
Bu Ignis menangis di depan rumahnya. Tampak dua orang petugas dari bank memasang plat rumah di sita. Rasanya, hancur sudah Bu Ignis. Harta yang tinggal satu-satunya kini di sita petugas bank. Akan kemana dia tinggal nanti? Alfa masih di penjara karena kasus menganiayaan dan baru akan keluar dua bulan lagi. Beruntung, pihak bank masih memberi tenggat waktu dan mengijinkan Bu Ignis untuk tinggal sementara sampai pelunasan cicilan.
Bu Ignis memijit pelipisnya yang terus berdenyut kuat. Seluruh beban dunia serasa jatuh di pundaknya. Ia tak menyangka, Alfa akan Setega itu sampai menggadaikan sertifikat rumah ke bank.
"Ini semua gara-gara pelakor itu. Waktu sama Ayla, nggak pernah Alfa sampai telat kasih jatah bulanan. Sekarang, malah sertifikat rumah melayang. Benar-benar pembawa sial!" Gerutu Bu Ignis mengupati Agya."Dia harus membayar semua ini. Al-fa! Bodoh sekali kamu!"
Bu Ignis menangis lagi dengan kelakukan anak sulungnya.
***
Ayla terperangah, melihat Roxy datang ke rumahnya bersama sang ayah yang baru pulang meronda. Pakaian keduanya hampir sama. Kaus putih yang di padankan dengan celana pendek tak lupa sarung yang melintang dari bahu hingga ke pinggangnya. Bedanya, pak Rohman memakai kaus hitam, selebihnya sama.
Roxy tersenyum melihat Ayla yang mematung menatapnya tanpa berkedip. Merasa tertangkap basah, Ayla segera memalingkan wajahnya Yang bersemu merah.
"Nggak cocok ya, pakai beginian?" Tanya Roxy menggaruk kepalanya.
"Cocok! Cocok! Kalau ganteng mah, mau di pakein apa aja tetap aja ganteng." Sahut tetangga samping rumah Bu Rohman. Sebut saja Bu Bardiah, berhubung di desa jadi pake nama kampung aja ya, nggak cocok kalau pake nama mobil. Wkwk. Eh, satire.
"Apalagi kalau nggak pake baju.... Uuuggghh.... Makin nggak kuat..." seloroh Bu Bar lagi terkekeh genit.
"Buk!" Suara seorang pria dari dalam rumahnya.
"Eehh, bapak, nggak godain kok pak, enggak, cuma basa basi sama calon tetangga." Sahut Bu Bar buru-buru masuk kedalam rumahnya.
"Ibuk ngomongin bapak ini, kalau nggak pake baju, nggak ngguwatin..." Samar masih terdengar suara Bu Bar.
Baik Ayla dan Roxy sama-sama tersenyum geli mendengar ocehan Bu Bar. Pak Rahman hanya menggelengkan kepalanya.
"Ayo masuk nak Roxy."
Panggilan mister sudah berubah menjadi nak. Mungkin juga, pria tua itu sudah menerima Roxy sebagai calon mantunya. Walau Roxy belum melamar secara resmi.
Sudah hampir tiga hari lamanya, Roxy rutin datang ke kampung Ayla. Bahkan dia ikut meronda dengan pak Rohman. Masih teringat dengan ucapan Ayla sebelum dirinya datang kerumah.
__ADS_1
Flash back dikit.
"Sekarang, aku anak bapak dan emak. Semua tergantung restu mereka." Ucap Ayla lirih.
"Kamu... Masih menyimpan rasa itu untukku kan, ay?"
Ayla hanya tersenyum, tanpa menjawab pertanyaan Roxy.
"Kalau perempuan pas di tanya itu diam dan tersenyum, itu artinya iya, tuan Roxy." Bisik supri yang tentu masih bisa Ayla dengar.
"Jadi, kalau aku bisa meluluhkan hati bapak dan emak. Apa kamu bersedia menikah denganku?"
