Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 66 • dua satu plus plus •


__ADS_3

"Aku tidak nyaman dengan sesuatu yang keras di bawah sana."


Roxy terkikik, "kamu mau mencobanya?"


Ayla menjawab dengan anggukan kecil di tengah ketersipuannya. Roxy mengulas senyuman. Menahan kedua paha Ayla hingga terposisi sempurna. Memberi gesekan-gesekan pada bagian vital istrinya.


“Aku mencintaimu, baby,” ucap Roxy sembari menggerakkan pinggulnya untuk memompa tubuh Ayla.


Dessahan-dessahan kecil akhirnya keluar dari bibir Ayla. Wanita cantik itu semakin menikmati kegiatan panas mereka saat ini. Sementara itu, Roxy kembali menghujam tubuh istrinya dengan rasa nikmat yang didapat.


“Baby, aku rasa … aku bisa melakukannya sepanjang malam.”


"Apa kamu yakin sekuat itu?"


"Kau meragukanku?"


"Sepertinya...."


Roxy memepet tubuh Ayla hingga ke tembok kamar mandi. Membiarkan tubuh keduanya basah oleh guyuran shower yang hangat. Roxy menambah ritme gerakan pinggulnya.


"Kau akan menyesal menantang ku, nyonya Roxy."


"Aku sangat menantikannya, tuan."


Roxy kembali menghujam tubuh Ayla. Menembus pertahanan wanita itu. Semakin dalam dan keras.


Ayla meracau, menyebut nama Roxy berulang kali.


"Apa kamu menyerah, nyonya?" Roxy menyeringai memandang wajah Ayla yang sudah hampir mencapai puncak nya.


"Tak usah banyak bicara, selesaikan saja, tuan."


"Aku mencintai mu, Ay."


"Aku juga. Aaakkkhhh...."


Roxy menghujam tubuh Ayla semakin dalam. Cakaran kuku-kuku Ayla membekas di punggung Roxy. Mengalirkan semua siksaan kenikmatan di bawahnya sana.


Semburan hangat Ayla rasakan memenuhi jalan rahimnya. Tubuh Ayla yang sempat menegang, ikut melemas dengan suara desau nafas Roxy di telinganya.


Nafas cepat Ayla dan Roxy bersahutan.


"Aku masih memiliki tenaga lebih untuk melakukannya sepanjang malam."


"Istirahat sebentar. Aku gosok punggungmu. Aku... Juga lapar."


Roxy terkekeh kecil. "Apa itu alasan mu untuk mengumpulkan tenaga?"


"Apa kamu sedang meledek mu tuan Roxy?"


"Daddy!"


"Baiklah, Daddy Roxy. Cepat turunkan aku, dan keluarlah dari dalam sana."


"Khi... Khi... Khi... Terlalu nyaman di dalam sini. Aku ingin lebih lama.... Awww...."


Roxy memekik karena Ayla tiba-tiba mencubit perut samping nya. Dan mendelik protes.


"Iya, iya, ayo selesaikan mandi dan makan. Aku juga lapar."


Seusai saling menggosok punggung, pasangan suami istri itu berendam di bathtub.


"Apa punggungmu sakit? Sepertinya cakaranku terlalu dalam." Tanya Ayla bersandar pada dada bidang suaminya.


"Kamu yang melukaiku, kamu juga yang harus mengobatiku." Jawab Roxy menyentil hidung Ayla.


"Uummm, tidak da salep di kamar. Kita harus pesan pada belboy dulu."

__ADS_1


"Tidak perlu salep." Roxy memberi pijatan lembut pada dada Ayla. Istrinya itu memejamkan mata menikmati. Merebahkan kepalanya di pundak Roxy.


Pria bule itu tersenyum, memandang wajah Ayla yang menikmati. Melihat bibir ranum sang istri yang sedikit terbuka, lalu perlahan menggigit bibir bawahnya. Wajah yang sangat menggemaskan bagi Roxy.


Roxy mengangkat tangan Ayla lalu menelusupkan kepala di bawah ketiak wanita itu. Di depan matanya terbentang gunung dengan puncak ceri merah yang membuat Roxy semakin melebarkan senyumnya. Dengan cepat pria itu melahabnya, tangan kirinya masih setia memberi pijatan lembut.


"Daddy Roxy..." Ayla meracau lagi.


Tangan Roxy mulai nakal menjamahi tubuh bawah sang istri. Bermain dengan sedikit membelah bibir bawah Ayla.


Tubuh Ayla menegang dan bergetar. Merasai sengatan-sengatan cinta yang Roxy alirkan di bawah air.


Nafas Ayla semakin cepat, dadanya terus naik turun dan meracau meminta lebih. Kegiatan panas itu terus berlanjut sampai keduanya merasa lemas untuk kedua kalinya.


***


Pintu kamar mandi terbuka, Roxy memangku tubuh Ayla yang hanya berbalut handuk. Dan Roxy sendiri memakai jubah mandi.


Dengan hati-hati Roxy membaringkan Ayla di atas ranjang.


"Kamu mau makan apa?"


"Apapun..."


Roxy tersenyum menang, wanita yang kini terbaring lemas di atas ranjang terlihat sangat lelah setelah pertempuran mereka di kamar mandi.


Roxy mengusap lembut kepala Ayla. Netra wanita itu terpejam, meski masih merasakan kecupan hangat di keningnya.


