
"Veloz, tolong urus sisanya di sini. Aku akan ambil libur selama 10hari atau mungkin lebih." Ucap Roxy sembari keluar dari ruang meting.
"Baik."
"Oiya, aku membawa Supri bersama ku."
"Silahkan tuan."
"Dan tolong hubungi Avan."
"Baik."
.
.
.
Di sebuah kafe tak jauh dari kantor Roxid. Corp. Roxy duduk berhadapan dengan Avan. Mantan bos Ayla dulu.
"Kenapa memanggilku mister?" Tanya Avan ramah sembari menyeruput kopinya.
"Hanya ingin menyambung silaturahmi." Jawab Roxy beralasan.
Avan tertawa kecil mendengarnya.
"Ku pikir kamu ingin tau tentang Ayla."
"Itu alasan lainnya."
"Dia kembali ke kampung halamannya. Bersama Uwais juga. Dia sempat bilang akan membuka warung kecil. Dan memintaku main ke sana jika lenggang." Ucap Avan dengan senyum di wajahnya,"Dan sekarang aku sedang lenggang. Baru saja kami berkirim pesan. Kamu mau ikut?'
"Tentu saja, terima kasih atas tawarannya."
"Anggap saja sebagai tanda terima kasih atas semua kebaikanmu padaku. Dan sudah bekerja sama dengan ku."
***
"Ay, ada tamu." Teriak Bu Rohman dari arah depan. Ayla yang sedang mengangkat jemuran segera meletakkan pakaiannya yang telah kering di atas kasur kamarnya. Lalu bergegas berjalan ke ruang depan.
"Bikinkan teh dulu Ay." Kata bapak sembari membetulkan sarungnya. Lalu melangkah ke depan melihat siapa tamunya.
"Berapa orang pak?"
"Bikin tiga."
Ayla mengangguk patuh, lalu membuat tiga cangkir teh, tak lupa ia menambahkan sepiring gorengan lalu membawanya dengan nampan.
__ADS_1
Begitu sampai di depan, Ayla tersenyum lebar, melihat mantan bos nya duduk manis di sana.
"Mas Avan?"
Avan tersenyum lebar. "Gimana kabarmu, Ay?"
"Alhamdulillah, baik mas." Ucap Ayla menyalami Avan begitu meletakkan cangkir dan sepiring gorengan di atas meja.
"Mas Avan kok nggak bilang-bilang mau kemari."
"Kan kamu yang nyuruh main, udah main benaran malah protes." Kelekar Avan,
"Ini bos nya Ayla di kota ya? Masih muda ya? Ganteng lagi." Puji Bu Rohmah pada Avan.
"Aahh, ibuk bisa aja memuji." Sahut Avan malu-malu. "Tapi memang banyak sih yang bilang ganteng. Hahaha." Sambungnya berkelekar.
"Sudah punya keluarga?" Tanya Bu Rohman berbasa-basi atau memang ingin tau. Entahlah.
"Belum, masih lajang."
"Udah punya calon?"
"Emak!" Bisik Ayla menyenggol lengan emaknya.
Avan mengulas senyum kecil. "Sudah Mak. Cuma nggak ikut."
"Oohh," emak ber-oh ria namun terselip sedikit kekecewaan.
Avan hanya mengulas senyum.
"Nak Avan ni orang mana? Ada sodara sini?" Pak Rohman berganti menanyai.
"Saya asli Jakarta. Saudara nggak ada pak, tapi, teman ada. Nih, si Ayla." Jawab Avan santai."Uwais mana ay?"
"Lagi main sama temannya."
"Loh, kenal sama Uwais juga?"
"Iya, Ayla biasa bawa Uwais kalau kerja. Jadi saya cukup kenal."
"Kalau begitu, biar bapak panggilkan Uwais, dia pasti seneng banget nak Avan ini datang." Pak Rahman beranjank dari duduknya."ayo buk."
Pak Rahman dan Bu Rohman berdiri lalu melangkah keluar.
"Jangan macam-macam ya, ada adeknya Ayla di dalam." Kata bapak sebelum melangkah keluar.
