Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 74


__ADS_3

Kakek Yaris mengulas senyum. "Begitu ya? Lalu kenapa kamu terlihat sangat kecewa, Alfa?"


Alfa bungkam, gelisah terus melanda sejak ia tau Uwais di jemput oleh bundanya. Ketakutan akan kehilangan pekerjaan dan kesempatan bertemu Uwais menguasai hati dan pikirannya.


"Jika tuan muda Uwais sudah di jemput oleh bundanya. Bagaimana dengan pekerjaan saya tuan? Bukankah tugas saya hanya menjadi supir tuan muda?"


"Benar. Tenang saja, aku masih punya pekerjaan lain untukmu." Terang tuan Yaris yang seketika membuat Alfa sedikit merasa lega. " Untuk sementara ini kamu ikut mengurus taman. Sebenarnya, Aku masih ingin kamu menjadi supir cucuku. Tapi, sebelum itu, apa ada yang ingin kamu katakan padaku?"


Alfa langsung menegak menatap tuannya. Jantungnya berdetak cukup keras. "Mak-maksud tuan?"


"Uwais sempat bercerita tentang mu..."


"Be-benarkah?" Alfa semakin gugup dan gelisah. "Sa-saya..."


Alfa mencoba bernafas dengan teratur. Dan mencoba pasrah. "Apa tuan akan memecat saya?"


"Sudah kukatakan padamu sebelumnya kan? Aku tak akan menarik ucapanku." Terang kakek Yaris lagi.


"Saya... Ayah biologis Uwais."


"Hmmmm...."


"Maaf tuan, sungguh saya tidak tau dengan kebetulan seperti ini..."


"Tidak apa, mungkin juga kita berjodoh. Itu juga sebabnya, Uwais di jemput langsung oleh bundanya. Aku sangat yakin dia tidak setuju dengan usulku menjadikan mu sopir Uwais." Kakek Yaris menatap burung-burung yang terbang melintas di atas halaman rumahnya."Aku sangat paham dengan ketakutan cucuku menantu dan juga Rocky."


"Tapi, selama ini aku memperhatikanmu, kamu terlihat cukup baik. Semoga itu tidak menipu mataku. Aku akan usahakan agar kamu bisa dekat lagi dengan Uwais, walau dia sudah mendapatkan limpahan kasih sayang dari Rocky. Tapi, tetap saja dia bukan ayah kandung anak itu. Akan lebih baik jika Uwais juga tetap berinteraksi denganmu agar dia juga tidak lupa siapa ayahnya."


"Tuan...." Mata Alfa sudah berembun oleh genangan di pelupuk mata. Tak menyangka jika tuannya begitu baik dan perhatian.


"Sekarang ini, bersikaplah yang baik. Agar Ayla ataupun Rocky bisa mempercayaimu, tidak akan membawa pergi Uwais. Sebenarnya, itulah hal paling mereka takutkan."


"Tidak tuan. Saya tidak berani..." Alfa menggeleng lemah, sembari menyusut air matanya yang berhasil lolos.


"Sekarang temui pengurus rumah. Dia nanti yang akan menjelaskan pekerjaanmu..."

__ADS_1


"Terima kasih tuan.. terima kasih..."ujar Alfa haru.


Tuan Yaris sebenarnya cukup bersimpati pada Alfa. Kakek Yaris bukan tipe pendendam dan tak mepusingkan dengan masa lalu orang lain. Yang terpenting perilaku orang itu saat ini dan yang akan datang.


Terlebih, ia cukup merasa bersalah dengan sikap kekanakan Rocky yang memasukan Alfa ke penjara lantara pukulan yang tak seberapa itu. Kakek Yaris juga tak ingin Uwais tak mengenal ayahnya karena perpisahan kedua orang tuanya.


"Sepertinya, aku harus membujuk Ayla terlebih dahulu." Gumam kakek Yaris memandang punggung Alfa yang mulai menjauh.


Hari berikutnya,


Pagi menjelang siang, Ayla bersiap untuk menjemput Uwais. Setelah menyaut tas bahunya, Ayla melangkah menuruni tangga. Tepat saat itu, gawainya berdering.


Ayla terdiam sejenak melihat nomor kakek Yaris memanggil sebelum wanita cantik itu menggeser tombol hijau.


"Halo, kek."


