
"Makasih ya Bri. Kamu baik banget deh sampe beliin aku macem-macem kek gini." Ucap Agya begitu keluar dari mobil Brio sembari melihat begitu banyak kantong belanjaan di tangannya.
"Santai aja," jawab Bri selepas mengantar Agya berbelanja dan menurunkannya di depan rumah."Toh kita sama-sama butuh."
Agya tersipu, menganggap itu pujian.
"Aku pergi ya."
Selepas Bri pergi, Agya berjalan riang menuju rumahnya.
"Siapa itu, gy?" Tanya tetangga Agya.
"Teman." Jawab Agya malas menanggapi tetangganya itu.
"Laki-laki itu, kan? Suami mu nggak marah?"
Agya yang malas melengos saja masuk ke dalam rumahnya. Dan menutup pintu rapat-rapat.
"Iihh males banget deh."
Setelah menata semua barang belanjaannya di dalam lemari khusus karena tak ingin Alfa tau dan menaruh curiga. Agya bergegas keluar dari kamar. Agya terkejut, begitu membuka pintu kamarnya, Alfa berdiri tepat di depannya. Wajah Agya menegang seketika.
"Mas..."
"Kenapa? Kamu sakit?" Tanya Alfa khawatir melihat Agya yang tampak pucat.
"Aaa... Enggak sih mas, tadi cuma kecapekan aja." Jawab Agya beralasan.
"Kecapekan? Kamu ngapain di rumah? Bukannya kamu ijin buat istirahat?"
"Mas kok cepet pulang?" Tanya Agya mengalihkan pembicaraan, agar suaminya tak tanya lebih lanjut.
"Katanya mau ke bidan buat kontrol? Gimana sih?"
"Eeehh, iya mas." Cengir Agya menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Lupa."
Alfa hanya menggeleng pelan."udah siap belum?"
"Ini mas, udah siap."
"Ayok." Alfa menarik tangan istrinya dengan lembut.
****
Sekembalinya dari klinik.
"Apa maksud ucapan Bu bidan tadi, gy?"
Agya merasa belum usai lemasnya, setelah ucapan Bu bidan untuk tidak melakukan hubungan suami istri dulu karena kandungan Agya masih lemah. Sementara, ia baru saja melakukan itu dengan Bri.
"Kenapa ia menyebut-nyebut harus bisa menahan diri dalam berhubungan? Kita bahkan tidak melakukannya hampir satu setengah bulan ini, gy. Demi janin di dalam sana." Sambung Alfa begitu sudah sampai di depan pintu rumah Agya.
"I-itu kan, cuma saran mas." Gugup Agya
"Iya memang saran, tapi ucapaan Bu bidan tadi seolah kita baru aja ngelakuin itu Agya."
"Udahlah mas, itu cuma perasaan mas Alfa aja." Sanggal Agya mengibaskan tangan di udara."Oiya, hari ini gajian kan? Gaji mas Alfa mana? Sini!"
Alfa menghela nafasnya. Lalu masuk ke dalam rumah mendahului. Agya mengikuti di belakang, Alfa langsung masuk ke kamar.
"Mas!"
"Iya gy, sebentar." Ucap Alfa mencoba sabar. Alfa mengeluarkan uang dari tasnya. Lalu menyerahkan pada Agya setelah menghitung menyisakan lima ratus ribu ditangan nya.
"Ini."
"Itu?" Mata Agya menunjuk uang yang masih tersisa di tangan Alfa.
__ADS_1
"Ini buat pegangan mas."
Agya menghitung uang di tangannya, wajah nya cemberut seketika. "Mas! Kok cuma satu juta setengah sih?"
"Kenapa lagi?"
"Iya ini kenapa cuma satu juta setengah. Mana cukup buat sebulan!" Protes Agya kesal.
"Gy, kamu tau? Mas harus bayar cicilan utang untuk pesta meriah pernikahan kita kemarin! Kamu yang minta kan?"
"Gaji mas berapa sih? Bukannya mas udah jadi staf? Masa gajinya nggak naik."
