
BRAK!
BRAK!
"Buka!"
"Buka!"
Wajah Agya dan Alfa menegang. Keduanya saling melempar pandangan. Nafas yang memburu oleh nafsu kini berubah menjadi memburu oleh ketegangan.
"Mas!"
"Udah! Pakai baju segera!"
Alfa bergegas melepaskan tubuhnya dari atas Agya. Wajah Alfa semakin tegang kala mendengar suara gedoran yang berubah menjadi dobrakan.
Dengan tangan gemetar, Alfa menunguti pakaiannya. Mengambil sarung dan membungkus tubuh bawahnya, sementara Agya pun gemetar memasang pakaian dalamnya. Tangan itu sangat gemetar sampai kesulitan memasang pengait branya.
BRAK!
"Astaghfirullah!"
Alfa dan Agya menoleh bersamaan dengan suara pintu kamar yang di buka paksa.
"Ini dia pasangan mesum nya!" Teriak seorang warga yang mengalungkan sarung menyamping di tubuhnya. Pria itu membawa sebuah tongkat ditangannya.
Alfa semakin menegang, sementara Agya dengan cepat menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Apa-apaan ini? Kenapa sembarangan masuk kerumah orang tanpa permisi?" Teriak Alfa setelah berhasil menguasai diri.
Di depan pintu kamar tampak warga berbondong-bondong menyesaki ambang pintu.
"Wanita itu bukan istri mas Alfa!"
"Pezinah! Keluarkan mereka!"
"Wanita itu bukan mbak Ayla!"
"Mereka berzinah!"
Suara teriakan warga terdengar bersautan. Alfa dan Agya di seret warga hingga keluar rumah.
"Bakar! Bakar!"
"Tenang! Harap tenang semua!" Suara pak RT menengahi riuhnya warga."Mari kita beri mereka kesempatan untuk bicara! Mungkin saja mereka sudah menikah siri!"
"Tidak mungkin! Mereka pasti pasangan zinah! Kemarin aku lihat mbak Ayla pergi dari rumah membawa koper besar dan Uwais!" Sahut tetangga Alfa, Alfa mendelik mendengar emak-emak yang lantang dan lancar bersuara itu.
"Iya! Iya! Mohon tenang dulu! Biarkan mas Alfa menjelaskan!" Sela pak RT.
"Tidak bisa! Mereka sudah mengotori kampung ini!"
"Arak saja keliling kampung! Bikin malu!"
Suara-suara provokatif bersahutan, hingga membuat Alfa dan Agya semakin kalut dan takut. Sedikitpun mereka tidak di beri waktu untuk berucap sekedar membela diri. Alfa bahkan sempat menerima bogem mentah dari salah atu warga yang geram.
__ADS_1
"Tenang! Mohon tenang semua!" Teriak pak RT."Jangan ada yang bertindak anarkis dan brutal! Kita ini negara hukum dan beratika!"
"Buat apa beretika pada orang-orang yang tidak punya etika seperti mereka? Mereka bahkan berzinah di kampung kita."
Suara riuh bersahutan mengiyakan. Pak RT sampai kuawalah menangani warga yang sudah marah itu.
"Mohon tenang semua! Biar saya perjelas dulu mengenai hubungan mereka! Jika benar terbukti berzinah. Kita akan bawa ke lurah desa agar segera di tindak. Tolong jangan ada yang anarkis!"
"Huuuuuu....."
Setelah warga terlihat sedikit lebih tenang, Pak RT menatap Alfa dan Agya.
"Tunjukkan buku nikahnya pak, atau jika kalian sudah menikah siri, tunjukan buktinya pada saya. Warga sudah mulai mengamuk, saya tidak ingin warga saya bertidak diluar batas."
Alfa lemas, tubuh dan jiwanya seolah lepas begitu saja.
"Sa-saya tidak punya..."
"Huuuuu....." Suara teriakan warga menyapu keheningan. "Sudah arak saja mereka!"
"Tenang! Saya akan mengawal mereka ke lurah desa! Mohon untuk semua nya tenang! Jika ada yang sampai melukai tersangka, dia juga akan ikut jadi tersangka! Cukup lurah saja nanti yang memutuskan hukuman bagi mereka. Kita tidak perlu!"
