Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 105


__ADS_3

"Ayla?"


"Mas Alfa, aku maaf tiba-tiba menghubungimu. Bisakah kamu menjaga Uwais selama aku pergi?"


"Menjaga Uwais?"


Ayla mengangguk yakin.


Alfa tentu sangat senang dan menyambut baik permintaan dari mantan istrinya, "baiklah." Ucap Alfa menyangupi."Hati-hatilah di jalan, dan jangan terlalu khawatir, Uwais bersamaku, aku akan menjaganya dengan baik."


"Makasih mas," ucap Ayla.


Wanita yang kini sudah menjadi istri dari Rocky itu, meninggalkan kota untuk menyusul ke kampung halamannya. Tentu saja, Ayla sudah menyampaikan hal itu pada suaminya. Rocky tak banyak melarang karena aylalah yang paling tau, bagaimana keluarganya. Rocky hanya berpesan agar Ayla selalu berhati-hati di jalan dan tidak terlalu memaksakan. Mengingat, Ayla yang kini tengah berbadan dua. Rocky juga meminta sang sopir untuk berhati-hati dan menjaga Ayla selama dalam perjalanan.


Sementara itu di kampung halaman Ayla, Rocky masih menunggu istrinya datang dengan cemas. Walau Ayla sudah memberi kabar dengan intens, tetap saja Rocky tak bisa tenang. Jika mau mengikuti kata hati, Rocky pasti segera terbang menjemput istrinya. Namun, akal sehatnya menahan. Lebih baik menunggu dari pada menjemput dengan kemungkinan tak bertemu di jalan. Terlebih mereka sama-sama menggunakan mobil yang sulit untuk di lihat dan di kenali.


Suasana di dalam rumah terasa sangat panas di tengah pagi yang sejuk. Sepagi itu, seusai sarapan, Kayla duduk di ruang keluarga. Di hadapannya emak dan bapak yang sudah mulai surut emosinya duduk bersiap memberi Kayla banyak pertanyaan yang tentu akan menyudutkannya.


"Katakan Kayla,kenapa kamu lakukan ini?"tanya bapak.


Kayla bergeming, sedikitpun tak menjawab pertanyaan dari sang ayah. Itu membuat pak Rahman kesal.


"Jawab Kayla! Apa kamu tak punya mulut?" Suara pak Rahman bernada lebih tinggi sekarang.


Bahu Kayla berguncang pelan. Suara isakan terdengar lirih. "Maaf pak, Kayla nggak bisa mengatakannya." Tentu saja, semua ini Kayla lakukan karena tak ingin orang tuanya semakin membenci Raize.


"Kayla!" Kali ini suara pak Rahman semakin tinggi."Apa kamu sudah begitu buta? Apa yang sudah dia lakukan sampai kau tak bisa mengatakan penyebab semua ini? Apa begini bapak mendidikmu?" Hardik pak Rahman menggebrak meja.


Bu Rohman sampai terkaget karena. Jelas sekali jika suaminya itu sedang marah besar. Kayla hanya bisa menangis.


"Sabar pak, sabar." Bu Rohman mencoba menenangkan suaminya dengan mengelus lengan pak Rahman.


Pak Rahman yang sudah emosi itu perlahan mengatur nafasnya dan melonggarkan kepalan tangan di atas lutut nya.


"Sejak kapan kalian tinggal satu atap dan satu kamar?" Tanya pak Rahman sedikit lebih rendah nada bicaranya, namun masih terselip amarah yang coba pak Rahman redam.


Kayla memberanikan diri menatap sang bapak yang udah mengeras itu. Bahkan mata pak Rahman memerah menahan semua amarahnya. Dengan suara bergetar, Kayla menjawab, "sejak pernikahan mbak Ayla dengan bang Rocky, pak."


Tangan pak Rahman terkepal kuat, mengalihkan semua emosi di sana.

__ADS_1


"Tapi kami tidak tidur dalam satu kamar." Ungkap Kayla sesenggukan. "Tidak ada yang terjadi pak, Kayla masih perawan. Kami sama sekali tidak melakukan hal itu. Kami hanya tinggal satu rumah, dan, ada beberapa pekerja yang juga tinggal di sana."


Pak Rahman tertawa kecut, "lalu apa maksud besan mengatakan kalian tidur satu kamar? Apa menurutmu besan berbohong?"


Kayla menatap ayahnya dengan mata yang tiada henti mengalir. Lalu menggeleng samar.


Mata pak Rahman melotot tajam pada Kayla. "Jadi, kalian benar tidur dalam satu kamar yang smaa?"


Melihat pak Rahman sudah mulai beremosi lagi. Rocky memcoba menenangkannya. "Tenang pak, Ingat kesehatan. Emosi yang berlebihan tidak baik untuk kesehatan bapak."


Seketika Rocky mendapat tatapan tak suka dari pak Rahman, jujur saja, selama ini pak Rahman tak pernah menunjukkan amarahnya seperti Bu Rohman yang jelas-jelas menentang. Pak Rahman bahkan menyambut baik Rocky saat ia datang dulu. Tentu, hal ini membuat Rocky sedikit terkejut.


Bagaimana bisa orang yang sangat ramah dan tenang seperti pak Rahman bisa semarah ini? Dulu mungkin karena Rocky tidak melangar tatanan agama, dengan halus datang meski mendapat penolakan dari Bu Rohman. Bahkan dengan telaten mencoba meluluhkan sang calon mertua. Berbeda kasus dengan Kayla yang justru tinggal serumah dengan pria asing, bahkan sampai tidur dalam satu kamar.


