Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 59


__ADS_3

Bu Rohman menangis meraung-raung, melihat cucunya tergeletak bersimbah darah. Meski masih sadar, namun bocah yang hampir 4 tahun itu menangis kesakitan.


Dengan sigap Roxy mengangkatnya dan membawa Uwais ke rumah sakit terdekat. Tentu saja setelah Supri datang menjemput tak sampai lima menit. Karena memang jaraknya tak begitu jauh dari supirnya itu menunggu.


Bu Rohman terduduk kuyu di lorong depan IGD. Sementara Roxy sibuk mengurus administrasi dan lain sebagainya.


Tak lama Ayla muncul dengan wajah yang sudah berderai air mata. Bahkan jilbab Ayla sudah berantakan sampai anak rambut tampak keluar di pinggiran wajahnya. Dibelakang, pak Rohman menyusul, wajahnya tak kalau tegang dan panik.


Ayla langsung menangis dan memeluk ibunya. Begitu melihat wanita tua itu berdiri dari duduknya.


"Uwais gimana, Mak?"


Bu Rohman menggeleng lemah. "Maafin emak, Ay." Tangisnya sesal,


Bu Rohman hanya kesal melihat Roxy sedekat itu pada cucunya. Padahal ia sendiri tak begitu menyukai Roxy. Ia sendiri tak tau kenapa? Bu Rohman hanya takut jika Roxy akan berlaku sama seperti Alfa.


Kedua nya menangis bersama dan berpelukan.


"Uwais mana Mak?"


"Masih di dalam, Ay. Dalam penanganan dokter." Bu Rohman menuntun anaknya untuk duduk menunggu di kursi tunggu tak jauh dari UGD.


Air mata Ayla semakin berderai. Tubuhnya pun terasa sangat lemas dan kehilangan tenaga. Tak kuat rasanya jika harus kehilangan sang buah hati. Demi dialah Ayla berjuang, hanya demi Uwais. Bahagia dan sedihnya, terletak pada anak yang kini berada di IGD.


"Ayla!"


Ayla mendongak menatap pria bule yang di bajunya nampak noda merah yang telah kering. Air mata Ayla makin deras. Tak kuasa menahan rasa sesak di dadanya. Jika bukan karena pria bule ini, entah bagaimana nasip Uwais.


Dengan sesenggukan, Ayla berlari mendekat dan memeluk Roxy, menumpahkan air matanya di sana. Merasa lega sekaligus sedih.


Walau merasa ragu karena ada calon mertuanya, tapi Roxy tetap mengangkat tangannya, memeluk Ayla untuk memenangkan wanita yang sedang dia perjuangkan saat ini. Mengusap lembut kepala Ayla yang sedang menangis di dadanya.


"He Will be fine. Huumm?"


Ayla masih sesenggukan, bahunya terus berguncang pelan.


Bu Rohman hanya memandang dari tempatnya duduk. Bapak pun menyentuh tangan istrinya. Pria tua itu juga tau bagaimana perasaan istrinya yang melihat sendiri peristiwa Uwais terserempet. Sementara si pelaku kabur.


"Keluarga adek Uwais al-Qarni."


Seorang suster keluar dari IGD.


Gegas Ayla mendekat.


"Bagaimana keadaan anak saya?"


"Kami akan melakukan sedikit operasi patah tulang di kaki bagian kiri."


Ayla lemas, tubuhnya hampir ambruk jika Roxy tak segera menahannya. Janda cantik itu menyembunyikan wajahnya di dada Roxy dengan bahu yang makin berguncang hebat.

__ADS_1


"Mohon di bantu untuk mengurus prosedurnya ya."


"Baik." Jawab Roxy cepat. Lalu menuntun Ayla pada pak Rohman dan istrinya."biar saya yang urus. Titip Ayla ya pak."


Pak Rohman tersenyum getir,"terima kasih, nak." Ucap pak Rohman menepuk lengan Roxy. Sebelum pria itu berlalu mengikuti suster yang memberi kabar.


