
"Datanglah ke rumah jika kamu serius ingin melamar anak saya."
Tentu saja, itu adalah kode restu dari Bu Rohman yang dapat Roxy tangkap. Begitu Uwais keluar dari rumah sakit tiga hari kemudian, Roxy benar-benar datang.
Tidak bersama Kakek ataupun keluarga nya. Namun, membawa Supri, Avan dan Veloz. Hal itu, tentu membuat Bu Rohman mencebik. Maunya, tentu saja lamaran bersama dengan keluarga besar. Bukan hanya Roxy sendiri dan orang yang Bu Rohman anggap tak penting. Tanpa tau, bahwa mereka lah yang turut andil dalam proses transformasi Roxy dan perjalanan cinta pria 30 tahun itu.
"Mana orang tua mu? Yang namanya lamaran itu ya, harusnya bawa orang tua, bawa keluarga..." Omel Bu Rohman sembari duduk di kursi samping lemari bufet yang jadi penghalang antara ruang keluarga dengan ruang tamu.
"Orang tua saya sudah meninggal, Mak."
'Hah? Meninggal? Kasihan juga." Gumam Bu Rohman tak enak hati, namun tetap saja berwajah jutek.
''Ya kalau nggak bawa orang tua itu ya, bawa keluarga kek, minimal."
"Mereka keluarga saya, Mak."
Bu Rohman mendelik menatap Roxy."keluarga gimana? Orang kulitnya aja beda kok, bilang keluarga."
"Sudah to Mak e. Malu itu sama Mas Avan senyam-senyum dengerin mamak ngomel." Sela pak Rohman menegur istrinya."Nak Roxy ini kan sudah ada niat baik dengan melamar Ayla. Kita sambut dengan baik juga."
Bu Rohman mendessaah pelan. Memang, sebenarnya, hatinya sudah cukup merasa bersalah dengan semua yang sudah terjadi. Terlebih Uwais sampai terluka karena Bu Rohman sempat kesal. Dan entah kenapa, lagi-lagi Roxy di sana.
Setelah melakukan banyak perbincangan yang tak berujung, Roxy pun tak ingin berlama-lama menunda hal yang baik. Sebenarnya ingin saat itu juga menikah. Namun, setidaknya harus ada banyak yang di urus untuk meresmikan sebuah pernikahan secara agama dan negara.
Dan akhirnya sepakat untuk melangsungkan acara pernikahan dua Minggu lagi.
__ADS_1
"Terima kasih sudah berusaha sampai tahap ini." Ucap Ayla mengantar Roxy sampai di halaman rumah.
Roxy hanya menyambut dengan senyuman. Lalu mendekatkan wajahnya mengecup kening Ayla.
"Akan kubuatkan pesta termegah untukmu." Kata Roxy,"Kamu ingin yang seprti apa?"
"Besok kita bicarakan lagi, ini sudah malam."
"Benar, aku ingin menginap malam ini."
"Tidak boleh! Kita belum sah."
"Aahh, bagaimana jika kita kembali saja ke rumahku? Di sana kita tinggal satu rumah."
Ayla tersenyum geli."kita tidur di bangunan dan kamar yang berbeda, tuan Roxy."
"Kalau begitu, panggil saja aku nyonya, tuan."
Roxy tertawa kecil.
"Aku pulang dulu." Pamit Roxy. "Besok aku kemari lagi."
"UMM...."
Seusai keduanya berpisah, Roxy segera memerintahkan Veloz untuk mengurus semua administrasi dan berkas untuk menikah nanti, termasuk dengan acara pesta.
__ADS_1
Di sisi lain, Ayla menghubungi sang adik yang kini sedang berada di kota untuk kuliah.
("Mbak Ayla mau nikah?")
"UMM... Apa kamu bisa datang nanti?" Jawab Ayla memberi kabar.
("Kapan mbak?")
"Dua Minggu lagi."
("Baiklah, Cayla usahakan balik. Semoga urusan di kampus cepat kelar.")
Sambungan telpon di tutup. Ayla tersenyum kecil.
Sementara itu, Cayla di buat pusing dengan salah satu pembimbingnya. Dia terus membuatnya kesulitan dan sangat tidak profesional. Cayla sampai tak habis pikir, padahal pembimbingnya itu seorang dokter. Bagaimana bisa dia menjadi salah satu penentu sekripsinya.
Cayla melangkah memasuki sebuah rumah sakit.
"Semoga dia tidak menyebalkan. Apa gunanya orang tampan tapi menyebalkan. Huuuhh!" Gerutu Cayla begitu berdiri di depan sebuah ruangan. Lalu mengentuk pintu, tanpa menunggu sahutan dari dalam, Cayla membuka pintu itu. Berusaha bersikap dan berwajah ramah.
"Permisi dok. Astaghfirullah...."
_______
wah, apa ya yang Cayla lihat?
__ADS_1
maaf ya readerku, Si othor lagi kehilangan kemistri kemarin. Jadi, agak lama libur nya. maaf ya. Bocil othor juga sudah nggak rewel lagi. makasih doa nya yaa... love you all