
"Kay, kok lama sih? Keluarga besan udah berkunjung nih." Suara Mak Rohman dari balik spiker hp Cayla.
"Iya Mak, bentar, ini motornya bocor." Balas Cayla mengapit hp dengan bahu dan pipinya.
"Haduh, kok bisa bocor gimana sih?" Gerutu si emak."buruan kay nanti nggak ketemu sama keluarga Roxy."
"Iya, iya."
Setelah menutup telpon, Cayla menoleh pada Abang tukang tambal ban.
"Masih lama nggak mas?"
"Bentar mbak, lagi proses."
"Buruan mas, dah ditungguin nih." Cayla mengomeli mas tambal ban, seraya menyedot es teh dalam plastik.
.
.
.
Cayla bergegas kembali begitu urusan pertambalan selesai. Namun, saat ia sampai di rumah, keluarga Roxy sudah pergi.
"Yaahh, nggak jadi dapat vitamin deh." Gumam Cayla kecewa.
"Kan udah emak bilang tadi, balik cepet." Omel si emak.
"Iya Mak, kan ban kempes tadi."
"Ya udah, bantuin emak beresin nih bekas para tamu. Kamu yang cuci aja di belakang sama mbak mu."
"Siap Mak."
***
Pagi itu, suasana di rumah Ayla sangat ramai. Namun, sang calon mempelai sudah tak terlihat karena memang berangkat lebih dulu untuk di rias di lokasi resepsi. Hanya menyisakan Cayla yang masih mengkoordinir apa-apa saja yang harus di bawa dan di siapkan rombongan tetangga.
Cayla berdecak kagum melihat lokasi tempat sang kakak akan mengadakan hajatan.
"Waahh, tempatnya nggak kaleng-kaleng ini mah. Kalau ada saudara nya bang Roxy, mau lah aku.. hahay..."
Cayla bergegas masuk ke ruang rias. Semakin berdecak melihat perubahan sang kakak yang semakin cantik.
"Mbak Ayla!"
"Kay!"
"Mbak Ayla cantik banget..." Cayla memuji dengan mata berbinar.
"Cayla! Kamu kok telat banget sih?" Emak mengomel melihat Cayla baru datang sedangkan acara sebentar lagi di mulai. "Tinggal kamu nih yang belum di rias. Cepat ini!"
__ADS_1
"Iya Mak."
"Mbak, jangan gugup ya." Cayla memberi semangat. Ayla hanya menanggapi dengan senyuman.
"Ay, ayo cepat." Ajak emak menuntuk Ayla keluar dari ruang pengantin.
Di sisi panggung yang menjadi tempat di gelarnya ijab Kabul. Roxy sudah menunggu dengan gelisah. Sementara kakek Yaris ada di sisi lain bersebelahan dengan Raize.
Tak lama Ayla di tuntun keluar, wajah cantik dengan pakaian adat Jawa itu tersenyum saat bersitatap dengan calon suaminya.
"Waahh, cantik sekali."
Suara puji-pujian terdengar mengiringi langkah kaki Ayla. Janda Alfa itu duduk di sisi Roxy yang terlihat tegang.
Tak lama terdengar suara ikrar dari Roxy dalam satu tarikan nafasnya.
"Sah?"
"Sah!"
Ucapan syukur pun terdengar bersamaan. Cayla yang baru sudah selesai di rias dan mengenakan pakaian seragam dengan keluarga. Terpaksa mengentikan langkahnya sesaat, di dekat pintu sebelah kanan. Lalu ia melangkah dengan percaya diri.
Langkah kakinya terhenti saat matanya menangkap sosok orang yang sangat dia kenal namun serasa sangat jangal berada diantara rombongan keluarga kakak iparnya.
"Astaghfirullah! Ngapain mereka di sini?" Cayla bergegas bersembunyi dengan hati berdebar dan bertanya-tanya. "Bukankah mereka harusnya menghadiri acara pernikahan keluarga?"
"Astaga! Jangan bilang jika bang Roxy keluarga mereka! Aaarrrggg... Kenapa dunia sesempit ini?" Gumam Cayla merasa cukup frustasi.
