
Waktu terus bergulir, tanpa terasa sudah hampir tiga bulan lamanya Raize pergi. Kayla juga terus mencoba melupakan raize dari ingatannya. Emak dan bapak pun tak pernah menyerah menjodohkan Kayla. Meski gadis itu terus menolak.
"Kayla, apa sih susahnya kamu menerima salah satu anak teman emak?" Omel emak saat ia sedang memetik kangkung di kebun belakang rumah. "Jalan sore atau kemana gitu?"
"Sudahlah Mak, biarkan Kayla sendiri dulu. Dia juga butuh waktu untuk menata hatinya." Ucap Ayla mencoba membela adiknya.
Bu Rohman menyentak nafas berat, sembari terus memetik kangkung. Merasa sangat kesal karena tau Kayla masih memikirkan Raize. Sudah jelas pria itu pergi masih saja Kayla mengharapkan.
"Kayla berangkat kerja dulu ya, Mak." Pamit Kayla mencium tangan ibunya.
"Iya, hati-hati. Nanti pulang jangan sendiri, biar bapak jemput. Kalau enggak minta si Zain apa Zaki untuk menjemput." Pesan sang ibu.
Kayla tak menjawab, dan langsung berjalan ke depan. Ia terperangah melihat Avan duduk di ruang tamu bersama bapak, mereka seperti terlibat percakapan yang cukup menarik. Terlihat dari wajah cerah bapak. Pria berambut gondrong itu tersenyum pada Kayla saat mereka bertemu tatap.
"Oo iya, Van. Bapak mau anter Kayla dulu ke RS Fatma."
"Biar saya saja pak, sekalian jalan. Kebetulan serah ke resto." Tawar Avan ikut berdiri saat pak Rahman Meninggikan tubuh. Ayah Kayla itu tertegun sebentar, lalu wajah sumringah itu terbit.
"Nggak ngrepotin nih?"
"Enggak, pak. Tenang aja." Sahut Avan, lalu beralih menatap Kayla,"Kayla nggak keberatan kan, diantar sama mas?"
Kayla mengangguk dengan senyum yang sedikit di paksakan.
"Ya sudah, nitip Kayla ya, Van."
Avan mengangguk kecil, di barengi senyuman hingga rambut gondrongnya sedikit bergerak kedepan.
"Ayo." Ucap Avan mengangguk dengan pandangan terarah pada Kayla.
Avan berjalan lebih dulu keluar dari rumah Kayla, di ikuti Kayla di belakangnya. Pak Rahman pun mengikuti hingga di ambang pintu.
"Siapa pak?" Tanya Bu Rohman di belakang suaminya.
"Ooh, itu, si Avan. Tadi mampir ke sini, bawain gorengan." Jawab pak Rahman masih memandang dua anak manusia yang berdiri di samping motor berwarna merah milik Avan. Emak pun ikut memandang, lalu mendessah pelan.
"Avan itu baik orangnya, tapi kok ya... Haaahh..."
"Apa to, Mak e?"
Bu Rohman masih memandang Avan dan Kayla. Melihat bagaimana Avan yang sudah mengenakan helmnya, lalu memasangkan helm bogo di kepala Kayla hingga terkait. Pria itu lalu terlihat tersenyum, dan menaiki motornya. Saat motor itu sudah menyala, Avan melihat ke arah pak Rahman dan istrinya. Lalu mengangguk kecil sembari tersenyum. Pak Rahman pun membalas dengan anggukan dan senyuman pula. Hingga motor itu berlalu dan tak terlihat lagi, barulah pak Rahman masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Nanti pulang jam berapa, La?" Tanya Avan begitu motornya sudah terparkir di depan RS Fatma, tempat Kayla bekerja setelah keluar dari klinik.
"Jam tiga, mas." Jawab Kayla.
"Jam tiga ya?" Gumam Avan, "eemm, nanti jam empat ada kajian di masjid Alfalah, nglanjutin yang kemarin. Mau ikut?"
"Iya deh mas, dari pada di suruh emak keluar terus sama anak kenalan emak." Ucap Kayla menyetujui.
"Nanti jam tiga, mas jemput."
"Eeh, tapi, Kayla nggak bawa jilbab."
"Tenang, di dekat masjid ada yang jual jilbab kok. Ntar beli sana aja."
Waktu terus bergulir, hingga tiba saatnya Kayla pulang. Gadis itu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, lalu menghubungi Avan. Sembari mencari kontak pria berambut gondrong itu, Kayla berjalan keluar dari rumah sakit. Setelah menemukan kontak Avan, Kayla mendial nomor itu.
("Assalamualaikum,")
"Wa'alaikum salam, mas....."
("Mas udah di depan.")
Kayla berlari kecil mendekat, "udah lama ya, mas?" Tanya Kayla tak enak hati.
"Enggak, baru juga datang." Sahut Avan memakai helm nya, lalu mengambil sebuah kantong kresek yang terkait di stang motornya."Nih."
"Apa ini, mas?"
"Jilbab. Mas cari yang senada sama warna seragammu."
Kayla menatap Avan dengan pandangan yang tak enak hati sekaligus terkejut.
"Udah, pake."
Tanpa mengatakan apapun, Kayla memakai jilbab bergo berwarna hijau kebiruan itu. Mata gadis cantik itu menangkap seberkas senyum di wajah Avan.
Avan mengambil helm bogo yang tadi Kayla pakai dan memasangkan di kepala gadis itu hingga terkait sempurna.
"Ayo naik."
Setelah memastikan Kayla membonceng, Avan menarik tuas gas motornya menuju masjid Alfalah yang letaknya ada di dekat taman kota.
__ADS_1
###
("La? Kamu di mana? Bapak sama emak nanyain nih, udah mau magrib belum balik.") Suara tanya Ayla di balik sepiker handphone Kayla.
"Eeh, Kayla kan udah SMS bapak kalau ikut kajian." Bisik Kayla.
("Hp bapak mati.") Sahut Ayla
("Sama siapa, La?") Tanya pak Rahman.
"Mas Avan." Jawab Kayla jujur.
("Ya sudah, pulang jangan malam-malam.") Pesan pak Rahman.
Kayla menghela nafas, entah mengapa ia merasa lega. Mungkin karena sang bapak tak menanyakan hal-hal lain, yang pasti membuatnya tak nyaman.
Di sisi lain, pak Rahman yang sudah memutus sambungan telpon mengembalikan hp milik Ayla.
"Kayla sama siapa pak?" Tanya ibu dari Kayla yang ikut menyimak.
"Sama Avan."
"Duuhh,, gimana ya, pak." Ucap Bu Rohman gelisah meremas tangannya sendiri.
"Kenapa to, Mak?"
"Avan itu loh, emak memang suka sama si Avan. Tapi, emak cemas, kalau mereka sampai terlalu dekat dan Kayla di sebut perusak hubungan orang."
Ayla mengerutkan kening, "kenapa begitu?"
"Yaa, si Avan itu kan udah punya calon, Ay. Mungkin juga malah udah menikah, kan?" Ucap Bu Rohman menyampaikan kekhawatiran nya.
"Emak tau dari mana mas Avan udah nikah?"
"Kan emak bilang mungkin saja. Dulu pas kamu belum nikah sama si bule itu, dia kesini kan bilang dah punya calon, Ay." Ungkap emak.
"Ooohh,,"
"Itu kan udah lama banget, dari kamu belum nikah lagi, sampai kamu bentar lagi lahiran."ucap emak menimpali lagi.
Ayla hanya tersenyum kecil menanggapinya.
__ADS_1