Alfa mencoba bersabar, sungguh sangat berbeda dengan Ayla perangainya. Rasa sesal tiba-tiba datang lagi di dada pria itu.
"Mas masih masa training Gy. Empat juta, buat bayar utang presepsi impianmu saja sudah satu setengah, buat kamu satu setengah, dan ibuk lima ratus. Mas aja cuma pegang lima ratus."
"Ngapain sih masih kasih ibuk? Mas tu udah punya keluarga! Punya keluarga, kalau masih kasih-kasih ibuk ya kurang lah."
"Gy, ibuk itu janda, orang tua aku gy! Ada hak ibu di gajiku."
"Hahahha..... Mas, mas, sok-sokan kasih orang tua, orang kita aja masih kurang."
"Agya!"
"Dengar ya mas! Aku nggak bodoh seperti Ayla. Dia bisa aja kamu tipu dan terima kamu perlakukan kek gini! Tapi aku nggak! Gajian besok, jangan kasih-kasih ibuk lagi! Suruh kerja kalau mau uang."
"A-gi-ya!"
Agya keluar dari kamar dengan menutup pintu keras-keras. Alfa yang tertinggal di dalam mengacak rambutnya. Kepala Alfa serasa sangat pusing dengan sikap Agya. Ia bahkan sudah memberi semua yang Agya minta. Bahkan ketika istrinya itu ingin sebuah pesta resepsi yang sangat mewah menurutnya pun, coba Alfa berikan meski dia harus berhutang.
***
"Mas Alfa!"
Alfa yang sore itu sedang menyiram tanaman menoleh kearah tetangga samping rumah yang berbisik kepadanya.
"Pulang sama temen nya. Laki-laki."
"Apa?"
"Mas nggak tau?"
Alfa menggeleng ragu. Tetangga itu melongok dengan hati-hati ke arah dalam rumah Alfa. Seolah memastikan Agya tak tau.
"Tadi Agya pulang di anter mobil, bawa banyak belanjaan. Yang aku tau itu laki-laki. Coba mas cek, mungkin aja dia main serong." Bisik tatangga itu sembari melirik ke arah dalam rumah."Tapi mas jangan bilang kalau aku yang kasih tau. Mas selidiki lah."
Tangan Alfa mengepal kuat di sisi tubuhnya. Tampak jelas dia sedangang menahan amarahnya.
Saat makan malam, Alfa terus melirik pada Agya yang juga sedang makan. Istrinya itu nggak masak, hanya beli makanan dari luar.
"Jika omongan tetangga itu benar, dan ucapan Bu bidan... Itu saling tumpang tindih. Dan pria yang ketemu di warung bakso itu...." Alfa bermonolog menatap Agya curiga."Apa benar Agya selingkuh?"
***
Hari berlalu, rasa curiga terus menghantuinya, meski Agya sama sekali tidak menunjukkan gelagat aneh. Wanita itu bersikap seperti biasa. Alfa juga sempat mencoba mengecek hp Agya. Sama sekali tak ada yang janggal.
"Apa aku sadap aja ya hp Agya?" Pikir Alfa, mengingat dia dulu melakukan segala cara untuk menutupi perselingkuhan nya dengan Agya saat masih menjadi suami sah Ayla.
Alfa melirik Agya yang sedang terlelap itu. Lalu dengan bertekat untuk menghilangkan segala kecurigaan terhadap istrinya, Alfa menyadap hp Agya.
"Semoga, ini hanyalah kecurigaan belaka. Bukan suatu kecurangan."
Hari berselang, tak ada pesan mencurigakan. Hanya pesan dari beberapa teman kerja Agya yang masuk dan berbalas pesan dengan Agya.
"Hmmm... Mungkin itu hanya kecurigaan saja. Tetangga yang terlalu ikut campur. Aku harus lebih percaya pada Agya." Batin Alfa merasa bersalah karena sempat mencurigai Agya.