"Iya. Iya..." Supri yang menjawab.
Ayla tersenyum mendengar nya. Yang di tanya siapa, yang menjawab siapa.
"Udah, nggak usah ragu mbak. Kasih semangat biar bisa luluhkan hati Mak dan bapak." Ucap Supri bersemangat, "saya jadi bisa liburan di sini. Hahaha..."
Ayla menatap wajah pria bule di depannya.
Seberkas harapan terbit di hati Roxy.
***
"Emak mau ke warung sebentar, kamu nggak usah ikut." Ucap Bu Rohman saat bapak meminta Roxy mengantar istrinya ke warung Ayla.
"Tapi, bapak bilang saya harus anter emak ke warung."
"Nggak papa. Emak biasa jalan kok. Lagian kamu nya juga nggak bisa bawa motor."
Roxy tersenyum kecut. Memang dia tak bisa mengendari motor. Jadi, Roxy hanya mengikuti Bu Rohman yang berjalan kaki ke warung Ayla. Melewati jalanan perkampungan yang aspal nya telah rusak hingga menerbangkan debu-debu. Namun tak menyurutkan langkah Bu Rohman dan Roxy.
"Huuuhh, ini bule kok bandel banget? Di suruh tunggu di rumah malah ngintilin, dikiranya bakal luluh nyerahin anakku apa?" Bu Rohman menggerutu.
__ADS_1
Sebuah kaca mata dan masker tersodor di depan wajahnya.
"Apa ini?"
"Banyak debu Mak, pake kaca mata biar nggak kelilipan, pake masker biar nggak batuk-batuk." Jawab Roxy sembari memasangkannya di wajah Bu Rohman.
"Eh, eh, apa-apaan ini?"
Roxy tersenyum dengan omelan dari calon mertuanya.
"Di kiranya aku bakal luluh apa di kasih beginian? Orang kampung, nggak usah gaya-gaya pake kaca mata dan masker..."
"Waahh, Bu Rohman... Udah akrab aja nih sama calon mantu...." Sapa salah satu tetangga kampung beda RT yang kebetulan jalan depan rumahnya menjadi jalur Bu Rohman menuju warung Ayla."ati-ati loh buk, nanti malah Bu Rohman pulak yang kesemsem. Calon mantunya gemes gitu... Sampai di pakein kacamata sama masker."
Kehadiran Roxy terlalu mencolok di kampung itu. Hingga hampir seluruh warga kampung tau.
Bu Rohman melengos. "Ambil saja nih... Aku nggak suka punya mantu bule."
"Beneran buk? Mas mister! Sini aja." Sembari melambaikan tangan.
Sebenarnya geram juga Roxy pada calon mertuanya. Tapi, dia sendiri ingin bertemu Ayla. Bisa antar mertua untuk meluluhkan hati sekaligus bertemu Ayla. Harusnya, ini kesempatan yang menyenangkan.
Sesampainya di warung, ibuk hanya mengobrol sebentar dengan Ayla. Ibu yang memang tidak suka jika melihat Roxy dan Ayla dekat sebentar saja sudah mengajak uwais pulang. Dan tidak membiarkan Roxy sekedar bersapa dengan anaknya.
Dalam perjalanan pulang, Uwais lebih sering bergelayut dengan Roxy. Bu Rohman berjalan di depan sementara Roxy dan Uwais di belakang. Entah bercanda apa. Yang jelas Bu Rohman tak suka. Roxy bahkan sudah mengambil hati cucunya.
"Uwais sini!" Panggil Bu Rohman,
"apa Mbah?"
"sini cepet! Simbah ada sesuatu buat kamu." bohong emak, hanya agar Uwais tak terlalu dekat dengan Roxy.
Dengan cepat Uwais berlarian ke arah neneknya.
__ADS_1
Sayang, di waktu yang bersamaan sebuah motor menyerempet tubuh mungil itu hingga jatuh terguling.
"Uwais!"