Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 82


__ADS_3

Di malam yang sama, Kayla sedang mendengarkan musik dengan headset di kepalanya. Kayla juga membaca beberapa buku referensi yang cukup tebal. Ia terlalu asyik dan larut dalam kegiatan nya hingga tak mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.


Sejak Kayla sering mendengar suara Raize yang sedang bercinta di rumah itu dengan wanita lain. Kayla memilih menggunakan headset dengan volume yang cukup tinggi agar tak terganggu.


Tiba-tiba Kayla merasa kehausan, lalu ia berjalan keluar dari kamarnya. Maksud hati hendak mengambil air, namun, ekor matanya justru melihat kakek Yaris dan Vina tengah duduk berbincang di ruang santai yang ia lewati. Bergegas Kayla menyembunyikan dirinya.


"A-apa yang kakek itu lakukan di sini?" Gumam Kayla dengan jantung yang berdetak dan hampir melompat keluar.


"Dokter sekks itu. Kenapa dia tak memberi tahuku jika kakek itu mau kemari?" Gumam Kayla meruntuki Raize. Lalu Kayla teringat, jika dia memblokir nomor Raize. Ia hanya tak ingin terlalu banyak berhubungan dengan sepupu Rocky itu. Apalagi, mereka udah tinggal seatap. Buat apa masih menyimpan nomor ponselnya.


Dengan tangan yang bergetar hebat, Kayla melihat hp, membuka blokiran nomor Raize. Namun, tak ada pesan apapun. Lalu Kayla mencoba menghubungi pria itu. Tersambung, namun di matikan. Coba lagi, tersambung dan di matikan lagi. Kayla geram. Lalu ia mengetik pesan jika kakek Yaris datang.


Sementara itu, di sebuah hotel yang menjulang tinggi. Raize tampak bercucuran keringat, namun masih tetap terlihat sangat menawan. Wajah pria itu tampak sangat menikmati setiap permainan yang dia lakukan dengan wanita di bawah tubuhnya.


Sedikit lagi, ia akan mencapai puncaknya, namun suara dering gawai nya membuat pria itu berdecak kesal. Raize mencoba meraih benda pipih itu. Melihat nomor gadis yang seharusnya memblokir dirinya, tiba-tiba menghubungi. Dahi Raize mengernyit, tapi dia matikan kemudian. Ia lebih memilih melanjutkan aktifitas nya yang panas.


Baru juga ia letakkan gawai itu sudah berdering lagi, Raize kesal ia hampir mencapai puncaknya namun terganggu.


"Tampan, tak bisakah kau hentikan ini? Tanggung, keganggu terus." Rengek wanita yang terbaring di bawah tubuhnya.


Raize mengambil hp nya lagi, sambungan langsung di matikan.


"Ini sangat menganggu aktivitas bercinta kita. Apa kamu tak bisa mematikan benda itu selagi kita bermain?" Pinta wanita itu merengek lagi.


"Diamlah. Kamu cukup menikmati goncangan dariku, huumm?"


Raize hendak menekan tombol off agar tak terganggu lagi. Namun, sebuah pesan yang terlihat di kepala ponselnya seketika membuat jantung Raize terlompat.


Cepat ia membuka pesan itu.


"Sayaaangg...." Rengek wanita itu manja.


"Diamlah!"


Raize lemas seketika, semua hasratnya mendadak sirna dan menguap entah kemana. Pesan Kayla yang menyatakan jika sang kakek berkunjung di kediamannya.


Raize langsung melompat turun dari ranjang. Memakai semua pakaian dengan terburu, wanita yang juga tengah berada di ambang kenikmatan itu menatap Raize tak terima.


"Kenapa? Ada apa? Kenapa malah memakai bajumu."


"Aku sibuk. Ada hal mendadak yang harus aku lakukan." Ungkap Raize terus membenahi pakaiannya.


"Apa? Jadi aku di tinggal begitu saja?"


"Sudah kubilang aku sibuk."

__ADS_1


"Tapi, tak bisakah kita selesaikan urusan kita dulu?"


"Tidak bisa."


"Jadi urusanmu itu lebih penting dari ku?"


Raize menyeringai jahat. "Ya tentu saja."


Wanita itu tampak sangat kesal, "kalau kamu pergi, kita putus."


"Baiklah, kita putus." Jawab Raize enteng mulai melangkah menuju pintu keluar. Wanita itu membulatkan mulutnya tak percaya. Semudah itu, Raize memutuskan hubungan. Merasa tak terima, wanita itu menyusul Raize.