"Tidurlah, aku pesankan makan malam untukmu."


"Uummm..."


"Setelah isi ulang, kita lanjutkan lagi."


"Aaarrrggg.... Daddy!"


"Ha-ha-ha, siapa sekarang yang minta ampun?"


"Veloz, apa terjadi sesuatu di Roxcid?"


("Tidak tuan.") Jawab Veloz melalui sambungan telepon.


Kening Roxy berkerut. "Apa Yaris grup bermasalah?"


("Saya tidak dengar tentang hal itu.")


"Jadi semua baik-baik saja?"


("Iya tuan. Tapi, tadi tiba-tiba tuan besar datang ke Yaris grup. Entah ada apa?")


"Coba kamu cari tau."


("Baik.")


Roxy meletakkan gawai nya. Merasa sangat aneh karena sang kakek tiba-tiba pergi karena sebuah panggilan dari Yaris grup. Ia ingin tau sendiri kenapa, namun ia telusuri, dan tidak ada apapun.


Pintu kamarnya berbunyi, menandakan seorang belboy sudah mengantarkan pesanannya. Roxy berjalan sembari melirik kecil pada istrinya yang pulas di atas ranjang di bawah selimut tebal.


Roxy membuka pintu kamarnya, mengambil alih kereta dorong yang penuh dengan makanan.


"Terima kasih." Ucap Roxy memberi beberapa lembar tips untuk sang belboy.


Setelah pintu tertutup, Roxy segera membawa kereta dorong itu di depan sofa kamar. Lalu ia berjalan mendekati istrinya.


Usapan lembut di lengan Ayla rasakan. Wanita itu membuka matanya, wajah Roxy begitu dekat, menatapnya dengan pandangan yang bertumbu di wajah cantik istrinya.


"Ayo makan dulu."

__ADS_1


"Ummm... Makanan nya sudah datang?"


"Bisa bangun?"


"Apa kamu sedang meledekku, Daddy?" Ayla mengangkat tubuhnya sendiri dan duduk di ranjang menyibak selimut hingga sebatas pahanya.


"Kamu terlihat sangat lelah." Roxy tersenyum geli melihat bibir istrinya yang mengerucut.


"Aku hanya lemas karena belum makan."


"Iya deh." Pasrah Roxy, tak ingin membuat Ayla kesal yang mungkin akan berujung berkurang nya jatah malam ini."Ayo makan."


"Ummm... Mana bajuku?" Tanya Ayla yang masih mendapati tubuhnya berbalut handuk.


"Besok saja pakai bajunya. Malam ini begitu saja. Masih ada banyak sesi untuk malam ini."


"Ro-xy!" Geram Ayla.


Roxy menanggapi dengan tawa.


Malam itu, ditengah makan malam mereka. Ayla menyempatkan diri menelpon Uwais melalui nomor Cayla. Tentu saja sudah memakai pakaian lengkap.


("Unda! Daddy! Kapan balik?") Wajah Uwais sudah memenuhi layar ponsel milik Ayla.


"Besok sayang."


("Yaahh, is mau bobok sama Daddy.")


"Bunda kangen sama Is. Kok cuma mau bobok sama Daddy?"


("Bobok sama unda juga.")


"Besok is, setelah kita balik ke rumah." Roxy ikut menimpali duduk di sisi Ayla.


("Rumah mana, dad? Apa yang ada air mancurnya? Yang besar itu?")


"Ummm..." Roxy mengangguk


("Kapan?")


"Besok mau?"


("Yeeeyyy... Besok.")


("Kalian nggak nginep sini dulu?") Suara bu Rohman menyela.


Roxy dan Ayla saling melempar pandangan. Memang belum ada rencana untuk menginap di rumah Pak Rohman. Di tembak seperti itu, membuat pengantin baru itu canggung. Apalagi mereka ada rencana berbulan madu hadiah dari kakek Yaris.


Pak Rohman terlihat menyenggol Lengan Istrinya. ("Jangan begitu, Mak, mungkin mereka mau langsung bulan madu bikin anak.") Bisik suami emak itu, namun masih dapat Ayla dan Roxy dengar.


seusai makan malam di sertai drama rengekan Uwais, Roxy dan Ayla mengerjakan empat rakaat yang tertunda hingga pukul 10 malam. Lalu berlanjut dengan kegiatan panas mereka.


“Hum? Roxy, cukup. Aku ingin ke kamar mandi.”


“Keluarkan saja di sini, Baby. Sepertinya milikku juga ingin segera keluar.”


“Apa?”


Roxy mempercepat gerakan pinggulnya, membuat Ayla merancau dan memanggil nama pria itu. Hingga tubuh keduanya menegang, Roxy memenuhi rahim istrinya dengan cairan percintaan itu.


Tubuh keduanya terasa lemas, Roxy menarik selimut untuk menutup tubuh keduanya.


“Aku ingin ke kamar mandi, Roxy. Kenapa kamu menutup tubuh kita dengan selimut?”


“Biarkan seperti ini, aku ingin melakukannya lagi nanti.” Roxy memeluk erat tubuh istrinya, lalu memejamkan mata.


“Tidak, Roxy. Lepaskan, keluarkan milikmu dari sana. Itu sangat memenuhi milikku.”

__ADS_1


“Sepertinya milikku kecanduan di sana. Bagaimana ini?” gumam Roxy menggoda tanpa membuka mata.


__ADS_2