
Ayla menggandeng tangan mungil Uwais menuju halaman belakang.
Tiba-tiba seekor anjing Samoyed menerjang ke arahnya. Mata Ayla membulat, dan seketika ia menjerit sembari memeluk Uwais....
Suara siulan melengking terdengar, Lambo melonjak-lonjak mengitari Ayla yang ketakutan memeluk Uwais. Bagaimana Ayla tak takut, tubuh Lambo sangat besar, bahkan hampir sebesar separuh dari tubuhnya. Melihat Lambo sebesar itu menerjang ke arahnya seolah akan menerkam dia dan Uwais. Membuat tubuh Ayla melemas. Pun dengan Uwais yang menangis ketakutan.
"Lambo! Hey, jangan nakal!" Seru Roxy berlari mendekat.
Melihat Uwais yang menangis ketakutan, dan Ayla yang memeluk erat Uwais sedangkan Lambo dengan gagahnya mengitari mereka dan sesekali menyalak. Seketika wajah Roxy berubah. Ada rasa yang beradu tiba-tiba.
"Lambo! Kembali ke kandang! Lambo!"
Roxy memegangi tali leher Lambo, namun anjing yang merasa asing dengan orang baru itu masih menyalak pada Ayla dan Uwais. Tangis Uwais semakin keras. Dan Ayla masih terus memeluk anak lelakinya.
"Diam! Diam lah anjing pintar. Mereka bukan orang jahat. Lambo. Lambo anjing pintar." Roxy mengelus kepala Lambo berusaha menenangkan anjingnya.
Beberapa orang pelayan Roxy keluar ke halaman karena mendengar suara Lambo yang menyalak dengan di iringi suara tangisan Uwais. Termasuk kepala pelayan Pitung.
"Tuan...."
"Bawa Lambo ke kandangnya."
"Baik."
Beberapa pelayan pria membawa Lambo kembali ke kandang sementara Roxy hanya memandang dua mahluk yang berjongkok dan saling memeluk itu, dengan pandangan yang entah apa.
Yang satu menangis, dan yang satu lagi mencoba menenangkan meski dirinya sendiri gemetar.
Ada hal yang baru Roxy mengerti, kedua nya takut anjing entah karena trauma atau apa. Tapi, Roxy tetap ingin baik Ayla taupun Lambo ada dalam kediamannya.
Roxy mengusap rambutnya ke belakang. Ada rasa bersalah, kecewa akan ketidaktahuannya yang diam-diam menyusup di pikirannya, membuat pria itu kalut. ia tak mau kehilangan Ayla karena kejadian ini.
Di ruang utama, koper Ayla sudah tegak di samping sofa tak jauh dari pemiliknya duduk. Dua orang pelayan wanita membagi minuman pada Ayla dan anaknya agar lebih tenang.
Roxy berdiri beberapa meter dari mereka, memijit pelipisnya yang beberapa kali berdenyut. Lalu mengusap rambutnya ke belakang. Menatap Ayla dan Uwais dari jarak itu. Ia bingung harus bagaimana? Kejadian ini di luar perkiraan nya.
Suara isakan Uwais masih terdengar. Bocah berusia tiga tahun itu duduk di pangkuan bunda. Tampak dia sangat ketakutan sekali. Dan itu membuat Roxy merasa bersalah. Roxy tak ingin kejadian tadi menimbulkan trauma bagi bocah tiga tahunan itu.
Roxy berjalan memangkas jarak, sudah beberapa hari ini ia menurunkan semua temperamen hanya untuk bisa dekat dengan Uwais dan Ayla. Dan bocah itu, meringkuk ketakutan pada anjing kesayangan yang menyalak karena belum mengenal calon tuannya.
Roxy mengusap rambut Uwais. Menatap sayang dan juga sesal.
"Maafkan aku."
Uwais masih sesenggukan. Usapan lembut di kepalanya berulang kali membuat Uwais perlahan menoleh pada Roxy.
"Papa....." Wajah bocah yang sembab dan sendu, mengiris hati pria bule bermata coklat itu.
Roxy tersenyum kecil, lalu meraih tubuh mungil itu. Membawa Bocah berusia tiga tahun yang masih ketakutan ke dalam gendongannya.
__ADS_1
"Maaf ya? Kamu takut banget ya?"
Uwais memeluk erat Roxy yang menggendong nya.
"Lambo belum mengenalmu, percayalah, dia bukan anjing yang jahat. Heemmm? Jangan takut."
Hari itu, Ayla membawa Uwais dan juga kopernya. Walau sudah mengalami hal sulit, Ayla tetap harus bekerja untuk mendapatkan uang. Jam 9.30 Ayla berjalan keluar dari mansion.
Sementara Roxy memang berniat tidak masuk hari ini.
"Kau mau kemana?"
Roxy tiba-tiba di liputi oleh rasa khawatir. Jika karena Lambo sampai membuat Ayla ataupun Uwais pergi.