"Bagaimana bisa kau memutuskan hubungan kita semudah itu?" Protes sanag wanita menahan lengan Raize.


"Kau yang memintanya, aku hanya mengabulkan..."


"Apa?" Wanita itu semakin tak percaya i buatnya. Raize menarik tangan nya dan menyentuh handel pintu, menarik hingga terbuka.


"Tunggu beri aku kesempatan, plis, Raize." Ungkap wanita itu memeluk raise dari belakang.


"Oohh ayolah, kau yang mengancamku untuk putus."


"Aku tidak benar-benar ingin putus, raiz. Pliiss!"


"Aku tak suka pada wanita yang sudah berani mengancam ku, apalagi dengan kalimat putus. Maaf saja, apa yang sudah putus, tak bisa di sambung lagi." Ucap Raize melihat manik mata wanita itu dengan pandangan merendahkan.


"pliiss raiz, beri aku kesempatan." Mohon wanita itu.


Raize tersenyum mengejek, "hasratku padamu sudah hilang, jangan semakin merrndahkan dirimu dengan memohon, itu tak akan berarti apa-apa."


Raize berbalik dan melangkah menjauh, meninggalkan wanita yang masih berdiri di balik pintu kamar.


"Bajingan kau Raize!"


Suara umpatan itu tak Raize hiraukan, ia memilih menghubungi Kayla.


("Dokter Sekks! Kenapa kau lama sekali?")


"Bagaimana dengan kakek?"


("Mereka masih di ruang santai.")


"Mereka? Ada berapa orang sampai kau sebut mereka?"


("UMM, ada kakek Yaris dan Vina.")

__ADS_1


"Bocah itu, jika bukan adikku sudah buat dia menderita di bawah tubuhku." Gumam Raize geram. Ia sangat yakin Vina lah di balik semua ini.


"Apa kalian sudah bertemu?" Tanya Raize untuk memastikan dan mengambil tindakan selanjutnya. Pria yang sudah memasuki lift itu menekan tombol lantai dasar.


("Belum. Aku masih ngumpet.")


("Tapi pelayan bilang, tadi kakek sempat mengetuk pintu kamarku.")


"Apa yang kau lakukan sampai tidak tau ada yang mengetuk pintu kamarmu?"


"UMM... Itu.. aku...."


"Sudah! Tetaplah di kamar. Oiya, aku bilang pada kakek kamu sedang sakit. Jadi, beraktinglah seperti orang sakit."


Raize terpaksa menutup telponnya karena dia sudah berada di baseman dan memasuki mobilnya. Saat ini agar terlihat meyakinkn karena dirinya harus sesegera mungkin pulang dan mencari obat. Tapi, ada satu hal yang luput dia sampaikan pada Kayla.


"Apa? Kenapa kau selalu saja menyusahkan ku? Heeyy!!" Kayla melihat layar di ponselnya. Merasa sangat geram karena Raize sudah memutuskan sambungan telpon."dia bahkan tidak memberitahu ku sakit apa."


"Kayla?"


Suara yang sangat Kayla takuti, terdengar di belakang tubuhnya yang bersembunyi di balik pilar lorong. Dengan jantung berdebar kencang, dan keringat dingin bercucuran, Kayla berbalik.


"Kakek." Sebut Kayla gusar.


"Bukankah kamu sedang sakit?" Kakek Yaris tampak berdiri di belakangnya Vina seperti sedang menuntun kakeknya berjalan.


"Seharusnya, kamu jangan keluar-keluar kalau sakit, panggil saja pelayan." Timpal Vina.


"Iya. Tapi, sekarang aku sudah lebih baik." Jawba Kayla beralasan.


"Benarkah?"


"Uuummm.. iya," jawab Kayla ragu, selagi otak nya berpikir tentang sakit yang Raize jadikan alasan.


"Kalau begitu, kamu harus beristirahat. Pasti sangat tidak nyaman jika berjalan jalan seperti ini." Saran kakek berjalan mendekat.


"Iya kek, aduh, kepalaku..."


Kakek Yaris tersenyum tipis."kepalamu sakit?"


"Iya kek, sedari tadi aku pusing dan tubuhku panas." Aku Kayla berbohong dan berakting layaknya orang sakit kepala.


"Oohh,, kasihan sekali." Kakek Yaris lalu menoleh pada Vina."Vin antarkan kakak iparmu ke kamar."


"Baik, kek."

__ADS_1


__ADS_2