("Pulang menjemput Uwais langsung ke rumah kakek. Ada yang mau kakek bicarakan.")


Ayla terdiam sesaat merasa bimbang sebelum akhirnya menjawab. "Baik, kek."


.


.


.


Ayla mengangguk pelan dan tersenyum tipis.


"Asyyiikkk..."


"Kamu senang?"


"Iya unda. Kan ada ay-yah.... UPS.." Uwais langsung membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangan.


Ayla mengulas senyum, menyadari beberapa hal, jika Uwais tetaplah membutuhkan ayah kandungnya. Walau ia sudah memiliki ayah sambung sebaik Rocky. Namun, tetap saja, darah lebih kental dari pada air. Tidak ada yang bisa merubahnya sekalipun.

__ADS_1


"Kamu senang bertemu dengan ayah?"


Uwais mengangguk samar. Mata bulat yang memancarkan rasa bersalah dan takut itu meluluhkan hati Ayla.


"Unda nggak marah aku ketemu sama ayah?"


"Enggak is. Dia kan ayah Uwais."


"Benar? Unda nggak marah sama ayah?"


Ayla menggeleng diiringi dengan senyuman.


"Aahh, syukurlah, unda." Wajah bocah 4 tahunan itu terlihat sangat lega."Ayah takut unda dan Daddy marah jadi ayah ajak aku buat main ayah rahasia. Biar bisa ketemu sama ayah."


"Benarkah?"


"Heemm..."


Walau ayla pernah di sakiti oleh Alfa, dan luka itu masih ada. Namun, Ayla tidak dendam. Untuk memaafkan, mungkin sudah, karena Ayla sendiri pun tak tau. Ia sudah cukup terobati oleh sikap dan kehadiran Rocky. Ayla hanya tak ingin terlalu terlibat dengan Alfa.


Dan sekarang, Ayla harus menegaskan kan akan hal itu. Kakek Yaris memanggilnya bersama Uwais, hanya ada dua kemungkinan, membahas tentang Alfa atau hanya rindu pada Uwais. Atau malah mungkin kedua nya. Namun, Ayla sekarang sudah siap menghadapinya.


Begitu sampai di halaman rumah kakek Yaris, Ayla dan Uwais keluar dari mobil. Uwais langsung berlari ke dalam rumah, sedangkan Ayla yang melangkah di belakang bocah itu tertegun melihat Alfa kini sedang memotong rumput dan menata tanaman di ujung halaman. Entah kenapa ada sedikit rasa iba dan simpati pada mantan suaminya. Semua itu semata-mata karena mereka pernah hidup bersama.


Ayla menjatuhkan bobotnya di sofa ruang keluarga. Di sana sudah ada kakek Yaris yang sedang bercengkrama dengan Uwais. Bocah itu terlihat sangat ceria.


"Is, kamu ke taman depan. Bantu ayahmu memangkas bunga dan pohon." Titah kakek Yaris melirik ayla sekilas.


"Siap, kek."


Sepeninggalan Uwais, kakek Yaris membuka suara dan mengutarakan maksudnya memanggil Ayla.


"Saya sudah memaafkan mas Alfa, kek." Jawab Ayla, "walau aku masih belum melupakan semua yang mas Alfa lakukan. Tapi itu hanyalah masa lalu, biarlah itu tetap berada di sana."


"Syukurlah, jika kamu pun berpendapat seperti itu. Jadi, apa kamu tidak keberatan Alfa menjadi supir Uwais? Setidaknya, aku ingin dia memiliki cukup waktu untuk lebih dekat dengan ayahnya. Melihat Uwais sekarang, mengingatkan ku pada Rocky dulu." Terang kakek Yaris mulai mengenang. "Kedua orang tuanya bercerai dan mereka meninggal tidak lama setelahnya. Itu membuat Rocky sedih. Mungkin juga itu yang mendasari Rocky sampai tidak tertarik pada wanita."

__ADS_1


"Apa?" Ayla terperangah mendengar penuturan kakek Yaris, "apa maksud Rocky tidak tertarik pada wanita?"


"Kamu tidak tau?" Kakek Yaris sedikit terkejut. "Sebaiknya kalian bicarakan itu berdua. Ehem, lalu maukah kamu membicarakan masalah Alfa pada Rocky?"


__ADS_2