"Astaghfirullah pak. Kalau cemas kami bakal macam-bapak sini aja deh." Ayla memonyongkan mulutnya ke depan.
__ADS_1
Avan geli melihatnya."Kita ke teras aja, ay."
Akhirnya, Ayla dan Avan duduk di teras.
***
"Sayang ya Ay, nak Avan itu kelihatannya baik. Tapi udah punya calon." Emak mulai membuka obrolan saat kedua wanita beda generasi itu sedang memetik sayur bayam di belakang rumah."Sopan, ramah... Emak suka."
Ayla hanya menanggapi dengan senyuman.
"Akrab lagi sama Uwais. Coba, aja kalian berjodoh ya, Ay."
"Udahlah mak, Jangan bilang kek gitu lagi, nggak enak Ayla sama Mas Avan. Dia udah baik sama Ayla. Jangan nanti karena emak ngomongin hal kek gini sama mas Avan malah bikin dia nya menjauh. Apalagi dia udah punya calon. Nggak enak juga sama calonnya." Lirih Ayla.
Bu Rohman mendessaah pelan. "Kamu kapan mau cari bapak buat Uwais? Kasihan anak itu, pasti pingin punya bapak juga."
"Ayla janda mak, punya buntut lagi. Siapa yang mau?" Ayla menimpali santai.
"Aahh, kamu ini, Ay." Bu Rohman tampak cemberut, "emak cuma mau rumah tangga anak-anak gadis emak bahagia, tapi.... Sudahlah. Maafkan emak ya." Sambung emak sembari berlalu ke dalam rumah.
Bukan maksud Ayla ingin membuat ibunya sedih dengan pernikahannya yang gagal. Tapi Ayla juga tak mau hanya demi menjaga hati orang tua, hidup nya justru merana. Ayla yakin, ibunya justru akan lebih bersedih jika ia lakukan itu.
Malam itu, Ayla khusyuk dalam doa-nya. Menengadah dan meminta, agar selalu diberi kemudahan dan kekuatan untuk menjalani hidup.
Terlintas sejenak dalam pikirannya, tentang Roxy. Entah apa yang pria itu lakukan? Ayla tak tau. Ayla pasrah akan hatinya, terserah sang pencipta dan yang maha membolak-balikkan hati akan membawanya.
Keesokan harinya, Ayla bekerja seperti biasa. Membuka warung kecil nya, menyiapkan nasi, aneka sayur dan camilan. Hari itu suasana sedikit ramai, Ayla melayani dengan sepenuh hati. Sang ibu juga datang sekedar membantu. Hingga, Ayla menyenderkan tubuhnya setelah cukup lelah siang itu.
"Mak, makan dulu Mak." Ayla beranjak dari duduknya dan menyenggol Bu Rohman yang sedang mnyuapi cucunya.
"Iya, kamu makanlah dulu ay. Biar emak yang jaga dan nyuapin Uwais." Jawab Bu Rohman menyuap Uwais dengan tangannya.
"Sana, nanti gantian emak."
"Iya Mak."
Setelah makan dan menyelesaikan kewajibannya 4rakaatnya. Ayla berganti menjaga Uwais dan warung nya. Sedangkan Bu Rohman kembali ke rumah dengan membawa sebagian lauk untuk bapak. Tentu saja, setelah Ayla memaksa tentunya.
"Mbak, nasi rames nya dua. Es teh satu sama jeruk anget."
"O iya pak." Ayla yang masih sibuk menyiapkan pesanan pembeli sebelumnya, menjawab tanpa melihat.
"Di meja nomor 5 ya mbak."
"Iya pak." Barulah Ayla menoleh, namun bapak yang memesan sudah berbalik dan hanya terlihat punggungnya.
Ayla merasa mengenal punggung itu. Tapi milik siapa?
__ADS_1
Setelah semua pesanan siap, Ayla membawa ke meja nomor 5. Langkah Ayla melambat.
Tubuh yang sangat di kenalinya meski duduk membelakangi. Tubuh kekar dengan rambut coklat gelap yang terlihat cukup mencolok mata karena perbedaan warna kulit dan ras-nya. Di depan sosok itu duduk Supri yang tersenyum pada Ayla.