Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 42


__ADS_3

Lalu mereka pergi, menyisakan Ayla dan kakek Yaris.


"Jadi kamu bekerja di sini?"


"Iya."


"Apa job desk mu?"


"Membersihkan dua ruang pribadi tuan Roxy. Kamar dan ruang kerja. Kebetulan saya sudah selesai melakukannya."jawab Ayla jujur.


"Hanya itu?"


"Di pagi hari saya membantu tuan Roxy merapikan pakaiannya. Beliau kesulitan karena tangannya cidera."


"Cidera?"


Ayla mengangguk sebagai jawaban. Kakek Yaris tertawa kecil.


"Kau sudah punya anak, apa suamimu tidak keberatan kalian tinggal di sini?"


Ayla menatap sekilas wajah sang kakek yang masih tajam menatapnya.


"Saya... Sudah bercerai. Kami butuh tempat tinggal, dan saya bisa bekerja sekaligus mendapat tempat berteduh di sini. Saya sangat beruntung." Jawab Ayla karena memang tak ada yang perlu di tutupi.


Kakek Yaris tersenyum lagi. Itu cukup untuk Kakek Yaris, ia tak ingin tau lebih lanjut karena tak penting baginya. Asal Roxy tak merusak rumah tangga orang saja itu cukup.


Ayla menunduk, tak berani menatap lebih lama tuan besarnya. Dalam keheningan itu, tanpa adanya yang bersuara.


***


"Apa? Tadi kakek kemari?"


Roxy mengulang, untuk memastikan pendengarannya. Saat Pitung memberinya informasi tentang kedatangan sang kakek setelah ia kembali ke mansion nya.


"Lalu, apa mereka bertemu."


Pitung mengangguk.


"Shitt!" Umpat Roxy mengusap rambutnya kebelakang, "bagaimana reaksinya?"


"Tuan besar dan nona Ayla berbicara empat mata. Tapi saya tidak tau, karena beliau menyingkirkan kami."


"Orang tua itu...." Geram Roxy menampakkan deretan gigi putihnya."Lalu di mana Ayla?"


"Sedang menidurkan Uwais, tuan."


"Dimana?"

__ADS_1


"Di kamar belakang."


Roxy tak mengatakan apapun lagi, langkah kakinya langsung menuju kamar Ayla. Roxy mengetuk pintu yang menutup itu. Tak lama pintu terbuka, mata indah nan bulat milik Uwais terlihat dari balik pintu yang terbuka membuat celah kecil.


"Daddy!"


Karena Ayla tak mengijinkan Uwais memanggil Roxy papa, maka pria itu meminta Uwais memanggilnya Daddy. Dan bocah polos itu, tentu saja sangat penurut.


"Hei, mana bunda?" Tanya Roxy menyamakan tinggi dengan berjongkok di depan Uwais.


Uwais membuka lebar pintu kamar. "Unda gosok gigi."


"Oohh ya?" Kepala Roxy melonggok-longgok, matanya berkeliaran mencari sosok Ayla dari tempatnya berjongkok di depan pintu kamar. Berharap akan bertemu dengan wanita yang dia cintai itu.


"Kamu mau tidur?"


Uwais mengangguk. "Unda nyuruh."


"Mau tidur di kamar Uwais nggak?" Tawar Roxy membujuk.


"Ini kamar Uwais."


"Kamar Uwais yang ada mobilnya..." Bujuk Roxy lagi.


Wajah Uwais berubah gembira. Tapi kemudian berubah lagi menjadi sedikit sedih.


"Itu kamar mu. Bunda nggak tau aja. Ayo!"


"Aku pamit unda dulu." Dengan langkah riang Uwais berjalan sampai di depan pintu kamar mandi.


"Unda, aku ke kamar yang ada mobil gede. Sama Daddy."


Tanpa menunggu sahutan dari dalam lagi, Uwais langsung berlari keluar. Ayla yang masih di kamar mandi, mendengar suara Uwais pamit. Bergegas keluar dari kamar mandi. Tentu saja tanpa memakai jilbab dan hanya memakai piyama lengan panjang. Karena memang berada di dalam kamar pribadi.


"Uwais!"


Ayla beberapa kali memanggil nama anaknya. Namun, pintu kamar saja sudah tertutup rapat. Ayla mengambil dan memakai jilbab bergo nya. Ayla keluar dari kamar melihat setiap sudut dari sana. Namun tak melihat Uwais.


"Ya ampun... Uwais..." Gumam Ayla berjalan menuju bangunan utama.


Ayla masih ingat Uwais yang ijin ke kamar yang dulu Roxy siapkan untuk anaknya. Ayla hanya tak ingin Roxy terlalu banyak memberinya kebaikan yang justru akan menimbulkan iri diantara pada pelayan lainnya. Sudah di ijinkan tinggal dengan membawa anak saja sudah cukup bagi Ayla.


Tanpa wanita cantik itu tau, semua pelayan dan pekerja di mansion Roxy sudah menganggap nya sebagai nyonya. Karena sejak awal Roxy sudah berpesan seperti itu. Jika ada yang bersikap tak baik pada calon istrinya, ia akan bertindak tegas.


