
"Makan dulu ya La, sebelum balik."
Kayla mengangguk kecil. Lalu memboceng setelah Avan memasang helm di kepalanya.
"Mau makan apa, La?" Tanya Avan di tengah perjalanan keluar dari area perkir masjid Alfalah.
"Terserah aja, mas."
"Ila nggak pengen makan apa gitu? Bakso, mie ayam, atau pecel lele?"
"Ke resto mas Avan aja."
"Eeh, kenapa?"
"Pengen coba menu di sana."
"Nggak usah, masih sepi, La." Tolak Avan terkekeh kecil, lalu sedikit berkelekar,"besok aja deh kalau dah rame, malu mas. Nggak ada yang bisa di sombongin, ntar."
"Ya kalau sepi kesana aja, buat nglarisin." Ucap Kayla.
"Makan bakso aja, ya La." Tawar Avan.
"Mas kenapa sih? Mau di larisin kok nggak mau?"
"Bukan nggak mau, La. Agak jauh dari sini, lain waktu aja ya?"
Kayla merasa sedikit kesal pada Avan, karena terus menolak saat ia ingin sekedar membalas kebaikan pria gondrong itu dengan melarisi resto.
"Pulang aja deh, mas."cetus Kayla kesal.
"Eehh, kok malah balik? Makan dulu ya?"
"Nggak usah, balik aja." Ketus Kayla membuat Avan bungkam.
"Kamu marah?"
Tak ada jawaban dari Kayla.
"Ya udah deh, ke resto." Ucap Avan pasrah.
"Coba kek dari tadi, nggak perlu bikin aku kesel." Gumam Kayla.
Sesampainya di parkiran resto milik Avan, Kayla memandang tempat itu menyeluruh. Sangat ramai, bahkan jukir sampai kesulitan menata motor yang parkir.
"Rame banget, mas."
"Malam Minggu."
__ADS_1
"Tadi katanya sepi."
"Iya kalau hari biasa."
Kayla hanya mengangguk kecil. Lalu mengikuti Avan yang berjalan lewat pintu belakang. Dari sana masih dapat Kayla lihat bangku-bangku yang penuh dengan pelanggan yang di dominasi anak muda.
"Kayla!"
"Kayla!"
Kayla menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Beberapa teman di RS Fatma duduk di sebuah bangku dan melambai padanya. Kayla tersenyum ramah pada mereka, lalu kembali melihat pada Avan yang masih berjalan di depannya.
"Mas!"
Avan berbalik.
"Ada teman Kayla di sana. Aku nyapa dulu ya."
"Oke, aku nyari bangku kosong dulu." Ucap Avan ringan.
Setelah pamit pada Avan, Kayla menyapa pada teman-teman nya.
"Kamu sama siapa itu, La?" Tanya temannya kepo.
"Teman."
"Bukan."
"Kalau bukan pacar boleh dong kita gebet..." Teman Kayla yang lain menggoda.
"Terserah."
Setelah ngobrol sebentar pada teman-teman nya, Kayla pamit setelah mendengar Avan memanggil.
"Di sini aja ya? Nggak papa kan Deket dapur."
"Nggak papa, mas."
Seusai makan, Kayla berjalan menuju kasir untuk membayar. Memang maksud Kayla mengajak makan di resto milik Avan hanya untuk melarisi. Tangan Kayla di tahan oleh Avan.
"Mau kemana?"
"Kasir."
"Kamu tunggu di parkiran aja."
"Enggak, Kayla ke sini kan mau nglarisin resto nya mas yang katanya sepi itu." Kata Kayla sedikit menyindir, karena nyatanya resto milik Avan sangat ramai, mereka bahkan kesulitan untuk mencari bangku kosong. Apalagi, berdasarkan cerita dari teman-teman nya tadi, resto itu lagi hitz karena mengusung tema anak muda yang Instagramable.
__ADS_1
Avan tertawa kecil sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Saat melihat Kayla melangkah mendekat ke kasir, dengan cepat Avan mendahului. Lalu menyapa petugas kasir yang baru aja selesai melayani pembeli.
"Pak Avan..."
"Dua nasgor seafood, satu teh hangat dan satu es jeruk." Potong Avan menyebutkan pesanan sembari menyerahkan uang merah pada sang kasir.
"Kok mas yang bayar, sih?" Protes Kayla merasa sebal.
"Kan, mas yang ngajak makan." Jawab Avan enteng, Kayla memajukan bibirnya beberapa senti.
Setelah menerima kembalian dan mereka dalam perjalanan pulang ke rumah Kayla. Gadis itu terus cemberut dan tak mengatakan sepatah katapun. Ia kesal karena niat hati ingin membalas kebaikan Avan dengan melarisi resto nya malah gagal. Avan melirik Kayla dari sepion motornya, lalu tersenyum kecil.
"La?"
Kayla bungkam,
"Ngambek?"
Kayla masih bungkam.
"Kalau kamu pingin banget ngluarin duwit, beliin mas martabak deh."
Jengkel Kayla sedikit berkurang. "Martabak?"
"Heemm..."
"Martabak apa mas?" Tanya Kayla dengan sedikit ketus.
"Manis sama telur."
"Di mana?" Tanya Kayla lagi masih dengan nada yang masih ketus nya.
"Itu aja deh." Tunjuk Avan pada gerobak martabak di pinggir jalan.
Setelah mendapat dua jenis martabak yang di masukkan ke dalam dua kantong yang berbeda. Kayla dan Avan pun melanjutkan perjalanan kembali ke rumah Kayla. Sesampainya di depan rumah, dan melepas helm, kayla berjalan mendahului.
"Ila, tunggu." Tahan Avan menarik lengan Kayla. Kayla menoleh dan menatap Avan. Lalu mereka berdiri berhadapan dengan Avan yang masih di sisi motornya.
Pria gondorong itu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya.
"La, mas bukan pria romantis yang pandai merayu. Tapi, ijinkan mas menjadi pengobat luka mu. Ijinkan mas mengumpulkan kepingan hatimu yang sudah berderai, dan menyatukannya agar utuh lagi."
Kayla terdiam, masih merasa cukup terperangah dengan apa yang Avan ucapkan.
"Kamu nggak harus kasih mas jawabannya sekarang, La. Istikharah dulu." Lanjut Avan yang mengerti Kayla masih sangat terkejut dengan lamaran dadakannya.
Avan menggenggamkan kotak berisi cincin itu ke tangan Kayla.
__ADS_1
"Jika kamu memutuskan untuk menerima mas, pakai cincin ini. Jika tidak, kamu bisa mengembalikannya."