
"Astaghfirullah...."
Mata Cayla ternoda oleh adegan dewasa di dalam ruangan itu. Raize dan seorang wanita tengah bergulat di kursi belakang meja kerja Raize. Wanita itu tengah duduk di pangkuan Raize dan bercumbu penuh nafsu. Mereka pun sama terkejutnya dengan Cayla. Langsung menoleh ke arah pintu masuk.
"Kau! Apa kau tak bisa mengetuk pintu lebih dahulu? Hah?" Tanya Raize dengan noda merah di sekitar bibirnya.
Dengan cepat, Cayla mengambil hape dan memfoto kedua nya. Walau sesungguhnya pun ia merasa cukup jijik dengan itu.
"Kau!"
Lalu, Cayla segera menutup pintu dan berlari. Sementara mereka yang tertangkap basah itu cukup panik. Raize bergegas menyingkirkan si wanita dari pangkuannya. Raize berlari dengan cepat keluar dari ruangan menyusul Cayla yang membawa foto tentang kejahatan seksualnya.
"Cih, sialan!" Umpat Raize memukul udara."Bocah itu.... Aaarrrggg!!"
Cayla yang sudah berlari cukup jauh berhenti dan bersembunyi di balik tembok, mengatur nafasnya. Lalu melihat lagi hp yang ia gunakan untuk memfoto Raize.
Gambar Raize dan wanita yang sedang bercumbu dengan pakaian yaang sudah sangat berantakan. Membuat Cayla mengulas senyum.
"Baiklah, aku harus memanfaatkan ini. Aku harus membuat kesempatan. Tapi, sebelum itu..."
Cayla duduk dengan tenang di sebuah cafe. Ia menunggu Raize. Ia mendapatkan nomor Raize dari salah satu temannya yang tergila-gila pada dokter muda itu. Hingga mudah saja untuk Cayla mendapatkan nomor Raize.
Raize yang baru saja masuk ke dalam kafe. Langsung duduk di depan Cayla menunggu hanya bersekat meja diantara mereka.
Tanpa kata, Raize hanya menatap Cayla. Tatapan yang mengintimidasi. Tentu saja Cayla tak gentar, ia memiliki bukti kelakuan Raize di tangannya.
"Mari kita buat kesepakatan, dokter."
"Aku tidak pernah bersepakat. Lagi pula apa yang bisa kamu tawarkan?"
Cayla menunjukkan foto di hp nya. Raize tersenyum tipis.
"Dengar gadis, hal semacam ini tak akan berimbas banyak padaku."
"Benarkah? Kalau begitu, aku akan mengirimkan nya pada kepala yayasan, pihak kampus dan kepala rumah sakit. Aahh, bagaimana dengan kakek Rafael?"
Raize tersenyum miring, "jangan membodohiku."
"Apa anda berpikir aku tidak punya kontak mereka?" Tanya Cayla yang merasa Raize sedikit meragukannya."saat aku akan membuat kesepakatan tentu aja aku sudah mempersiapkan segalanya."
"Baiklah, mari kita lihat persiapan apa saja yang udah kamu lakukan. Aku sangat penasaran." Balas Raize semakin meremehkan.
"Oke jika kamu menantang ku om dokter." Cayla mulai menekan-nekan layar hape dan tersenyum menyebalkan."aku punya beberapa fotomu."
Lalu ia menunjukkan layar ponselnya pada Raize. Beberapa slite foto Raize saat bersama dengan beberapa wanita yang berbeda dan tentu saja dengan kemesraan mereka. Sedikit membuat mata Raize melebar. Tapi, itu tidak terlalu berpengaruh pada Raize. Sampai, Cayla menggeser slite berikutnya.
Mata Raize melebar dan segera rebut hp Cayla. Gadis itu tersentak.
"Balikin, pak!"
Raize berhasil beberapa slite aib nya di kala sekolah dulu. Ia merasa menang.