Agya dan Alfa di bawa ke kantor lurah malam itu juga.
Setelah melalui perbincangan yang alot di kantor lurah. Akhirnya, Agya dan Alfa di nikahkan saat itu juga. Mereka juga di minta untuk membayar denda sebesar 15juta.
***
Roxy tersenyum melihat Ayla kembali ke mansionnya. Pria bule itu sangat puas dan percaya diri berdiri didepan Ayla.
"Tangan tuan Roxy kenapa?"
"Ooohh, ini?" Roxy mengangkat tangan kanannya."Aku jatuh dan tanganku retak."
"Oohh..."
"Papa! Gendong!" Rengek Uwais manja di belakang Roxy.
"Uwais!" Panggil Ayla mendelik pada anaknya." Kemari!"
Wajah Uwais seketika cemberut melihat bundanya yang terlihat marah padanya. Bocah tiga tahun itu bersungut mendekati ibunya. Namun, tangan kiri Roxy dengan cepat menariknya dan menggendong dengan tangan itu.
Lily merasa tak enak, sekarang, Roxy adalah tuannya. Ia tak bisa seenaknya bersikap seperti sebelum nya.
"Uwais!"
"Papa!"
"Ayo main." Ajak Roxy melangkah membawa Uwais dalam gendongannya. Roxy menoleh pada Ayla yang masih berdiri di tempatnya.
"Selesaikan pekerjaan mu!" Ucap Roxy sembari mengedipkan sebelah matanya. Lalu melanjutkan langkah nya.
Ayla tersenyum kecil, merasa lucu dengan hidup nya sekarang. Kenapa ia justru berada dalam lingkaran orang sangat dia hindari dulu?
Ayla mulai melakukan tugasnya. Membersihkan kamar dan ruang kerja Roxy. Hampir tiga jam lamanya Ayla berkutat di satu ruangan. Karena ruangan itu terlalu berantakan dan banyak berkas yang harus Ayla susun sesuai warna dan urutan abjad.
__ADS_1
"Aneh, padahal hanya dua kamar saja, tapi kenapa bisa secapek ini? Dulu aku membersihkan satu kontrakan saja sanggup tanpa mengeluh." Gumam Ayla merasa heran.
Ayla memandang setiap sudut ruang kerja Roxy. Lalu menghela nafasnya.
"Pantas saja, satu ruangan ini sudah seluas kontrakan ku." Ayla terkekeh sembari menggeleng pelan.
"Hmm... Berapa harga satu hunian ini? Jika satu ruangannya saja sudah seluas kontrakan ku? Benar-benar sultan."
Ayla bergumam-gumam pelan, "semoga aku tidak tersesat di sini nanti."
Malam itu, Ayla yang tidur berdua dengan Uwais di banguan khusus pelayan. Memeluk tubuh anak semata wayangnya.
"Unda, is pengen tidur di kamar is."
"Inginkan kamar Uwais sama bunda."
"Kamar punyaku yang ada mobil besarnya."
"Itu bukan kamar mu sayang."
"Papa bilang itu kamar ku."
Kenapa kamu memanggilnya papa?"
"Papa yang suruh."
Ayla tersenyum kecil membingkai wajah anaknya. Lalu mengecup kening rata Uwais.
"Anak bunda, jangan memanggil Om Roxy papa lagi ya?"
"Kenapa unda?"
"Karena dia bukan papanya Uwais."
Uwais menatap wajah bundanya dengan mata bulat yang menyiratkan tanya.
"Oke? Anaknya bunda."
"Jadi, aku nggak punya papa?"
Pertanyaan Uwais menyentuh tepat di hati Ayla.
"Uwais kan punya ayah." Jawab Ayla akhirnya.
"Tapi ayah nggak pernah ada. Aku sama papa aja ya, Bun."
Ada rasa yang mencubit hatinya. Hingga benda itu terasa sangat nyeri. Ayla membawa Uwais ke dalam pelukannya.
"Ayo kita tidur, nak."
Ayla membuka matanya, dering handphone nya terasa sangat mengganggu. Ayla meraih dengan malas benda pipih itu.
"Halo?"
("Ayla! Suami mu di grebek warga!")
__ADS_1