Cayla lalu mengeluarkan hp, mencoba menghubungi Raize. Beberapa kali melakukan panggilan telpon namun dirijek.
"Sial! Sial! Sial!" Cayla mengumpat di sudut tempat ia sembunyi.
"Sekarang bagaimana? Apa kirim pesan saja?"
"Aahh, Iya benar. Kirim pesan."
Cayla mengirim pesan, namun hanya centang satu. Sepertinya Raize mematikan ponselnya. Cayla sampai di buat geram karena.
"Arg! Sekarang bagaimana? Aku tak mungkin muncul dan membuat semua jadi runyam. Bapak dan emak bisa syok berat jika begini. Tapi mau sembunyi terus juga tak mungkin. Astaga!" Cayla terus bergumam pelan sembari meruntuk karena keadaan seperti ini.
Acara akad telah selesai, emak gelisah karena Cayla tak kunjung muncul. Sedangkan Ayla sudah kembali ke ruang pengantin untuk berganti kostum.
"Kemana sih anak ini? Kakakny nikah malah nggak muncul-muncul apa dia sakit perut?" Emak mengomel-ngomel.
"Sudahlah Mak e, paling juga dia berbaur dengan tetangga yang lain. Kita duduk tenang saja di sini." Pak Rohman menegur."nggak enak sama besan."
Bu Rohman hanya menjawab dengan sentakan nafas panjang.
Sementara itu di ruang pengantin.
"Ini makan dulu, acaranya bakal lama banget. Setidaknya kalian harus makan biar nggak jatuh lemas." Ucap sang WO memberikan sepiring besar makanan."Kemungkinan nanti kalian nggak akan sempat makan banyak." Sambungnya lagi.
__ADS_1
Ayla mengangguk. Ia ingat dulu saat menikah dengan Alfa, memang tak sempat makan sampai badannya serasa sangat lemas. Ayla menyendok nasi beserta lauknya. Lalu menyuapi Roxy,
"Kamu dulu, baby."
"Kamu dulu, suamiku."
"Ya sudah." Roxy membuka mulutnya menerima suapan dari wanita yang telah resmi menjadi istrinya.
Kini giliran Roxy yang menyuapi Ayla. Begitu terus sampai piring tandas.
Di sisi lain, diruang resepsi. Raize merasa sangat tidak tahan untuk berkemih.
"Kakek, aku ke toilet dulu."
"Oke. Jangan lama-lama sebentar lagi acara resepsi nya di mulai." Pesan kakek Yaris.
Raize berjalan menuju toilet, setelah menyelesaikan urusan kemihnya. Raize berjalan kembali ke balroom. Namun, ia terkejut karena tiba-tiba ada seseorang yang menariknya hingga ke balik pilar.
"Kamu! Ngapain kamu di sini?" Tanya Raize terperangah melihat Cayla di depannya. Wanita itulah yang tadi menariknya.
"Sstttt!!" Cayla menempelkan telunjuknya di depan mulut.
"Mbak Ayla itu kakakku!"
"Astaga! Bagaimana bisa?"
"Isshh..." Cayla mencubit lengan Raize.
"Sakit tau!" Protes Raize menggosok lengannya.
"Ini pernikahan kakakku, aku nggak mungkin nggak menampakan diri terus. Lakukan sesuatu agar aku tak bertemu kakek."
"Apa?"
Raize tersenyum nakal. "Nggak mau!"
"Apa?"
"Kenapa aku harus melakukannya?"
"Kenapa kamu bilang?"
"Iyaaa... Kenapa?"
"Apa otakmu itu hanya pajangan dokter. Jika sampai emak dan bapak tau kita nikah palsu, mereka bakal syok berat! Aku bisa di coret dari daftar keluarga!"
"Ha-ha-ha, itu deritamu!" Raize melangkah setelah mengucapkan hal menyebalkan itu.
"Oohh, begitu? Baiklah kalau begitu. Lagi pula aku juga ingin tau bagaimana reaksi kakek Yaris jika tau!"
Seketika Raize berhenti.
__ADS_1