
"Veloz! Katakan pada semua staf untuk memakai dasi miring!" Perintah bernada mutlak terlontar dari mulut Roxy yang terlihat sangat kesal. Berjalan keluar dari ruang meting.
Veloz menggulum bibirnya yang hampir tersenyum. Tak ada yang boleh mengkritik atau pun menyentuh dasi yang Ayla pasangkan di tubuh sang bos.
Sore itu, Roxy menyempatkan diri untuk melihat Lambo di masion kedua. Ia harus menuntaskan rindunya pada anjing kesayangan nya itu. Namun, karena terlalu lelah, Roxy malah tertidur di depan kandang Lambo setelah sempat bermain sebentar dengan binatang berbulu itu.
Raize baru saja pulang dari dinasnya di rumah sakit. Melihat Roxy yang kelelahan sampai tertidur di depan kandang Lambo membuatnya iba.
Raize hendak membangunkan Roxy agar pindah ke tempat yang lebih nyaman. Namun, saat melihat dasi Roxy yang miring, Raize membetulkannya, karena ia juga seorang yang benci ketidak-simetris-an.
Roxy membuka matanya melihat Raize sedang membetulkan hasil karya Ayla sontak bangun dan terduduk, menatap Raize tidak terima.
Sementara dokter muda itu menyungging senyum karena merasa telah berjasa. Tanpa tau tindakannya memicu perang dunia.
"Kau!"
Raize masih tersenyum tanpa dosa.
"Apa kau belum pernah merasakan di gantung di tengah kota, hahh???" Dengan geram Roxy menarik dasi milik Raize, dan mengencangkannya hingga Raize merasa tercekik.
"Aaakkkhhh... Apa salahku?"
***
Kakek Yaris menatap tajam pada kedua cucu kesayangan nya. Kedua pria bule itu, berlutut dengan rapi di sisi kiri sang kakek.
Awalnya, kakek Yaris mendatangi Raize untuk membawanya ke mansion Roxy. Namun ternyata, kedua cucunya itu justru sedang berkelahi dan saling cekik.
Dan di sinilah mereka berakhir.
"Kenapa kalian sampai berkelahi? Kalian ini sudah tua! Harusnya sadar umur! Haahh! Bagaimana kalian bisa sadar jika istri dan anak saja tak punya!" Hardik kakek Yaris memukul kedua cucunya bergantian dengan tongkat jalannya.
Roxy menerima pukulan itu begitu saja sedangkan Raize menghindar dan membuat sang kakek hanya memukul udara.
Geram!
"Roxy! Pegangi dia!" Geram Sang kakek berdiri dari sofa single yang dia duduki.
Dengan wajah sumringah, Roxy memegangi Raize yang hampir berdiri dan kabur. Roxy mengapit kedua lengan Raize ke belakang punggung. Hingga pria itu tak bisa melawan.
"Kakek! Ampun kakek! Mari kita bicarakan ini baik-baik!"
"Kau di ijinkan bicara setelah menerima pukulan tongkatku!"
__ADS_1
Kakek Yaris memukul pipi Raize dengan tongkatnya.
"Akkhhh...."
"Hahahah.... " Roxy tertawa senang dan melepaskan cengkeraman nya.
"Kakek, kau melukai wajah tampan ku!" Protes Raize memegangi pipi nya yang kemerahan.
"Huuuhh, memang itu yang ku incar!" Ucap kakek acuh duduk kembali di kursinya. Lalu menunjuk sofa lain di sisi kirinya."duduk!"
Dengan sangat patuh kedua nya duduk di berjejar. Kakek Yaris mengatur nafasnya yang sempat tak beraturan oleh ulah kedua cucunya itu. Lalu menatap Roxy.
"Baiklah, bagaimana perkembangan hubungan mu dengan Ayla?"
"Sangat bagus kakek." Ucap Roxy bangga.
"Bagus, berarti saat perjamuan nanti kau harus....."
"Eeiittsss, nanti dulu!" Potong Roxy cepat.
Kakek Yaris memberikan tatapan tanya.
"Aku tidak bisa membawa nya ke sana." Tegas Roxy.
