Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 39


__ADS_3

"Shiitt!" Umpat Roxy,"dikunci lagi."


Roxy memijit pelipisnya, "kalau begini, bagaimana aku bisa tidur... Uuuggghh, aku butuh asupan vitamin." Gumam Roxy makin kacau, berjalan kembali ke kamarnya.


Malam itu, Roxy tidur tak tenang, hingga pagi hari nya wajah tampan itu tampak kuyu. Roxy menunggu cukup lama sembari melihat jam di lenganya.


"Kenapa dia tidak masuk-masuk. Apa ia tak tau aku sekangen ini?" Gerutu Roxy lalu berjalan keluar dari kamarnya. Tentu saja tanpa memasang dasi dan pakaian yang sedikit berantakan.


Di lorong, Roxy melihat Ayla membawa seperangkat alat kebersihan. Lalu ia mendekat pada wanita cantik berjilbab hitam itu.


"Ehemm!"


Ayla memutar kepalanya ke arah suara deheman.


"Tuan Roxy."


"Kenapa kamu lama sekali ke kamar?"


"Saya, menunggu anda keluar dari sana."


"Ya ampun, aku menunggu untuk membantuku memasang dasi!"


Ayla melihat sekeliling, sepi, bahkan tiba-tiba saja tak ada seorangpun melintas ataupun menampakkan diri.


Ayla meletakkan semua bawaannya. Tanpa sengaja melihat di lengan Roxy belum di kancingkan. Ayla melihat lengan Roxy yang terbalut gibs, ia pikir mungkin pria itu kesulitan di sana.


Pertama Ayla membantu Roxy mengancingkan lengan, lalu memasang dasi tuannya yang tak lepas menatap lekat.


"Jangan kunci kamarmu."


Ayla menegakkan kepala,berganti menatap wajah Roxy.


"Kamarmu ..."


"Saya memang selalu mengunci nya. Kenapa?" Ayla merasa dirinya salah dengar saat Roxy bilang jangan kunci kamar."Apa ada aturan lain yang tak boleh?"


"A, iya , benar! Kau harus mengunci kamar mu, jangan sampai ada orang mesum masuk ke kamarmu dan melihat wajah tidurmu."


Ayla menatap aneh pada tuannya.


Merasa sudah bicara ngawur, Roxy berdehem. Ayla tersenyum, dengan tingkah bosnya yang lucu itu dan terus melanjutkan memasang dasi Roxy.


"Sepertinya, kemarin aku memasang dengan tidak benar. Apa tuan mendapat olokan dari orang-orang?"

__ADS_1


Wajah Roxy sedikit merah, "Siapa yang berani mengolokku? Lagi pula itu sudah bagus."


"Maaf, karena aku memasangnya tidak benar. Kemarin saat lenggang, aku mencoba memasang dasi pada Uwais, dan dia terus memprotes aku tidak memasang nya dengan benar."


"Itu karena dia anak-anak mana mengerti." Hibur Roxy,


Ayla tersenyum kecil, rona merah kembali mengisi pipi Roxy ketika kedua matanya menangkap senyum itu.


"Apa kamu kemarin seharian belajar memasang dasi untukku?"


"Ku pikir aku sudah membuat mu malu karena tidak melakukannya dengan benar. Jadi, setidaknya aku harus memperbaikinya." Jawab Ayla menyelesaikan memasang dasi Roxy. "Sekarang harusnya lebih rapi dan simetris. Tidak miring lagi." Sambung wanita cantik itu mengumbar senyum begitu selesai memasang dasi Roxy.


Roxy membeku, satu senyuman yang terasa sangat tulus itu mampu membuat jantung Roxy berdetak lebih kencang.


Ayla memandang jas milik Roxy yang tergantung di lengan pria itu. Merasa mungkin Roxy kesulitan memakainya, karena tangan Roxy yang cidera. Ayla mengambilnya dan membantu roxy memakai jas itu.


Pria yang masih membeku itu hanya mengikuti gerak tubuh Ayla yamg membantunya memakai jas itu hingga benda itu terkancing sempurna.


Lagi-lagi senyum yang terbit di wajah Ayla menghipnotis pria bule itu. Roxy mulai berfantasi, memeluk tubuh mungil itu dan mendaratkan ciuman di bibir Ayla. Sebuah ciuman yang penuh gairah yang menggelora.


"Tuan Roxy?"


Fantasi Roxy buyar.


Di kantor Roxcid. Corp.


