Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 40


__ADS_3

Alfa menatap bangunan yang baru saja memutuskan sidang perceraian nya dengan Ayla. Rasa sedih dan kecewa menggelayuti pikiran dan hatinya. Alfa menyesal karena telah menalak dan bercerai pada istri yang kini sudah menjadi mantan.


Istri yang sudah ia sia-sia kan. Bahkan, Uwais pun jatuh ke tangan Ayla tanpa ia bisa berbuat apa-apa lagi.


Alfa tersenyum kecut saat melihat wajah Ayla yang tersenyum lepas bersama pak Jazz, pengacaranya. Sudah dapat Alfa simpulkan, ada Roxy di balik semua ini. Ingin marah, namun dia lah yang sudah menyia-nyiakan Ayla. Kini Alfa hanya bisa meruntuki kebodohan dan ke egoisannya.


"Mas..."


Alfa menatap Agya yang mengantarkannya sampai di tempat putusan sidang. Alfa tersenyum getir, wanita yang kini sudah menjadi istri sirinya itu, sudah menunjukkan perutnya yang mulai menggunung. Saat ini ia hanya akan iklas, dan mencoba menerima Agya, karena dialah yang dia miliki setelah ibunya.


"Ayo pulang." Ajak Alfa menuntun Agya ke parkiran motornya.


Semenjak pengrebekan itu, Alfa di usir dari kontrakan. Hingga kini dia tinggal di rumah Agya. Sesampainya di rumah, Agya merebahkan diri di atas sofa tamu.


"Mas, capek banget, bikinin es teh ya?"


"Iya."


Alfa berjalan ke dapur, sekilas ia mengingat, Ayla hampir tak pernah menyuruh dirinya, justru wanita cantik itu yang selalu melayaninya dengan baik. Bahkan saat dia sedang hamil besar sekalipun, atau saat Ayla baru saja melahirkan Uwais. Ayla tetap menjadi istri yang sangat bisa diandalkan.


Setelah selesai membuatkan Agya es teh Alfa bergegas memberikan nya pada sang istri.


"Makasih ya mas." Ucap Agya sembari menyeruput es teh nya. "Mas, kapan akan meresmikan pernikahan kita?"


"Terserah kamu aja gy."


"Uang buat pesta nya udah ada?"


"Belum gy, mas belum ada tabungan."


Agya mendessaah kasar. "Gimana sih mas, masak nggak pake pesta?"


"Ya kalau begitu sabar dulu."


"Sabar gimana? Perutku udah membesar nih mas." Gerutu Agya memajukan mulutnya beberapa senti.

__ADS_1


"Ya udah, bikin syukuran aja sudah. Yang penting kan dah nikah secara resmi."


"Nggak mau! Nikah itu seumur hidup sekali mas, harus ada pesta besar dong! Malu lah, aku kalau nggak pake pesta."


"Ya, nggak punya duwit mau gimana?"


"Ya mas usaha dong gimana?"


Alfa memijit pelipisnya yang terasa berdenyut mendengar rengekan Agya yang ingin pesta pernikahan. Memang, salahnya karena selama ini dia terlalu loyal pada wanita itu.


Alfa terdiam sejenak, ia ingat Ayla pernah menyimpan uang untuk kontrakan. Gegas, Alfa bangkit dan mencari tas kecil tempat biasa Ayla menyimpan uang. Ia ingat ikut mengangkut tas kecil itu kala pindahan dulu.


Tepat di bawah tumpukan barang Alfa yang lain, Alfa merasa sangat lega. Alfa membuka resleting nya, tampak beberapa lembar uang merah dan biru di sana. Alfa mengambil kesemuanya dan menghitung.


Alfa terduduk. Setiap bulannya Alfa hanya memberi Ayla 800rb. Namun wanita itu masih sanggup untuk menyimpan uang untuk membayar kontrak sebesar 8juta, tanpa mengabaikan nilai gizi untuk Uwais.


Memang, mereka sangat jarang makan ayam atau pun ikan. Namun, makanan nabati lainnya, selalu tersedia. Alfa tergugu, teringat betapa Zolim nya dia pada istri dan anaknya dulu. Malah sibuk menyenangkan Agya.


Bahu Alfa berguncang, perlahan air matanya mengalir di pipinya. Rasa sesal, tak da guna nya kini. Alfa tak cukup punya hati untuk menggunakan uang simpanan Ayla. Gegas Alfa menghapus air matanya dan memasukkan lagi uang itu ke dalam tas kecil Ayla. Ia akan mengembalikan nya nanti pada mantan istri nya.


"Wah, mas Alfa ternyata punya uang simpanan sebanyak ini."


Binar bahagia tampak terbit di wajah Agya melihat uang sebanyak itu.


"Ini bisa buat pesta mas," ucap Agya senang menghitung uang di tangannya."yah, cuma 8juta, masih kurang."


"Agya! Balikin uang itu!"


Agya menatap kesal suaminya.


"Balikin, gy!"


"Apa sih mas, ini uang mas, jadi uang Agya juga!" Agya kekeh tak mau memberikan uang yang udah berada ditangannya.


"Itu bukan uang mas, Gy!"

__ADS_1


"Terus uang siapa kalau bukan uang mas? Jangan bohong deh sama istri, seret nanti rejekinya." Ketus Agya


Alfa bergeming, ia sangat tau jika Sampai menyebut nama Ayla hanya akan menambah istrinya semakin kesal. Alfa terpaksa menurunkan egonya.


"Balikin gy! Itu bukan hal kita."


Agya pun tetap kekeh tak mau memberikannya pada Alfa.


"Agya, mas akan kasih uang untuk pesta sesuai yang kamu mau. Tapi balikin dulu uang itu." Bujuk Alfa pelan.


"Mas janji?"


"Mas janji, gy."


Dengan berat hati, Agya mengembalikan uang di tangannya, tentu aja wajah cemberut tak rela tentunya.


Alfa segera menyimpan uang berikut tasnya. Ia akan mengembalikannya pada Ayla nanti. Meski ia tak tau dimana Ayla tinggal dan tak tau dimana mantan istrinya itu bekerja sekarang, karena memang di Roxcid.corp Alfa sudah tak melihatnya lagi, lebih dari sebulan.


***


"Aku tidak mengerti, kenapa cidera di tanganmu tak juga sembuh." Ucap Ayla sembari merapikan dasi milik Roxy sebelum pria bule itu berangkat kerja.


"Yaah, kamu taulah, patah tulang itu memang lebih dari sebulan."


"Benarkah?"


"Uumm,, bahkan bisa lebih lama lagi tergantung seberapa parah." Roxy menjelaskan agar terlihat jika dia sungguhan sedang cidera."UMM.. aku akan pulang telat, untuk kontrol tanganku."


"Baiklah."


Setelah menyelesaikan tugas, dan Roxy pun telah pergi bekerja. Ayla merenggangkan ototnya, menatap Uwais yang bermain di kolam ikan koi.


"Uwais! Makan ya? Bunda ambilkan nasi."


"Iya unda, tapi makan sini ya?"

__ADS_1


Ayla melempar senyum, lalu berjalan ke dapur. Setelah mendapatkan sepiring nasi beserta lauknya, Ayla berjalan kembali ke kolam ikan koi.


Ayla terperangah, melihat seorang kakek tua berdiri dipinggiran kolam sedangkan Uwais tampak sangat ketakutan memegangi satu ekor ikan koi.


__ADS_2