"Kenapa?"
"Banyak alasan! Selama ini dia sudah berkeliaran di luar, apa kamu pikir selama itu tidak ada yang tertarik selain kamu?" Kakek menghentak-hentakkan tongkat jalannya.
"Ck! Karena itulah aku mengurungnya di rumah." Gumam Roxy pelan.
"Kau mengurungnya di rumah?" Kakek Yaris menyipitkan matanya, menatap tajam Roxy, seketika membuat Roxy salah tingkah, seolah telah salah bicara. "Baiklah, ayo kita temui dia dan ikat agar tak di ambil orang." Sambung kakek Yaris sembari berdiri.
Mata Roxy seketika melebar. Tentu saja Roxy tak ingin mereka bertemu terlebih dahulu sebelum Ayla bercerai."Tunggu! Tunggu kakek,"
"Kenapa lagi?"
"Dia sangat pemalu."
"Tidak masalah, kakek bisa mengatasinya." Jawab kakek sembari melangkah.
"Kakek tidak bisa menemuinya."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Dia.... Dia..." Roxy berfikir keras, namun terlalu panik sampai tak ada apapun yang terlintas.
"Kenapa? Kenapa?" Kakek Yaris masih mengejar, "kalau kau tidak memberi alasan yang tepat! Kakek akan tinggal di mansion mu!"
Roxy buntu!
"Oke, oke, baiklah! Aku akan membawanya. Aku akan membawanya ke pertemuan!"
Sudut bibir kakek Yaris terangkat ke atas. Merasa menang atas cucu nya. Lalu duduk kembali di kursinya.
Roxy menepuk keningnya. "Astaga! Bagaimana bisa aku terjebak oleh kakek!" Runtuk Roxy dalam hati.
Kakek Yaris berganti menatap tajam Raize.
"Bagaimana dengan mu?"
"Tenang saja kakek, saat pertemuan, aku akan membawa seorang wanita." Jawab Raize santai.
"Pastikan wanita itu bukan wanita bayaran ataupun wanita satu malam mu!" Tegas kekek Yaris yang sangat hapal dengan rencana Raize. "Jika tidak, dia akan membawa seluruh harta warisanku untukmu!"
Mata Raize melebar.
________
"Di mana Ayla?" Tanya Roxy lemas, karena seharian ini belum bertemu Ayla yang sudah menjadi vitamin wajib baginya. Dan terlalu banyak mendapat serangan dari sang kakek.
"Dia sudah berada di kamarnya tuan." Jawab Selia,
Roxy menghela nafasnya panjang.
"Kakek sialan itu menahanku terlalu lama di mansion kedua." Gerutu Roxy.
"Apa yang dia lakukan seharian ini?"
"Nona Ayla belajar memasang dasi. Awalnya, dia mencoba pada Uwais, bocah itu terus berteriak dan memprotes. Jika anda melihatnya pasti akan tersenyum. Jadi saya coba membantu. Anda akan melihat hasilnya besok pagi."
Sudut bibir Roxy terangkat ke atas. Rasa bahagia mengingat Ayla berkemauan untuk belajar memasang dasi demi dirinya. Suasana hati Roxy melambung seketika, senyum itu tak pernah pudar dari wajahnya.
Roxy membersihkan dirinya, lalu mencoba merebahkan diri di atas ranjangnya. Roxy berguling ke sana dan berguling ke sini. Rasanya tak tenang jika tidak melihat Ayla.
"Baiklah, aku akan datangi kamarnya." Putus Roxy bangkit dari pembaringan."Hanya melihat sedikit tidak dosa, kan?"
Roxy melangkah keluar dari kamarnya, lalu kembali lagi mengambil gibs yang terlupa ia pakai.
__ADS_1
"Hampir saja!" Gumam Roxy memasang Gips nya.
Sesampainya ia di depan pintu kamar Ayla. Roxy mengatur nafasnya. Lalu mulai menekan handel pintu, detak jantungnya bertalu-talu. Sebentar lagi ia akan melihat sang pujaan hati yang sedang terlelap. Mungkin.