Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Istrimu
bab 70


__ADS_3

"Kamu lumayan juga. Hanya tinggal masalah SIM. Besok, buatlah SIM, salah seorang anak buahku akan membantumu." Ujar kakek Yaris di samping kursi kemudi yang Alfa duduki.


"Baik tuan."


"Jika sudah selesai, segera datang kemari lagi." Titah kakek Yaris keluar dari mobil. Alfa pun ikut keluar dan menyerahkan kunci pada sang majikan baru.


"Tapi, tuan, saya seorang mantan napi."


"Memangnya kenapa jika mantan napi? Apa kamu akan melakukan kejahatan lagi?"


"Tidak..."


"Bagus, jangan membuatku kecewa."


Alfa menunduk, merasa sangat bersyukur karena ada yang bersedia menerimanya bekerja.


Tetap membiarkan tangan Alfa mengambang, Kakek Yaris memanggil salah satu pelayan pria yang sedang memangkas tanaman.


"Antarkan dia kembali ke rumahnya." Titah kakek memberi isyarat untuk mengambil kunci dari Alfa.


"Tidak perlu tuan, saya bisa naik angkot." Tolak Alfa halus.


"Di sini tidak ada angkot. Kamu harus berjalan satu kilo meter baru bertemu jalan umum."


Alfa terdiam sembari menelan ludahnya.


"Kamu punya kendaraan?"


Alfa menggeleng lemah.


"Ya sudah." Kakek Yaris melirik pelayannya. "Antarkan dia."


"Baik." Setelah menjawab ia mengisyaratkan pada Alfa untuk masuk ke dalam mobil.


Kakek Yaris berjalan dengan bantuan tongkatnya. Pintu utama terbuka, Uwais berdiri diambang pintu.


"Kakek!"


"Cucuku..." Kakek Yaris merentangkan tangannya.


Alfa sudah di dalam mobil, merasa mendengar suara anaknya, dadanya berdesir. Seketika Alfa menoleh dari dalam mobil tak terlihat apapun kecuali rumah besar dan punggung kakek Yaris yang sedikit membungkuk memeluk seorang bocah.


Alfa mencoba menajamkan mata nya. Namun, masih tak dapat melihat bocah di balik tubuh sang majikan. Hingga mobil yang membawanya melewati gerbang utama.


"Mungkin aku terlalu rindu pada Uwais." Gumam Alfa dalam hati."Uwais, bagaimana kabarmu sekarang, nak?"


"Maafkan ayahmu yang tak berguna ini."


****


"Expreso hangat."


"Makasih, baby." Ucap Roxy menerima secangkir ekspreso hangat dari Ayla.


Kini mereka sedang bersantai di balkon sebuah villa yang sengaja di sewa dengan view perbukitan hijau. Roxy menepuk pahanya agar Ayla duduk di sana. Tanpa kalimat bantahan, Ayla duduk di pangkuan sang suami. Dan mendapat pelukan hangat begitu punggung bersandar pada dada bidang suaminya.


"Aku mencintaimu, istriku."


"Kamu mengatakannya sepanjang hari." Ayla tertawa kecil, menatap wajah tampan suaminya dari samping.


"Itu agar kamu tau." Tatapan lembut Roxy menebus jantung hati Ayla."Besok kita kembali, tapi, sepertinya oleh-oleh belum siap." Sambung Roxy mengusap lembut perut Ayla yang masih rata.


"Kenapa kamu menjanjikan oleh-oleh seperti itu?"


"Itu harapan semua orang, Uwais, kakek, emak, bapak..." Roxy menghitung dengan jarinya."dan kita."


Mau tak mau Ayla tersenyum juga. Tau-tau bibir kedua anak manusia itu sudah bertautan.


.


.


.


Senyum Ayla melebar begitu kakinya menginjak tanah air lagi. Menghirup dalam-dalam udara yang sangat di rinduinya. Udara yang berbeda, dan lebih hangat tentunya.


"Unda!"


Uwais berlari memeluk bundanya yang sudah seminggu lama tak ia lihat.


"Rindu!"


"Unda juga, Uwais." Ayla memeluk erat anak semata wayangnya. Lalu menghujani wajah Uwais dengan kecupan. "Rinduuuuuu.... Bangeeettttt."


"Nggak kangen sama Daddy, Is?" Tanya Roxy dengan memasang wajah sedih dan cemberut.

__ADS_1


Uwais melepas pelukan sang bunda dan berganti merentangkan tangannya meminta Roxy untuk menggendong.


Roxy mengangkat tubuh mungil Uwais, lalu berputar-putar hingga anak sambungnya itu menjerit-jerit.


