Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 77


__ADS_3

Ayla duduk di sebuah sofa melingkar dalam ruangan Rocky. Terdiam dalam lamunannya. Rocky duduk di sampingnya setelah menghubungi dokter yang menangani masalah penyakitnya dan juga Livina.


"Dia Vina. Adik Raize, baru datang ke negara ini kemarin dan dia berkunjung karena sudah sangat lama tidak bertemu. Kami Saudara sepupu, jika kamu keberatan, aku tidak akan melakukannya lagi." Rocky menjelaskan mengenggam erat tangan Ayla.


"Ini terdengar seperti aku seorang yang salah dan jahat."


"Bukan itu maksudku, babby." Rocky menatap istrinya lekat, tangannya senatiasa mengenggam tangan Ayla.


Ayla mengangkat tangannya agar Rocky diam mendengar dari sudut pandang nya.


"Aku memang tidak tau seperti apa kebiasaan kalian dalam bersaudara. Aku hanya wanita asing yang tiba-tiba datang ke dalam hidup mu..."


Rocky menggeleng, di genggamnya lagi tangan yang sempat terlepas itu."Itu tidak benar."


"Aku akan terlihat sangat jahat jika melarang kebiasaan kalian. Tapi, aku tidak terbiasa dengan budayamu. Aku juga tak ingin terbiasa. Bagimu, mungkin tak masalah jika hanya cium pipi kanan kiri. Bagimu, mungkin itu tak masalah seorang berlainan jenis merangkul lenganmu. Tidak masalah bagimu, tapi itu menyakiti ku."


"Aku minta maaf, sayang..." Sesal Rocky mencium punggung tangan Ayla dalam genggaman nya.


"Di sini, dan di sini.. sang-at sa-kit." Ayla menunjuk mata lalu turun ke dadanya dengan sebelah tangan yang masih bebas dari genggaman Rocky.


"Maafkan aku yang tak bisa menjaga... Ini tidak akan terjadi lagi..."


" Orang akan berpikir kalian memiliki hubungan lebih. Dan itu bisa menimbulkan fitnah. Apa sungguh tak masalah dengan pandangan orang lain?"


Rocky menggeleng dengan wajah penuh sesal. Sesungguhnya, memang Rocky tak perduli dengan pandangan orang lain padanya. Selama itu bukan tentang pekerjaan ataupun wanitanya.


"Maaf kan aku... Aku sungguh-sungguh tidak berselingkuh, sama sekali. Sedikitpun tak terlintas di pikiranku. Kamu sudah memenuhi otakku Ayla. Bagaimana bisa aku membagi hati dan tubuh yang cuma ada satu. Dan itu milikmu."


Wajah memohon Rocky tentu saja membuat hati Ayla bergetar. Terlintas dalam pikiran Ayla, tentang pengakuan Rocky di lobi yang entah kenapa tiba-tiba terhubung dengan ucapan kakek Yaris dulu.


("Mungkin juga itu yang mendasari Rocky sampai tidak tertarik pada wanita.")


("Kamu tidak tau? Sebaiknya kalian bicarakan itu berdua.")


Dua kalian kakek Yaris itu terngiyan di telinga Ayla. Mata Ayla menelisik mencari tau dari mimik wajah Rocky yang menggenggam dan mencium tangannya lama.


"Benarkah?"

__ADS_1


Rocky mendongak menatap tanya sang istri.


"Kamu punya masalah eraksi? Melihat betapa bersemangatnya kamu di ranjang membuat ku berpikir kau seorang hypersseeks." Aku Ayla jujur.


"Aku sudah memanggil dokter yang menangani ku. Dia akan membawakan riwayat pengobatanku."


Wajah Ayla berubah menjadi memerah karena malu. Rasanya sangat memalukan jika sampai melibatkan dokter Rocky."a-aku pikir, itu tidak perlu."


"Kalau kamu punya masalah eraksi lalu kenapa kamu begitu antusias padaku?"


"Karena," Rocky menunjuk ke arah juniornya,"dia bergerak saat melihatmu. Dia hanya bereaksi padamu."


"A-apa? Apa kau pikir itu masuk akal?" Tanya Ayla sedikit sangsi meski wajahnya sudah memerah.


