Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 98


__ADS_3

"Aku udah makan tadi, kamu saja yang makan." Kayla menolak saat Raize menyuapinya sekali lagi.


"Enggak enak makan sendiri. Ayo buka mulutnya." Titah Raize terus menyodorkan ayam kecap hingga menyentuh bibir Kayla.


Gadis cantik itu menggeleng tegas. "Aku masih kenyang, aku hanya mengembalikan apa yang kamu beri. Tadi pagi kamu menyempatkan diri membuatkan ku sarapan. Jadi, aku membuatmu ini, jadi kita impas."


Raize tersenyum kecil lalu menggigit ayam itu sendiri karena Kayla tak kunjung membuka mulutnya.


"Aku harus pergi." Pamit Kayla beranjak dari duduknya.


"Mau kemana?" Tanya Raize, matanya ikut melihat Kayla yang berdiri hingga Raize sedikit mendongak.


"Kamu lanjutkan saja makannya. Aku ada janji dengan mbak Ayla."


"Baiklah."


"Nanti aku jemput, aku nggak seharian kok hari ini paling ntar jam empat sore sudah pulang."


"Nggak usah, lagi pula ada beberapa hal yang mau aku lakukan." Tolak Kayla melangkah dan membuka pintu ruangan Raize.


Tepat saat itu, dokter wanita yang tadi berdiri depan pintu dengan wajah cemas. Sampai Kayla terperanjat di buatnya.


"Raiz, ada hal mendesak. Pasien kamar 051 kambuh." Ucap dokter wanita itu menerobos masuk saat Kayla memiringkan tubuhnya agar sang dokter bisa lewat.


"Baiklah, aku cuci tangan dulu." Raize menutup semua box makanan Kayla. Lalu mencuci tangan dan berjalan menyusul dokter wanita yang lebih dulu pergi.


Saat Raize melewati Kayla pria itu mencium pipi wanitanya, "ingat pesanku tadi, nanti sore aku jemput."


Kayla hanya menjawab dengan anggukan samar. Menatap punggung Raize yang berlarian di lorong. Kayla secara reflek bergerak mengikuti suami bohongan nya itu. Entah kenapa ia sedikit merasa penasaran. Langkah kaki Kayla perlahan memelan, dan bergerak mendekat ke sebuah ruangan di ujung lorong.


"Dia cukup profesional dalam bekerja." Gumam Kayla saat ia mengintip dari celah pintu ruangan yang Raize masuki bersama dokter wanita itu. Mereka memang terlihat sangat sibuk menangani seorang pasien yang terbaring di atas bankar.


Kayla terpana melihat kesibukan Raize dalam menangani pasiennya. Sangat berbanding terbalik dengan sikap menyebalkan dan gila pria itu. Benar-benar sangat profesional. Hingga suara dering di ponsel Kayla terdengar samar dan bergetar. Gegas Kayla merogoh kantong celananya. Lalu menjauh dari pintu agar tak mengganggu kegiatan para dokter yang tengah menangani pasiennya. Meski saat Sura dering dari arah pintu sempat membuat Raize menoleh karena cukup hapal dengan nada dering milik Kayla itu. Namun, dengan cepat Raize berusaha fokus pada pasiennya.


Kayla melangkah di lorong rumah sakit, melihat layar di hp, kontak dari Ayla terlihat jelas di sana.


"Assalamualaikum mbak Ayla."


("Wa'alaikum salam. Kamu di mana La? Mbak di kosan kamu, tapi katanya kamu udah pindah.")


Mata Kayla melebar, dan berlari keluar dari rumah sakit. "Mbak, kita ketemu di Kopi Manis aja."

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, di kafe Kopi Manis. Ayla duduk dan sudah memesan dua expreso dingin dan satu jus wortel kombinasi mangga untuk Uwais. Saat ia melihat Kayla di pintu masuk mencari keberadaan dirinya, Ayla langsung mengangkat tangannya melambai.


"Kayla! Sini!"


Kayla menoleh ke arah Ayla. Ia tersenyum lebar melihat Uwais dan kakaknya, dengan langkah cepat, Kayla mendekat.


"Udah mbak pesenin nih, expreso dingin." Ujar Ayla menunjuk minuman di bangku kosong sebrang dirinya duduk.


Kayla menjatuhkan bobotnya setelah menarik kursi di depan meja Ayla. Ia langsung menyeruput expreso dinginnya hingga habis setengah gelas. Ayla yang melihat kelakuan adiknya itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Udah lama mbak?"


"Udah, tadi kita ke kos bulik juga. Tapi, Bulik nggak ada." Celoteh Uwais dengan bahasa bocah nya.


