangat.


Raize segera melempar gawainya begitu sadar sudah mencium foto Kayla.


"Astaga, apa yang kulakukan? Apa aku sudah gila?"


###


Di mansion milik kakek Yaris.


Kayla masih tak bisa tidur, ia mengambil gawainya di atas nakas. Berselancar sembari rebahan. Jemari Kayla bergerak memncet pesan WA di barisan pesan di layarnya, tampak di bawah kontak Raize bertuliskan sedang mengetik. Kayla melirik waktu yang tertera di kepala ponselnya. Pukul 11 malam.


Jantung Kayla berdetak kencang, rasanya tak karuan dan syaratnya tiba-tiba lemas. Jempolnya menekan tombol keluar dari aplikasi hijau itu. Ia menunggu, cukup lama. Jantungnya terus berdetak menunggu gawainya berbunyi.


Lima menit,


Enam menit,


Tujuh menit,


Tidak ada yang terjadi, Kayla mengumpulkan semua keberanian untuk menyentuh aplikasi hijau itu. Jempolnya terasa gemetar karena terlalu tegang dan deg-degan. Aplikasi hijau terbuka, tak ada pesan yang masuk. Entah kenapa, Kayla merasa kehilangan. Ia tersenyum kecut menunggu pesan dari Raize. Menertawai dirinya sendiri yang nunggu dengan harapan.


Esok, ia harus bangun dan kembali. Ia juga masih berhutang janji pada Avan.


.


.


.


"Apa? Ada seorang wanita masuk ke rumah Raize?"


Kakek Yaris mengulang informasi yang ia dapat dari mata-mata yang ia tempatkan di depan rumah cucunya melalui sambungan telpon.


"Berani sekali dia, apa dia sama sekali tidak memikirkan perasaan istrinya?" Kakek Yaris bergumam pelan namun beremosi.


"Baiklah, lanjutkan pengintaian." Perintahnya kemudian pada informannya.


Setelah menutup sambungan telpon dengan sang mata-mata. Kakek Yaris berganti menghubungi Ferguso.


("Selamat malam tuan?")

__ADS_1


"Aku dengar dia memasukkan seorang wanita kedalam rumah."


("Benar, wanita itu sepertinya datang sendiri.")


"Datang sendiri?" Ulang kakek Yaris meminta penjelasan.


("Tuan Raize meminta saya untuk mengantarkan wanita itu ke kamar tamu. Awalnya, tuan Raize mengusir wanita itu, tapi wanita itu terus merengek manja, akhirnya tuan mengijinkan untuk bermalam di sini. Tapi, tuan dengan tegas menolak wanita itu ke kamarnya.")


"Heemmm... Begitu ya? Baiklah, terima kasih untuk kerja samanya."


("Tidak masalah tuan besar, lagi pula kami lebih suka dengan nona Kayla, dia sangat ramah dan tidak merendahkan kami. Sangat berbeda dengan para wanita yang tuan Raize bawa sebelumnya.")


Mendengar pernyataan dari Ferguso, kakek Yaris tersenyum. Ia tau, Kayla adalah wanita yang tepat untuk Raize.


Keesokan pagi nya, Kayla ikut sarapan bersama Kakek Yaris dan juga Vina.


"Apa rencanamu hari ini Vin?"


"Temani aku keliling kota ini, kek." Pinta Vina manja.


"Ha-ha-ha, kakek mu ini sudah tua, apa kamu tidak malu bepergian bersama pria tua ini?"


"Uuuummm, siapa bilang? Kakek kan masih sangat kuat, buktinya saja masih bisa mengayunkan tongkat sesuka hati. Bahkan masih bisa mengeluarkan uang 100 juta."


"Ehem, kamu, meledek kakek, ya?" Getak kakek Yaris melirik Kayla yang tersenyum mendengar interaksi antara Vina dengan sang kakek. Walau kakek Yaris sering memukuli para cucunya, namun, mereka begitu akrab dan tak berjarak. Itu yang membuat Kayla salut pada keluarga ini. Sangat unik.


"Kayla apa kamu tidak mau menemani Vina berkeliling?" Tanya kakek Yaris.


"Saya masih ada urusan yang harus di selesaikan kek." Kelit Kayla menggeleng pelan.


"Ooh, apa kamu perlu supir, aku bisa meminjamkanmu mobil." Ucap kakek Yaris menawari.


Kayla melambaikan tangan di udara tanda menolak. "Tidak perlu kek. Saya bisa naik angkot."


"Eheem! Cucu ku mana boleh naik angkot. Biar pake supir ku saja. Lagi pula hari ini Uwais di jemput oleh supir papanya. Jadi, pakai saja supirnya.


"Terima saja, jangan kemana-mana pake angkot. Apa Raize tidak memberimu mobil? Atau setidaknya sopir begitu?" Vina menimpali. Walau ia tau hubungan antara Raize dan Kayla hanyalah sebuah kebohongan, namun, rasanya tidak pantas jika Raize membiarkan Kayla menaiki kendaraan umum.


Setelah mendapat bujukan dari Vina dan kakek Yaris. Kayla pun menyetujui.


"Alfa!"


Kakek yaris memanggil supir Uwias yang tak lain adalah mantan kakak ipar Kayla. Mendengar nama Alfa, dan melihat sosok di kejauhan terlihat seperti mantan kakak iparnya, jantung Kayla menggedor sangat kuat. Matanya melebar hingga hampir keluar dari rongga nya.

__ADS_1


"Alamak, kenapa kebetulan ini sangat mengerikan!" Jerit batin Kayla.


__ADS_2