Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 87


__ADS_3

"Aku bisa membantu, tapi, mungkin hanya sekali."


"Tidak usah macam-macam kamu lagi hamil. Aku tak mau anak kita kenapa-kenapa." Tolak Rocky mengeratkan pelukannya.


Penolakan Rocky membuat Ayla tersenyum, pria yang selalu membuat nya kuawalahan dan berpikir jika Rocky seorang hypersseeks itu. Kini berubah menjadi lebih perhatian dan tidak memaksakan keinginan biologis nya. Perubahan yang membuat Ayla sedikit bernafas lega. Setidaknya selama tiga bulan ini, ia bebas.


Keesokan harinya, Ayla mengalami mual hebat. Sepanjang pagi hanya memuntahkan isi perutnya. Bagi Rocky ini untuk pertama kali nya melihat wanita semenderita itu. Ia sangat frustasi sampai berkali-kali menjambak rambutnya. Tak kuat melihat Ayla bolak balik ke kamar mandi dan muntah.


"Baby, mungkin sebaiknya kita ke rumah sakit saja." Pinta Rocky setelah membantu Ayla berbaring di atas peraduan.


"Aku tidak apa-apa. Ini biasa dialami seorang ibu hamil di awal-awal kehamilan."


"Tapi ini keterlaluan, sudah lebih dari lima kali kamu muntah di kamar mandi." Ucap Rocky di liputi kecemasan."Kita kerumah sakit saja, ya?"


Ayla menggeleng. Ia jadi teringat saat dulu hamil Uwais. Ia harus kuat-kuat, Alfa saat itu memang menjadi suami siaga juga. Tapi, karena mereka memang dalam kondisi finansial yang tidak baik. Ayla berusaha sekuat mungkin di minggu-minggu pertama kehamilan, karena keadaan. Dan masih harus bekerja.


"Sudahlah, ke rumah sakit juga paling cuma dapat obat pereda mual. Aku sudah dapat, aku minum obat saja." Ucap Ayla mencoba menenangkan suami yang sudah overthinking.


"Obat pereda mual. Kamu yakin ini membantu?" Tanya Rocky sedikit ragu mengambil obat di atas nakas.


"Itu sudah sesuai resep dokter. Untuk apa ke rumah sakit jika kamu meragukan seorang dokter."


Terdengar suara helaan nafas panjang, sebelum Rocky berucap dengan lemah, "baiklah."


Ayla mengulas senyumnya. Melihat sang suami yang pasrah tak daya itu, ia menyentuh pipi Rocky.


"Terima kasih karena sudah begitu perhatian dan cemas. Kami tidak apa-apa. Hal ini di sebut morning sickness. Hanya di awal kehamilan dan pagi saja begini, jika sudah masuk jam 10 ke atas aku akan terlihat normal." Ayla menjelaskan, "dulu waktu, hamil Uwais juga begini. Dan aku juga masih sanggup bekerja."


"Benarkah?"


"Kamu tidak percaya?" Ayla bertanya balik, "bagaimana jika, kamu bolos sampai jam 10 pagi."


"Uumm... Ada meting hari ini, tapi, aku bisa menundanya. Bagaimana kalau aku ambil libur."


Ayla mencubit pipi Rocky, "libur apa? Untuk apa libur?"


"Tentu saja menemanimu..."


"Tidak perlu, aku baik-baik saja, jangan berlebihan. Sana kerja! Anakmu ini butuh uang untuk masa depannya." Omel Ayla menyentuh perutnya yang masih rata.


Rocky tertawa kecil, tau-tau ia sudah menautkan bibirnya dengan milik Ayla.

__ADS_1


###


Pagi itu di mansion kedua yang di tempati Raize. Sarapan pagi terasa sangat tenang, hari ini Raize libur. Ia memutuskan untuk tinggal di rumah saja. Meski biasanya, Raize pasti keluar bersama pasangan kencannya.


Kakek Yaris melirik Raize, lalu berganti memandang Kayla.


"Apa hari ini kamu libur, Raiz?"


"Heemmm..." Raize menjawab dengan deheman.


"Kalau begitu, bagaimana jika kita ke kebun binatang? Rasanya sudah lama tidak lihat binatang." Ungkap kakek Yaris."mumpung Vina juga masih di sini."


"Binatang? Di belakang ada binatang, lihat itu saja, kek." Ucap Raize enteng sembari menyuap sarapannya.


