
Dua bulan kemudian,
Ayla sibuk dengan jualannya di warung makan. Melayani pelanggan dengan ramah dan senyum. Memang belum terlalu ramai, karena baru dua bulan di rintis. Tapi cukup jika untuk menyambung hidup.
Selama dua bulan itu pula, ia sudah putus kontak dengan Roxy. Sekalipun berkirim pesan sudah tak pernah.
Sembari manata hati dan pikirannya, sembari menata lagi hidupnya. Ayla hanya menyibukkan diri dengan berdagang, sembari mengasuh Uwais. Dan tentu saja mendekat pada Penciptanya.
Di belahan bumi yang lain, Kakek Yaris merasa sangat sepi di acara perjamuan akhir tahunnya. Meski ada banyak tau Yang datang dan memberinya ucapan.
Raize datang seorang wanita muda yang cantik. Mengenakan gaun berwarna biru laut, terlihat indah tanpa menampakkan lekuk tubuhnya. Dan rambut panjang yang di biarkan teurai, di bagian ujung rambutnya sedikit dibuat keriting menggantung.
Kakek Yaris menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Siapa dia?"
"Tentu saja pacarku. Kakek bilang aku harus membawa wanita, bukan?" Jawab Raize santai merangkul bahu wanita di sampingnya. Namun, wanita itu segera menyingkirkan tangan Raize yang nakal dari pundaknya.
"Oohh, benarkah? Dia bukan wanita bayaranmu kan?"
"Bukan kakek." Jawab gadis itu tersenyum dengan sangat ramah."Tapi, jika ingin membayar, saya tidak menolak."
Kakek Yaris tergelak, suara tawanya bahkan sampai menggema di seluruh ruangan.
"Aku suka dengan mu, siapa nama mu, nak?"
"Cayla." Gadis itu menyodorkan tangannya untuk menjabat kakek Yaris.
Kakek Yaris pun menyambutnya. "Baiklah, katakan berapa dia membayarmu?"
"Dia tidak membayarku kek. Tapi, mengancamku...." Ucap Cayla setengah berbisik. Mata Raize melebar sempurna mendengar ucapan Cayla.
"Oohh, ya? Dengan apa dia mengancammu?" Selidik kakek Yaris penuh minat.
"Dia menjadi dosen di tempatku, dan akan mempersulit ku jika tidak menurut." Bisik Cayla mengadu.
Kakek Yaris tergelak lagi, "Kau memang licik, Raize!"
__ADS_1
"Kakek percaya padanya?"
"Yaahh, karena kau berusaha menipu kakek, jadi warisan kakek akan jatuh ke tangannya, kecuali kau menikah dengan nya." Kakek Yaris menunjuk Cayla,"dan kamu, tak akan bisa mendapatkan apapun jika tidak menikah dengan cucuku."
"Tidak masalah bagiku." Ucap Cayla enteng.
"Kamu mengerti ucapan ku kan? Tidak akan mendapatkan apapun." Kata kakek Yaris lagi dengan menekan kalimat terakhir. Lalu pria tua itu berbalik dan tertawa senang.
Sedangkan Cayla tampak sangat terkejut, mengerti kata tak mendapatkan apapun dari kakek Yaris.
"Apa pun? Bagaimana dengan tugas akhirku?"
"Hahaha, apapun!" Raize menegaskan dengan tawa mengejek. "Kakek sialan!" Gumam Raize mengumpat sambil berlalu.
Cayla menghentak-hentakkan kakinya kesal. "Kenapa aku jadi terjebak dengan hal aneh begini?"
.
.
.
"Belum tuan."
Kakek Yaris merasa lelah jika memikirkan cucunya yang satu itu.
"Sepertinya, dia tak akan datang ke perjamuan kali ini." Keluh kakek Yaris dengan sorot mata sedih.
"Kakek!"
Kakek Yaris melihat kearah sumber suara yang memanggilnya.
Roxy berdiri dengan sebuket bunga di tangannya. Kakek Yaris mengukir senyum di wajahnya.
"Kenapa membawa bunga? Aku menyuruhmu membawa wanita."
"Sekarang bunga dulu, wanita nya tahun depan." Jawab Roxy enteng menyerahkan buket bunga yang di bawanya pada sang kakek.
__ADS_1
Kakek berdecak, "sebentar lagi tahun depan."
Roxy hanya mengulas senyum pasrah. Melihat cucunya begitu penurut, membuat kakek Yaris menghela nafas berat.
"Sudahlah." Ucap kakek Yaris sembari berbalik dan melemparkan bunga memberian Roxy pada pengawalnya.
"Maaf kek."
"Makanlah, walau perjamuan sebentar lagi selesai."
Roxy tertegun sesaat, "aku tidak makan kek. Masih ada hal yang harus aku lakukan."
Kakek menatap dalam cucunya itu. "Terserah."
.
.
.
"Supri!"
"Iya, tuan." Sahut Supri membukakan pintu mobil untuk tuannya.
"Ayo ke masjid Jamal."
"Baik."
.
.
.
Di masjid Jamal.
Supri melangkah pelan menapaki tangga serambi masjid. Sedangkan Roxy, melepaskan sepatunya dan meletakkannya berdampingan dengan sendal milik Supri. Seutas senyum terbit di wajah tampannya.
__ADS_1