"Mana oleh-olehnya, Daddy?" Tagih Uwais,


"Ada, di dalam tas." Jawab Roxy berjalan ke ruang utama sambil menggendong Uwais.


"Benarkah?"


Di ruang utama, Uwais mengobrak-abrik isi tas khusus oleh-oleh.


"Uwais! Jangan di berantakin, sayang. Kamu cari apa sih?" Ayla yang gemas melihat aktifitas Uwais sedari tadi menahan lengan bocah 4 tahunan itu agar berhenti mengobrak-abrik oleh-oleh.


"Aku cari oleh-olehku, unda."


"Ini oleh-oleh, Uwais." Ayla mengambil dua bungkus makanan kemasan dan satu buah mainan lalu menyodorkan nya pada Uwais.


"Enggak! Bukan yang ini."


"Jadi kamu cari apa?" Tanya Ayla heran.


"Adek, unda. Daddy bilang nanti kalau pulang Daddy bakal kasih oleh-oleh adek cewek." Kata Uwais polos, tangan mungilnya melanjutkan mencari di dalam tas koper di depannya.


Seketika, Ayla menatap Roxy. Sebelah matanya menyipit dengan bibir yang mengatup sebal.


"Kamu..."


Roxy hanya menanggapi dengan senyuman. Lalu mendekat pada Uwais.


"Hei, jagoan." Roxy merangkul pundak Uwais."Oleh-oleh mu tidak ada di sini." Sambung Roxy menyentuh bibir tas besar itu.


"Lalu di mana Dad?"


"Sekarang masih disimpan sama bunda."


Uwais berganti menatap Ayla. Lalu kembali menatap Roxy.


"Nanti akan bunda kasih kalau Uwais sudah jadi anak baik..." Sambung Roxy lagi menunjuk dada Uwais.


Mata bulat Uwais mengerjab beberapa kali, seperti sedang mencerna kata-kata ayah sambungnya.


"Nah, Daddy sama bunda bisa kasih lebih adek lebih cepat lagi, kalau Uwais berani bobok sendiri di kamar sana."


Roxy mengangguk dan tersenyum. "Kamar kamu yang dulu kita buat bersama."


Senyum Uwais melebar, binar senang terpancar di matanya.


"Iyeeeyyyy..... Aku punya kamar sendiri, terus punya adek..." Uwais bersorak mengangkat kedua tangan ke atas kepalanya. Lalu berpaling melihat bundanya."Unda, cepat kasih adek nya Uwais, ya?"


Ayla melirik Roxy yang tersenyum sangat lebar. "Pintar sekali dia memanfaatkan Uwais." Pikir Ayla mengomel dalam hati.


.


.


.


.


"Cayla, kamu di mana? Embak dah balik ke Indonesia nih, ada oleh-oleh buatmu."


("Waahh, beneran? Asyiikkk.") Suara Cayla terdengar sangat girang di sebrang sana.


"Besok embak ke kos ya,"


("Eehh, kos? Enggak usah mbak, kita ketemu di Kopi Manis aja Deket kampus aku.")


Ayla mengernyit heran."kenapa?"


("Ya skalian mbak, kan besok aku ada urusan di kampus, skalian ketemu sama teman.") Jawab Cayla sedikit gelagapan. Bisa bahaya jika kakaknya Sampai tau jika dirinya sudah tidak tinggal di kos lagi, melainkan di rumah Raize.


"Oohh, gitu. Ya udah, besok kita ketemu di Kopi Manis."


Seusai percapakan dengan adiknya melalui telpon, Ayla meletakkan gawai nya di atas nakas. Netranya melebar sempurna melihat Roxy yang sudah berdiri di depan kamar mandi tanpa sehelai benang pun.


"Kamu... Kenapa polos begitu?"


"Kenapa?" Roxy berjalan mendekat, seketika membuat Ayla bergidik."tentu saja membuat adik. Kamu lupa dengan permintaan Uwais?"


"Malam ini tidak usah, ya?" Pinta Ayla yang di hinggapi perasaan tak nyaman.


"Kenapa?" Tanya Roxy memepet tubuh istrinya.


"I-itu...."

__ADS_1


"Aku tidak menerima penolakan lain kecuali kamu datang bulan..."


"Aaaahhh....."


Tubuh Ayla sudah terjatuh di atas ranjang. Tertindih oleh tubuh kekar Roxy.


"Aku akan bersikap lembut, baby..."


.


.


.


"Buk, aku berangkat kerja dulu ya?" Pamit Alfa pada Bu Ignis yang tengah melipat baju yang telah kering.