"Ini!" Raize melempar hp Cayla pada pemiliknya."Jangan pernah berpikir untuk mengancam ku dengan hal-hal bodoh semacam ini."
Cayla membuang muka dengan senyum jengkel.
"Apa kamu pikir setelah menghapusnya semua selesai?"
"Oohh, jadi kamu masih punya salinan nya? Mudah saja sih, aku bisa bilang ini hanya editan." Elak Raize percaya diri.
"Iya, tentu saja. Apa pak dokter tidak berpikir dari mana aku bisa dapat foto itu?"
Mata Raize menajam.
"Lagi pula, jika sampai jam lima sore aku masih belum memberi kabar, seorang teman ku akan mempublikasikan nya."
Wajah Raize mengeras."kau!!"
Kini Cayla yang tersenyum.
"Jadi, bagaimana? Apa kita akan membuat kesepakatan?"
__ADS_1
Raize menghela nafasnya. "Baiklah." Ucanya menyetujui lalu menyender kan punggung pada kursi.
"Tapi, aku juga memiliki syarat yang harus kamu patuhi."
"Aku dengarkan."
Raize memajukan posisi duduknya dan meletakan lengannya di meja. Memandang Cayla dengan serius.
"Pertama. Kita menikah."
"Aahh, tidak mau! Kau seorang pemain. Aku tidak suka terlibat dengan pemain." Tolak Cayla tegas.
"Kita tidak benar-benar menikah. Hanya sandiwara, aku punya seorang teman yang bisa membantu mengurus nya. Hanya mengurus masalah dokumen yang nantinya akan kita tunjuk pada kakek."
"Kakek?"
"Huumm... Kakek Yaris, kau pasti masih ingat dengan ucapannya di perjamuan natal waktu itu kan?"
Ingatan Cayla terlempar ke malam dimana Raize membawanya ke sebuah pesta, memperkenalkan dirinya sebagai kekasih. Padahal waktu itu Raize mengancam akan mempersulit tugas akhirnya. Lalu sang kakek melimpah semua warisan nya pada Cayla. Jika mereka berdua menikah.
"Aahh..."
"Kau tau, aku membutuhkan warisan kakek. Kita harus menikah agar aku bisa mendapatkannya. Dan kamu juga bisa menyelesaikan skripsi mu."
"Ini hanya formalitas saja kan? Hanya dokumen palsu?"
"Iya, hanya dokumen palsu."
"Kau tidak kan menyentuhku?"
"Tentu saja. Aku punya selera..."
"Apa maksud ucapanmu?" Protes Cayla merasa di rendahkan.
"Sudahlah, tinggal setuju atau tidak?"
Cayla menghela nafas beratnya. "Jangka waktunya?"
"Baiklah, tidak boleh menyentuh."
"Tapi kamu tinggal di rumahku..."
"Apa?"
"Sudah menikah, tentu saja harus tinggal satu rumah."
"Kau tidak akan mengganggu privasi ku kan?"
"Tentu saja. Kamu di kamarmu sendiri, begitu juga denganku. Aku tidak akan mencampuri urusan mu, kau juga jangan mencampuri urusanku."
"Baiklah, deal!" Cayla mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Raize.
"Deal!"
Setelah keduanya membuat kesepakatan dan hitam di atas putih. Raize membawa Cayla kembali ke rumahnya. Tentu saja dengan Buku nikah palsu di tangan.
"Ini!"
Kakek Yaris melihat buku itu, lalu menatap kedua anak manusia itu bergantian.
"Kalian menikah tanpa memberikan padaku?"
"Itu kan udah kek."
"Maksud kakek sebelum ini di buat!" Kakek Yaris melempar buku nikah ditangannya ke arah Raize.
Lalu kakek Yaris menatap Cayla."kamu! Bagaimana dengan orang tuamu?"
"Mereka sudah pulang."
"Mereka tidak mampir kemari?"
__ADS_1
"Sempat mampir, tapi kakek tidak ada. Dan juga, mereka terburu buru kembali ke kampung. Karena meninggalkan beberapa ternak dan sawah."
