
Suasana terasa sangat canggung dan hening. Bagi kakek Yaris yang memang sudah memakan asam garam kehidupan, tentu sudah tau dari awal pertemuannya dengan Ayla. Pria tua itu bahkan sudah menelusuri sampai jauh, tak terkecuali tentang Alfa yang berselingkuh dan juga apa saja perbedaan mereka. Sedangkan Raize, dia memang orang banyak tau karena lebih dulu tinggal di negara yang hijau ini.
Sebenarnya bukan pertama kalinya Roxy melihat wanita berjilbab. Hanya, ia memang tidak terlalu memikirkan nya, karena menganggap itu hanyalah aksesoris penunjang penampilan. Selama ini dia memang tinggal di negara asalnya, baru Satu tahun terakhir tinggal negara tercinta ini. Terlalu sibuk dengan dunia bisnisnya hingga tak fokus pada hal-hal yang dianggapnya tak penting.
Roxy masih terus memandang punggung Ayla yang semakin menjauh dengan segudang kecewa dan tanya.
Raize menenggak cairan dari botol hijau di tangannya. Lalu bersuara; "Kau tidak mencari tau apapun tentang nya, ya?"
"Apa maksudmu?" Roxy balik bertanya.
"Seperti kamu tidak terlalu tau banyak tentang keyakinan nya." Balas Raize, "aku tau kamu sudah mencari tau tentang hidupnya, tapi sepertinya kamu luput pada satu hal yang terpenting."
Raize meletakkan botol hijau itu di atas meja lalu melangkah melewati Roxy."keyakinannya. Sebelum melangkah lebih jauh, Selami dulu itu, apalagi kulihat dia cukup teguh dengan keyakinannya. Selamat berjuang, sepupu. Aku pulang."sambungnya berlalu pergi.
"Kau memang payah Roxy. Kakek pulang."pamit kakek Yaris ikut melangkah memasuki bangunan utama.
"Kakek tidak keberatan dengan hubungan kami?"
"Hubungan apa? Kamu bahkan tidak menunjukan perkembangan apapun." Tukas kakek Yaris tanpa menoleh, "Kamu sudah dewasa, harusnya bisa mengambil keputusan yang bijak. Kakek tidak mau ikut campur."
****
Roxy berjalan ke mes para pekerja. Di sana, Ayla sedang memberi Uwais sebuah roti. Sengaja Roxy sedikit menyembunyikan dirinya.
"Kamu masih ingat dengan pesan bunda saat kita masuk kemari?" Tanya Ayla dengan lembut pada anaknya yang kini duduk di dekat kolam air mancur.
"Jangan menerima makanan apapun kecuali dari bunda." Jawab bocah polos itu.
"Pintar, anak bunda ternyata masih ingat. Tadi, kenapa Uwais mau menerima makanan dari tuan Roxy?"
"Tapi unda, Daddy hanya menyuapiku."
"Benar, tapi apa yang tuan Roxy berikan padamu tidak boleh kita makan."
"Kenapa unda? Itu tak ada racunnya."
Ayla tersenyum mendengar ucapan polos anaknya. "Uwais, racun itu tidak terlihat, seperti bakteri. Kita baru akan tau setelah menelannya."
"Tapi, Daddy tidak apa-apa memakannya."
"Benar, Daddy tidak apa-apa, tapi, dalam agama kita, kita tidak boleh memakannya. Apa yang dilarang itu ada hal buruknya, hanya kita tak tau apa. Mungkin saja, dalam sini..." Ayla menyentuh perut Uwais dan menggelitik nya."ada monster yang tumbuh dan siap memakanmu..."
Uwais tergelak geli dengan glitikan bunda nya.
"Jadi, lain kali, kalau ibu bilang jangan, artinya tidak boleh. Huuum?"
"Iya unda...."
Roxy terdiam, lalu ia melangkah menjauh dan memasuki dapur. Di sana dia bertemu dengan Selia.
"Ada apa, tuan?"
__ADS_1
"Ada yang ingin aku tanyakan."
Selia mengangguk sebagai jawaban.
"Ayla dan Uwais, apa mereka punya makanan khusus selama di sini?"
Selia terdiam sejenak,
"Nona Ayla memang selalu masak untuk makanannya sendiri." Selia menjelaskan, saat Roxy menemuinya di area dapur.
"Benarkah?"
"Nona Ayla bahkan menyisihkan alat masak dan piringnya sendiri." Lanjut Selia mengingat,"untuk Uwais juga..."
Roxy tersenyum kecut.
"Bagi anda mungkin itu berlebihan, nona Ayla itu seorang muslim. Mereka memiliki beberapa jenis makanan yang tidak boleh di konsumsi. Seperti, babi, dan juga minuman beralkohol." Jelas Selia lagi, "sebenarnya, masih ada banyak lagi tuan, tapi saya tidak terlalu tau pasti. Saya hanya tau secara umum nya saja. Jika ingin lebih jelas, tuan bisa bertanya pada Supri. Mereka seiman."
"Baiklah, terima kasih."
"Senang bisa membantu anda."
Roxy termenung di balkon kamarnya. Ingatnya terlempar pada beberapa waktu yang telah lewat.
