
"Kenapa kamu jadi begitu picik? Apa yang kamu takutkan? Justru menarik jika dia ada di sini. Lagi pula, jika istrimu setia, dia tak akan berpaling pada mantan suaminya."
Rocky Tertawa, "aku akan menyingkirkan apapun yang membuka peluang dia tidak setia. Termasuk, mantan suaminya."
"Rocky, jangan berlebihan, dia bisa saja justru menjauh dari mu jika kamu terlalu posesif." Kakek Yaris memperingatkan.
"Bukan posesif kakek, aku hanya menghujaninya dengan cintaku." Rocky mengambil langkah untuk keluar dari ruang kerja kakeknya.
Tangan itu sudah menyentuh handel. Dan berhenti sesaat. Rocky menoleh.
"Aku tidak ingin melihat laki-laki itu berada di sekitar Uwais. Jika dia masih ada di sini, Uwais tidak akan pernah ada di sini."
Kakek Yaris terkekeh, "Aku justru ingin dia menjadi pengasuh cucu ku."
"Tidak akan kubiarkan kek."
"Setiap orang pernah berbuat salah, Rocky. Setidaknya beri dia sedikit kesempatan untuk berubah. Jika berulah, aku sendiri yang akan mengambil tindakan."
Mengabaikan ucapan kakeknya, Rocky memilih membuka pintu, dan keluar meninggalkan sang kakek sendiri di dalam sana.
Sementara itu, Ayla dan Uwais berkutat di dapur. Rocky memang sengaja meminta Ayla mengajak Uwais serta. Dengan tujuan agar Uwais tidak berinteraksi dengan Alfa. Walau Rocky sangat percaya diri, namun ia masih memiliki ketakutan jika pertemuan dengan Alfa bisa menciptakan kedekatan antara Alfa dan Uwais juga Ayla.
"Bagaimana makan malam ku? Apa sudah siap?" Tanya Rocky mendekat.
"Unda cuma goreng tempe sama telur dadar." Jawab Uwais sedikit merajuk, padahal ia sangat ingin makan pergedel. Tapi, Ayla tak mau karena terlalu lama.
Roxy tertawa kecil melihat bibir manyun Uwais lalu mencubit bibir monyong itu dengan gemas.
"Kamu Ingin makan apa, is?"
"Pergedel." Jawab Uwais bersemangat.
"Ayo kita buat pergedel." Rocky ikut bersemangat, meski ia sendiri tak tau bagaimana cara membuatnya.
Ayla memutar matanya malas, ia sudah tau pasti pembuatan pergedel itu akan melibatkan dirinya. Dan benar saja, lebih banyak Ayla yang mengerjakan pembuatan pergedel itu sementara dua orang prianya hanya mengacau saja. Beruntung hanya membuat dua porsi pergedel ukuran sedang. Sehingga, Ayla tidak perlu lebih lama berlelah-lelah.
Seusai makan malam. Rocky langsung membawa Ayla dan Uwais pulang. Sesampainya di kediamannya, Ayla langsung menidurkan uwaisy. Sedangkan Rocky memanggil Pitung ke ruang kerjanya.
"Siapkan seorang supir untuk antar jemput Uwais ke sekolahnya." Rocky memerintahkan kepala pelayan Pitung untuk memilih sopir untuk mengantar jemput Uwais.
Pitung terperangah, seingat dirinya, kakek Yaris sudah menyediakan seorang supir pribadi untuk Uwais, namun, kenapa sekarang tuan Rocky justru meminta supir untuk bocah itu.
"Uwais harus pulang dan berangkat dari rumah ini. Tidak ada cerita ia mampir dulu ke rumah kakek Yaris. Kamu mengerti?" Rocky menegaskan.
__ADS_1
"Baik."
Setelah memberi perintah, Rocky masuk ke kamar nya di sana Ayla sudah menunggu. Di atas peraduan, pasangan yang baru saja menikah itu berbaring sembari saling berpelukan.
Rasa ragu menghinggapi Ayla. Ia ingin menanyakan perihal apa yang di lihatnya tadi di rumah kakek Yaris. Namun, ia tak tau bagaimana reaksi Rocky nanti. Ayla sadar pasti Rocky juga mengetahui hal itu. Mungkinkah ia juga menunggu Ayla membahasnya? Entahlah, Ayla tak tau.
Rocky semakin mengeratkan pelukannya, bayangan akan Alfa yang tiba-tiba hadir dalam hidup mereka saat Rocky mulai merengguk kebahagiaan. Membuat Rocky tak rela jika Alfa sampai mengacaukan segalanya. Ia tak akan sanggup jika kehilangan Ayla atau pun Uwais.