"UMM.. Terimakasih untuk semuanya. Kami akan mencari tempat tinggal sementara, dan aku juga perlu bekerja."
"Tidak usah kemana pun. Tinggallah di sini."
"Tapi...."
"Kalau kamu pergi bekerja sekarang, bagaimana dengan Uwais? Siapa yang akan menjaganya? Dan lagi, apa kau siap menghadapi mantan suamimu?"
"Aku tidak ingin menghindar." Ucap Ayla yakin menatap Roxy dengan tegas."Aku akan menghadapinya."
"Baiklah, jika itu mau mu. Kau boleh pergi." Roxy menarik travel bag Ayla dan menggesernya kebelakang. Lalu mengambil Uwais dan menggendongnya.
"Kamu pergilah bekerja, lalu kembali kemari. Kamu tak mungkin bisa menemukan tempat tinggal hanya dalam waktu yang sangat singkat. Jadi, pergilah bekerja. Percayakan Uwais dan barang mu ini padaku."
***
"Ayla! Syukurlah kamu tetap jualan."
Alfa berdiri di depan gerobak tempat Ayla berjualan. Ayla hanya menatap datar dan dingin.
"Ay, ayo kita bicara."
"Aku sedang kerja mas."
"Jualanmu sedang sepi kan sekarang?" Gerobak Ayla memang sedang lengang sekarang, tak ada pembeli karena belum masuk waktu breaktime dan makan siang.
Ayla membuang mukanya, ia hanya pura-pura sibuk membersihkan gerobak nya.
"Ay...."
"Apa sih mas? Urusi saja calon istri dan jabang bayi mu itu? Kenapa malah menggangguku?" Ketus Ayla tanpa menoleh pada Alfa.
"Ay! Beri mas kesempatan!"Mohon Alfa dengan wajah memelas.
Karena Ayla merasa sangat jengah dengan suaminya, eh, orang yang akan menjadi mantan suaminya. Ayla menghentikan aktivitas nya.
__ADS_1
"Mbak, beli sosis bakarnya." Suara seorang pria di belakang Alfa.
Ayla langsung mengubah mode kesal menjadi ramah dan senyum di wajahnya.
"Baiklah, silahkan tunggu sebentar."
"Ay...."
"Pergi mas! Aku lagi melayani pembeli."
Alfa menatap pria yang kini berdiri di depan gerobak Ayla. Lalu berganti menatap Ayla.
"Mas tunggu sampai kamu selesai."
Ayla bergeming. Ia menyibukkan diri dengan membakar sosis. Dan Alfa masih berdiri di sana, menatap Ayla.
Semakin lama, gerobak Ayla semakin ramai. Entah kenapa hari ini Ayla sangat sibuk melayani pembeli. Sementara Alfa, semakin ke sini, semakin tergeser oleh bejibunnya orang-orang yang mengerubungi gerobak Ayla. Seperti bunga yang di kerubungi lebah.
Alfa mencoba mencari celah, namun, ia seperti sengaja di singkirkan.
"Mas Alfa!" Seorang CS datang memanggilnya, "Dicariin dari tadi malah. Ngapain sih di sini?"
"Ayo mas! Kita meting sama pak Kia." Orang itu mengajak Alfa tanpa memberi Alfa celah untuk berkata dan dengan terpaksa ia mengikuti salah satu CS yang menjadi bawahannya.
***
Alfa tersenyum sangat lebar. Ia tak menyangka di pilih menjadi salah satu kandidat staf baru.
"Baiklah, aku hanya tinggal ikut beberapa test. Pak Spv bilang aku sangat berpeluang. Ayla, aku akan sampaikan kabar ini padanya. Aku harap dia mau berubah pikiran dan kembali padaku." Gumam Alfa dengan sangat yakin.
"Tapi, buku nikah itu, aku harus mencarinya, tak mungkin Ayla sudah membawanya. Saat mengemasi barang dia hanya membawa baju, alat make up saja tertinggal."
****
Sore itu, Roxy dan Uwais bermain di halaman belakang. Pria bule itu ingin membuat Uwais percaya dan tak takut pada Lambo. Awalnya memang Uwais takut, tapi, semakin lama, bocah tiga tahunan itu bahkan berani naik ke punggung Lambo. Menjadikan anjing Samoyed itu sebagai tunggangan.
Roxy tersenyum lebar karena berhasil membuat Uwais menyukai Lambo. Kini tinggal Ayla, Roxy sangat yakin, Ayla akan bereaksi sama.
"Tuan!"
Roxy menoleh pada Veloz yang sore itu datang ke kediaman Roxy.
"Apa pria itu mengganggunya?"
"Kami sudah membuat nona Ayla sibuk, dan membuatnya menyingkir."
"Bagus."
"Dan..." Veloz sengaja tak melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
________
di bab selanjutnya, bos Ayla bakal ada peran nih, bagus nya pake nama apa ya? ada yang mau kasih ide?