"Apa kau mau melihatnya?"


"A-apa?"


Tiba-tiba saja lintasan dalam pikirannya kembali ke masa lalu. Saat pertama bertemu dengan Rocky di pelataran masjid Jamal. Lalu saat ia mengantar makanan ke ruangan Rocky. Dan sikap tak tau malu Rocky yang sangat bersemangat meminta menjadi wanitanya.


Ayla menelisik wajah Rocky yang menatap harap padanya, mungkinkah pria ini berkata jujur?


Rocky menatap kesal pada Raize. Karena bukan dia yang di harapkan datang. Tapi dokter yang sudah menangani nya.


"Kenapa kau kemari?"


"Bukankah kamu memanggilku? Kebetulan, aku sedang ketemu dengan Vina. Jadi skalian aja bareng, toh kamu sepertinya butuh kami berdua untuk menjelaskan." Dengan santai Raize duduk di sofa depan pasangan Rocky duduk.


"Aku tidak memanggilmu! Aku panggil Zidan!"


"Aah, dia tak bisa datang karena sibuk sama pasien lain. Kau pikir cuma kau saja yang punya masalah eraksi?"


Rocky mendelik pada sepupunya itu. Namun, Raize seperti tak ambil pusing langsung mengeluarkan map dari tasnya.


"Oohh iya, kenalkan, dia adiku Livina. Sudah lama tinggal di Paris. Dia tak bisa bahasa, jadi tidak perlu menyapa." Kata Raize enteng menatap Ayla sembari menunjuk Vina dengan dagunya.


"Rocky sudah bercerita tentang itu." Sahut Ayla. Tersenyum kecil saat ia menatap Vina sekilas. Vina pun sepeti berucap sembari menangkupkan tangan di depan dadanya. Seperti sedang meminta maaf.

__ADS_1


"Dia bilang maaf." Raize menerjemahkan perkataan adiknya."ini, riwayat pengobatan suaminya. Dia menang impoten... Hahaha." Tawa meledek Raize keluar juga dari mulutnya sembari tangannya mengulurkan map riwayat medis Rocky."sebenarnya, ini menyalahi aturan, tapi sudahlah."


"Apa kamu percaya sekarang?" Tanya Rocky memandang Ayla yang sedang membuka riwayat medisnya. Ayla hanya membukanya, ia sendiri tak tau apa yang tertulis di sana. Ayla menghela nafasnya sebelum meletakkan map itu di meja.


"Aku percaya."


"Alhamdulillah... Terima kasih."


Ayla tersenyum kecil.


"Jadi, masalah ini selesai, kan?" Tanya Raize enteng. Ia mendengarkan Vina yang berbicara lalu mengangguk seprti menyetujui.


"Jadi apa tidak masalah jika kita berkumpul di rumahmu. Kita sudah lama tidak berkumpul, kan?"


Rocky menatap Ayla lembut,


"Aku serahkan padamu. Kamu yang mengambil keputusan. Apakah mereka boleh menginap dan sedikit mengadakan pesta kecil. Kakek Yaris juga akan datang."


"Itu rumahmu. Kenapa bertanya padaku."


"Kamu nyonya di sana, baby."


"Terserah padamu saja." Ucap Ayla pasrah, karena ia sendiri tak ingin terlalu membatasi Rocky apalagi dengan keluarganya. Yang terpenting pria itu tak ikut larut dalam hal yang di harapkan.


"Baiklah, kakak ipar sudah memberi kode setuju." Suara Raize bersemangat.


Tiba-tiba saja, Ayla teringat dengan Kayla yang akan berkunjung dan menginap di rumahnya. Lalu ia melihat pada sang suami yang sedang berbincang dengan bahasa yang Ayla tak paham.


"Uumm, suami ku,"


Rocky menoleh dengan cepat.


"Malam ini, Kayla akan menginap di rumah. Boleh kan?"


Rocky mengulas senyum mengusap kepala Ayla dengan sayang. "Tentu saja."


Tanggapan berbeda justru datang dari Raize. Mata pria itu membulat sempurna.

__ADS_1


"JANGAN!"


__ADS_2