Kedua anak manusia itu belum terlelap, sibuk dengan pikiran masing-masing tentang hal yang sama. Alfa.
Malam ini, Ayla merasa Rocky sedikit tenang. Tidak menuntutnya untuk melayani seperti malam-malam sebelumnya. Justru hanya memeluknya dengan erat dan hangat. Merasakan kecupan kecil di ubun-ubun nya berulang kali, Ayla sadar, Rocky mungkin mengalami kegelisahan yang sama. Hingga ia memberanikan diri untuk memulai percakapan.
"Daddy..."
"Heemmm?"
"Sepertinya, aku melihat mas Alfa tadi di rumah kakek Yaris."
"Itu memang dia."
Ayla mendongak menatap wajah suaminya."benarkah? Kamu tau?"
Rocky tersenyum kecut."bagaimana menurutmu?"
"Kenapa dia bisa ada di sana? Apa tadi kamu membicarakan nya dengan kakek Yaris?"
"Apa kata kakek?"
"Kakek bilang, hanya ingin membalas budi."
"Dengan memperkerjakan nya?"
Rocky mengangguk samar, "iya. Kakek bilang, dia kesulitan mendapatkan pekerjaan sebagai mantan napi."
Ada rona kecewa di wajah Ayla. Sesunguhnya, ayla sendiri tak ingin lagi berurusan dengan Alfa. Namun, entah kenapa, semua malah berjalan seperti ini.
"Kenapa?" Tanya Rocky yang menangkap kegelisahan Ayla.
"Aku... Tidak ingin terlibat apapun dengannya lagi."
Roxy merasa lega mendengar pengakuan Ayla. Setidaknya ia tau istrinya itu tidak akan terjebak oleh cinta masa lalu.
"Aku akan mengatur agar kalian tidak berinteraksi dengannya."
__ADS_1
"Apa kamu berencana untuk memecatnya?"
"Bukan aku yang memperkerjakan nya. Aku tak bisa lakukan itu." Jelas Rocky. "Tapi, aku sudah memerintahkan pada Pitung agar Uwais berangkat dan pulang ke rumah ini. Dengan supir kita."
"Walau aku masih merasa sedikit kecewa pada mas Alfa, tapi, aku juga tidak tega jika dia sampai di pecat. Bukankah dia juga kesulitan mencari pekerjaan?"
"Heemm..."
"Aku jadi teringat dengan Bu Ingrid. Bagaimana nasip sekarang?" Gumam Ayla tiba-tiba bayangan mantan ibu mertuanya itu terlintas di kepalanya.
"Tidak usah memikirkan keluarga itu. Kamu istri ku sekarang." Ucap Rocky mengerat lagi pelukannya."Tidurlah,"
Ayla tersenyum, lalu menyaruk ke dalam dada suaminya.
Keesokan paginya, Uwais diantar oleh supir yang sudah di siapkan Rocky. Saat pulang pun, Uwais juga di jemput oleh supir itu dan kembali ke kediaman Rocky. Sementara Alfa yang tidak mendapat pemberitahuan, baru saja memarkirkan kendaraannya di depan playgrup Uwais menunggu hampir dua jam lamanya dan sekolah itu benar-benar sudah sepi.
Merasa sangat janggal, dan gelisah. Alfa mencegat seorang guru yang kebetulan hendak pulang.
"Permisi!"
"Iya?"
"Ummm... Apa semua murid sudah pulang? Kenapa sudah sepi sekali."
"Iya benar. Sudah pulang semua."
"Uwais juga?"
Kening guru itu mengernyit. Tersirat tanya di wajahnya.
"Uummm... Saya supir nya yang di tugaskan untuk menjemput."
"Setau saya, Uwais sudah pulang di jemput bundanya."
"Apa?"
Wajah Alfa berubah Seketika. Rasa kecewa jelas terlihat di sana. Pria itu mengusap wajahnya kasar. Apa dia sudah ketahuan?
Dengan gontai dan tiada semangat, Alfa kembali ke kediaman Tuan Yaris. Melihat Alfa yang lesu dan kembali seorang diri, tuan Yaris tersenyum. Ia sangat yakin jika Rocky benar-benar memegang kata-kata nya.
"Kenapa kamu lesu begitu? Dimana Uwais."
"Maaf tuan, tuan muda Uwais sudah di jemput oleh bundanya."
__ADS_1
Kakek Yaris mengulas senyum. "Begitu ya? Lalu kenapa kamu terlihat sangat kecewa, Alfa?"
Alfa bungkam, gelisah terus melanda sejak ia tau Uwais di jemput oleh bundanya. Ketakutan akan kehilangan pekerjaan dan kesempatan bertemu Uwais menguasai hati dan pikirannya.