
Kayla menunduk bingung, ia tak tau kenapa justru berhenti di sini. Saat Avan memberinya tumpangan, Kayla hanya merasa tak enak hati. Pria itu terlalu baik menurut nya. Selain itu, ia juga tak mau jika nantinya orang lain salah paham karena melihat dia dan Avan berboncengan. Terlebih jika itu dari pihak Avan, tentu itu akan sangat tidak baik bagi hubungan pribadinya.
Kayla mengangkat kepalanya, tanpa sengaja pandangannya seperti melihat Raize di dalam sebuah mobil silver di sebrang jalan. Tapi, pria itu langsung membalikkan badan dan tertutup oleh sebuah truk yang melintas dan hendak parkir.
"Mungkin hanya perasaanku saja, tak mungkin dia ada di sini. Ngapain juga." Gumam Kayla dalam hati.
Tak lama setelahnya, Kayla memutuskan untuk kembali saja. Belum sempat ia melangkah, sebuah mobil silver berhenti tepat di depan dan menghalangi langkah kakinya.
"Ngapain dari tadi di sini? Masuk!"
Kayla terkejut, sesaat terdiam karena otak nya mengingat seseorang di sebrang sana yang tadi sempat ia lihat, pria berambut pirang yang sedang bercumbu dengan wanita di sampingnya di dalam mobil berwarna silver.
Ada rasa enggan di hati Kayla. Ketika pria itu meminta nya untuk ikut dengannya.
"Hey! Malah ngalamun!" Suara Raize menyadarkan dari lamunan.
"Ayo naik! Kamu mau balik, kan?"
"Enggak! Ada yang terlupa. Aku harus balik ke dalam." Ucap Kayla berbohong.
Raize tau Kayla hanya berbohong, ia bergegas keluar dan menarik paksa Kayla agar masuk ke dalam. Lalu ia mengitari separuh badan mobil dan duduk di belakang kemudi.
"Pasang sabuk pengaman nya." Titah Raize sembari memasang seat belt nya sendiri. Namun, Kayla sama sekali tak bergerak. Merasa di abaikan, Raize mencondongkan tubuhnya dan menarik seat belt hingga terpasang sempurna.
"Kamu mau pulang, kan?" Tanya Raize melirik dari ekor matanya sembari melajukan kendaraan roda empat itu.
"Tidak."
"Terus? Mau kemana? Biar ku antar."
"Kerumah kakek Yaris saja." Jawab Kayla datar.
Mau ngapain kesana?" Tanya Raize merasa heran, karena gadis itu baru saja dari sana."Bukannya kamu sudah menginap di sana semalam? Apa ada barang yang tertinggal."
__ADS_1
"Aku pikir, sebaiknya kita jujur saja." Ungkap Kayla. Sebenarnya dia memang sudah sangat lelah, karena mereka saling berhubungan. Baik Ayla, Kayla dan juga kakek Yaris. Kesemuanya saling mengenal, tak mungkin mereka akan terus bisa menghindar.
"Apa?"
"Hubungan ini tidak benar." Lirih Kayla menundukkan kepalanya.
Raize terdiam sesaat, setelah melihat Kayla bertemu dengan Avan tadi, ia sangat yakin Kayla sudah di pengaruhi oleh pria itu hingga ingin mengakhiri.
"Kenapa tiba-tiba?"
"Aku hanya lelah, lelah setiap kali bertemu dan harus berbohong. Aku lelah terus menghindar. Dari kakek juga dari mbak Ayla. Di rumah kakek Yaris juga ternyata ada mantan suami mbak Ayla. Kakek Yaris juga bercerita, jika Uwais sering main kesana. Kamu pikir apa kita tak akan ketahuan?" Cecar Kayla kini memiringkan tubuhnya menghadap Raize.
"Jika kita jujur, mereka pasti marah, tapi aku yakin tidak akan lebih buruk jika mereka tau sendiri dan merasa di bohongi dan di bodohi." Ucap Kayla lagi dengan pandangan pemohon, meminta, "ayo, kita jujur saja."
Raize menggeleng, ia menepikan mobilnya. "Aku punya ide lebih baik. Bagaimana jika kita menikah betulan?"
"Apa?"
Raize menatap Kayla. "Ayo kita menikah sungguhan. Sebelum mereka tau, kita bisa menikah sungguhan."
