Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 37


__ADS_3

Wajah Alfa tampak sangat gusar, ia menatap ibunya dengan sangat marah. Alfa menyugar rambutnya ke belakang, urat-urat di kepalanya tampak menonjol menunjukkan seberapa arahnya ia.


"Aaarrrggg!!!"


Bu Ignis pun tak kalah kesal melihat anak sulungnya berteriak bak orang yang sudah kehilangan segalanya.


"Hentikan kelakuanmu sekarang juga Alfa! Sudah cukup ibu menahan malu dan marah karenamu!" Hardik Bu Ignis menunjukkan muka anaknya.


"Tapi sampai hati ibu menyetujui perjanjian itu!"


"Sampai hati! Kau saja sampai hati berbuat seperti ini pada ibu, Ayla, juga Uwais! Sekarang, tanda tangani ini! Atau ibu tak akan pernah menganggap mu anak!"


Alfa sangat frustasi, marah, sedih, dan kecewa mengendap di dalam dadanya.


"Dengar ibu, Alfa! Ini semua adalah akibat dari perbuatanmu! Bertobatlah dan perbaiki semua!"


"Aku sedang berusaha memperbaiki, buuuukkk!!"


"Katakan pada ibuk! Apa yang sudah kau perbaiki? Apa yang mau kau perbaiki? Hhaahh??" Hardik ibu lagi.


Alfa tak menjawab, semua rasa kecewa terus bersemayam di dadanya.


"Kau sudah menghianati Ayla, mengabaikannya Uwais. Kau bahkan sudah mempermalukan dia di dan umum demi pelakor itu!!" Hardik Bu Ignis lagi menunjuk keluar pintu. Amarah Bu Ignis semakin membesar.


"Da-dari mana ibu tau?"


Bu Ignis tersenyum kecut. "Kamu bodoh Alfa!"


Bu Ignis terus menatap Alfa dengan segudang kekecewaan dan amarahnya.


"Bagaimana bisa kamu malah memasukkan wanita itu ke dalam rumah mu?"


Alfa tergugu. Melihat sang ibu perlahan berguncang bahunya. Lebih sakit, wanita itu menangis karena dirinya. Alfa memang menyesal dan ingin memperbaiki, namun, semua itu sudah terlambat. Semua yang dia lakukan hanya kebodohan yang terus menambah sesal nya. Hanya karena mengikuti nafsu-nya.


"Maafkan Alfa, buk." Lirih Alfa bersimpuh di kaki ibunya.


"Minta maaflah dengan menandatangani kertas itu. Ibu tak mau menggadaikan sertifikasi rumah peninggalan bapakmu untuk membayar denda zina mu!"


Alfa tak punya pilihan lain. Dengan sangat berat, dan gemetar, Alfa mengambil pena. Air matanya meluncur deras dipipinya, berat melepas Ayla. Lebih berat lagi mengetahui wanita itu di dekati oleh Roxy, yang tak lain, adalah bos nya sendiri.


***


Suara pintu kamar Roxy berbunyi, pertanda seseorang masuk. Gegas Roxy memasang Gips nya.


Hmmm, benar sekali para readers, Roxy memang hanya berpura-pura cidera di lengan kanannya.


"Astaga! Kenapa aku malah memasangkannya di lengan kiri!" Runtuknya hendak mengganti gips ke tangan yang benar. Namun, gips itu malah jatuh karena terlalu gugup. Terlebih suara langkah kaki semakin dekat dan munculkan seseorang di balik tembok.


Wajah tegang Roxy menatap ke arah pintu. Veloz berdiri dengan wajah heran. Sedangkan Roxy tampak sangat lega.


"Kau! Membuatku takut saja."


Veloz menangkap kelegaan di wajah Roxy, lalu melihat tuannya itu memungut gips yang memang di desain agar mudah di bongkar pasang.


"Apa anda pikir, saya nona Ayla?" Ledek asisten setianya itu.


Roxy melirik tajam menusuk pada Veloz. Veloz menelan ludahnya susah.

__ADS_1


"Apa kau pernah merasakan di gantung di pusat kota, Veloz?"


"Tidak! Sama sekali."


"Bagus! Katakan jika memang ingin."


Roxy melangkah pelan dan mengambil pakaian kerjanya.


"Kenapa pagi-pagi sekali kau sudah kemari? Bukankah ku sudah melarang mu?"


"Saya pikir anda akan sangat senang mendengar berita jika mantan suami nona Ayla sudah menandatangani perjanjian itu."


"Baiklah, kamu di maafkan. Ada lagi?" Tanya Roxy sembari mengancingkan kemeja.


"Mengenai pengacara untuk membantu proses perceraian juga sudah kami siapkan."


"Jangan sampai calon istriku itu curiga mengenai pengacara itu."sambung Roxy setelah semua pakaian nya rapi, kecuali dasi.


"Baik."


"Pergilah! Sebentar lagi Ayla kemari!"


"Baik."


