Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 102


__ADS_3

Kayla mengikuti kemana kedua orang tuanya berjalan. Jika emak sedikit bertingkah ketus, berbeda dengan bapak yang tetap ramah dan tersenyum lalu pamit undur diri.


Tinggallah di ruang utama kakek Yaris, Raize dan Rocky. Kakek Yaris menghela nafas beratnya. Menatap tajam Raize dengan penuh amarah. Lalu mengayunkan tongkatnya dan mengenai tubuh Raize. Cucunya itu hanya diam tanpa perlawanan. Menerima begitu aja amarah sang kakek. Ia memang pantas mendapatkan nya.


"Aku sudah mengikuti maumu. Menahan diri, nanti pastikan kalian menemuiku di ruang baca. Aku tunggu di sana." Kakek berujar dengan tegas dan dingin. Pria tua itu berjalan menuju ruang baca.


Rocky yang sedari hanya diam membaca situasi menatap Raize. "Appa yang sebenarnya terjadi? Apa Kayla yang kamu maksud sebagai istri?"


Raize menghela nafasnya, menutupi wajah tampan yang lebam dengan kedua ketalapak tangannya.


"Raiz?"


"Iya, kami tidak sungguh-sungguh menikah. Hanya sebuah sandiwara."


Rocky menggelengkan kepala tak habis pikir dengan Raize.


"Orang tua Kayla tak tau menahu, aku yang sudah memaksanya. Aku yang bersalah."


"Kamu tau salah, kenapa kamu lakukan?"


Raize bungkam semakin dalam menunduk, dia terus memikirkan Kayla. Apa yang mungkin Kayla hadapi dengan kedua orang tuanya.


"Kalian sulit, Raiz. Emak dan bapak sangat menentang hubungan perbedaan agama. Aku bisa mengatakan ini karena sudah mengalaminya. Saat itu aku bahkan sudah menjadi mualaf, tapi emak masih sangat keras padaku." Ungkap Rocky,"terlebih kamu, dengan tabiat mu, mereka tidak akan melepaskan Kayla untuk mu. Jadi, menyerah saja."


Raize seketika menatap Rocky tak suka. "Aku mencintainya."


"Apa kau yakin itu cinta? Bagaimana dengan para wanita di belakang mu?" Tanya Rocky berdiri dari duduknya."Pikirkan lagi, banyak yang harus kamu korbankan dan kamu tinggalkan, Raiz. Dan itu tidak mudah." Sambung Rocky sembari berjalan lebih dalam untuk menyusul Ayla dan Uwais.


Sementara di ruangan lain, Kayla terus menangis. Bahunya terus berguncang, beberapa kali Bu Rohman terlihat sangat marah dan pak Rohman berusaha menenangkan. Hingga akhirnya gadis itu terdiam di kamarnya, duduk memeluk lutut.


Kedua orang tuanya tidak memberi restu. Baik emak ataupun bapak, semua menentang hubungan nya dengan Raize. Kayla juga memikirkan bagaimana reaksi kakek Yaris. Melihat lebam di wajah Raize, Kayla yakin kakek Yaris sangat marah. Namun, kakek Yaris sangat bijak dengan tidak menunjukan amarahnya di depan orang tua Kayla. Bahkan tanpa mengumbar semua kesalahan dirinya dan juga Raize tentang pernikahan bohongan mereka.


Denting suara gawai di atas nakas membuyarkan lamunan Kayla. Ia bergegas mengusap pipi yang basah oleh jejak air mata. Lalu meraih gawai nya. Panggilan telpon dari Raize. Kayla menggeser tombol hijau, lalu mendekatkan benda pipih itu di pipi.


"Halo."

__ADS_1


("Bagaimana keadaanmu?")


"Aku baik-baik saja." Ucap Kayla lirih dan berbohong. Bagaimana dia bisa baik-baik saja dengan situasi seperti ini.


("... Maafkan aku.") Suara Raize terdengar sendu di seberang sana. Setelah pria itu terdiam sesaat.


("Apa kata emak dan bapak?")


"Mereka bilang, kita harus berakhir." Aku Kayla jujur.