Kakek Yaris yang geram pada cucunya yang satu ini. Tentu saja, langsung melempar sendok ke wajah Raize.


"Aduuh!" Raize mengasuh sembari mengusap-usap keningnya sakit."Kakek! Ini kekerasan! Beri aku seratus juta."


"Apa?" Mata kakek melotot pada cucunya."Tidak ada! Satu sen pun tak akan ada untukmu."


Vina dan Kayla tak dapat menahan tawa lagi, mereka cekikikan di waktu yang bersamaan.


"Kalian." Geram Raize menatap kesal dua wanita yang kini mati-matian menahan tawa dengan bahu berguncang itu.


Kayla terlihat ragu, ia memandang Raize seolah bertanya bagaimana? Tapi pria itu hanya diam dan tak mengatakan apapun.


"UMM, baiklah." Ucap Kayla menganggukan kepalanya, sudah lama juga dia tak pergi ke kebun binatang.


"Okey, semua nya setuju. Jadi setelah sarapan kita berangkat." Cetus Vina bersemangat.


Dalam perjalanan, Raize beberapa kali melirik Kayla yang duduk di jog belakang. Gadis itu tengah bercengkrama dengan Vina. Meski berbeda mereka terlihat sangat akrab. Entah apa saja yang di bicarakan. Mungkin juga karena mereka seumuran, hingga pembicaraan mereka selalu nyambung.


Dua gadis cantik dengan warna kulit yang berbeda itu membeli snak kemasan sebagai camilan di perjalanan. Berjalan beriringan, sedangkan sang kakek dan Raize mengekor kedua nya di belakang.


"Apa lebamnya sudah mendingan?" Tanya kakek Yaris yang masih merasa bersalah.


"Sudah,"


"Syukurlah."


"Apa kamu sudah memberitahu ayah dan ibumu?"

__ADS_1


"Tentang apa?" Raize bertanya balik sembari meminum mineral dari botol.


"Pernikahan."


"Uhuuukk...." Seketika mineral itu menyembur dari mulut Raize.


"Kenapa kamu bereaksi seperti itu? Pernikahan tentang dua keluarga besar. Jangan sampai ayah dan ibumu marah karena kamu menikah tanpa restu dari mereka. Apa saat Kayla menikah dia bersama keluarganya?" Cecar kakek Yaris.


Raize terdiam, bagaimana mau menjawab jika pernikahan mereka saja hanya bohongan. Hanya buku nikah yang di palsukan.


"Tidak, orang tua Kayla tidak ada."


Kakek Yaris beranggapan jika ayah dan ibu Kayla sudah meninggal. Itu membuat kakek Yaris semakin prihatin. Meski begitu, kakek Yaris masih menyimpan tanya. Dan jawaban untuk itu, ia harus menunggu penyelidikan dari orang suruhan nya.


Saat sedang asyik dengan pembicaraan antara Raize dan kakek Yaris, tanpa sengaja Raize melihat Kayla sedang berbincang dengan seorang pria. Dan itu cukup akrab. Ada rasa lain yang sulit ia terjemahkan.


"Kayla!"


"Ooh, mas Avan?" Kayla berbalik menyapa mantan bos kakaknya itu. Lalu saling bertukar salam.


"Kamu sama Ayla kemari?"


"Enggak." Jawab Kayla sedikit was-was melihat sekitar, karena cemas jika sampai Vina ada di dekatnya. Beruntung gadis cantik itu sedang asik memfoto beberapa satwa."Mas Avan sendiri?"


"Enggak, aku bareng ibuk sama bapak. Kebetulan pas lagi longgar semua, skalian refreshing." Jawab menunjuk beberapa orang yang sedang melihat gajah.


"Oohh,"


"Kamu sama siapa di sini?"


"UMM, sama..."


"Suami." Suara Raize yang tiba-tiba berada di samping Kayla dan merangkul pundak gadis itu. Tentu saja, Kayla langsung menatap nya dengan protes.


"Kamu udah nikah?"


"Enggak mas, itu sebenarnya..." Kayla mencoba menjelaskan, namun Raize sudah memotongnya lagi.


"Iya, maaf, tidak memberimu undangan, karena kamu bukan orang yang di anggap penting."


Kayla yang sudah kesal menginjak kaki Raize hingga mengaduh kesakitan.

__ADS_1


"Bukankah kau seharusnya bersama Kakek Yaris, tuan?"


__ADS_2