"Ini hanya roti, kenapa kamu tidak mau?" Tanya Roxy kala itu, saat Uwais menolak pemberian dari dirinya.
"Unda bilang, jangan menerima makanan apapun dari orang lain."
Roxy memberikan roti yang di gigit nya tadi pada Uwais. Bocah menggemaskan itu pun menerima nya dengan riang dan memakannya sampai habis.
"Enak dad." Ucap bocah itu mengacungkan jempolnya.
Roxy tersenyum melihat wajah bahagia Uwais. Ia pikir Ayla melarang karena tak ingin ada orang yang berniat jahat pada anaknya dengan mencampurkan sesuatu di makanan. Tapi, Roxy salah. Mereka memang memiliki banyak perbedaan.
Kembali ke masa kini,
Tangan Roxy bertumpu pada pinggiran pembatas balkon. Lalu, ia mengangkat tanganya, mengusap dan menyembunyikan wajah tampan itu di sana. Setiap kali memikirkan perbedaan yang menjadi alasan Ayla selalu menolak, membuat Roxy kesal.
Roxy melihat jam yang melingkar di lengan. Sudah waktunya makan malam. Roxy berjalan menuju meja makan. Sudah ada Ayla dan Uwais yang duduk di sana. Janda cantik itu sedang meletakkan dua piring berisi ikan dan sayur di meja depan mereka duduk. Mereka memang biasa makan bersama, seperti permintaan Roxy sebelumnya, untuk selalu menemani saat ia makan.
Roxy menarik kursi, duduk di kepala meja dan melihat isi meja. Tidak ada yang berbeda. Roxy menutup matanya dan mulai berdoa. Lalu ia membuka matanya.
Dua orang di sisi kirinya juga sedang berdoa. Roxy tersenyum kecut. Ia baru menyadari, cara berdoa mereka berbeda. Dan dia memang mengabaikan itu. Baginya, bisa tinggal bersama, hidup bersama, makan bersama. Mereka tetap bisa berdampingan meski berbeda. Sungguh naif.
Ditengah makan malam mereka yang hening.
"Unda..."
Roxy melihat ke arah Uwais. Bocah itu menunjuk makanan di depan Roxy. Ayla melihat ke arah yang uwias tunjuk, lalu tersenyum.
"Jangan, yang ini saja. Ini juga enak." Ayla mengambil sepotong ikan di piring yang terpisah. Tepat berada di depan Uwais duduk. Lalu meletakkannya di piring Uwais. Bocah itu diam menurut.
__ADS_1
"Kenapa?"
Ayla melihat ke arah Roxy.
"Apa kalian tidak boleh makan makanan ini juga?"
Ayla tersenyum kecil. Tanpa menjawab lalu melanjutkan makannya.
Kesal? Tentu saja, Roxy selalu di bikin berpikir keras dengan sikap Ayla yang selalu memilih tersenyum sebagai penjawab pertanyaan nya.
****
"Supri!"
"Iya tuan?"
"Kenapa kamu menolak saat aku memberi makanan tadi ?" Tanya Roxy tanpa mau berbasa basi. Ia harus menuntaskan rasa penasarannya.
"Bagi agama kami, itu haram, Tuan."
"Haram?"
Roxy tersenyum getir. "Ceritakan semua hal tentang yang kalian yakini."
Supri tersenyum simpul,
"Saya bukan orang yang pandai agama tuan. Hanya saya hanya melakukan perintah dan menjauh larangannya, sebisa mungkin. Tuan bisa bertanya pada yang lebih berilmu jika tidak puas dengan jawaban saya."
"Baiklah."
"Apa yang ingin tuan tanya lebih dulu?"
"Semua, mulai dari awal."
****
Pagi itu, Roxy bangun lebih pagi dari bisanya. Berjalan menuruni tangga, lalu menuju dapur. Di sana dia berhenti di ambang pintu dapur. Suasana yang sibuk adalah hal yang lumrah. Mata Roxy berkeliling mencari Ayla.
Seketika aktivitas menjadi terhenti begitu sang koki menyadari kehadiran Roxy. Ketika mereka hendak menyapa Roxy mengisyaratkan untuk tetap melanjutkan aktivitas. Roxy mengayunkan kakinya saat melihat sosok yang dia cari sedang mencuci sayur.
Roxy terdiam, menikmati aktifitas Ayla yang memasak di dapur. Setiap pergerakan dari tubuh Ayla menarik minat tersendiri baginya. Pikiran Roxy melayang jauh, dengan setiap penjelasan dari Supri. Hal mendasar yang boleh dan tidak boleh.
Begitu banyak perbedaan diantara mereka. Dan yang paling mengusik hati dan pikiran Roxy hanya satu. Tak bisa menikah dalam perbedaan yang ada.
("Dalam hal ini, akan di anggap tidak sah, bahkan zina jika menikah dengan orang yang tidak seiman." Suara Supri menutup penjelasannya kala itu.
"Mengingat kepribadian mbak Ayla, maaf tuan Roxy. Sepertinya, anda harus menyerah, atau..." Supri menggantung kalimatnya menatap ragu pada tuannya.
"Atau?"
"Atau anda mengikuti keyakinan kami..." )
__ADS_1