("Kamu bersedia?")


Kayla membisu, tubuhnya berguncang pelan. Suara isakan terdengar jelas dari speaker milik Raize, pria tampan itu hanya terdiam mendengar tangisan Kayla.


"Iya, aku pikir, kita memang sebaiknya akhiri ini. Sebelum semuanya menjadi lebih dalam." Ungkap Kayla.


("Apa sedikitpun tak ada rasa cinta di hatimu untukku?")


"Kenapa kamu menanyakannya?"


"Aku tidak tau raiz. Kita memiliki perbedaan yang mendasar. Aku tak mungkin meninggalkan agamaku. Begitupun dengan mu kan? Dan satu lagi, aku tidak sepenuhnya yakin dengan perasaanmu padaku. Juga, aku ragu kamu sudah bertobat, tidak akan bermain dengan wanita lagi. Aku..." Suara Kayla bergetar bersamaan dengan air matanya yang mengalir perlahan.


("Aku mengerti. Ini memang salahku.")


"Bagaimana dengan kakek Yaris? Lebam itu kamu dapat darinya, kan?"


("Iya, dia ingin kita bertemu dengannya.") Ucap Raize mencoba menenangkan dirinya sendiri.("jangan khawatir, aku bisa mengatasi kakek sendiri.")


"Tidak, kamu dimana? Ayo kita hadapi kakek bersama. Aku juga ikut andil dalam kesalahan ini. Ayo kita temui kakek bersama."


("Kayla...")


"Kamu dimana?" Tanya Kayla sekali lagi, gadis itu sudah keluar dari kamarnya dan sedang menutup pintu.


("Menolehlah ke kiri.")

__ADS_1


Tanpa suara, Kayla menoleh ke arah kirinya. Di ujung lorong, Kayla melihat Raize berdiri dengan ponsel di pipinya. Pria itu lalu menyimpan gawainya ke dalam saku celana. Berjalan mendekat dan menatap lekat wanita yang di cintai. Kali ini, benar-benar cinta.


"Maafkan aku, kay." Ucap Raize lirih, lalu memeluk erat tubuh Kayla.


"Ayo kita temui kakek."


Raize melepaskan pelukannya, lalu menggeleng samar. "Tidak. Aku yang akan mengatasi sendiri."


Kayla terdiam menatap manik mata pria berwarna biru itu. "Kakek, ada di ruang baca, kan?"


Raize bungkam, ia membalas tatapan Kayla dengan sejuta sesal. Tanpa menunggu jawaban dari Raize, Kayla melangkah melewati pria itu.


"Kay!"


Raize menyusul gadis yang terus berjalan ke ruang baca di mana kakek Yaris menunggu, tanpa memperdulikan suara Raize yang mencoba menahannya. Kayla sama sekali tak ingin mengulang hal yang sama, saat ini meski sudah terlambat ia harus mengatakan yang sebenarnya.


Kayla menarik nafas panjang sebelum tangannya terangkat menyentuh handel. Di saat yang bersamaan Raize juga melakukan hal yang sama, hingga kedua tangan itu saling bertumpuk.


"Maaf, Kay."


"Ayo hadapi bersama. Kamu udah menghadapinya lebih dulu. Lebam ini pasti sakit," ucap Kayla merasa sedih untuk Raize,tangan Kayla menyentuh lebam di dekat mata dan di sudut bibir Raize.


"Ini tidak seberapa." Aku Raize mencoba menenangkan kekasihnya.


"Kakek tidak akan melakukan padaku kan?" Tanya Kayla mencoba mencairkan suasana yang sendu itu. Raize tersenyum kecut.


"Kakek hanya kasar pada cucu-cucu nya. Dia tidak akan menyakiti orang lain."


"Benar, aku orang lain."


"Maaf, bukan itu maksudku."


Kayla menekan handel pintu dan mendorongnya. Di dalam sana kakek Yaris berdiri menatap sebuah foto keluarga. Lalu menoleh begitu menyadari kehadiran Kayla.


"Masuklah."

__ADS_1


__ADS_2