"Pulanglah nak, kamu udah menginap di sini semalaman. Ini adalah urusan keluarga bapak. Bagaimana bapak mendidik anak gadis bapak sangat di pertaruhkan." Ungkap pak Rohman setelah mencoba menetralkan amarahnya."Bapak tidak mau anak bapak terjerumus semakin jauh dalam kesesatan." Sambung pak Rahman melirik Kayla yang masih sesenggukan.


"Katakan dengan jujur, La! Jangan buat bapak malu! Apa begini bapak mendidik mu?"


Bahu Kayla makin berguncang, gadis itu mengeleng dan menunduk semakin dalam.


"Apa bapak tidak mendidikmu tentang ajaran agama?"


"Apa kamu di paksa, La? Apa kamu di ancam, La sama laki-laki itu?"


Kayla memilih bungkam,


"Jawab bapak Kayla!"


Tangis Kayla semakin pilu, Bu Rohman yang biasa bersuara keras pun hanya bisa terdiam dan ikut menangis. Mencoba menenangkan suaminya. Jika sudah marah, pak Rahman memang sering tak terkendali. Saat ini ia sedikit menahan diri karena ada Rocky, jika tidak, sudah pasti tangannya selayang sedari tadi. Apalagi, Kayla hanya menangis dan memberi jawaban yang terus menambah kadar marahnya.


"Jawab bapak Kayla!"


"Kayla yang salah, pak." Ucap Kayla yang tentu saja membuat pak Rahman semakin marah.


"Jadi kamu mengakui jika sudah melakukan semua itu dengan sadar? Membohongi orang tua, melakukan pernikahan palsu? Tinggal satu atap dan sekamar dengan pria itu?"


Bahu Kayla semakin berguncang.


Plak!

__ADS_1


Pak Rahman yang udah meninggi akhirnya menampar Kayla. Rocky sampai terkejut melihat, ikut berdiri dan mencoba menahan pak Rahman.


"Tenang pak, jangan main tangan." Pinta Rocky.


"Diam kamu! Urus saja saudaramu yang kurang ajar itu!" Hardik pak Rahman yang di liputi emosi. Lalu kembali menatap tajam Kayla.


"Apa begini bapak mendidikmu, La?" Sentak pak Rahman sekali lagi menampar Kayla.


Plak!


"Apa begini cara bapak membesarkan mu?"


Plak!


"Aakkkhh..." Suara Ayla yang terkena tamparan keras Bapaknya.


Tentu saja semua terkejut, tiba-tiba saja Ayla sudah berdiri didepan tubuh Kayla. Anak sulung pak Rahman itu menjadikan dirinya tameng untuk sang adik.


Ayla yang baru saja tiba, langsung masuk kedalam rumah dan mendengar suara sang ayah yang sedang marah dan memukuli Kayla. Dengan cepat, Ayla berdiri di depan adiknya. Hingga dirinyalah yang menerima pukulan dari bapak.


Wanita yang sedang berbadan dua itu jatuh tersungkur. Tentu saja Rocky histeris melihat tubuh istrinya berpindah ke lantai.


"Ayla!"


Rocky mendekat dan membantu Ayla bangun. "Baby, apa yang kamu lakukan? Kamu baik-baik saja?"


Mata paka Rahman membola, begitu pun dengan Kayla dan sang ibu. Mereka masih sangat terkejut melihat Ayla.


Sementara Rocky yang melihat pipi Ayla memerah langsung menoleh pada mertua.


"Apa bapak sudah puas mendidik anak bapak? Kayla memang salah, tapi bapak juga bersalah karena sudah melakukan kekerasan." Ucap Rocky tajam. "Saya memang orang luar, saya mungkin tidak berhak untuk bersuara. Tapi saya bisa menjadi saksi yang memberatkan jika perlu. Kekerasan dalam rumah tangga tidak pernah di benarkan apapun alasannya."


"Rocky!" Ayla menegur suaminya, "jangan bicara seperti itu pada bapak."


"Baby, kamu adalah tanggung jawabku, kamu dan juga anak di dalam perutmu. Tak akan kubiarkan kalian di sakiti, bahkan jika itu mertua ku sendiri, ayahmu sekalipun." Ucap Rocky, lalu berganti menatap mertuanya, "bukan begini caranya menghukum Kayla, pak. Bukan dengan kekerasan, bukan dengan cacian, sejak berada di kota, Kayla sudah cukup mendapat hukuman, dan sekarang masih mendapat pukulan. Sebegitu buruknya kah? Sesalah apapun, Kayla tetap anak bapak."


Pak Rahman tersadar, dia memang sudah terlalu berlebihan karena menggunakan kekerasan untuk mendidik anaknya. Pak Rahman duduk terpekur. Merasa gagal mendidik Kayla. Padahal Ayla bisa menjaga diri, kenapa Kayla tidak?bBahu pak Rahman berguncang. Menangis sesenggukan. Bu Rohman pun tak kalah sedih, memeluk lengan suaminya.


Kayla menangis, mendekat dan bersimpuh di depan kaki bapak."Maafkan Kayla, pak." Tangis Kayla penuh sesal."Maafkan Kayla."

__ADS_1


__ADS_2