"Iya ya? Maaf ya." Kayla mengacak rambut Uwais dengan gemas. Bocah empat tahun itu cemberut karena ulah bibinya.


"Kamu kos di mana sekarang, La?" Tanya Ayla serius pada sang adik.


"UM, tempat yang lebih murah sewa nya, mbak."


"Iya, di mana?" Kejar Ayla pada adiknya itu. Karena Kayla tak pernah seperti ini sebelumnya. Ia tak ingin sang adik salah langkah dan membuat malu keluarga.


"Mbak tu, nanya di mana, bukan nanya tarifnya, La!"


"Deket sini kok mbak."


"Dimana?"


"Iya sekitar sini."


"Oke, kalau kamu masih nggak mau bilang, nanti pulang kita ke kosan mu yang baru."


Seketika Kayla berubah pias. Bagaimana cara Kayla untuk bisa mengelabui kakaknya. Kepalanya terasa berdenyut kuat. Ia terus memikirkan cara agar kakaknya itu tidak melanjutkan niatnya.


"Bagaimana ini?" Pikir Kayla bingung.


"Kapan kamu wisuda?"


"Iya mbak?"


"Kapan wisuda?"

__ADS_1


"Dua Minggu lagi mbak, tanggal dua puluh."


"Bapak sama emak mau kemari, La."


Wajah Kayla kembali pias, jelas sekali dia kaget. Jika sampai emak dan bapak datang sudah pasti mereka akan menginap di rumah Ayla. Dan tentu saja tempat tinggal Kayla juga tak akan lepas untuk di kunjungi, atau mungkin bahkan menginap.


"Kamu kenapa sih? Kek orang banyak pikiran?" Dahi Ayla mengernyit melihat sang adik yang terlihat sangat bingung itu.


"Nggak mbak, cuma mikirin kalau emak sama bapak kemari, di mana mereka akan menginap?" Ucap Kayla mencoba berkilah, meski sebenarnya ia sendiri juga tau, pasti emak dan bapak pasti akan menginap di rumah Ayla. Tapi, bagaimana jika sampai mereka bertemu kakek Yaris di rumah Rocky? Lalu semua terbongkar. Kepala Kayla terasa berdenyut nyeri.


Udah, tenang aja, mereka bakal nginap di rumah Daddy Rocky. Embak juga dah diskusiin ini sama Daddy kok."


"Cie illeeeehh, sekarang dah manggil Daddy Rocky." Goda Kayla mencowel dagu kakaknya. Padahal Kayla sendiri sudah sangat gelisah. Gelisah jika semua terbongkar. Sudah pasti emak dan bapaknya akan sangat syok.


Ayla tersipu malu di goda begitu oleh adiknya. "Kamu juga La, bentar lagi kan dah wisuda. Cari calon suami yang baik."


Kayla terdiam sejenak, bagaimana reaksi kakaknya jika sampai tau. Kayla tak ingin memikirkannya, sungguh sangat berat.


"Iya mbak, Kayla mau kerja dulu, nyenengin emak sama bapak. Baru mikirin nikah."


Ayla tersenyum mendengar penuturan adiknya itu. Ayla sangat mengerti jiwa muda Kayla yang masih ingin mengekplor dunia.


"Ya udah, kamu masih punya uang nggak?"


"Kayla kan nggak kerja, gimana mau punya uang?"


"Bukannya kamu jualan online?"


Kayla tersenyum lebar, "Cuma sama teman kuliah aja kok mbak. Aku udah nggak COD an lagi." Jelas Kayla, karena memang ia tak punya kegiatan lain. Dari kediaman Raize sangat sulit mencari kendaraan. Untung yang di dapat dari keliling COD tidaklah sebanding dengan biaya transportasi nya.


"Nih," Ayla mengeluarkan beberapa lembar uang merah untuk adiknya. "Di cukupin ya buat dua Minggu."


Kayla tersenyum lebar. "Cukup banget mbak." Pekik Kayla senang, memeluk sang kakak setelah mengitari setengah meja.


"Iihh, anak manja, nggak usah peluk-peluk deh." Meski Ayla berujar begitu, ia tetap memeluk balik adiknya. Mengusap rambut lembut Kayla dengan sayang.


"Mbak, aku senang deh embak nikah sama Bang Rocky. Loyal, hahaha..." Celetuk Kayla tanpa malu memeluk kakaknya lagi."Dari pada sama mantan mbak yang itu, iiihhh..."


"Udah, nggak usah bahas lagi, kita balik ke kosan mu ya?"


"Eehh?"

__ADS_1


__ADS_2