Kakek Yaris hanya menghela nafas panjang.
"Kakek, sudahlah, kami udah menikah. Ingat janji kakek waktu itu."
Kakek Yaris berdecih, lalu beranjak dari duduknya. Pria tua itu berjalan dngan tongkatnya dan meninggalkan Raize juga Cayla.
"Seminggu lagi kita datang ke kampung halaman calon istri sepupumu. Mereka akan mengadakan resepsi di sana." Kakek Yaris berhenti dan menoleh sedikit. "Kalian juga harus ikut." Sambung kakek Yaris melanjutkan langkah nya.
Cayla yang memang sudah berjanji untuk datang ke pernikahan kakaknya, Ayla. Tersentak, ia tak mungkin menghadiri dua acara di waktu yang bersamaan. Apalagi ia tak tau di mana kampung yang kakek Yaris maksud.
Cayla menatap pada Raize dengan wajah memelas dan tegang.
"Bagaimana ini? Aku tak bisa pergi! Aku sudah ada acara keluarga!" Bisiknya.
"Kalau begitu batalkan saja." Jawab Raize enteng.
"Enak saja! Itu acara pernikahan kakakku. Aku tetap akan pergi ke acara pernikahan keluargaku. Dan mengenai sepupu mu kau pikir saja sendiri!" Bisik Cayla dengan tegas. Bahwa ia tak akan ikut ke acara keluarga Raize.
Raize hanya memutar matanya malas. "Tenang saja, akan aku pikirkan caranya. Selama itu, kau tak boleh kabur!"
Sementara itu di kampung Ayla.
"Tuan Roxy."
"Daddy!"
"Ehem, Daddy!"
"Iya?"
"Apa ini tidak terlalu berlebihan?"
"Kenapa?"
"Gaun pengantin ini mahal sekali, bukankah lebih baik kita menyewa saja?"
Roxy tertawa kecil. Lalu melihat pada pemilik butik yang menyiapkan semua pakaian yang akan di pakai di hari H nanti.
"Tolong tinggalkan kami." Pinta Roxy padanya.
"Baik." Setelah wanita itu pergi, dan menyisakan Roxy dan Ayla saja di ruangan itu. Roxy mendekat mengambil gaun pengantin yang sangat indah. Lalu menempelkan nya ke tubuh Ayla.
"Ini sangat cocok untukmu. Tidak terbuka dan tidak menunjukan lekuk tubuhmu."
"Ini mahal sekali. Bagaimana jika kita sewa saja?"
Roxy tergelak. Lalu menyentil hidung Ayla.
"Aku Roxy Pearce. Tidak akan pernah menyewa untuk gaun pengantin istri ku. Apa kamu mau membuat aku malu dan kehilangan muka?"
Wajah Ayla terasa panas, ia menghela nafas berat.
"Ini terlalu berlebihan, mahal, hanya untuk di pakai satu hari saja. Lebih baik uangnya di simpan, atau mungkin..." Gumam Ayla yang terus menatap Roxy tak nyaman.
Roxy tertawa lagi.
"Aku ingin membuatkanmu pernikahan yang paling megah. Sangat tidak lucu jika baju pengantin saja aku sewa."
"Tapi, ini hanya di pakai sekali saja. Membelinya hanya menghabiskan uang saja, bukankah..."
"Sssttt....." Roxy meletakkan telunjuknya di bibir Ayla.
"Mulai sekarang, belajarlah menghabiskan uangku. Aku yang bekerja, kamu yang habiskan. Kalau tidak habis-habis, aku tidak semangat kerja. Huumm?"
Rayuan itu berhasil membuat wajah Ayla menghangat. Hingga ia memilih menundukkan wajahnya agar tak terlihat air muka nya berubah merah.
Roxy mengulas senyumnya. Menangkup wajah Ayla agar ia bisa melihat wajah itu lagi.
"Apa di bawah sana lebih menarik dari pada aku?"
__ADS_1