
Ayla menatap jauh melihat ke belakang sebelum memasuki burung besi yang akan membawa dirinya dan sang suami ke Austria. Negara tempat mereka akan berbulan madu.
Rasanya sangat berat bagi Ayla meninggalkan Uwais begitu jauh. Meski kakek Yaris sudah meyakinkan dirinya jika Uwais baik-baik saja dan tak perlu cemas.
Di dalam pesawat pun Ayla masih memikirkan Uwais. Ia terlihat sangat gelisah. Roxy yang menyadari itu, mengusap kepala Ayla yang tertutup jilbab, dan istrinya itu menoleh menatapnya.
"Jangan pikirkan apapun. Ingat dengan oleh-oleh yang harus kita bawa?"
"Oleh-oleh?" Kening Ayla berkerut."oleh-oleh apa yang kamu janjikan pada Uwais?"
Roxy menggerakkan jarinya agar sang istri mendekat. Wanita cantik berjilbab itu mencondongkan tubuhnya ke arah Roxy.
"Adik perempuan." Bisik Roxy tepat di telinga Ayla yang tersembunyi di balik jilbabnya.
Mulut Ayla membulat, matanya pun melebar. Tangannya langsung terulur mencubit paha Roxy.
"Auuuwwww... Sakit baby..." Roxy merengek, lalu tersenyum dengan sangat mesum." Coba sedikit lebih ke atas."
"Daddy Roxy~"
Ayla langsung melayangkan tatapan sebalnya.
.
.
.
.
Halstat.
Ayla memandang gugusan bukit dan tebing yang di selimuti oleh salju. Hawa ingin menusuk kulitnya hingga ia terus memeluk tubuhnya sendiri. Meski ia sudah memakai mantel yang sangat tebal. Nyatanya itu tak berpengaruh banyak pada Ayla yang terbiasa dengan iklim tropis.
"Setelah masuk ke villa, kamu nggak akan kedinginan lagi. Ayo." Roxy menuntun Ayla dengan memeluk bahu wanita mungil itu.
Benar saja, di dalam villa memang lebih hangat. Karena memang terpasang penghangat ruangan. Disalah satu sudut, terdapat ruang dengan perapian yang sudah menyala.
"Ada seorang penjaga villa, tapi dia tinggal di sebelah luar. Hanya masuk kemari jika kita memanggil." Jelas Roxy mengandeng tangan Ayla menuju lantai atas."Jadi kita bisa bebas bercinta di mana pun." Sambungnya mengerling nakal.
"Apa isi otakmu hanya bercinta tuan Roxy?"
"Tentu saja, itulah tujuan kita berbulan madu."
Ayla memutar matanya malas, tak bisa ia bayangkan lagi bagaimana laparnya Roxy setiap melihat dirinya bak daging yang siap di santap.
Tiba-tiba saja Ayla merasakan tubuhnya melayang. Ia menjerit, dan memeluk leher Roxy yang tertawa girang.
"Aku sangat lapar, butuh makan siang."
"Memangnya dapur ada di atas?"
__ADS_1
"Enggak, yang ada di atas itu kamar kita, baby. Hahahaha..."
Satu jam kemudian.
"Sudah cukup, Daddy Roxy." Rintih Ayla yang wajahnya sudah sangat memerah. Nafasnya terhembus membentuk kepulan.
Ayla terbaring di atas Ranjang dengan rambut yang sudah menyebar berantakan.
"Aku masih lapar."
Tangan Roxy bertaut dengan tangan Ayla. Wajah pria itu tenggelam di dada sang istri.
"Kalau lapar ya makan."
"Aku sedang melakukannya."
Mata Ayla terpejam, tubuhnya sudah sangat remuk oleh ulah Roxy. Sampai pria bule itu menydahi aktivitas panasnya. Ikut merebah di sisi Ayla terlentang menatap langit-langit kamar.
"Terima kasih, baby."
"Kamu ini.... Tidak pernah ada puasnya." Omel Ayla mengangkat tubuhnya untuk bangun.
Roxy hanya menanggapi dengan tawa.
"Mau kemana?" Tanyanya melihat Ayla menutupi tubuh dengan selimut dan berdiri di samping peraduan.
"Aku lapar. Tubuh ini juga butuh di reload." Jawab Ayla sembari mengikat tinggi rambutnya.
Seusai membersihkan diri. Pasangan pengantin baru itu sibuk memasak di dapur. Sengaja memang tidak memanggil penjaga villa karena ingin menikmati momen memasak berdua.
Ayla berencana membuat sup jagung, lasagna dan fillet ayam.
"Ayam nya sudah ku cuci." Ujar Roxy meletakan satu wadah berisi fillet ayam.