Kala itu, Alfa mencari baju favorit nya. Namun tak ketemu. Alfa pun berjalan ke arah lemari khusus milik Agya. Membuka nya dan melihat ada banyak barang-barang branded di sana. Mata Alfa melebar.
__ADS_1
"Aku... Nggak pernah membelikan ini untuk Agya. Apa, dia belanja sendiri? Tapi, dapat dari mana uangnya?"
Alfa mengusap kasar wajahnya, teringat omongan tetangganya. Dada Alfa merasa sangat sakit.
"Apa ia benar-benar berselingkuh di belakangku?" Gumam Alfa, tepat saat itu hpnya berbunyi. Alfa mengecek, satu pesan masuk dari nomor bernama mbak Bri.
("Ketemu tempat biasa. Aku kangen banget.")
Jantung Alfa serasa seperti di hujam dengan sangat keras.
("Oke.") Pesan balasan singkat dari Agya.
Alfa yang berdiri di depan pintu lemari khusus itu segera menutupnya. Tubuh Alfa bersandar di sana. Memahami semua yang terjadi juga arti dari pesan itu. Tak lama pintu kamar di buka. Agya muncul dengan dengan wajah ceria. Tapi, langsung berubah canggung begitu melihat Alfa menatap nya.
"Ehh, mas di rumah?"
Alfa mencoba meredam hatinya yang sakit sekaligus merasa marah itu. Namun, ia masih belum punya bukti untuk menuduh Agya. Hingga Alfa hanya bisa menahan.
"Iya, kenapa? kamu mengharapkan mas pergi?"
"Enggaklah mas." Jawab Agya manja. "Mas kok nggak pake baju?"
"Mas cari baju mas yang hijau. Kamu tau?"
"Cari aja di lemari mas."
"Lemari yang mana? Ini?" Alfa sengaja menunjuk lemari di belakangnya yang berisi barang branded yang Agya sembunyikan. Wajah Agya tampak gugup.
"Bu-bukan mas. Itu lemari nggak ke pake." Dengan cepat Agya menarik tangan Alfa dan membantu Alfa mencari baju favorit nya di lemari biasa.
"Ini mas, tuh, mas tu nggak bisa nyari." Ucap Agya mengeluarkan baju yang Alfa maksud dari lemari.
"Oohh, iya, makasih ya gy."
Agya tersenyum sangat manis.
"Oiya, mas mau kerumah ibuk. Mau ikut nggak?"
"Enggak mas, nanti ibuk marah-marah terus lagi. Males ah." Tolak Agya cepat.
"Ya udah, mas kerumah ibuk dulu ya."
Setelah Agya mencium tangannya, Alfa pun pergi. Agya bernafas lega, gegas Agya berdandan dan berpakaian sedikit seksi. Lalu keluar begitu taksi online pesanan sudah tiba di depan rumah.
Taksi itu berhenti di depan sebuah hotel. Dengan cepat Agya masuk, tanpa berbicara dengan resepsionis. Agya langsung masuk ke kamar tempat biasa dia dan Bri memadu kasih.
"Sayang...."
Agya langsung di sambut dengan pelukan dan ciuman mesra dari Bri.
Tok tok tok.
Tok tok tok.
Agya dan Bri masih sangat enggan saat aksu mereka sedang enak-enak terganggu suara ketukan pintu.
"Biarkan saja!"
Tok tok tok
Tok tok tok
"Arggg! Siapa sih yang ganggu?" Geram Bri terpaksa mencabut pusakanya, menutup tubuhnya dengan jubah tidur. Lalu berjalan menuju pintu kamar.
"Kamu siapa?"
Tampak Alfa yang berdiri di depan pintu, wajahnya merah padam melihat pria yang berdiri di depannya. Alfa yang membuntuti, dan memastikan Agya masuk kedalam kamar itu. Dan kini seorang pria yang yang pernah ia temui di warung bakso bersama Agya, berdiri didepannya.
__ADS_1
Sebagai mantan peselingkuh. Alfa sangat tau, ketika ia tengah di curangi.