
Kayla merebah di atas ranjang kamar Raize. Karena di sanalah Vina membawanya.
"Kenapa kamu membawa ku kemari?" Tanya Kayla sebelum Vina membuka pintu kamar Raize.
"Ini kamar Raize." Jawab Vina enteng,
"Iya, aku tau." Kayla tampak begitu gelisah memikirkan kemungkinan ke depan nantinya. Ia tak mau satu kamar dengan Raize.
"Jadi benar ya? Kalian tidur terpisah?"
Kayla melirik Kakek Yaris yang ikut berjalan di belakang Vina dan dirinya. Lalu Kayla menghela nafas beratnya. Dan menurut apa yang Vina katakan. Dan berakhir nya ia di sini, di kamar Raize.
"Tadi aku mengetuk pintu kamar di sebelah, tapi, sepertinya kamu sedang beristirahat di sana." Kata kakek Yaris begitu Kayla sudah terbaring di atas ranjang Raize.
"Iya kek, aku sangat tak enak badan, jadi, aku hanya asal tidur."
"Di mana, Raize?"
"Sepertinya, dia keluar mencari obat." Jawab Kayla mengatakan kemungkinan yang tidak memberatkan Raize dan sedikit masuk akal. Meski ia sangat tau Raize mungkin sedang bersama dengan wanita lain di hotel.
"Ooohh..."
Dari ambang pintu Raize tiba-tiba muncul dengan nafas terengah-engah. Entah kenapa itu cukup membuat Kayla sedikit lega, ia tak perlu lagi berbohong sendiri. Sedangkan kakek Yaris menatap dokter muda itu dengan tajam.
"Aku bilang padamu untuk kembali ke rumah, kan?" Tukas kakek Yaris kesal dan bersiap memukul cucu lelakinya.
"Kakek! Jangan di depannya." Pinta Raize dengan nada pelan yang sedikit di tekan dan melirik Kayla.
"Kenapa? Apa kau sangat takut reputasimu jatuh di depan dia?"
"Tentu saja, bisa-bisa dia menjadikannya lelucon."
Kakek Yaris terdiam sejenak dan berdehem setelah sejenak memikirkan nya.
"Kau dari mana saja?"
"Aku mencari obat kek, lihat!" Raize dengan bangganya menunjukkan bungkus obat yang di belinya. Kakek Yaris hanya melirik obat itu.
Dengan langkah pasti, Raize berjalan mendekati Kayla. Lalu bersikap sok manis dan penyayang. Membelai rambut Kayla dengan lembut dan sayang.
"Bagaimana keadaanmu?"
"UM, sudah lebih baik." Jawab Kayla gugup. Jelas gugup karena sikap Raize sangat berbeda, terlihat sangat manis dan menyayangi. Tatapan lembut yang seketika membius Kayla.'sadarlah, Kay. Dia itu player.' gumam Kayla dalam hati menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Minumlah obat dulu." Kata Raize mengeluarkan obat.
"Obat apa ini? Kau benar-benar akan memintaku meminum obat ini? Aku kan tidak beneran sakit." Bisik Kayla memprotes.
"Ini hanya vitamin, bodoh." Ucap Raize ikut berbisik. Kayla masih melirik curiga pada pria di depannya."Apa kamu pikir aku akan meracuni mu?"
Kayla mengangguk dengan cepat dan tanpa keraguan.
"Aku ini dokter." Ucap Raize sambil mengambil gelas air putih."buka mulutmu."
Kayla masih menutup mulutnya, sangat enggan setiap kali berurusan dengan kakek Yaris, ia selalu merasa di rugikan oleh Raize.
"Buka mulutmu! Kau ini mau sembuh tidak?" Geram Raize dengan dengan sedikit keras, tentu saja agar sang kakek mendengar.
"Tidak mau!"
"Kau... Bagaimana perutmu bisa sembuh jika minum obat saja malas. Aku sudah capek-capek mencari obat tengah malam hanya demi kamu." Ucap Raize panjang lebar seolah benar-benar sedang mengkhawatirkan sang istri.
"Pe-rut-ku ke-na-pa?"
"Kamu kan sedang sakit perut."
Mata Kayla melebar dan bibirnya bergerak memberi isyarat pada Raize sesekali ia melirik pada kakek Yaris. Sayangnya dokter muda itu tak terlalu memperhatikan justru terus mengoceh tak jelas.
"Apa kamu tak bisa menghargai pengorbananku sedikitpun? Aku sudah lelah karena seharian bekerja, masih mengkhawatirkan mu, masih mencari obat untukmu. Aku sangat cemas karena dari tadi kau terus bolak-balik ke kamar mandi."