Para pekerja cukup mengerti keseriusan tuannya, terlihat jelas dari Roxy yang mengungsikan anjing kesayangannya dari mansion utama demi Ayla dan Uwais.


Sesampainya Ayla di depan pintu kamar yang di maksud. Ayla menyentuh handel nya, lalu mendorong pintu itu hingga terbuka. Di dalam sana, diatas ranjang berbentuk mobil tayo. Dua orang pria berbeda generasi sedang tertidur pulas.

__ADS_1


Ayla tersenyum melihat kedua nya. Roxy bahkan tampak sangat dekat pada anaknya, padahal mereka tidak memiliki hubungan darah. Serasa melihat kehangatan seorang ayah pada anaknya. Seketika Ayla teringat pada alfa. Kapan terakhir kali Alfa tidur bersama Uwais.


Hati siapa yang tak terenyuh dan tersentuh.


Ayla duduk di ujung bibir ranjang. Bukan Ayla tak tau, sebenarnya semua perhatian dan perlakuan Roxy, juga sikap Roxy yang terus terang padanya. Beberapa kali menyatakan cinta padanya. Ayla sadar betul dengan semua itu.


Tapi, penghianatan yang sudah dia alami dan terima dari Alfa, cukup membuat Ayla membatasi diri. Ia tak ingin menjalin hubungan apapun dan dengan siapapun.


Keesokan harinya, Ayla bersiap memasuki kamar Roxy, dadanya terus berdetak kencang setiap akan masuk kesana tiap paginya. Bagaimana tidak? Pria bule yang tampan dan mapan itu selalu membuatnya merasa tak nyaman karena terlalu dekat. Terlalu banyak kontak fisik dengan pria membuat Ayla takut khilaf. Terlebih ia sudah lama tak mendapat nafkah batin dari Alfa. Hal yang harus Ayla biasakan ketika sudah menjanda.


Ayla memasuki ruang pribadi dengan perangkat kebersihannya. Ayla mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar. Tak ada siapapun, ada rasa lega juga kecewa, eehh?


Ayla tertawa kecil. Menertawai dirinya sendiri.


Lalu mulai membersihkan kamar Roxy, tak berapa lama pintu kamar mandi terdengar dibuka. Mata Ayla sedikit melebar. Dengan perasaan tak nyaman dan jantung makin tak karuan, Ayla menoleh dari posisinya mengganti spay.


Roxy baru saja keluar dari kamar mandi dengan tubuh dan rambut yang basah, berbalut handuk di pinggangnya.


Tubuh Roxy memang sudah bagus, kekar, bahkan menonjolkan roti sobekmya dengan sangat sempurna. Ayla menelan ludahnya, sempat mengagumi keindahan anak Adam di depannya. Dengan cepat, Ayla mengalihkan pandangann dan sibuk merapikan sprei.


"Astaghfirullah... Astaghfirullah... Lindungilah aku ya Alloh." Gumam Ayla pada dirinya sendiri.


Roxy tersenyum jahat, sempat ia lihat tadi saat Ayla terpana olehnya dan dengan cepat mengalihkan pandangan mata pura-pura sibuk dengan aktifitas nya.


"Hei! Lihatlah kemari!" Goda Roxy berjalan mendekat dan berdiri dibelakang Ayla.


"Untuk apa?"


"Tentu saja untuk melihat tubuhku. Aku tau kau menyukainya. Tadi kau langsung mengalihkan pandangan dan...."


Roxy menatap Ayla dan mengeser tubuh kesamping wanita itu. "Lihatlah! Wajahmu bersemu merah..."


Merasa sangat malu, Ayla memaksakan melihat Roxy. "Tuan Roxy!"


"Ayolah, kenapa masih saja memanggilku tuan Roxy?" Protes Roxy yang justru duduk diatas ranjang dan tidur melintang tepat di depan Ayla."panggil aku Daddy, seperti Uwais."


"Tuan Roxy!" Pekik Ayla yang merasa Roxy sudah kelewat batas menggoda nya.


Siapa yang tak tergoda, jika seorang pria tampan hanya berbalut handuk dan menunjukkan keindahan tubuhnya yang sempurna berbaring tepat di depan mata hanya berjarak beberapa jengkal saja. Sebagai wanita normal, tentu saja Ayla tergoda. Namun, akal sehatnya masih sangat berfungsi.


Roxy semakin nakal menggoda Ayla. Pria itu menarik tangan Ayla dan menempelkan ke tubuhnya, mengusap dari dada hingga kebawah.


Wajah Ayla semakin memerah hingga ke telinganya. Dengan cepat Ayla menarik tangannya yang hampir menyentuh pusar Roxy.


"Jangan.... Sa-saya akan kembali setelah anda selesai berganti baju." Ucap Ayla gugup dan salah tingkah berlari keluar kamar.


Roxy bangun terduduk. Menatap punggung Ayla yang semakin menjauh dan menghilang.

__ADS_1


Roxy tersenyum jahat.


__ADS_2