
"Tuan, apa anda benar-benar akan membiarkan mereka pergi begitu saja?" Tanya Pitung berdiri beberap meter di belakang Roxy yang menatap anak dan ibunya itu melangkah keluar dari mansion nya.
"Tidak mereka akan kembali lusa." Ucap Roxy yakin lalu mengambil hape dari sakunya dan melakukan sambungan telpon.
"Veloz!"
***
Di tempat kos berukuran 3x3 meter itu Uwais duduk memperhatikan sang bunda yang sedang menata pakaian dan barang-barang mereka.
"Unda..."
"Kenapa sayang?"
"Kalau unda kerja, is sama siapa?"
"Sama Tante Cayla sayang." Jawab Ayla sembari melempar senyum pada anaknya.
Sejenak Ayla terdiam, dan berfikir. Mengingat Cayla sedang tahap akhir kuliahnya. Tak mungkin ia menitipkan Uwais padanya. Lalu bagaimana?
Ayla menghubungi sang bos.
"Ooohh, jadi sekarang kamu udah kos? Yakin mau cerai sama suamimu?" Tanya Avan begitu mereka bertemu tatap muka di sebuah taman kota.
"Iya mas, udah mantap. Udah Ayla masukkan juga berkasnya ke pengadilan agama. Tinggal nunggu sidang panggilan untuk mas Alfa."
"Hmmm..." Mas Avan manggut-manggut sembari menyeruput es teh plastik di genggaman tangannya.
"MMM... Mas, sebenarnya, Ayla mau minta saran." Ayla merubah posisi duduknya sedikit miring ke arah sang bos.
"Boleh, boleh." Angguk mas Avan sambil melihat ke arah Uwais yang sedang bermain prosotan.
"Apa aku bisa membawa Uwais ikut kerja di sana?"
"Di kantor Roxcid maksudnya?"
Ayla mengangguk samar.
"Kamu yakin mau bawa Uwais ke sana? Ntar ketemu suami kamu lagi. Di bawa pulak sama Alfa."
__ADS_1
Ayla berfikir sejenak, "Masalah mas Alfa nggak aku pikirin, mas. Boleh nggak, mas Avan?" Tanya Ayla berharap cemas.
"MMM... Gimana ya, Ay. Masalahnya kan di sana itu untuk karyawan, ada aturan yang harus di taati oleh setiap pekerja di sana. Termasuk kita. Dan setau ku di sana nggak bisa bawa anak-anak."
Ayla merasa lemas seketika.
"Apa mas bisa tempatkan aku ke stan di pinggir jalan lagi? Biar aku bisa bawa Uwais kerja mas." Ayla mencoba menawar.
Bos nya itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu ia seperti mengingat sesuatu.
"Sebenarnya, aku punya teman yang sedang mencari art. Bisa bawa anak, dan harus nginap."
"Benarkah?"
"Heemm, kamu mau jadi art?"
Ayla mengangguk senang. Binar bahagia tampak di wajah cantiknya.
"Iya mas, Ayla mau, yang penting bisa bawa Uwais ikut saja aku sudah bersyukur."
"Ya sudah, nanti biar aku sampaikan padanya."
***
Sementara itu,
Alfa beberapa kali mencoba menghubungi Ayla. Namun istrinya itu tak kunjung menjawab panggilan nya.
"Ayla, kenapa kamu nggak masuk hari ini? Apa kamu menghindari ku?" Gumam Alfa memasukkan lagi hpnya ke dalam kantong celana.
"Apa kamu menghindari ku? Aku punya kabar bagus untuk mu Ay."
"Mas!"
Suara Agya memanggil di kejauhan dengan malas Alfa menoleh menatap Agya. Rasanya sekarang sangat malas pada wanita itu. Agya memang cantik, tidak kalah jika di sandingkan dengan Ayla.
Hanya Ayla lebih teduh dengan balutan jilbabnya. Sementara Agya lebih banyak menonjolkan kelebihan tubuhnya, dengan rambut hitam yang di gerai, meski masih berpakaian sopan, namun bisa membuat orang menerawang lekuk tubuhnya.
"Apa gy."
__ADS_1
"Kapan mas akan nikahin aku?" Tagih Agya setengah berbisik. "Aku tak mau kandunganku semakin besar mas, malu jika orang-orang tau aku hamil tanpa suami."
Alfa mengacak rambutnya, rasa kesal dan sesal bercampur menjadi satu. Kenapa Agya bisa hamil, padahal ia sudah memakai pengamanan. Tak mungkin jika pengaman itu bocor.
Tapi, Alfa juga sangat tau, jika Agya tak mungkin menghianatinya. Hampir setiap hari mereka bersama, pulang pun Alfa selalu mampir ke rumah Agya. Juga menjemput agya lebih pagi. Tapi, kenapa?
"Sabar gy, mas masih fokus dengan test menjadi staf di perusahaan ini. Nanti kalau mas lolos, mas bakal nikahin kamu." Ucap Alfa mencoba menenangkan Agya.
"Beneran mas?"
"Iya," jawab Alfa malas.
"Mas, nanti pulang bareng ya, dan tidur bareng ya? Udah lama aku nggak mas elus. Dia kangen sama mas." Manja Agya mengusap perutnya yang masih rata.
"Ya udah, nanti pulang ke kontrakan mas aja."
"Nggak papa nih mas? Kalau di grebek gimana? Apa nggak lebih baik ke rumah ku aja?"
Alfa tampak berfikir. Sudah lama ia tak berhubungan badan dengan Ayla ataupun dengan Agya.
"Tak apalah... Yang penting malam ini tersalur dulu. Nggak enak main sendiri." Gumam Alfa dalam hati melirik Agya.
***
("Ayla, temanku mau ketemu langsung sama kamu siang ini, gimana?")
Pesan dari Bos Ayla masuk ke aplikasi hijaunya. Ayla sumringah, sepertinya nasib baik sedang berpihak padanya.
("Baik mas Avan. Di mana kami akan bertemu? Dia laki-laki atau perempuan?") Balasan Ayla kirim.
Beberapa menit kemudian. Sebuah mobil sedan berhenti di depan kafe yang sedang viral akhir-akhir ini.
"Ay, Uwais biar sama aku aja. Kamu temui dia sendiri ya?" kata Avan saat Ayla hendak turun dari mobil.
Ayla sedikit terkejut dengan ucapaan bosnya.
"Tapi mas..."
"Santai aja. Nanti aku jemput kamu di sini lagi, jangan canggung, dia orangnya asyik kok." Ucap Avan menyakinkan.
__ADS_1
Akhirnya, Ayla pasrah memasuki kafe itu sendiri. Ia mencari sosok calon majikannya. Mata indahnya mengedar di setiap sudut kafe. Sampai ia melihat sosok yang di sebutkan dalam pesan yang di kirim ke nomornya....