"Iya kek, aku kan sudah bilang tadi, dia sakit perut makanya nggak bisa datang." Raize menjawab mewakili Kayla, melirik kecil pada gadis yang sudah pias dan menepuk jidatnya.
"Hmmm...."
"Aku sangat cemas, makanya keluar untuk mencari obat." Raize masih mengoceh.
"Hmmmm.... Aku dengar tadi Kayla sakit kepala. Ternyata sakit perut ya? Apa mungkin kepala itu udah pindah ke perut."
Mata Raize melebar, dan menoleh cepat pada Kayla."kau bilang sakit kepala?" Bisik Raize dengan muka jengkel.
"Kau yang tidak bilang aku sakit apa. Sekarang kau malah marah-marah padaku." Kayla pun ikut jengkel dengan sikapa Raize yang menyalahkannya.
Kakek Yaris berbalik untuk keluar. "Kalian selesaikan diskusi kalian berdua. Kakek tunggu di bawah."
Lalu pria tua berjalan keluar di ikuti oleh Vina.
###
__ADS_1
Di ruang santai, kakek Yaris duduk di kursi singel, sementara Vina sudah pamit ke kamarnya. Ia tak ingin terlibat terlalu jauh dengan urusan Raize dan kakeknya. Raize dan Kayla duduk bersebelahan. Kedua anak manusia itu hanya bungkam dalam ketegangan. Menunggu sang kakek mengeluarkan suara.
"Kenapa kalian berbohong?"
Kayla tak mengatakan apapun dia membiarkan Raize yang mengambil kendali.
"Kek, tadi dia sungguh-sungguh sakit..."
BRAK!
"Masih berani berbohong?" Sentak kakek memukul meja di depannya hingga Kayla dan Raize terlonjak kaget.
"Sekarang katakan! Kenapa kalian tak datang bersama tadi?" Tanya kakek Yaris mendominasi. "Kalian ini suami istri, harusnya kalian datang bersama! Bagaimana bisa kalian bersekongkol dalam penipuan."
"Kami bukannya menipu kek. Ini kerjasama."
BRAK! Kakek Yaris makin kesal dengan jawaban dari Raize. Cucu nya itu terus saja memancing emosinya. "Kerjasama apa hah? Katakan! Beri kakek alasan yang masuk akal kenapa Kayla tidk ikut ke rumah Rocky? Kenapa?"
"Itu kan kumpul keluarga kita kek."
BRAK! Kakek mengebrak meja lagi saking kesalnya.
"Apa kau bilang? Keluarga kita? Siapapun yang sudah masuk dalam rumah kita sudah menjadi keluarga, Raize! Bagaimana bisa Hazel melahirkan anak sebodoh kamu?" Kakek Yaris terus berteriak kesal.
Emosinya makin meninggi melihat reaksi Raize terkesan santai. Berbeda dengan Kayla yang sangat terkejut melihat emosi sang kakek yang meletup-letup. Kayla berpikiran jika sang kakek sangat berlebihan.
Tak hanya menggebrak meja berulang kali. Kakek Yaris tak pernah bisa puas jika tak sampai memukul tubuh cucunya. Kakek Yaris mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi lalu bersiap memukul tubuh Raize. Kayla melihat itu, dan reflek bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Raize duduk. Hingga dirinyalah yang menerima pukulan tongkat kakek Yaris. Tentu saja hal itu tak pernah terlintas dalam pikiran Raize, hingga dokter muda itu sangat terkejut.
"Aduuhh!!"
Tak kalah dengan Kakek Yaris yang smaa terkejutnya, ia langsung merasa menyesal dan bersalah. "Kenapa kau malah berdiri di sana?"
"Maaf, kek." Ucap Kayla memegangi bahu dan punggungnya yang terasa panas dan sakit."Tapi, kekerasan sangatlah tidak di benarkan. Meskipun kami salah."
Kakek Yaris terlihat sangat menyesal dan bersalah. Namun pria tua itu terus menutupinya agar tak terlihat oleh cucunya.
"Kau laki-laki Raize! Bagaimana bisa malah berlindung di belakang istrimu! Benar-benar tidak tau malu!"
Raize mandang Kayla yang menahan sakit itu, perasaannya menjadi tidak karuan, dan tak bisa ia tafsir kenapa. Dengan merendah Raize meminta maaf pada kakeknya. "Aku yang bersalah. Maafkan aku."
Kake Yaris membuang muka, merasa kasihan dan bersalah pada Kayla. "Sudah, bawa dia ke kamar dan rawat lukanya. Kompres pakai air hangat."
"Maaf, dan terima kasih, kek." Pamit Kayla.
__ADS_1
Di kamar Raize, Kayla duduk tak lama pria itu mendekat dengan sebuah baskom dan handuk tangan.
"Buka bajumu, biar kulihat memar yang kamu dapatkan."