"Iya. Menikah sungguhan. Mereka tidak akan tau, lagi pula kita sudah tinggal bersama."
Kayla tertawa kecil. Tidak menyangka, Raize akan mengusulkan hal yang sakral seperti pernikahan. Saat ini aja, berada dalam hubungan yang tidak jelas, dalam satu atap. Kayla sudah sangat tertekan dengan sikap Raize yang begitu mudahnya bersama wanita. Dan pria itu dengan mudahnya juga meminta pernikahan pada dirinya.
Kayla merasa sama seperti para wanita jallang yang biasa beradu peluh dengan Raize. Ia sangat merasa terhina walau senungguhnya, ada rasa senang di hatinya.
"Aku tidak mau."
Raize sedikit melebar matanya, terkejut, sekaligus merasa terhina. Kayla lah wanita pertama yang pernah ia lamar. Dan kini di tolak mentah-mentah.
"Apa bagimu menikah seperti sebuah permainan? Seperti dirimu yang memainkan banyak wanita. Jika bosan, kamu bisa berganti dengan wanita yang lain." Cetus Kayla mencubit hati Raize.
"Tentu saja tidak. Sampai sebesar ini, aku hanya melamar satu wanita. Dan itu kamu." Aku Raize jujur.
__ADS_1
"Semalam, ada wanita yang menginap di rumahmu."
"Hanya menginap, kami tidak bercinta." Kilah Raize.
"Pagi ini kalian bercumbu."
Raize memejamkan matanya, menahan rasa marah didada. Memang benar, ia sudah mencumbu seorang wanita diatas pangkuannya. Ia tak bisa mengelak, Raize menelan ludahnya, membasahi kerongkongan yang terasa kering. Ia tak dapat berkata ataupun berkelit.
"Jika, ku berjanji, itu tidak akan terjadi lagi. Apa kamu setuju?" Tanya Raize menatap manik mata Kayla dengan sungguh-sungguh. Jika Kayla setuju, ia berjanji pada dirinya sendiri. Tidak akan bermain-main dengan wanita.
Kayla juga menatap Raize, menatap mata berwarna biru itu. Mencari sisa-sisa kejujuran dan kesungguhan dari seorang Casanova.
"Janji seorang pemain, apa bisa di percaya?"
"Kamu mau aku bagaimana?"
Kayla bungkam, jika cinta, ia juga tak tau, jika benci pun Kayla rasa tidak. Tapi, debaran di hatinya tak bisa di pungkiri.
"Kamu mau aku bagaimana?" Tanya Raize sekali lagi, menatap jauh di dalam mata Kayla. Seorang pemain seperti Raize tentu sangat tau bagaimana binar mata seorang yang jatuh cinta. Dan dia melihat cahaya itu di mata Kayla. Mungkin Kayla belum menyadarinya, atau mungkin menolak untuk tau.
Kayla masih bungkam, dengan kebimbangan nya dan Raize terus menatap wajah Kayla yang kini memilih menunduk.
Tak ingin memberi Kayla untuk menolak, apalagi mencari alasan. Raize meraih dagu gadis cantik itu, lalu memberinya sebuah ciuman yang lembut dan hangat. Bukan sebuah ciuman penuh nafsu yang biasa dia berikan pada wanita-wanita yang biasa menemani dirinya tidur.
Sebuah kecupan lembut yang dalam dan perlahan. Menyalurkan semua rasa dihati agar sampai pada gadis cantik di depannya.
Untuk pertama kali nya, kali merasakan bagaimana berbagi ludah. Pertama kalinya lidahnya di belit dan di belai dengan sangat lembut dan terasa manis.
Gadis itu membuka matanya, menatap sayu pria yang memperkenalkannya pada sebuah ciuman manis.
Bahagia? Senang? Atau justru perasaan terluka? Saat ciuman pertamanya di rampas oleh seorang Casanova seperti Raize.
"Apa bibir mu begitu murah, hingga dengan mudah nya mencium seorang wanita?"
__ADS_1
Senyum kecil yang semula terkembang di wajah pria bule itu, seketika hilang. Untuk pertama kalinya, seorang gadis mengnamparnya dengan kata-kata yang begitu menyakitkan baginya.
"Apa aku terlihat begitu gampang dimatamu sampai kau samakan aku dengan wanita jalaaang yang selalu menemanimu tidur?"