"Beri tepung dan bumbu." Jawab Ayla tanpa berbalik dari depan kompor. Tangannya sibuk mengaduk sup jagung yang sebentar lagi matang.
"Mana bumbunya?"
"Ada di meja. Tepung nya di rak atas."
Roxy mengambil bumbu yang telah Ayla siapkan. Mencampur ke wajah ikan fillet. Lalu, ia mengambil tepung, menyendoknya. Gerakan tangannya tertahan tepat di atas wadah ayam fillet.
"Seberapa banyak tepung nya?"
"Segitu cukup." Jawab Ayla tanpa menoleh.
"Hei, kamu bahkan tidak melihat seberapa banyak yang aku ambil." Protes Roxy karena Ayla terus saja tak melihatnya. Hanya menjawab sambil memunggungi.
Ayla terpaksa menoleh. Melihat tepung di sendok yang Roxy bawa.
"Iya segitu cukup." Jawab Ayla menunjuk sendok.
__ADS_1
"Ini hanya sedikit. Tidak akan cukup."
"Cukup." Balas Ayla kembali menghadap kompor dan mengaduk bubur jagungnya."nanti kamu kasih air sedikit saja."
Roxy mengangkat bahunya, pasrah memasukkan tepung dan memberi sedikit air lalu mengaduk rata dengan sendok.
"Apa ini sudah benar?" Roxy berdiri di sisi Ayla, menunjukan wadah berisi fillet ayam.
Ayla melongok dan mengoreksi rasa, "Tambah sedikit garam."
Roxy mengambil garam. Rasanya sangat bimbang, hingga sendok garam itu hanya mengambang di atas filet ayam.
"Ini kurang nggak ya? Tapi dia bilang sedikit. Sebenarnya sedikit itu takarannya seberapa?" Roxy bergumam."Mungkin satu sendok." Putusnya memasukkan satu sendok garam.
Setelah urusan masak memasak selesai. Pasangan itu berjalan ke meja makan, sesekali tangan Roxy mencubit bokong Ayla. Tentu saja tatapan sebal langsung Roxy dapatkan.
Ayla mengambilkan piring dan mangkuk untuk Roxy.
"Kita makan berdua saja." Kata Roxy begitu mangkuk berisi Bubur jagung sudah ada di depannya.
"Baiklah."
"Duduk sini, jangan terlalu jauh." Roxy menarik lengan Ayla hingga terduduk di pangkuannya.
"Setelah ini kita jalan-jalan keluar." Kata Roxy menerima suapan pertama dari sang istri.
"Uummm, aku juga sudah sangat ingin melihat pemandangan di sini. Tadi aku lihat ada danau yang jernih dan beberapa burung bangau. Aku ingin naik kapal."
"Tentu saja." Jawab Roxy mengambil ayam fillet dan menyuapkan ke mulut Ayla.
"Asin!"
Tatapan menuduh Ayla seketika Roxy dapatkan. Pria itu hanya menggaruk kepala yang tidak gatal.
****
Tidak hanya di desa terpencil yang begitu indah, Roxy juga membawa Ayla tempat-tempat terindah lainnya di negara itu. Bermain ski dan merasakan salju yang lembut dan dingin. Juga mencicipi beberapa kuliner di pusat kota.
Bangunan-bangunan yang terkesan bergaya Eropa kuno itu terus memanjakan mata Ayla. Wanita yang sedang berbahagia itu terus berdecak kagum.
"Sayang sekali, Uwais tidak ikut." Mata Ayla mulai berkaca mengingat anak semata wayangnya. Kerinduan pada bocah berusia empat tahun itu sudah sampai di puncaknya.
"Lain kali kita kemari dengan Uwais dan adiknya. Huumm?" Roxy yang duduk di samping sang istri, memeluk dekat bahu Ayla dan merebahkan kepala wanita itu ke dadanya."Bagaimana?"
Ayla mendongak menatap wajah Roxy dari bawah. Roxy menunduk ikut menatap istrinya, perlahan wajahnya semakin dekat. Netra Roxy terpejam, dan bibirnya siap melummat milik Ayla. Jemari Ayla sudah menghalangi dalam jarak yang hanya tinggal sejengkal.
"Ini di tempat umum."
Mata Roxy seketika terbuka lebar. Lalu nyengir dan berdehem pelan.
Melihat sang suami yang salah tingkah, Ayla menggulum senyum. Ia hanya tak habis pikir, kenapa Roxy bisa begitu bersemangat dalam setiap percintaan mereka. Kadang, Ayla berpikir, mungkinkah ia sudah menikahi seorang hyper-****? Seketika Ayla bergidik ngeri.
__ADS_1
"Semoga tidak, aku tak sanggup."