"Uwais pasti baik-baik saja." Gumam pak Rohman."kamu jangan bersedih Ayla. Percaya sama yang di Atas."


Sementara Ayla hanya bisa menangis dalam pelukan emaknya yang juga menangis sesal.


.


.


.


.


Dalam ruang perawatan, di bangsal anak. Terdengar suara gelak tawa Roxy dan Uwais.


Kaki kiri Uwais tampak di balut gips dan beberapa luka lecet di tubuh bocah itu di biarkan terbuka agar cepat mengering.


Bocah yang sudah terbaring di brangkar kamar VIP itu sudah hampir tiga hari berada di sana. Tentu saja selama itu pula Roxy menunggu tanpa pergi sedetik pun dari sana.


Bu Rohman mendessaah pelan melihat seberapa sayangnya Roxy pada Uwais. Sedikit demi sedikit terkikis juga hatinya yang tak rela jika Ayla bersama dengan Roxy.


"Emak mau ke warung depan cari makan. Kamu mau nitip nggak Ay?"


"Nggak usah. Kamu di sini saja sama Uwais." Emak berganti memandang Roxy. "Nak Roxy, udah tiga hari di sini. Pulang dan istirahat saja. Biar Ayla yang jaga. Skalian temani emak cari makan."


Roxy mengangguk patuh. "Daddy pergi dulu ya." Pamitnya pada Uwais.


"Yaahh, Daddy nanti balik lagi kan?"


"Daddy mau mandi dulu. Bau, nanti bunda nggak mau sama Daddy kalau bau."


"Yaah, biasanya kan mandi di sini."


"Sabunya abis. Daddy mau beli sabun sekalian."


"Yaaahh....."


Uwais tampak sangat kecewa dan bersedih. Ayla mendekat dan mencowel pipi anaknya.


"Kamu nggak mau di temani bunda?" Tanya Ayla.


"Mau..."


"Kok cemberut."

__ADS_1


"Mau sama Daddy juga..."


"Nanti balik lagi ke sini."


Uwais masih cemberut.


"Daddy pergi dulu. Kamu mau di bawain apa kalau Daddy balik?" Roxy pamit, dengan Lembut menatap mata bulat Uwais.


"Ummm.... Aku ikut."


"Makanya, cepet sembuh. Kalau minum obat ya diminum. Huumm, jangan bandel." Roxy menonjok lembut pipi Uwais.


Uwais manyun lagi.


"Mau sate nggak?"


Uwais mengangguk,


"Ya udah, nanti Daddy bawakan sate. Yang lain?"


"Es."


"Es? Nanti kalau sudah keluar dari sini." Sahut Roxy mengacak rambut Uwais."Gantinya, jus aja ya?"


Uwais manyun melipat tangan di dada, dan melirik mata ngambeknya.


Roxy gemas, lalu berbisik di telinga Uwais. Senyum bocah itu sedikit merekah.


Roxy mengangkat tangannya di depan wajah Uwais.


"TOS dulu!"


Setelah TOS. Roxy dan Bu Rohman keluar bangsal berjalan beriringan dilorong rumah sakit.


"Kamu serius mau nikahin anak saya?"


"Iya, Mak. Boleh?"


Bu Rohman mendessaah panjang. Melihat interaksi Roxy dan Uwais cukup membuat Bu Rohman membuka matanya. Terlebih, selama ini, Roxy lah yang lebih banyak berperan dalam mengurusi segala sesuatu saat Uwais di rumah sakit.


______


intermezo.


maaf ya, berhubung bocil othor lagi sakit, jadi othor cuma bisa up dikit-dikit.🥲


mohon doa nya ya, biar si bocil cepet sehat.


Satu lagi nih, othor mo bikin cerita si Cayla sama Raize. baiknya bikin di sini skalian season 2 atau bikin novel baru aja?

__ADS_1


Makasih buat sarannya😊


__ADS_2