"Jangan muncul di sekitar, siapapun! Peringatkan juga pada Pitung." Roxy memperingatkan sembari duduk bersandar di sofa kamarnya.


Setelah Veloz pergi. Beberapa saat kemudian, Ayla masuk. Ia tertegun melihat Roxy menggerutu sembari memakai pakaian nya. Saat melihat Veloz turun tadi, Alya berpikir jika Roxy pun sudah keluar dan berangkat kerja. Hingga Ayla masuk ke kamar pribadi Roxy untuk membersihkan tempat itu.


Roxy berbalik, seolah baru saja menyadari Ayla masuk.


Ayla ragu dan hanya terbengong di tempatnya berdiri dengan seperangkat alat kebersihan.


"Cepat kemari! Aku tak bisa melakukan nya sendiri dengan tangan seperti ini." Lanjut Roxy menunjukkan lengan kanan nya yang terbalut gips.


"UMM... Aku tidak bisa memasang dasi. Tidak pernah melakukan nya sebelumnya." Aku Ayla.


"Benarkah?"


"Akan saya panggilkan pak Pitung atau asisten Veloz." Ayla hendak mengayunkan kakinya. Namun dengan cepat Roxy menahan tangan Ayla.


"Tidak usah, aku ajari!"


Ayla menatap wajah tuannya.


"Saya panggilkan...."


"Aku sudah hampir terlambat, ayolah, kalau masih harus memanggil mereka akan sangat memakan waktu. Aku harus terlihat rapi sebelum sampai di kantor."


"Tapi, saya benar-benar tidak bisa..."


"Aku ajari..."


Setelah drama panjang tarik ulur itu, akhirnya Ayla membantu Roxy memasang dasinya, sembari Roxy mengajari dengan instruksi mulutnya. Pria setinggi 188cm itu membungkukkan tubuhnya agar Ayla tidak kesulitan karena tinggi badannya yang mungil.


"Apa ini cukup."


"Sedikit miring ke kiri."

__ADS_1


Ayla membetulkan sedikit. "Ini masih miring," gumam Ayla, yang tentu saja membuat Roxy mengangkat sudut bibirnya ke atas.


"Apa ini sudah benar?" Gumam Ayla lagi. Pandangan matanya dan jemari lentiknya berpusat pada leher bawah Roxy. Lantas, Ayla melirik pria bule yang tersenyum-senyum tidak jelas. Yang sudah tentu membuat Ayla merasa tidak nyaman.


"Ini sudah selesai." Ucap Ayla sedikit menjauh dari Roxy.


"Terima kasih Ayla!" Ucap Roxy tulus dengan senyum yang terus mengembang di wajah tampan pria bule itu.


Roxy berlalu dari kamar. Sedangkan, Ayla yang sempat terbengong oleh ucapan terimakasih dari Roxy seketika menggelengkan kepalanya.


"Sadarlah Ayla! Dia- tuan mu yang mesum!" Gumam Ayla menyadarkan dirinya.


****


"Tuan, kita sudah terlambat setengah jam."


"Apa? Kita memang biasa berangkat jam segini." Kilah Roxy, karena Ayla yang masih belajar memasang dasi hingga butuh waktu agak lama untuk hal yang biasanya hanya butuh kurang dari lima menit.


"Kita memang terlambat 30 menit tuan." Timpal Supri dari balik kemudi.


"Apa kalian ingin merasakan di gantung di pusat kota?"


"Tidak! Tentu saja tidak." Jawab Veloz dan Supri kompak.


Roxy menyentak nafasnya kasar."berani sekali mereka bersekongkol untuk menggodaku." Batin Roxy.


"Tuan, dasi anda miring." Veloz melirik dari kaca sepion di samping kepalanya.


"Diam!"


Di kantor.


"Tuan dasi anda miring."


"Diam."


Bahkan di tempat meeting.


"ehem, tuan Roxy! Dasi anda miring." Bisik salah satu sekertaris perempuan Roxy. Roxy meliriknya tajam, seketika wanita itu menutup mulutnya rapat-rapat.


Di meting yang lain,


"Terima kasih atas kerja sama nya, tuan Roxy."


"Kita sama-sama saling menguntungnya." Sambut Roxy ramah.


"UMM, sebenarnya ada hal yang sedari tadi menganggu saya."


Roxy menyimak apa yang rekan kerjanya itu sampaikan.


"Tuan Roxy di kenal sebagai pria tampan dan sangat rapi, menyukai kesimetrisan segala sesuatu. Tapi, hari ini, anda terlihat sedikit berbeda."


"Benarkah? Apa ku terlihat lebih tampan? Atau mungkin, lebih mempeson?" Gurau Roxy, dalam pikirannya, jika benar begitu, ia harus segera pulang dan menunjukkan nya pada Ayla. Wanita itu tidak boleh lepas dari pesona nya.


"UMM.. sebenarnya..." Rekan kerja nya tersenyum sedikit tidak enak."Dasi anda sedikit miring."


Wajah datar dan dingin itu seketika muncul di permukaan. Hingga rekan kerjanya merinding dan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2