Wajah Roxy sangat berseri pagi itu. Senyum yang terbit sejak bertemu dengan Ayla tak ada hentinya tersunging di wajahnya. Beberapa orang yang berpapasan dengannya bergidik karena pria yang biasa dingin itu tiba-tiba berubah jadi sangat ceria di penuhi dengan bunga.


Veloz yang sangat tau apa yang membuat Roxy sedemikian bahagianya. Tentu ikut berbahagia berjalan di belakang tuannya.


"Veloz!"


"Iya tuan." Jawab Veloz mensejajarkan langkah kakinya dengan sang CEO.


"Kenapa mereka memakai dasi miring?" Tanya Roxy begitu memasuki ruang kerjanya dan sudah berpapasan dengan beberapa karyawannya.


"Maaf?" Veloz memelengkan kepalanya, "apa tuan amnesia jika dirinyalah yang memerintahkan begitu?" batin Veloz.


BRAK!


Velos terlonjak kaget, tuannya tiba-tiba menggebrak meja.


"Aku sangat tidak suka dengan ketidaksimetrisan! Pastikan orang-orang itu memakai pakaian dengan rapi! Citra perusahaan ini di pertaruhkan oleh ketidak profesional an mereka!"

__ADS_1


Roxy mulai menunjukkan sifat arogannya lagi. Tanpa berkaca, siapa penyebab semua ini.


Veloz tersenyum tipis. "Otak tuan Roxy memang sudah rusak oleh nona Ayla. Bagaimana bisa dia lupa siapa yang memerintahkan memakai dasi miring?!" Tentu saja ini hanya terucap di dalam hati Veloz.


"Baik, tuan. Akan saya sampaikan untuk merapikan pakaian mereka." Tunduk Veloz patuh.


"Bagus! Hari ini aku mau pulang cepat, atur jadwal ku."


***


Ayla memasuki sebuah kafe yang tak jauh dari mansion Roxy. Hari ini ia berjanji temu dengan seorang pria paruh baya yang mengaku sebagai pengacara diri lembaga perlindungan istri yang teraniyaya.


Walau merasa sangat aneh, terlebih Ayla belum pernah mendengar lembaga semacam itu. Ayla tetap datang juga, karena sepertinya, pria itu meyakinkan. Dan tentu saja setelah ia ijin pada Selia selaku perekrut sekaligus kepala pelayan wanita di mansion Roxy.


"Mbak Ayla!" Panggil pria yang menyebut dirinya pengacara Jazzaman. Melambai dari kursinya menunggu.


Ayla duduk di sebrang pak Jazzaman, setelah membantu Uwais duduk di sampingnya.


"Jadi mbak Ayla, berdasarkan berkas yang sempat masuk kemarin, mbak Ayla terdaftar dalam lembaga perlindungan istri yang teraniyaya. Untuk bisa mendapat keadilan saat persidangan nanti." Jelas pak Jazz membuka suara.


"Tapi, saya tidak dianiyaya pak Jazz."


"Iya benar, mungkin mbak Ayla ini tidak merasa teraniyaya, namun, mbak Ayla pasti membutuhkan dukungan agar memenangkan persidangan perceraian nanti. Saya yakin mbak Ayla juga ingin hak asuh anak jatuh pada mbak Ayla bukan?"


Ayla mengangguk ragu. Sebenarnya, dalam pikiran Ayla, sangat takut jika situasinya justru dimanfaatkan oleh orang tak bertanggung jawab untuk menipunya. Misalnya.


"Nah, di sinilah peran kami, mbak Ayla."


"Tapi, saya tidak punya uang untuk..."


"Oohh, tenang aja mbak Ayla, ini semua fasilitas gratis."


Tampak kelegaaan di wajah Ayla. Namun, tak mengurangi kecurigaan.


"Apa saya akan di mintai data diri?"


"Oohh, tidak, data sudah kami dapatkan dari lembaga resmi. Jangan khawatir." Tegas pak Jazz tersenyum maklum. "Dan pertemuan kita ini untuk membahas langkah selanjutnya..."


***


Ayla kembali ke mansion Roxy dengan perasaan ringan. Semua urusan perceraian nya dengan Alfa menjadi lebih mudah sekarang. Tanpa tau itu semua atas campur tangan Roxy. Pria bule itu bahkan mengusahakan agar proses perceraian itu cepat tanpa hambatan.


Roxy memuluskan dengan segala cara, agar selesai hanya dalam hitungan satu bulan. Ia sudah sangat tidak sabar menantikan Jandanya Ayla. Dan tentu saja, agar sang kakek tak tau, sebelum acara perjamuan akhir tahun.

__ADS_1


__ADS_2