"Kamu kerja di mana?"


"Alhamdulillah, buk. Berkat doa ibuk, ada seorang keluarga kaya yang memperkerjakan anak ibuk ini jadi supir." Ucap Alfa tersenyum penuh syukur.


"Alhamdulillah. Ya sudah, sana. Kamu berangkat. Nanti telat lagi, kerja yang bener dan jujur ya, FA. Jangan membuat masalah, sabar dan jangan terpikat sama wanita." Pesan Bu Ignis mengingatkan agar Alfa jangan sampai mengulang kesalahan yang sama.


"Iya buk, pasti." Ucap Alfa, "aku kerja dulu ya buk."


"Iya, hati-hati. Sebentar FA." Bu Ignis merogoh kantong dasternya lalu menggenggamkan uang pada anak sulungnya."ini, buat pegangan di jalan."


Mata Alfa mengembun, meski ia sudah dewasa dan membuat kesalahan yang fatal. Namun sang ibu tetap saja memperlakukan diri sebagai anak.


Alfa menatap lembaran uang 20ribuan itu.


"Maaf ya FA, ibuk cuma bisa kasih kamu segitu."


Alfa menggeleng, "makasih buk," ucap Alfa sembari menyeka pipinya yang basah dan memasukkan uang itu kedalam kantong bajunya. Mau bagaimana lagi, ia memang sudah tak punya uang sama sekali. Selama ini ibunyalah yang memberi Alfa uang untuk kesana kemari mencari kerja.


"Aku pamit ya buk."


Alfa bertekat jika nanti ia sudah mendapat gaji pertamanya, ibunya lah yang memiliki hak penuh atas uangnya.


Masalah Agya, Alfa sudah tak memikirkannya lagi. Meski mereka belum bercerai secara resmi. Namun ia pernah menalak istrinya itu. Sekarang yang ingin Alfa bahagiakan hanyalah sang ibu.


"Ini kunci mobilnya mas." Kata salah satu sopir kakek Yaris. "Mas Alfa nanti jadi supir pribadinya tuan muda Uwais."


Deg, seketika jantung Alfa berdetak dengan sangat kencang mendengar nama yang sama dengan anak semata wayangnya.


Alfa menggeleng pelan, menertawai pikirannya. Tak mungkin jika dia Uwais yang sama dengan Uwais miliknya. Ada begitu banyak nama Uwais. Begitu pikir Alfa tersenyum sendiri.


"Nanti mas Alfa yang antar jemput tuan muda Uwais ke playgrup."


Alfa mengangguk-angguk. "Aahh, mungkin Uwais ku juga sudah masuk playgrup sekarang. Ya Allah, aku sangat merindukannya. Bagaimanakah kabarnya sekarang?" Alfa bergumam dalam hati.


Terlintas dalam benak nya saat dulu ia masih hidup bersama Ayla dan Uwais. Kesederhanaan yang begitu membahagiakan. Mata Alfa sudah berkabut oleh tumpukan air mata yang tertahan. Tiba-tiba saja ia teringat dengan uang simpanan Ayla yang masih tertinggal di rumah Agya.


"Aku harus mengambilnya..." Gumam Alfa dalam hati.


"Alfa!"


Alfa menoleh pada suara panggilan sang majikan dari dalam rumah. Lalu bergegas datang.


"Iya tuan."


"Ini sudah jam setengah 10. Tolong jemput cucuku." Titah kakek Yaris.


"Baik,"


"Oiya, kamu belum pernah lihat cucuku kan? Berapa nomor hpmu? Biar aku kirimkan fotonya."


"Saya tidak punya hp tuan."


"Astaga, iya, aku baru ingat. Tunggu di sini sebentar." Kakek Yaris masuk lagi ke dalam rumah, lalu keluar lagi."ini."


Alfa melihat benda pipih yang kakek Yaris sodorkan padanya. Lalu menatap sang majikan dengan penuh tanya.


"Pakai hp ini dulu. Kamu butuh hp untuk berkomunikasi."


Alfa menatap kakek Yaris tak percaya. Ia baru saja bekerja, sudah di beri kepercayaan sebesar itu. Ia sungguh merasa sangat tak enak hati.


"Tuan..." Lirih Alfa dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah, cepat jemput cucuku. Jangan sampai ia menunggu lama."


Setelah mobil Alfa pergi dan tak terlihat lagi. Kakek Yaris tersenyum tipis.


bersambung...


wah, gimana ya reaksi Alfa jika ketemu sama Uwais nanti? dan gimana juga reaksi dari Uwais setelah lama tak bertemu dengan sang ayah?

__ADS_1


__ADS_2